Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 58_Tak akan Mengulangi



Setelah sekretaris itu keluar Asyad dan Iksa kembali lagi dengan makanan yang sudah di siapkan Iksa, Asyad meminum sedikit jus yang di buat Iksa dan itu sukses membuat Asyad mencebikkan mulutnya karena rasa jus itu asin sekali.


"Sayang, ini kenapa jusnya asin sekali?"


"Kau kan tadi bilang kalau aku membuat dessert terlalu manis jadi aku pikir kau akan menyukai jika rasanya asin." Ucap Iksa dengan santai.


"Oke oke kau membalasku ternyata, baiklah sekarang akan aku coba makanannya, sepertinya tidak buruk," Asyad mengambil sendok dan mulai mencicipinya dan tidak ia sangka rasanya memang enak sekali namun semakin lama ada rasa panas yang membuat merah bibirnya makanan yang di buat Iksa sangat pedas.


"Sayang kau menambahkan cabe dimakananku, kau tau..." Asyad tiba-tiba memegang tenggorokannya karena ia memang tak bisa makan pedas.


"Asyad kau kenapa?" tanya Iksa panik, ia tak tau kalau Asyad memang benar-benar tidak bisa makan pedas ia hanya berfikir kalau dia hanya tak menyukai makanan pedas lalu ini, Iksa sungguh panik dia merasa bersalah sudah membuat kekasihnya kesakitan seperti ini.


"Asyad kamu jangan ninggalin aku, maafin aku!" Iksa menangis lalu ia bangkit dan keluar dari ruangan Asyad memanggil sekretaris untuk menelpon dokter.


Asyad masih berbaring di atas sofa, sedang Iksa memeluk perut Asyad dengan masih menangis.


Dokter pun datang dan segera memeriksa keadaan Asyad.


"Tenang saja Nona, Tuan Asyad tidak apa-apa saya sudah memberikan suntikan pereda sakitnya, Tuan Asyad memang tidak bisa makan pedas, karena bisa mnyumbat jalan nafas ditenggorokannya dan jika tidak cepat di tangani bisa mengakibatkan kematian," jelas sang dokter membuat Iksa merasa sangat bersalah ia hanya ingin bermain-main dengan Asyad namun malah membuat dirinya tersakiti.


"Yah dokter ini memang salah saya, terima kasih sudah memberi saran, Nona Silvi tolong antarkan Doternya keluar!" pintanya pada sekretaris.


"Baik Nona, mari dokter!" dokter dan sekretaris itu keluar dari ruangan Asyad menyisakan dua insan didalamnya.


Iksa masih merenung di sebelah Asyad tangannya terus saja menggenggam tangan besar milik Asyad dengan erat dan penuh perasaan takut iyah takut akan kehilangan dirinya.


Asyad membuka matanya perlahan ia mendengar isakan tangis yang tidak asing di telinganya saat melihat ada kepala yang sedang tidur diperutnya sambil menggenggam erat tangannya ia pun mengusap lembut rambut halus kekasihnya.


"Sayang!" Panggil Asyad, Iksa pun mendongak dan melihat apakah benar Asyad yang memanggil.


"Sayang, kau sudah bangun," Iksa langsung menghambur dipelukan Asyad.


"Aku memang kenapa?" Asyad pura-pura tidak tau.


"Maaf maafin aku, aku janji tidak akan mengulanginya lagi aku janji." ucapnya yang masih menangis dipelukan Asyad.


"Sayang, sudah aku tidak apa-apa, sini dulu!" Asyad melepaskan pelukan Iksa ia bangkit bangun dari tidurnya dan duduk lalu menarik Iksa ke pangkuannya.


"Aku sudah tidak apa-apa, kau jangan menyalahkan dirimu sayang," Asyad membelai lembut rambut Iksa.


"Tapiii..."


"Ssssttt, sudah aku tidak mau dengar lagi," Asyad menggunakan rasa bersalah Iksa sebagai kesempatan mendapatkan ciuman dari sang kekasih.


Asyad menarik bibir mungil milik Iksa ia mel*mat bibirnya lembut Iksa yang terlalu merasa bersalah ia mencoba untuk membuat kekasihnya senang sebagai rasa terima kasih karena Asyad masih memaafkan kesalahan fatalnya.


Mereka bercumbu tanpa henti tangan Asyad yang semula memeluk perut Iksa kini merambat ke leher Iksa dan memegang benda yang menonjol di dada Iksa, ciuman Asyad pun kini merambah turun ke leher Iksa, terasa sebuah galenyar panas saat Iksa merasakan sentuhan tangan Asyad di dada sintalnya Iksa mer*mas kuat rambut Asyad dan akhirnya sebuah desahan lolos keluar dari bibir mungil milik Iksa.


Drrrttt drrrttt drrttt


Tiba-tiba suara ponsel Iksa berbunyi mereka berdua benar-benar sudah diliputi gairah hingga tak mendengar suara ponsel tersebut.


Suara tersebut semakin mengganggu pendengaran Iksa, hingga Iksa mencoba melepaskan diri dari Asyad.


"Asyad, sudah! ada telpon!" Iksa menarik tubuhnya dari Asyad.


"Mengganggu saja!" gerutu Asyad.


Iksa mengangkat panggilan dari seseorang yang tak lain adalah sahabatnya Nela.


"Emmm iya halo Nel, ada apa?" tanya Iksa yang membuat Asyad melirik dan seakan ingin memberi tau orang di sebrang sana bahwa ia tidak ingin diganggu dengan suara cempreng itu.


"Iksa, apa aku mengganggumu?" tanya Nela.


"Ti-tidak kau tak menggangguku sama sekali," Asyad melirik Iksa yang masih dipangkuannya bisa-bisanya Iksa berkata tidak terganggu sama sekali padahal ia juga menikmati kemesraannya.


"Iksa, Kendra menyatakan cinta padaku, aku benar-benar bingung mau menerimanya atau tidak kau tau kan dia sangat mencintaimu dulu bahkan ia mengatakannya dihadapanku," ucap Nela panjang lebar.


"Terserah kau saja kau yang menjalani hubungan jika kau memiliki perasaan yang sama dengannya kenapa tidak, kau jangan memikirkanku aku sudah bersama dengan sahabatmu yang nakal ini," ucap Iksa cekikikan sementara Asyad hanya memandanginya sejak tadi.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menelpon Kila dan minta pendapatnya, bye Iksa," Nela mematikan sambungan telponnya.


Iksa melihat Asyad sejak tadi memandanginya,


"Asyad!"


"Yah,"


"Aku lapar!"


"Hmm kau ini, padahal kan tugasmu yang membawakan makanan untukku kenapa sekarang jadi kau yang lapar."


"Ayolah, kau tega denganku aku sudah lemas bahkan kau sedari tadi menciumku sampai nafasku tersengal-sengal." Ucap Iksa dengan nada merayunya.


"Baiklah tuan putri, karena kau sudah memberiku pemanasan tadi maka aku akan menuruti semua perkataanmu hari ini," Asyad menurunkan Iksa dari pangkuannya lalu ia menggandeng tangan Iksa keluar dari ruangannya.


Mereka pergi ke sebuah restoran yang cukup mewah, setelah mobil Asyad sampai di parkiran restoran tersebut ia pun keluar dengan Iksa yang langsung keluar dari mobil sendiri ia tak mau Asyad membukakan pintu mobilnya bagai seorang putri saja.


Mereka pun masuk kedalam restoran tersebut dan disambut hangat oleh pelayan yang cantik dan menarik.


Mereka memilih menu favorit mereka masing-masing dan saat menunggu pesanan datang mata Asyad melihat seseorang yang tak asing bagi matanya, ia melihat gerak gerik orang tersebut dengan tatapan tajamnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=