
Setelah usai sekolah Iksa dan Kila segera keluar kelas tak sengaja mereka bertemu Kendra temannya
“Hai Iksa hai Kila,” sapa Kendra.
“Hai ken, wah selamat ya Ken kau mendapat peringkat nomor satu di sekolah ini, gak cuman muka aja yang ganteng tapi tu otakmu encer banget dah,” celetuk Kila pada Kendra.
“Selamat ya Ken,” ucap Iksa singkat.
“Makasih ya, oh iya kalian mau langsung pulang?” tanya Kendra.
“Mungkin,” jawab Kila.
“Emang kenapa Ken?” tanya Kila.
“Mau ngajak kalian jalan, habis ini kan kita bakal pisah sekolah, jadi kita rayain perpisahan ini sama – sama gimana?” ajak Kendra dengan senyum manisnya yang ditujukan.
“Ah boleh boleh, aku mau Ken...by the way kau bakal ngajak kita makan juga kan?”
“Pasti lah Kil, aku yang traktir kalian,” jawab Kendra.
“Kau ya Kil, kalau soal makanan saja semangatnya minta ampun,” sahut Iksa yang tak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya.
“Eh tunggu ajak Nela juga ya....” sahut Iksa lagi.
Kendra pun mengiyakan permintaan Iksa, mereka pun menyusul Nela ke ruang kelasnya dan mereka berangkat bersama menuju sebuah restoran terlebih dahulu karena jam yang sudah menunjukkan waktu makan siang.
“Ken, by the way kaj mau lanjut kuliah kemana?” tanya Kila.
“Entah masih belum kepikiran?” jawab Kendra sembari melihat Iksa yang sedari tadi tak berbicara dengannya, padahal niatnya mengajak jalan karena Kendra ingin mendekati Iksa ia memang menaruh hati pada Iksa sejak kelas 11 namun ia tak berani mengungkapkan atau mendekatinya karena ia terlalu takut.
“Kalo kau Nel, kau mau lanjut kemana setelah ini?” tanya Kila pada Nela.
“Entah lah Kil, aku juga belum terfikirkan mau lanjut kemana,” jawab Nela agak terlihat murung.
“Jawaban kalian berdua kok sama sama gak tau sih, atau jangan jangan kalian niat ke universitas yang sama ya, ya secara kalian sama-sama saling menyukai dunia informatika,” tebak Kila yang menggoda Nela dan Kendra.
Kendra hanya tersenyum kecut dan masih melihat ke arah Iksa yang masih belum angkat bicara sedari tadi, lalu dengan keberaniannya Kendra pun angkat bicara.
“Kau bakal lanjut kemana Sa?” tanya
Kendra.
“Eh...aku...aku bakal ke Bandung Ken.”
“Kenapa harus ke bandung Sa? Emang di universitas sini gak ada yang menarik minatmu ya?” tanyanya yang terkejut kalau Iksa akan ke bandung karena kalau memang Iksa ke sana mungkin Kendra gak akan bisa ketemu dia lagi.
“Aku ingin mengenyam pendidikan terakhirku di Bandung, di kota kelahiranku.”
“Iyap betul Ken aku juga ikut Iksa kesana karena ayahku juga bekerja disana,” sahut Kila yang hanya mendapat lirikan dari Iksa.
“Yaaaa...kita bakalan terpisah dong, padahal baru aja aku nemuin sahabat setulus dan sebaik kalian eh kalian malah akan pergi jauh,” ucap Nela begitu sedih karena sahabatnya akan meninggalkannya.
“Kita bakal sering-sering main ke sini kok Nel,” jawab Iksa menenangkan Nela agar ia tak terlihat sedih.
“Iya kenapa kau jadi melow begitu sih Nel, keluarga kita masih di Surabaya semua jadi kita berdua pasti akan sering pulang ke sini, ya meskipun gak tiap hari,” timpal Kila sambil terkekeh di depan Nela.
Pesanan mereka pun datang dan mereka pun makan dengan begitu lahap sesekali Kendra melirik Iksa yang sedang makan. Kendra begitu menikmati wajah Iksa ia begitu mencintainya dan baru kali ini ia bisa membawa sosok yang di cintai itu jalan bersama meskipun dengan sahabatnya namun ia tetap merasa senang.
“Kita ke taman kota yuk,” ajak Kendra kepada 3 wanita di hadapannya.
“Hayukkkk Ken,” jawab Kila antusias.
“Aku bareng kau ya Ken, si Kila kalo naik motor kenceng banget gak liat jalan lama – lama di bonceng tu anak bisa mati aku di jalan,” pinta Nela.
“Sembarangan, gini-gini tu aku lihai pake motor, emang kaunya aja yang gak pernah naik motor tiap hari pulang pergi naik mobil, naik motor sekali aja udah oleng,” sahut Kila yang tak terima dengan tuduhan Nela.
“Cih..bilang aja mau deket deket sama Kendra,” gumam Kila dalam hati.
Iksa yang terdiam pun hanya melihat kelakuan Nela dan Kila ia tak berani menawarkan boncengan pada Nela karena Iksa paling tidak suka membonceng seseorang kalaupun ada yang pengen nebeng Iksa pasti ia bakal nyuruh orang itu buat bonceng dirinya karena ia berfikir takut mencelakai seseorang jika dia yang memboncengnya.
Mereka berempat pun bergegas ke taman kota, Kendra yang ke kasir terlebih dahulu membayar semua makanannya dan mengajak mereka keluar restoran.
Sesampainya di taman kota mereka menikmati pemandangan di taman tersebut mereka asyik sendiri – sendiri Nela dan Kila yang pada asyik berselfie ria namun Iksa memilih ke sebuah tempat duduk dan menikmati pemandangan disana.
Kendra yang melihat Iksa sendiri ia pun mencoba mendekatinya dan menghampiri Iksa untuk duduk di sampingnya.
“Hai, kenapa melamun?” tanya Kendra.
“Hmmm gak apa apa kok,” balas Iksa.
“Oh ya? Kau terlihat murung begitu sih dari tadi ku perhatikan kau tak seheboh teman temanmu itu, apa ada yang kau fikirkan?”
“Gak ada Ken aku hanya lelah dan kenyang aja kok makanya aku duduk disini, aku cuman hargain kau yang udah mengajakku jalan-jalan.”
“Ohhh jadi kau sebenernya tak ingin ikut, kenapa?”
“Iya, aku lihat Kila antusias banget dan Nela juga seneng pas di ajak jadi aku ya ngikut aja Ken, aku sebenernya lagi gak mood buat ikut aku pengennya cepet pulang dan tidur, beneran aku capek,” jelas Iksa sedikit membuat Kendra tersinggung karena Iksa tau dari tadi Kendra ingin mendekatinya namun Iksa merasa tak nyaman bila harus berdekatan seperti ini dengannya.
“Oh kau capek, aku anter pulang aja ya Sa? Nanti biar motor kamu di bawakan pak Ujang.”
“Pak Ujang?”
“Iya dia supir pribadi papaku, nanti biar dia kesini bawa motormu pulang, sekarang kau pulang biar aku antar pake motorku Sa,” ajak Kendra begitu kekeh dengan Iksa.
“Eh...nggak nggak Ken apaan coba, aku masih bisa nyetir motor aku sendiri kau tak usah berlebihan seperti itu,” kesal Iksa yang bermaksud menyinggung Kendra malah dia tambah di perhatiin berlebihan seperti itu.
“Oh ya sudah kalau begitu kita pulang aja Sa, biar kau juga bisa istirahat,” pintanya lalu memanggil Nela dan Kila.
Mereka pun segera menuju tempat parkir dan pulang menuju rumah mereka masing – masing.
*
Sesampainya Iksa di rumah ia pun segera menuju kamar tercintanya dan menghamburkan tubuhnya ke bed kamarnya.
Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu yang terdengar dari kamar Iksa lalu dengan sigap Iksa bangkit dari tidurnya dan membuka kamar pintunya
“Mama?”
“Hai sayang tumben baru pulang malam – malam begini,” tanya Maria pada Iksa
“Tadi Iksa di ajak teman – teman jalan ma, hanya bentuk salam perpisahan aja ma, kita cuman makan bareng dan maen aja kok ma,” jelas Iksa pada Maria.
“Oh gitu, tak kira anak mama habis dari mana, mama takut kamu kenapa – napa dari tadi mama telfon kamu ponsel kamu gak aktif.”
“Ponsel Iksa mati ma, lowbat, Iksa lupa charge tadi.”
“Oh iya nak mama sampai lupa ngasih tau kamu, kemaren mama nemuin surat ini pas di deket mesin cuci, mama yakin ini surat buat kamu karena tertulis namamu di surat itu,” jelas Maria member tau Iksa tentang surat itu.
“Mama buang aja suratnya, Iksa gak mau baca surat gak penting itu,” jawab Iksa ketus dan merasa kesal akan surat itu bukan pada surat sih lebih tepatnya pada pengirim surat itu.
“Mama sudah menduga, oke kalau kamu gak mau baca, mama sendiri yang akan menyimpannya mama tau kelak kamu pasti ingin menegetahui isi dari surat ini,” tutur Maria.
“Terserah mama.”
\=\=\=\=\=\=