Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 11_Perpisahan



“Syad, aku pengen makan nasi goreng nih,” sambil mengusap usap perutnya yang memang udah keroncongan.


“OK, bentar kau duduk saja dulu aku pesenin makannya,” Iksa hanya menganggukkan kepala dan langsung mencari tempat duduk.


Setelah memesan Asyad kembali menghampiri Iksa dengan muka yang masih bete dan dingin.


“Kau masih marah denganku?” tanya Iksa.


“Marah buat?”


“Tadi.”


“Gak, gak penting juga Sa, aku gak marah denganmu lupakan saja aku hanya sedikit emosi saja tadi.”


“Bener? Tapi kau terlihat dingin sekali denganku.”


“Kau merasa seperti itu Sa,” Iksa menganggukkan kepala menatap Asyad.


“Ya sudah aku minta maaf ya Sa,” ucapnya sambil mengelus lembut rambut Iksa yang terurai.


Pelayan kafe pun datang membawa makanan, Iksa yang memang merasa lapar sekali, langsung saja makan tanpa peduli dengan Asyad.


Dilihatnya Asyad yang sedari tadi diam bahkan makanan pun belum tersentuh sama sekali, membuat Iksa menatap heran pada Asyad yang tak biasanya seperti itu,


“Syad, itu kenapa makanan cuman di liatin aja, di makan dong keburu dingin!” ucap Iksa lalu meneruskan makannya yang tertunda


“Sa?”


“Hmmm.”


“Aku mau bicara sesuatu denganmu.”


“Ya ampun Asyad, memang dari tadi kita gak bicara ya?” jawab Iksa sambil ketawa dengan menutup mulutnya yang masih mengunyah makanan.


“Iya, tapi kali ini aku mau bicara serius,” Iksa hanya memandang wajah Asyad serius seakan ingin membicarakan hal yang teramat penting dan Iksa pun mengakhiri makanannya yang masih ada di piring dan segera minum setelah itu ia ingin mendengar pembicaraan Asyad yang terlihat serius.


“Iya kau mau bicara apa?” tanya Iksa.


“Aku mau kita berpisah seb.... ”


“Oh, jadi dari tadi sikapmu dingin seperti itu karena kamu ingin mengakhiri hubungan ini, OK fine aku gak masalah itu semua keputusanmu dan kau yang menginginkannya aku juga tak ingin melakukan hubungan yang terpaksa ini, kalau begitu aku pulang dulu,” sambil menahan air mata yang membendung mencoba untuk tak meneteskannya di depan Asyad,


‘entah apa yang ada di pikirannya mengapa dia berjanji begitu saja saat itu dan sekarang dengan seenaknya sendiri mengambil keputusan seperti ini, sungguh aku kecewa dia baru saja membawaku terbang setinggi tingginya namun sekarang dengan satu kata yang dia katakan membuatku jatuh hancur dan tak ingin aku melihatnya sekarang karena keputusannya’.


“Sa, tunggu aku mohon kau jangan marah sama aku!” pintanya sambil memegang tangan Iksa menghalanginya pergi.


“Apa pedulimu, kau yang sudah mengatakan itu dan aku tak berhak marah denganmu, lakukan saja apa yang kau mau namun ingat satu hal, cukup aku jangan pernah melakukannya dengan yang lain,” jawab Iksa berusaha tegar di hadapan Asyad.


“Aku mohon maafkan aku Sa, aku tak ing.... ,” sambil memeluk Iksa erat setelah tangisnya mulai mereda Iksa pun melepaskan pelukan Asyad


“Aku mau pulang!” Iksa langsung melepaskan dirinya dari Asyad dan langsung pergi begitu saja, namun Asyad menghentikan tangannya.


“Aku antar ya Sa?” tawarnya sambil masih memegang tangan Iksa.


“Gak usah aku mau pulang sendiri.”


masih mencoba menarik tangan Iksa mencoba menjelaskan sesuatu namun karena Iksa yang terlanjur sakit hati ia pun mengurungkannya.


“Aku bilang gak mau, lepasin aku!” Iksa langsung pergi meninggalkan Asyad yang masih berdiri di meja makan tersebut, sesekali dia memanggil namanya namun Iksa tak menghiraukannya.


Iksa berjalan keluar dari kafe itu dimana kafe yang mempertemukannya dan memisahkannya sungguh miris. Iksa berjalan pulang menuju rumah, ia pun memesan ojek online agar cepat pulang ke rumah.


Iksa yang kini masih terisak di perjalanan mengingat kata kata Asyad yang menghancurkan hati dan perasaannya, dia hanya bisa manangis sejadi - jadinya tanpa mengeluarkan suara karena takut tukang ojek yang ia tumpangi mendengar tangisnya, setelah sampai di rumah ia pun menghapus air matanya sebelum nanti mamanya khawatir melihat derai air matanya.


“Sa baru pulang nak?” tanya Maria.


“Iya ma, mama tumben udah di rumah?” tanya Iksa balik.


“Iya mama kurang enak badan jadi mama di izinkan pulang istirahat.”


“Mama sakit? Kita ke dokter ya ma?” Iksa langsung duduk mendekati mamanya dan mengecek keadaan mamanya.


“Gak papa Sa, mama cuman sedikit kecapekan aja mama udah ke dokter tadi jadi kau tidak usah khawatir seperti itu.”


Iksa memeluk hangat mamanya dan sedikit melepaskan perasaan sakitnya, Maria yang melihat tingkah anaknya itu sedikit heran tak biasanya ia bergelayut manja seperti itu.


“Kau tidak apa-apa sayang?” tanyanya sembari mengelus rambut Iksa.


“Iksa tidak apa-apa ma, Iksa khawatir sama mama Iksa takut kehilangan mama,” tangis Iksa pun pecah seketika di dada Maria.


“Kau bilang apa sih Sa, mama ini tidak apa-apa dan mama tidak akan meninggalkanmu, kau anak mama, jujur sama mama kau kenapa?” tanyanya seraya melepaskan pelukan dari Iksa.


Iksa hanya menggelengkan kepala sambil menghapus air matanya yang membuat matanya tampak sembab merah.


“Oke kalau memang kau tidak mau cerita dan mama harap kau memang baik-baik saja, bulan depan kau sudah mulai ujian kelulusan sayang jadi mama harap anak mama tidak terlalu memikirkan hal di luar sekolah, kau fokus sama sekolahmu ya sayang,” Iksa pun mengangguk mendengarnya.


“Ya sudah sekarang Iksa istirahat gih, mandi dulu tapi,” sambil mengacak acak rambut Iksa dengan berantakan dan dibalas Iksa dengan senyuman yang sangat di paksakan.


\=\=\=\=\=\=\=


Aku harap kalian bisa mengikuti alur nya ya gaess 😁😁😁 Happy reading..........