
Saat mereka saling memandang satu sama lain seorang yang tak asing sedang bersama orang lain itu terlihat sangat mesra bahkan Iksa mulai memicingkan pandangannya begitu tajam.
“Asyad, mereka sedang apa?” tanya Iksa merasa penasaran.
“Aku juga tidak tau, atau kita tunggu saja mereka sampai datang, siapa tau kita bisa bertanya pada mereka.”
“Apa itu kekasihnya?” tanya Iksa kembali.
“Sayang mana aku tau, nanti kita tanyakan, kenapa kau jadi sangat penasaran sekali?” jawab Asyad dengan perasaan kesal padahal ia sendiri baru saja melihat itu, namun istrinya menanyakan berulang kali seolah ia mengetahuinya.
“Kenapa kau jadi marah?” Iksa memandang kesal suaminya.
“Sayang aku tidak marah, aku memang tidak tau dia itu siapanya Nela.” Asyad
memelankan suaranya ia tak ingin kesalnya sampai terlihat oleh istrinya.
Seketika air mata Iksa menetes begitu saja, melihat itu Asyad semakin bingung dengan istrinya, dia hanya berkata seperti itu saja kenapa dia tiba-tiba menangis.
“Sayang kenapa menangis?” tanya Asyad sambil mengarahkan wajahnya tepat didepannya.
“Sayang!” Iksa hanya menggelengkan kepalanya saja tak ingin menjawab pertanyaan Asyad karena ia masih merasa kesal dengan nada Asyad yang memang seperti kesal padanya.
“Ya sudah kita pulang saja, tidak usah menunggu mereka datang,” Asyad menjalankan mobilnya karena ia merasa menunggu Nela hanya akan memancing pertengkaran dengan istrinya karena pertanyaan pertanyaan yang tak bisa ia jawab.
Selama perjalanan Asyad menggenggam tangan istrinya menenangkan kekesalan Iksa yang tak kunjung pudar. Dengan sengaja Asyad menghidupkan lagu di mobilnya sebuah lagu dari westlife what about now
Shadows fill an empty heart as love is fading
From all the things that we are, but are not saying
Can we see beyond the stars and make it to the dawn?
Change the colors of the sky and open up to
The ways you made me feel alive the ways I loved you
For all the things that never died to make it through the night
Love will find you
Lagu itu berputar mengisi suara keheningan di dalam mobil dan mulai membuat keduanya serasa bernostalgia dalam angannya mengingat apa yang tersirat didalam lagu tersebut seperti mengisahkan kisah mereka selama ini.
“Sayang, maafkan aku ya tadi aku tidak sengaja kesal padamu.” Asyad mencoba membujuk Iksa agar bisa mencairkan hatinya yang sedang dingin.
“Iya,” Jawab Iksa singkat dan padat.
“Sayang!”
“Hmmm.” Jawab Iksa masih merasa malas.
“Kamu lapar?”
“Tidak!”
“Sayang!”
“Hmmm.”
“Sayang!”
“Hmmm.”
“Sayang!”
“Hmmm.”
“Katanya tadi sudah dimaafin kenapa masih ngambek sih?”
“Oke, aku mengerti,” Asyad hanya tersenyum sinis pada sang istri, entah apa yang dipikirkannya.
Setelah sampai rumah Asyad turun dari mobil ia langsung menangkap tubuh Iksa digendongannya lalu berjalan menuju pintu rumahnya, Iksa yang sedari tadi memberontak karena sikap Asyad yang membuat Iksa terkejut ia semakin berusaha melepaskan diri dari gendongan Asyad.
“Asyad turunkan aku!”
“Tidak akan.”
“Asyad!”
“Hmmm.”
“Asyad lepas!”
“Tidak akan.”
“Kau ini kenapa?” tanya Iksa sembari tetap memberontak.
“Kau ini yang kenapa?” tanya Asyad balik.
Iksa diam ia menyerah dengan perlakuan Asyad ia juga malas menjawab pertanyaan Asyad.
Melihat itu itu Asyad dengn sigap membawa Iksa ke kamar mereka, sesampainya disana Asyad mendudukkan Iksa di sofa yang terletak didepan ranjang miliknya, ia berdiri untuk mengunci kamarnya lalu kuncinya ia cabut dan diletakkan di atas nakas tanpa Iksa tau, karena sedari tadi Iksa tidak melihat Asyad setelah Asyad mendudukkannya di sofa ia masih sangat kesal dengan suaminya.
“Sayang.” Asyad mulai merayu istrinya memluk Iksa dari belakang menyangga kepalanya di bahu Iksa namun Iksa masih tak bergeming ia hanya diam saja tetap tak ingin menjawab.
Asyad semakin melancarkan aksinya ia ingin membuat istrinya kembali bicara kembali, tangannya yang tadi luar perut Iksa mulai merambat dibalik pakaian yang dikenakan Iksa.
Melihat itu Iksa masih diam saja meski dirinya sudah merasa geli karena kelakuan suaminya yang sedari tadi meraba perut datarnya.
“Hai little,” Asyad mencoba bebicara pada calon anaknya meski posisi kepalanya masih tetap berada di posisi yang sama, “Ayah kangen nih, pengen nengokin kamu.” Ucapnya membuat Iksa menoleh pada sang suami lalu menepuk tangan Asyad yang semakin bergerilya kedalam.
“Aduh sayang sakit,” keluhnya bohong, ia merasa senang istrinya beraksi.
“Kau jangan berpikiran aneh-aneh,” ucap Iksa penuh penekanan.
“Apa sih sayang, aku kan ingin menengok si little didalam, pasti si little senang melihat ayahnya datang.”
“Kau!”
Iksa mencoba memberontak namun Asyad malah mendekap semakin erat namun dekapannya sudah tak di perut Iksa melainkan di dadanya, tangannya sudah mulai menyelip di bawah pakaian dalam Iksa, ia mulai memijat mijatnya dan menekannya membuat Iksa yang tadi berontak mulai melemah tubuhnya terasa bergetar hebat sesuatu dalam dirinya seolah terasa berdenyut.
“A-syad le-paskan,” pinta Iksa namun Asyad masih saja tak bergeming dari aksinya.
Satu tangannya meraih dagu Iksa lalu mencium bibir yang sedari tadi tak mau bicara padanya, ia mencium dalam bibirnya memaksa Iksa membuka bibirnya dengan sedikit menggigit bibir ranumnya, Iksa yang merasakan itu ia pun tanpa sengaja membuka bibirnya dan mulailah lidah Asyad masuk menerobos ke dalam mencari lidah Iksa untuk ia belitkan dengan lidahnya.
Ciuman Asyad semakin agresif bahkan ia sudah tak peduli lagi dengan tangan Iksa yang ingin menyingkirkan tangannya, Asyad tidak peduli tangannya yang sedari masih berkelana di dua bukit kembar itu mencari sebuah pengait pakaian dalam Iksa setelah menemukannya ia melepaskan sambungan kawat dibelakangnya sehingga pakaian dalam itu menjadi longgar dan tangan Asyad semakin mudah bekerja.
“Syad, eughh.” Iksa mulai mendesah tubuhnya semakin panas dengan kelakuan suaminya, mendengar itu Asyad tersenyum didalam ciumannya ia merasa Iksa sudah menyerah, dengan tega Asyad melepaskan ciumannya.
Iksa seperti kehilangan sesuatu saat bibirnya terlepas dari bibir Asyad membuat Iksa kesal, ia sudah sangat panas dan Asyad malah berhenti begitu saja, ia pun langsung menarik wajah Asyad kembali menciumnya dengan agresif, Asyad senang istrinya sudah mulai mencair melihat kelakuan sang istri seperti tak ingin mengakhiri permainan ini Asyad melepaskan tangannya dari kedua bukit tersebut, lalu mengangkat tubuh sang istri dengan masih bibir yang saling bertautan, Asyad membaringkan Iksa di atas ranjang tangannya mulai melepas tali pakaian Iksa sehingga membuat semua pusat pakaian menjadi kendur lalu kancing didalamnya pun dengan mudah Asyad lepas karena hanya dengan menariknya benda itu terlepas dari tautannya.
Iksa yang tak tinggal diam pun melepas ikat pinggang Asyad, namun ia sedikit kesusahan karena ikat pinggang Asyad yang masih baru di beli kemarin dan ia belum hafal letak melepasnya.
Melihat itu Asyad bangkit dari tubuh Iksa yang berada di bawahnya dan melepaskan sendiri ikat pinggangnya serta semua kain yang melekat di tubuhnya, dengan cepat Asyad kembali menindih tubuh Iksa kembali.
“Pelan-pelan.” Ucap Iksa di sela permainan panas mereka.
“Iya sayang, aku tak akan menyakiti bayi kita,” Asyad mencium kening Iksa lalu mempercepat gerakannya tak terlalu agresif mengingat didalam sana ada malaikat kecilnya.
Setelah pelepasan yang sudah mereka dapatkan Asyad memeluk erat tubuh Iksa sembari menghujami ciuman di wajah sang istri yang terlihat memejamkan matanya karena kelelahan namun tak dapat di pungkiri keduanya merasa sangat bahagia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa dong like dan votenya, jangan pelit-pelitlah🙏🙏