
Sudah satu menit Asyad memnadangi kelaurga itu, bahkan pelayan dirumah Lena sampai menwarkan untuk memanggil majikannya namun di larang oleh Asyad karena tak ingin merusak kebahagiaan yang sedang di nikmati pujaan hatinya.
Saat begitu bahagianya Iksa yang tak sadar akan keberadaan Asyad tiba-tiba ia ingin ke kamar mandi dan saat menoleh ke belakang ia melihat Asyad sedang bersandar di dinding ruang keluarga dan ia pun mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi.
“Asyad,” ucapnya begitu riang lalu berlari memeluk sang pujaan hati.
“Iksa jangan berlari seperti itu lantainya bertingkat, kau selalu saja ceroboh,” ucap Asyad sambil membalas pelukan dari Iksa.
“Kenapa tidak bilang kalau mau datang kau selalu membuatku terkejut, dan mengapa hanya berdiri di sini? kenapa tidak memanggilku?” tanyanya beruntun.
”Aku hanya tak ingin mengganggu kebahagiaan kekasihku dengan keluarganya karena setelah datang masa saat dimana kita akan bersama kaku akan menjadi sumber kebahagiaanmu dan mungkin akan sangat jarang bersama keluargamu.”
“Apa kau merindukanku?” tanya Iksa.
“Tentu, jelas aku sangat merindukanmu setiap kali berpisah darimu bahkan saat keluar dari rumah ini.”
“Ohhh kau manis sekali,” ucap Iksa sembari mencium pipi Asyad membuat wajahnya menjadi memerah akan tingkahnya sendiri.
Kedua orang tua Iksa yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ternyata putrinya sudah dewasa, Lena berfikir sikap Iksa begitu mirip dengannya agak pendiam namun jika sudah dekat ia seakan lepas dari karakter pendiamnya.
“Mommy dan Ayah masuk dulu ya, kalian lanjutkanlah,” ucap sang Ayah lalu menarik Lena dari pandangan yang membahagiakan itu.
“Selamat malam sayang,” Lena tersenyum lalu mengikuti suaminya menuju kamar pribadinya.
“Selamat malam Mommy,” jawab Iksa.
Iksa yang kini bersama Asyad di ruang tamu, mereka berbicara berdua dengan di temani duan gelas jus alpukat.
“Kau tau sayang, aku sangat takut tadi kau tak membalas pesanku,” ucap Asyad yang kini terlentang di pangkuan Iksa.
“Oh astaga maafkan aku, aku tadi sungguh ingin membalas pesanmu namun ketika Mommy berbicara padaku aku melupakannya dan ponselku masih ada di meja belakang mungkin aku tak menyentuhnya setelah melihat pesanmu,” Iksa menjelaskan keadaannya dengan wajah sedikit takut pada Asyad.
Asyad menangkup wajah Iksa dan mendongakkan wajahnya melihat begitu jelas wajah cantik Iksa, “Sayang, tak apa aku juga sangat bahagia melihatmu juga bahagia.”
“Aku mencintaimu,” ucap Iksa.
“Aku sungguh mencintaimu lebih dari apapun,” ucap Asyad lalu mereka menyatukan benda kenyal mereka masing-masing dengan begitu hangatnya.
Tak ingin terbuai nafsu Asyad pun menghentikan cumbuannya, “Kita akan melanjutkannya setelah kita menikah nanti.” Asyad bangun dari pangkuan Iksa dan merengkuh tubuh Iksa lalu memeluknya dengan erat.
“Kau tau aku sudah menemukan siapa dalang dari orang yang mencelakaimu sayang.”
“Oh iya, siapa memang?” tanyanya penasaran ia langsung melepaskan pelukan dari Asyad.
“Sahabatku sendiri,” ucap Asyad.
“HA, siapa? apa ada diantara sahabatmu yang pernah bertemu denganku?” tanya Iksa.
“Luna.”
“Luna?”
“Iya, dialah yang selama ini mencelakaimu lalu bersembunyi dari kesalahannya,” ucap Asyad mencoba menjelaskan.
“Memang apa salahku padanya? Bahakan kita jarang sekali bertemu, untuk apa dia berusaha menyakitiku.”
“Karena ia iri denganmu sayang, kau bisa dengan mudah mendapatkan hatiku sedangkan aku bersamanya bertahun-tahun tak pernah sama sekali melihat cintanya,” ucap Asyad lalu mencubit gemas pipi Iksa.
“Lebih sakit lagi saat malam pertama kita,” ucapnya sembari tersenyum penuh kemenangan.
“Kau, dasar otak mesum,” ujar Iksa kesal.
“Apa ia pernah menyatakan perasaannya padamu?” tanya Iksa.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Setelah selesai acara reuni waktu itu.”
“Kenapa kau tak cerita, pantas saja saat reuni dia amat sinis denganku sikapnya juga sangat berbeda saat sedang bersamamu bahkan ia seperti menganggapku seperti patung bagaimana tidak aku ini sudah jelas calon suamiku kenapa sikapnya sama sekali tidak menghargaiku.”
“Oh iya, jadi calon istriku kini merasa cembuu dengan kejadian itu, kenapa tidak bilang sih, padahal aku bakal seneng banget di cemburui sama calon istriku,” ucap Asyad semakin menggoda Iksa.
“Kau ini, sudah pulanglah ini sudah malam, untuk masalah Luna itu terserah kau saja, namun kalau bisa kau jangan terlalu menghukumnya aku mengerti bagaimana perasaannya saat itu.”
“Kau mengusirku?” tanya Asyad tanpa menganggapi kata-kata Iksa selanjutnya.
“Tidak hanya saja kau selalu tidak tau waktu, ini sudah malam kita ini juga belum resmi menikah apa coba nanti kata tetangga,” Iksa mengelak pertanyaan Asyad mencoba mencari kata-kata halus agar Asyad mengerti namun sepertinya Asyad malah semakin mempermainkannya.
“Peduli amat sama kata tetangga, baiklah kalau begitu.” Akhirnya Asyad menyerah karena melihat raut wajah Iksa yang begitu kesal karena dirinya.
“Aku akan pulang, sebelumnya aku minta night kiss sebelum aku pergi.”
“Kau......,” belum sempat melanjutkan perkataannya bibir ranum Iksa di bungkam oleh bibir Asyad hanya sebentar ya seperti salam perpisahan.
“Selamat malam sayang,”ucap Asyad lalu berlalu pergi dari rumah Iksa.
Asyad pun kembali ke hotelnya dan merebahkan dirinya yang nampak sangat lelah karena harus mengurus masalah penghapusan kontrak Luna lalu setelahnya ia meeting bersama client nya tanpa henti dan di buat merana akan Iksa yang mengabaikan pesannya, namun semuanya kelegaan terkumpul menjadi satu ia pun perlahan memejamkan matanya dan mulai pergi kea lam mimpi.
*
Gadis cantik yang tampak anggun yang kini sedang berdiri di hadapan seorang pria yang sudah berumur kini mendudukkan dirinya di kursi dengan sangat cantik bahkan siapapun yang melihat pasti ia akan mengenali seorang model ternama yang sedang naik daun.
“Saya ingin menghapus kontrak dengan anda Nona Luna,” ucap pak Anggara tegas begitu tegas dan berwibawa.
“Apa? Apa-apaan ini pak, kenapa tiba-tiba anda memutuskan kontrak secara sepihak.” Ucap Luna dengan nada penuh keterkejutan.
“Mohon maaf saya tidak bisa melanjutkan kerjasama kita, dan untuk Brand ambassador kami sudah menemukan model yang cukup sepadan dengan kamu.”
“Saya tidak terima dengan semua ini, saya merasa saya ataupun management saja tidak ada membuat salah pada perusahaan anda, bahkan perusahaan anda juga pasti sedang mengalami keuntungan dengan ketertarikan konsumen akan produk yang saya iklankan,” dengan penuh amarah Luna meneriaki seorang direktur tanpa sungkan sama sekali.
“Kau, tidak pantas berlaku seperti itu Nona Luna kau tak seharusnya meneriaki saya dengan nada tinggi anda, saya di sini hanya ingin menyelamatkan perusahaan saya, saya juga tidak mau membuat kontrak dengan seseorang yang akan mencemari nama perusahaan yang sudah susah payah saya bangun.” Jelas Anggara dengan intonasi sama tingginya.
“Apa maksud anda, saya mencemari perusahaan anda, alasan macam itu, pokoknya saya tidak terima, saya akan menuntut perusahaan anda karena membatalkan kontrak sebelum tanggal selesai.” Luna merasa sangat marah matanya penuh kilat merah tiba-tiba Anggara menyodorkan amplop coklat yang berisi sebuah bukti akan sosok dirinya di dalam kertas tersebut.
“Apa ini maksudnya, siapa yang berbuat seperti ini, pak saya mohon ini hanya issue saja saya tidak pernah berbuat seperti apa yang ada dalam foto ini dan rekaman ini darimana anda mendapatkannya?” tanya Luna dengan penuh rasa takut karena kejadian itu terekam seseorang namun siapa Luna hanya menerka-nerka dalam hatinya.
“Tidak perlu kau tau, cepat pergi dari sini dan mulai detik ini kau bukan lagi Brand ambassador dari perusahaan kami, daripada kau harus menyerahkan seumur hidupmu di dalam penjara menyedihkan itu.”
Luna benar-benar sesak sekali dadanya seakan di hantam dengan batu bongkahan besar,kerja kerasnya menjadi brand ambassador dari perusahaan yang sudah dia idamkan kini hancur sudah hanya karena seseorang yang sedang bermain-main dengan dirinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=