
Iksa pun beranjak menuju kamarnya ia segera membersihkan badannya dan ia pun segera menyelesaikan tugasnya karena besok tugasnya harus segera di kumpulkan.
Malam pun larut Iksa masih berkutik dengan tugasnya sebenarnya tugas yang di kerjakan Iksa tergolong mudah namun karena fikirannya sedang kacau alhasil pekerjaannya tak kunjung selesai dan berlalu hingga larut malam.
Maria yang masih melihat kamar anaknya masih terang benderang terlihat dari ventilasinya, ia mencoba untuk masuk ke dalam melihat keadaan Iksa. Karena sedari tadi Maria juga sedang berfikir bahwa anaknya sedang ada masalah mungkin sekarang ia sedikit tenang dan mencoba untuk berbicara masalah apa yang sedang Iksa rasakan.
Tok...tok...tok...
“Sayang kamu belum tidur?” tanya Maria di balik pintu kamar Iksa.
“Iya ma ini udah selesai, Iksa segera tidur.”
Maria pun membuka kamar Iksa dan terlihat Iksa sudah membereskan pekerjaannya dan merapikan buku – bukunya. Iksa yang terlihat terkejut karena mamanya masuk ke kamarnya ia pun segera membuang tissue – tissue yang berserakan akibat tangisannya tadi.
“Udah selesai kok ma, ini Iksa mau tidur,” jawabnya sambil membelakangi mamanya.
“Sa?” panggil Maria.
“Iya ma.”
“Nengok dong Sa kalau mama panggil!”
“Iya ma,” Iksa pun membalikkan badannya dan menatap Maria.
“Kamu habis nangis, mata kamu terlihat sembab banget Sa?” tanya Maria curiga.
“Enggak kok ma, ini tadi Iksa terlalu lama membaca dan melihat layar laptop jadi agak sembab,” jawab Iksa berusaha mengelak.
“Jangan bohong mama tau kamu Iksa, kamu ada masalah apa?” tanya Maria intens melihat Iksa
Iksa yang hanya terdiam ia hanya bisa meneteskan air matanya di depan Maria sungguh ia tak kuasa harus memendam perasaan ini terutama pada mamanya sendiri karena Iksa selalu terbuka dengan Maria tak sedikitpun kesehariaanya ia lewatkan untuk berbicara dengan Maria berbagi kebahagiaan kesedihan dan Maria memang selalu mengerti akan perasaan anaknya, meskipun Maria bukan ibu kandung Iksa namun Maria sangat menyayangi Iksa lebih dari apapun tak terlepas karena Iksa juga anak dari sahabatnya sendiri.
“Ceritakan sama mama ada masalah apa?” tanyanya sembari memeluk tubuh Iksa.
“Kenapa dengan Asyad kalian berantem?”
“Dia bilang dia ingin pisah sama aku ma, padahal dia dulu janji bakal selalu ngelindungin aku dan jagain aku dan mama tau aku sama dia baru kemaren jadian ma, namun hari ini dengan seenaknya sendiri dia mengakhiri hubungan, Iksa gak terima ma, Iksa mau marah namun Iksa sungguh nggak kuat Iksa cuman bisa nangis,” jelasnya sambil menangis di dada Maria.
“Sayang mungkin ada sesuatu hal yang membuat dia harus mengakhiri hubungan kalian, kamu jangan salah faham dulu.”
“Tapi dia gak ngejelasin ke aku apa – apa ma, aku udah terlanjur sakit hati sama dia aku gak akan mau ketemu lagi sama Asyad pembohong dan suka ngasih harapan palsu.”
“Sudah lah sayang jangan terlalu di buat sedih, kalian juga masih labil masih remaja juga, kalau memang nanti kalian jodoh mama yakin kamu dan dia pasti kembali, mama yakin Asyad orangnya baik pasti dia punya alasan di balik semua ini,” bujuk mama Iksa sambil membelai rambut panjang Iksa. “Sekarang kamu tidur udah malem."
“Temenin Iksa tidur ya ma,” pinta Iksa.
“Iya mama temenin Iksa tidur,” sambil menarik Iksa menuju ranjang kamarnya, mereka pun tertidur bersama di kamar Iksa.
*
Keesokan harinya saat di sekolah Iksa melihat di bangkunya ada sebuah surat yang tak ada keterangan namanya ia pun heran dengan surat itu, saat ingin membuka surat itu tiba – tiba teman Iksa datang.
“Hai Sa kenapa kau pagi – pagi sudah bengong aja?” sapanya sambil menepuk bahu Iksa.
“Emmm gak papa Kil cuman ini ada surat di bangku mejaku,” jawabnya sambil menunjukkan surat itu ke Kila.
“Dari siapa?”
“Gak tau gak ada pengirimnya.”
“Coba buka Sa!” pinta Kila.
Iksa pun membuka surat tersebut dan ia pun segera membuka lipatan kertas yang ada di dalamnya. Namun saat gurunya datang ia pun segera melipat kertasnya lagi dan memasukkannya ke dalam tasnya. Kila pun juga langsung duduk karena guru yang satu ini benar – benar sangat killer abis.
\=\=\=\=\=\=