
David membawa Aileen keluar dari kamar, mereka duduk di sofa dengan makanan yang sudah dihadapan mereka masing-masing.
“Kau mau ini?” Tanya Aileen menunjukkan sayur yang ingin dimakan David.
“Apapun itu asal kau yang memberikannya akan aku makan.” Ucapan David membuat Aileen tersenyum malu.
“Kau jangan menggodaku, Dav!”
“Tidak, baiklah ayo suapi aku, aku sudah lapar!” Pintanya.
Aileen menyuapi David sambil memakannya pula.
“Kenapa tadi kau menangis?” Tanya David membahasnya kembali.
“Aku hanya sadar kita melakukan hal yang salah Dav, aku tidak mau menyesalinya.”
“Ai?” Aileen melihat kearah David.
“Kau tau, jikapun nanti kita melakukannya aku akan bertanggung jawab atas dirimu, kau tau perasaanku padamu saat pertama kali melihatmu, kau adalah orang yang membuatku tersenyum saat itu.”
“Sejak lama, perasaan itu tak muncul, sampai akhirnya aku bertemu denganmu dan saat itu pula aku sengaja mendekatimu hingga saat ini.” Jelasnya lagi.
“Apa proyek ini juga rencanamu?” Tanya Aileen begitu terkejut dengan pengungkapan David.
“Tebakanmu sangat benar, ini semua rencanaku untuk bisa dekat denganmu.” David mengambil tangan Aileen lalu menggenggamnya.
“Ai, aku mencintaimu,” David mencium punggung tangan Aileen, membuat senyum Aileen berkembang ia begitu senang mendengarnya.
“A...aku juga mencintaimu Dav.” Mendengar itu David langsung merengkuh tubuh Aileen dalam pelukannya sangat erat seakan tak ingin melepaskannya.
“Dav, apa kau tak akan meninggalkanku?” Ucap Aileen dalam pelukan David.
“Tidak akan, apapun itu aku tak akan meninggalkanmu.” Aileen tersenyum menikmati hangatnya pelukan David.
Mereka kembali melanjutkan makannya dengan perasaan begitu senang, namun saat mereka makan mereka menyadari sesuatu.
“Bukannya tadi Rayn disini,kemana dia?” Tanya Aileen.
“Entahlah, kita sedari tadi dikamar, biarkan saja dia sudah dewasa.” Ucap David.
“Tunggu, aku akan menghubunginya.” Aileen beranjak dari duduknya mencari ponsel didalam tasnya.
David melanjutkan makannya tanpa menunggu Aileen, ia makan sendiri dengan tangannya yang sebenarnya tidak terasa sakit saat di gunakan untuk makan hanya saja ia selalu menggoda Aileen agar mendapat perhatian darinya.
Telpon yang sedari tadi bordering sedari tadi di nakasnya terdengar oleh Aileen yang selesai menelpon sahabatnya.
“Kenapa Dav tak mengangkat panggilannya?” Tanyanya bermonolog diri.
Aileen mengambil ponsel David lalu melihat panggilan telponnya, nomor tak bernama terlihat di layar ponsel David, Aileen menghampiri David memberikan ponselnya.
“Telponmu sedari tadi bordering, angkatlah mungkin itu penting Dav!” Ucap Aileen menyerahkan ponsel David.
David mengangkat panggilannya.
“Halo?”
“Hay Dav.” Sapa seseorang dari seberang telpon membuat David setengah terkejut saat suara dari telpon tersebut tidaklah asing.
“Kau tak mengenal suaraku Dav?”
“Siapa kau?”
“Temui aku di tempat biasa, jika kau masih mengingatku!.” Sambungan telpon tersebut dengan cepatnya tertutup sebelum David ingin berbicara.
“Shit!!” David begitu kesal, ia menggenggam erat ponselnya.
“Siapa Dav?” Tanya Aileen penasaran akan David yang terlihat begitu kesal saat mengakhiri panggilan telponnya.
“Bukan siapa-siapa Ai.”
David menuju kamarnya, ia mencari pakainnya lalu segera keluar dari kamarnya, namun sebelum itu ia sudah menelpon Aldo untuk segera menjemputnya.
“Kau mau kemana Dav?” Tanya Aileen melihat David yang sudah mengenakan jasnya.
“Tunggulah! aku tidak akan lama, Sayang.” Mendengar itu Aileen tersipu malu sungguh ucapan David membuat perasaannya seakan melambung tinggi.
“Kenapa merah sekali, hemm?” Tanya David menggoda Aileen.
“Emm, tidak,” Sambil memegang pipinya karena malu terlihat oleh David.
“Sekarang kamu wanitaku, jadi ingat jika aku pergi berilah aku ciumanmu, ayo lakukan!” Ujar David seraya memberi perintah dengan nada begitu lembut.
Tak tahan dengan Aileen yang masih berdiri di tempatnya, David pun menarik pinggang Aileen lalu segera mel*umat bibir mungil tersebut, Aileen begitu terkejut namun berusaha mengimbangi David dalam permainannya.
“Permisi bos, aku.....” Aldo yang terkejut melihat adegan didepannya berhenti seketika.
“Harusnya aku mengetuk pintu tadi,” Ucapnya lagi bermonolog pelan, dan segera membalikkan tubuhnya, sedikit mengintip dengan menoleh sedikit, melihat apakah permainan bosnya sudah selesai.
“Sedang apa kau disitu?” Ucap David yang sudah bersidekap dada, sedang Aileen yang di sampingnya hanya tersenyum malu.
“Emm, aku hanya menunggumu bos, kau tau kan kalau aku mengganggu pekerjaanmu kau akan marah padaku.” Alibi Aldo.
“Good, ayo berangkat!” Ucap David.
“Ingat tunggu aku ya,” David mengingatkan kembali ucapannya lalu mencium kening Aileen sebagai tanda perpisahan.
“Baiklah kau hati-hati! tanganmu masih dalam perawatan.” David menganggukkan kepala lalu pergi hingga dirinya hilang dalam pandangan Aileen.
David dan Aldo pergi menemui sosok orang yang menelpon David ke sebuah kota yang lumayan jauh dari tempatnya, mereka menempuhnya dalam waktu beberapa jam.
Mereka sampai disebuah restoran bergaya elegan yang terlihat mewah didalamnya, David membuka ponselnya, tertera ada sebuah pesan di nomornya.
‘Nomor 27’
David yang mengertipun segera menghampiri nomor tersebut dengan diikuti Aldo yang sedari tadi penasaran akan rencana bosnya itu.
David berdiri melihat nomor tersebut, seoarang wanita duduk membelakanginya yang memang tampak familiar baginya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Happy Reading😉😉😉