
Setelah Venya menginap di hotel, Fery selalu mendatanginya diam-diam ia meminta izin pada Asyad agar diberi kunci cadangan kamar milik Venya karena Ia selalu berusaha menghubungi Venya namun tak pernah sama sekali di tanggapi oleh Venya bahkan semua pesan yang di kirim Fery hanya di lihat tanpa di balasnya sama sekali.
Ahhhh….
Teriak Venya saat melihat Fery duduk di sofa kamarnya.
“Kamu…” Venya menatap tajam penuh kebencian dengan pria di hadapannya.
“Vey, ku mohon dengarkan penjelasanku, aku mohon kali ini saja jangan mengusirku, aku akan jelaskan semuanya.” Pintanya sembari menenangkan Venya yang sedang menatap tajam dirinya.
Perlahan Fery mendekati Venya namun Venya tak menghentikannya hingga kini mereka saling berhadapan namun wajah Venya tak memandang Fery sama sekali, ia memandang arah pintu kamar mandi yang sedari tadi menjadi objek pemandangannya seakan pintu itu lebih menarik dari wajah Fery di hadapannya.
“Aku tak pernah sama sekali mengkhianatimu Sayang.”
“Jangan panggil aku dengan panggilan itu,” Bentak Venya.
“Ok, maafkan aku, Vey, aku tak pernah sama sekali mengkhianatimu sungguh, kau salah paham denganku, dia hanya ingin berpamitan saja denganku, iya dia memang memiliki perasaan denganku namun aku menolaknya karena aku sangat menyayangimu Vey, dia pergi karena tak ingin perasaannya semakin berkembang bila melihatku terus, ia akan pindah kuliah ke luar kota dan ia memintaku untuk memberi pelukan perpisahan namun sungguh aku tak mengiyakan itu aku malah syok saat ia tiba-tiba memelukku dan saat itu kau datang lalu kau salah paham denganku.” Jelas Fery perlahan meraih jemari Venya di genggamannya.
“Kau tak sedang membohongiku kan,” ucap Venya sendu setelah mendapat penjelasan dari Fery.
“Sungguh sayang, bahkan saat kau melihatku aku langsung melepas pelukan itu dan berusaha mengejarmu namun karena kau menghentikan taxi dan aku tak bisa mengejarmu aku pun langsung menuju ke rumahmu hingga larut aku menunggumu di apartment namun kau tak membukakan pintu akhirnya aku memilih untuk mendatangimu besok, dan betapa kagetnya saat ku tau kau sudah tak ada di apartment karena saat itu ada seseorang yang melihatmu membawa koper besar aku pun langsung berpikir bahwa kau pasti pulang ke Indonesia, dan sekarang aku menemukanmu sayang.” Fery pun mencoba mencium punggung tangan Venya namun tak ada penolakan ia pun berusaha merengkuh Venya dalam pelukannya sedetik kemudian Venya membalas pelukan Fery.
“Maaf,” ucap Venya.
“Ssssttt, aku yang minta maaf membuatmu seperti ini sayang.” Ucap Fery melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Venya lalu dengan cepat ia meraih bibir ranum Venya mereka melampiaskannya kerinduan satu sama lain hingga sepuluh menit berlalu namun Fery masih asyik mencecap bibir Venya seakan ia tak ingin melepaskan Venya dari sisinya.
Perlahan mereka melepas ciumannya, Fery masih melihat Venya dengan mata berbinar di kedua mata kekasihnya sungguh Fery sangat merindukan Venya ia tak ingin kehilangan sahabat yang merangkap menjadi kekasihnya tersebut.
“Kita kembali ya sayang,” ucap Fery perlahan masih merengkuh tubuh mungil Venya, lalu Venya hanya menganggukkan kepalanya seakan ia telah terhipnotis akan kata-kata Fery. Fery yang melihat anggukan Venya ia begitu senang senyum merekah tercipta di bibir tebal miliknya.
*
Saat Asyad akan datang ke kamar sahabatnya memastikan bahwa ia baik-baik saja tiba-tiba saja sepasang kekasih itu keluar dari kamar Venya dengan senyuman di kedua bibirnya. Asyad yang melihat itu sungguh ikut bahagia pasalnya melihat raut wajah Fery yang tak bahagia membuatnya juga merasakan sedih namun saat sekarang melihat pemandangan di depan matanya Asyad pun langsung mendekat menghampiri mereka berdua.
“Wah ada yang lagi bahagia ini.” Ucap Asyad menggoda kedua sahabatnya.
“Bro, makasih ya buat semuanya.” Ucap Fery menepuk bahu Asyad.
“It’s Ok, tapi tunggu kalian berdua berhutang penjelasan padaku.”
“Ok, baiklah.”
“Ayo kita makan siang dulu, aku akan mentraktir kalian.” Ucap Asyad lalu mengajak dua sejoli itu menuju restoran yang berada di hotel tersebut.
“Hay.” Ucap seorang perempuan di hadapan mereka.
“Oh hay, Luna kau semakin cantik saja,” ucap Venya kepada sahabatnya.
“Oh iya, hmm ini biasa saja Vey, kalau memang aku secantik itu pasti sekarang aku tak akan sendiri kan saat ini.” Ucap Luna sembari melirik Asyad dan melihat responnya namun Asyad sama sekali tak merespon ucapan Luna ia masih fokus dengan makanannya.
“Oh iya, aku rasa kau saja yang terlalu pemilih, aku yakin di luar sana tak akan ada seorang laki-laki yang akan menolak wanita secantik dan sehebat dirimu Lun.” Puji Venya yang membuat Luna semakin bangga di hadapan sahabatnya.
“Oh terima kasih Vey, kau memang sahabat terbaikku.” Luna memeluk Venya.
“Ayo kita makan bersama Lun, emm kau menginap di sini juga Lun?” tanya Venya.
“Iya, aku menginap di sini karena aku ada pemotretan di daerah dekat sini.” Ucap Luna berbohong.
“Emm aku rasa kau dan Fery memilki hubungan khusus ya, karena melihat tingkah Fery yang sedari tadi memeluk pinggangmu tanpa melepas tangannya.” Tanya Luna menyelidik membuat Venya nampak bingung namun tidak dengan Fery yang masih asyik tangannya menempel di pinggang Venya.
“Emm, Fer lepaskan tanganmu ini.” Venya mengalihkan pandangannya dari Luna dan menatap Fery seakan memohon untuk melepas tangannya, namun Fery malah semakin erat memeluk pinggang Venya, Venya pun hanya bisa pasrah dengan kelakuan kekasihnya yang sangat posesif.
“Iya kita memang sudah lama menjalani hubungan ini, dan untuk kali ini kalian semua sudah mengetahui hubunganku dengan Venya jadi aku mohon kita tetap bersahabat,” ucap Fery agar sahabatnya mengerti.
“Kau tau Fer, bagaimana perjanjian kita bahwa tak ada sahabat yang akan mencintai sahabatnya karena itu akan membuat hubungan kita semakin jauh,” Luna berucap seakan menyindir dirinya sendiri.
“Ok terserah namun satu hal aku tak akan pernah mengorbankan cintaku demi persahabatan kita, aku masih ingi bersahabat dengan kalian kalau memang kalian menganggap aku dan Venya adalah sahabat yang igkar dengan janjinya aku tak masalah karena aku juga memiliki cinta yang tulus bersama Venya iyakan sayang?” Fery menatap Venya yang masih ragu.
“Kau bicara apa sih, itu hanya bercandaan saja untuk apa kau anggap serius, kalau kau memang mencintai Venya maka jangan pernah membuatnya terluka jika itu terjadi makan kami semua tak akan pernah menganggapmu sebagai sahabat.” Ucap Asyad seakan meyakinkan Fery untuk tak terpengaruh dengan perjanjian konyol itu karena sesungguhnya cinta tak pernah tau dimana ia akan berlabuh.
Luna yang mendengar itu seakan hatinya terbelah bagaimana tidak Asyad dengan begitu mudahnya menganggap itu dengan perjanjian konyol, ia tak tau bagaimana hatinya memendam perasaan selama bertahun tahun hanya karena menjaga persahabatannya, sungguh Luna sangat kecewa pada Asyad, namun ia masih memberi tatapan ceria di hadapan sahabatnya. Tak lama dari itu Luna pun berpamitan pergi dari hadapan sahabatnya.
Setelah kepergian Luna, Fery pun memberi tau Asyad bahwa ia dan Venya akan kembali ke Singapura karena kesalahpahaman antara dirinya dan Venya sudah terselesaikan. Asyad yang menyadari itu ia pun hanya mengiyakan permintaan sahabatnya.
“Jadi kapan kalian akan kembali?” taya Asyad.
“Besok, kita akan kembali besok, kita sebentar lagi akan wisuda jadi kita harus secepatnya kembali.”
“Ok, kalian hati-hati disana, Fer jaga Venya jangan sampai terulang lagi kejadian seperti kemarin.” Pinta Asyad kepada kedua sahabatnya.
“Terima kasih banyak Syad, aku tak akan melupakan semua kebaikanmu,” ucap Venya dengan senyum mereka di bibirnya.
Fery dan Venya pun kembali ke kamar, sedang Asyad menuju ruangannya untuk memulai pekerjaannya kembali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=