
“Kau tak mau mengucapkan salam perpisahan sebelum kekasihmu ini pergi?” Goda Asyad saat di luar rumah karena acara makan malam yang sudah usai.
“Baiklah, selamat malam, hati-hati di jalan!” ucap Iksa sambil memusatkan pandangan matanya ke arah Asyad.
“Hanya begitu, singkat sekali.”
“Lalu?” Tanya Iksa dengan polosnya. Seketika Asyad melayangkan ciumannya di kening Iksa, membuat Iksa yang berdiri di hadapannya terkejut bukan main, namun perlahan Iksa juga sangat menyukai perlakuan Asyad.
“Aku pergi, kau segeralah istirahat!” Asyad beranjak pergi dan melajukan mobilnya.
*
Di tengah perjalanan Asyad tengah menemui seseorang yang entah mengapa sangat tidak asing baginya. Setelah dilihatnya lebih dekat nampak sekali wajah orang tersebut, namun ternyata dia tak sendiri ia bersama seseorang yang juga ia sangat kenal. Ia pun segera menghampiri dua insan yang tengah duduk di halte bus.
“Hey kalian, kenapa ada di sini, bukankah kalian sekarang di singapura.” Kedua orang tersebut Nampak terkejut dengan kedatangan Asyad.
“Oh ini kita lagi nunggu bus Syad.” Ucap orang tersebut.
“Kau tak sadar ini jam berapa, bahkan bus takkan lewat ke daerah ini di jam seperti ini,” ucap Asyad yang sedikit curiga akan mereka berdua.
“Emmm itu kita…kita..kita.”
“Tunggu, Ve kenapa kau menangis, apa kalian ada masalah, atau jangan-jangan kalian…….” Ucap Asyad menebak akan hubungan kedua sahabatnya.
“Okelah, Aku mengaku, aku dan Venya punya hubungan dan kita sudah berhubungan sejak dua tahun lamanya.” Ucapnya penuh sesal.
“Sudah ku duga,” ucap Asyad datar tak terkejut sama sekali. “Siapa yang sudah mengetahui ini selain aku?” tanya Asyad pada Ferry.
“Bara,” ucapnya.
“Baiklah, kita sedang bertengkar, Venya salah paham denganku dia menuduhku berselingkuh dengan teman kampusku, seharusnya memang kita sedang ada di singapura, namun Venya malah kabur ke Indonesia ya otomatis aku mengejarnya hingga aku menemukannya di sini.” Jelas Ferry.
“Kau memang berselingkuh dariku Fer, kau tak akan menerima pelukan wanita itu jika kau tak punya perasaan dengannya.” Venya pun angkat bicara karena tak terima dengan penjelasan Ferry sembari menangis sesenggukan.
“Ve, kau tau sendiri dia cuma temen kampusku gak lebih, ayolah Ve kenapa kau jadi seperti anak kecil begini sih,” ucap Ferry mencoba untuk menenangkan Venya namun bukan tenang yang di dapat Venya malah semakin marah dengan Ferry karena menganggapnya sebagai anak kecil.
“Oke, aku memang anak kecil, lantas kenapa kau masih di sini, pergi sana, aku tak butuh perlindungan darimu.” Sungut Venya semakin menggebu.
“Ve, apa kau mau pulang bersamaku?” tanya Asyad menengahi pertengkaran mereka.
“Ayo, Syad lebih baik aku denganmu, daripada di sini aku semakin darah tinggi melihatnya.” Ucap Venya sinis, lalu tanpa permisi ia masuk ke dalam mobil Asyad.
“Sabarlah Fer, dia butuh waktu, ku harap kau bisa mengerti dia, aku yakin kalau dia pasti akan merindukanmu di kala jauh darimu, sekarang kau pulanglah, nanti akan aku kabari keadaan Venya.” Ucap Asyad menenangkan Ferry.
“Asyad ayo, kenapa masih di situ sih.” Teriak Venya di dalam mobil.
“Iya,” Asyad pun masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan Ferry yang berdiri sendiri di halte bus.
Asyad pun membawa Venya menuju hotelnya karena Venya tak ingin pulang ke rumahnya ia takut kedua orang tuanya khawatir dengan keadaannya yang berantakan.
“Ayo keluarlah, kamu bisa menginap sementara di hotelku sampai nanti kau kembali ke singapura.” Ucap Asyad lalu ia dan Venya keluar dari mobil menuju hotelnya.
Saat tengah berjalan menuju kamar yang akan di tunjukkan Asyad, tiba-tiba sosok perempuan cantik tak sengaja melihatnya, wanita itu pun memanfaatkan kesempatan tersebut setelah itu dia beranjak pergi. Sebenarnya ia juga penasaran dengan apa yang di lakukan Asyad dan Venya namun karena urusannya di luar lebih penting ia segera berjalan keluar dari hotel tersebut dan menemui seseorang yang kini sudah menunggunya di mobil pribadi miliknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=