
Sayup-sayup mata Iksa mulai terbuka ia melihat ponsel yang tergeletak diatas nakas dekat tempat ia tidur ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 wib, ia langsung bergegas bangun dari tidurnya tak memperdulikan Asyad yang tengah memeluknya ia pun menepis tangan Asyad dengan kasar lalu turun dari ranjang dan bergegas mandi.
Asyad yang tengah menikmati tidurnya pun merasa kaget dengan hempasan tangan Iksa ia melirik kekasihnya yang tergopoh-gopoh menuju kamar mandi, Asyad memejamkan matanya sejenak ia mencoba mengembalikan nyawanya agar tidak terlihat ling lung.
Iksa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, Iksa berpikir Asyad masih tidur dan dengan berani ia berganti pakaian yang di bawanya di depan ranjang tanpa tau seseorang dari balik selimut sedang memperhatikannya.
Asyad yang sedari tadi sudah bangun daru tidurnya tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka ia melirik kekasihnya yang masih mengenakan balutan handuk di tubuhnya ia pun pura-pura memejamkan mata sembari mengintip kegiatan kekasihnya itu. Terlihat Iksa yang sedang melepas handuknya dan tampak ia polos tak berbalut sehelai kain pun membuat Asyad menelan salivanya dalam, terlihat tubuh kekasihnya sangat menggoda membuat bagian tubuhnya menegang hebat sampai akhirnya Iksa pun selesai mengenakan pakaiannya.
Iksa berdandan ala kadarnya ia segera meraih tasnya dengan cepat dan menghampiri Asyad yang masih tertidur.
"Asyad!" Panggil Iksa pelan ia tak mau mengagetkan Asyad karena ia terburu-buru padahal sedari ia bangun Asyad sudah kaget di buatnya.
Asyad menggeliatkan tubuhnya dan sengaja menarik tubuh Iksa agar masuk ke dalam rengkuhannya.
"Asyad bangun, aku mau ke kampus!" Iksa memberontak dari rengkuhan Asyad.
"Ada apa sih kau heboh sendiri, ini masih pagi banget sayang?" Ujarnya masih mendekap Iksa tanpa membuka matanya sambil ia membayangkan Iksa yang sedang melepaskan handuk tadi.
"Asyad aku ada praktek hari ini, aku buru-buru cepet lepasin!" Teriak Iksa karena begitu kesal dengan Asyad yang tak mau melepaskan dirinya.
"Ok, tapi..." dengan cepat Asyad melayangkan kecupan di bibir ranum Iksa.
"ASYADDD......" Teriak Iksa membuat Asyad tersenyum bangga.
"Kau ya! pagi-pagi sudah berbuat mesum."
"Sayang kau sendiri yang rela berpolos ria di depanku."
"Hah apa maksud Asyad?" tanya Iksa dalam hati.
"Apa maksudmu aku berpolos ria?" tanya Iksa kepada Asyad yang sedari tadi mengembangkan senyumnya.
"Sayang kau sendiri yang melepas handukmu di depanku sehingga dengan senangnya aku melihat tubuh indahmu terpampang tepat hadapanku," Asyad melihat wajah Iksa sangat malu seperti ingin menerkamnya habis-habis ia segera meraih tangan Iksa namun dengan cepat Iksa menepisnya.
"Kau ya jadi sedari tadi kau mengintipku? kau sungguh keterlaluan," Iksa memalingkan wajahnya segera berlalu mengumpati kekasihnya dengan gerutuan di dalam hatinya.
"Aku akan mengantarmu!" Teriak Asyad saat melihat Iksa berjalan keluar dari kamarnya.
"Tidak usah, lanjutkan saja tidur pura-puramu itu!"
Asyad hanya tersenyum saja ia juga sudah sedari tadi menelpon supir hotel pribadinya untuk menunggu Iksa keluar dan mengantarkannya ke kampus.
*
Iksa sudah sampai di kampusnya dengan supir pribadi Asyad tak lupa ia berterima kasih karena sudah mengantarkannya sampai kampus, setelah itu supir tersebut melajukan mobilnya kembali ke hotel.
Iksa dengan cepat masuk ke ruang khusus prakteknya terlihat semua temannya sudah memakai seragam prateknya,
"Iksa cepetan, kau sedari tadi sudah di absen!" ucap Kila yang kala itu sudah terlihat lengkap dengan seragam putih khas chef miliknya.
"Iya iya, aku ke ruang ganti sebentar!" Iksa dengan cepat menuju ke ruang ganti di samping ruang praktek tersebut.
Setelah selesai Iksa dengan cepat kembali dan menempati tempat yang sudah di sediakan untuknya.
Terlihat seorang dosen yang menatap Iksa dan memperingatkan Iksa untuk tidak mengulanginya lagi Iksa hanya mengangguk patuh dan mengiyakan ucapan sang dosen lalu dosen tersebut kembali menatap semua para peserta didiknya dan menjelaskan detailnya.
Iksa yang sedari tadi mengatur napasnya kalau sembari mencari-cari barang yang ia cari yaitu resep yang sudah di catat dan pernah di praktekkan itu entah kemana sehingga dosennya yang sedari tadi berbicara tak ia dengarkan sama sekali.
Masih dengan catatan kecil yang membuat ia risau akhirnya catatan tersebut terselip di kantong celananya yang dalam.
"Perasaan dari tadi udah mengaduk-aduk isi celana di bagian ini kenapa baru ketemu, huft syukurlah setidaknya resep itu tidak sampai hilang." ucapnya kecil namun tak terdengar.
Semua mahasiswa boga pun memulai waktunya untuk menumpahkan kreasi masakannya, terlihat Iksa sangat fokus memasak ia hanya berharap prakteknya ini bisa berhasil dan mendapat nilai memuaskan tanpa tau hadiah dari nilai yang memuaskan itu.
*
Praktek selesai yang berdurasi waktu dua jam dengan membuat makanan menu kontinental, akhirnya semua peserta dapat menyelesaikannya. Mereka pun juga mendapat komentar dari para dosen dan chef, mahasiswa hanya menunggu nilai mereka keluar, mareka sejenak beristirahat menenangkan diri masing-masing ada yang yang terlihat suram akan terngiang komentar yang tidak memuaskan dari dosen dan chef tersebut ada yang terlihat biasa saja ada yang terlihat dag dig dug menanti nilai mereka keluar.
Iksa yang kala itu sedang bersama Kila juga tak kalah penasarannya dengan nilai yang akan keluar meskipun komentar para dosen dan chef itu terlihat mnyukai makanan Iksa namun Iksa sungguh masih penasaran akan hasilnya karena menurutnya bukan hanya masakannya saja yang enak bahkan ada tujuh temannya mendapat pujian dari chef dan dosennya termasuk Kila juga yang masuk ke dalam tujuh masakan yang mendapat pujian itu.
Di kala Iksa yang masih memikirkan nilainya tiba-tiba ponselnya bergetar dari saku celananya, ia pun melihat panggilan itu dan menerimanya.
"Hallo," ucap Iksa.
"Hay sayang bagaimana prakteknya, apakah lancar?" ucap Asyad yang kini tengah bertanya.
"Iya, ini masih nunggu hasilnya."
"Aku berharap kau bisa lulus di praktekmu kali ini dan tunggu nanti kejutannya!" Ujarnya yang membuat Iksa mengerutkan dahinya.
"Ya semoga saja," ucapnya singkat karena pikirannya masih penuh dengan nilai yang akan keluar dan tak begitu peduli akan ucapan Asyad.
"Ya sudah semangat sayang! love you," Ucap Asyad tersenyum senang di sebrang sana.
"Me too," Iksa mematikan panggilannya dan beralih ke Kila yang sedang senyum-senyum dengan ponselnya.
"Ehem," Iksa berdehem namun Kila masih asyik dengan ponselnya.
"Dasar yang sedang kasmaran seenaknya saja mengabaikanku," dengus Iksa kepada sahabatnya namun Kila hanya tersenyum saja melihat ekpresi sahabatnya.
Setelah jam istirahat selesai mereka semua di minta untuk berkumpul, sang dosen pun menjelaskan semua kualifikasi masakan sampai pada akhirnya sang dosen menyebutkan tiga nama yang memiliki standart dan kualitas masakan dengan kreasi yang cukup kreatif mereka adalah Farhan, Kila dan Iksa.
Mendengar itu Iksa dan Kila tampak sangat heboh mereka berdua berpelukan dengan penuh semangat sampai Kila menyebutkan sesuatu yang membuat Iksa terkejut.
"Ya ampun Sa, aku seneng banget nanti bisa magang di hotel kekasihmu yang amat di impikan itu," Ucap Kila melepas pelukannya dan melihat wajah Iksa.
"Hahhh, maksudmu?"
"Kenapa kau kaget begitu, bukannya tadi dosen sudah bilang nilai tertinggi akan mengikuti magang di 'Wiliam d'hotels' dan kau tau itu milik Asyad Sa," Kila melihat wajah Iksa nampak heran dia tau sejak dosennya menjelaskan Kila melihat Iksa tak mendengar apa yang di katakan beliau karena Kila melihat Iksa sibuk mencari sesuatu namun kenapa harus menampilkan raut muka yang terkejut seperti menjurus kurang menyukai itu seharusnya dia senang kan bisa magang di hotel tempat kekasihnya bekerja.
"Duh, jadi ini yang dimaksud dia, habislah aku!" ucap Iksa menepuk dahinya yah dia tau setelah ini Asyad akan bersikap yang tidak tidak lagi.
Kila yang mendengar itu hanya bisa mengedikkan bahunya ia tak terlalu ambil pusing dengan sikap Iksa yang terpenting baginya ia bisa masuk ke dalam nilai terbaik praktek kali ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote dan likenya 🤗🤗