Sebintang Rindu

Sebintang Rindu
Part 10_Kesalah Pahaman tak berarti



Bel istirahat pun berbunyi anak anak pun berhamburan keluar kelas setelah guru memutuskan untuk mengakhiri pelajarannya, namun kali ini Iksa hanya agak bingung melihat Kila dari tadi, semenjak berbicara tentang Nela tadi Kila sepertinya lebih banyak diam padahal meski saat pelajaran Kila selalu mengajak Iksa bicara.


“Kil, kau tak istirahat dulu, kita ke kantin bareng yukk!” ajak Iksa sambil menatap Kila yang masih diam di tempat duduk nya dengan mengeluarkan buku untuk pelajaran selanjutnya.


“Nggak Sa, kalo kau mau ke kantin, ke kantin saja sana gak usah nungguin aku, kan sekarang kau sudah ada Nela temenmu yang katanya baik banget sudah menolongmu,” jawabnya sambil menatap sinis pada Iksa.


“Astaga Kil, kok bilangnya gitu sih, emang salah kalo aku temenan sama Nela, kita kan juga satu sekolah.”


"Kau tak punya salah kok, mau temenan sama siapa aja, aku rasa kau cuman nganggep aku temen biasa seperti yang lain bukan lagi sahabat yang selalu ada buatmu.”


“Sebenernya kau ini kenapa sih Kil, memangnya apa masalahnya sampai kau merasa aku tak menganggapmu sahabat.”


“Kau nggak pernah cerita sama aku kalo kau sering jalan sama Nela semenjak dua bulan lalu, lantas selama ini aku cerita tentang Nela yang kelakuannya seperti itu pasti kau sudah mengadu ke Nela secara selama ini kan aku sering ngolok - ngolokin si Nela di depanmu dan ternyata di belakangku kau berteman dekat sama si Nela.”


Iksa hanya melongo saja mendengar penjelasan si Kila ‘menganggap ia bakal mengadu domba mereka berdua memang ia sahabat yang seperti apa menurut si Kila sampai sampai mengira ia ngomongin semua perkataannya ke Nela, tak habis pikir dengan jalan fikiran si Kila’.


“Ya ampun Kil ya nggak mungkin lah aku kayak gitu, kau jangan berfikir negatif dulu, aku bukannya gak mau cerita emang kan gak penting juga di ceritain, aku sama Nela berteman layaknya teman yang lain, ” ucap Iksa.


“Ayo ke kantin, ke buru habis jam istirahatnya!” lalu menggapai lengan Kila dan menarik paksanya tak peduli dengan pikiran Kila tentangnya karena Iksa menganggap Kila hanya salah paham saja.


“Iya iya aku percaya Sa, tapi kalo ada apa-apa musti cerita dong sama aku kan aku sahabatmu ya meskipun nggak semua masalahmu harus aku tau kan seenggaknya kalo menyangkut dengan si Nela kau harusnya bilang sama aku dan aku bisa tau, aku pun juga gak bakalan ngata-ngatain si Nela kayak gitu Sa,” sambil berjalan beriringan menuju kantin sekolah.


“Iya iya aku janji deh bakal selalu cerita sama kau, kau kan sahabat the best aku gak mungkin lah aku menganggapmu seperti teman biasa,” Iksa melingkarkan jari kelingkingnya dan Kila bertaut lekat akhirnya si Kila pun tak ngambek lagi.


Saat tiba di kantin Iksa dan Kila memesan menu kesukaan mereka ya tentu saja makanan berkuah dengan daging bulat apalagi coba kalau bukan bakso, Iksa memesan dua porsi bakso yang ditaruh nampan dan dua gelas es jeruk sedangkan Kila menunggunya di tempat meja yang paling pojok, iya tempat kesukaan mereka, Iksa pun menuju meja yang tengah di duduki Kila ia pun menaruh makanan tersebut ke meja dan kila dengan sigap mengambil bakso dan es jeruk nya mereka pun menikmati makanan bersama, saat sedang makan tak mereka sangka seseorang datang menghampiri mereka.


“Boleh gabung?”


“Eh oh iya silahkan,” jawab Kila dengan terkejutnya.


“Iya Nel, gabung aja mejanya kosong kok,” jawab Iksa dengan santainya.


“Udah dari tadi Sa?” tanya si Nela.


“Enggak sih baru kok Nel, ini aja baru makan,” jawab Iksa.


“ Oh iya, aku Kila, sahabatnya si Iksa, ajaib ya aku hehehehe,” sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal itu.


Mereka bertiga melanjutkan obrolan di sela sela makannya, tak terasa hingga bel masuk pun berbunyi akhirnya mereka pun langsung menuju kelas mereka masing - masing dan melanjutkan pelajaran dengan di isi pelajaran bahasa Indonesia dan matematika di jam ke tiga dan terakhir pelajaran program kejuruan namun di pelajaran kejuruan ini hanya teori saja karena memang yang hari ini tidak ada jadwal praktik dan hanya ada 1 jam pelajaran.


Setelah pelajaran terkhir selesai bel pulang pun berbunyi semuanya berhamburan keluar kelas hingga parkir sekolah full anak-anak yang akan mengambil motornya, namun kali ini karena Iksa tadi di antar Asyad jadi Iksa gak pakai motor, dan gak ke parkiran.


“Sa, lo mau nebeng aku gak? lo tadi kan gak bawa motor,” tawar Kila sambil mengajak Iksa ke tempat parkir siswa.


“Eh, enggak Kil, aku di jemput Asyad tadi kita udah janjian,” ucap Iksa sambil tersenyum di hadapan Kila dengan wajahnya yang agak memerah karena sebenernya menahan malu juga ngomong itu sama si Kila.


“ Eee ciye yang di jemput lope lope nya nih, okelah Sa aku duluan kalo gitu, kau hati-hati ya jangan sampe telat pulang nyokab lo ntar khawatir!”


“Oke siap bosss!” Kila pun pergi ke parkir motor.


Iksa mengambil ponselnya di dalam tas, dan ternyata tiga pesan masuk dari Asyad dia sudah menunggu di depan sekolah, Iksa pun bergegas ke gerbang sekolah ternyata Asyad sudah menunggu di sana, Iksa pun menghampiri Asyad.


“Udah lama nunggunya?” tanya Iksa.


“Lumayan, itu tadi chatku juga gak di bales gitu kenapa?” tanyanya dengan agak cemberut.


“Oh, itu tadi aku masih bicara sama Kila dia mau nganterin aku pulang karena aku udah janjian denganmu jadi aku tolak, pas aku buka ponsel udah ada pesan darimu aku langsung lari aja tanpa bales chatmu dari pada tambah nunggu lebih lama lagi,” jawab Iksa santai.


“Ohhh.”


“Marah?” tanya Iksa.


“Enggak,” sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


“Ya udah kau naik sekarang!” Iksa pun langsung naik ke motor Asyad tanpa peduli mukanya yang lagi bete itu.


Dia membawa Iksa ke kafe yang biasa buat nongkrong si Nela dan teman-temannya, namun kali ini teman-temannya gak ada jam kumpul makanya gak ada satu pun temennya di kafe itu, Iksa pun tak peduli mau ada temennya atau tidak yang penting kali ini ia mau makan aja karena perut udah laper banget, asli.


\=\=\=\=\=