
Sudah hampir satu tahun Imam bekerja di toko bangunan, namun penghasilan Imam belum bisa memenuhi semua kebutuhan rumah tangga nya, Nana pun belum mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar seperti dulu. Nana hanya mengajar ngaji dengan bayaran yang jauh dari kata cukup.
Semakin lama kehidupan Nana dan Imam semakin terasa berat dengan ujian ekonomi, bahkan selama satu bulan Nana dan Imam hanya dapat menikmati nasi dan lauk selama dua minggu saja, sisa nya mereka makan bubur yang hanya di campur dengan garam. Nana sering menangis dan pertengkaran kecilpun sering terjadi mewarnai rumah tangga mereka, walaupun Imam selalu diam ketika istri nya sedang marah, bahkan istrinya sering meminta kembali ke rumah orang tua nya, namun Imam tidak mengizinkan. Tutur kata lembut dan sikap mengalah menjadi bukti bahwa Imam sangat sayang pada Nana.
Imam adalah suami yang sangat baik dan sangat mencintai istrinya, Imam sering memijat kaki Nana disaat Nana sedang marah pada nya, membawakan makanan dan menyuapi nya ketika Nana sedang tidak mau makan atau sedang bete, Imam melakukan berbagai cara agar istrinya kembali tersenyum, namun keadaan ekonomi mereka yang sering membuat Nana menangis.
“Assalamu’alaikum warrohmatullah, Assalamu’alaikum warrohmatullah”. Imam menyelesaikan sholat asar nya di masjid.
Kebiasaan baik Imam adalah, dia selalu menghabiskan waktu nya di masjid ketika sedang menghadapi
masalah, sholat, berdzikir dan termenung, dan menjadikan masjid adalah tempat yang paling menenangkan hati nya.
Imam bersandar pada dinding masjid, sambil memejamkan mata nya, air bening mengalir dari sudut mata nya yang sayu.
“Assalamu’alaikum pak Imam?”.
Imam terkejut mendengar suara di telinga nya, spontan ia membuka kedua matanya lalu menoleh ke arah suara, Imam kaget ketika melihat Juna duduk di sampingnya.
“Pak Juna? Ko bisa ada disini?”. Tanya Imam dengan suara gugup sambil menghapus air mata nya
“Iya pak. Kebetulan lewat dan mampir untuk sholat asar. Kalau boleh saya tahu, ada apa pak Imam?”. Tanya Juna
Imam tertawa kecil................
“Gak ada apa-apa pak, cuma ingat dengan istri di rumah. Kangen..............rasanya jika sehari tidak melihat wajahnya yang manis, senyumnya yang mempesona dan suara nya yang indah”. Jawab Imam dengan memasang wajah bahagia namun ada kesedihan di balik tatapan mata nya.
“Pak Imam, pertama kali kita bertemu. Posisi kita terbalik loh. Saat itu, saya sedang termenung memikirkan nasib bayi saya karena ditinggal ibu nya, lalu anda datang menghibur saya dan saat itu saya sangat berterimakasih atas kebaikan anda pak. Jadi, anggap saja sekarang gantian. Jika bapak butuh teman untuk bercerita, dengan senang hati saya mendengarkan nya pak”. Kata Juna
“InsyaAllah, saya baik-baik saja pak Juna. Terimakasih”. Jawab Imam
“Yakin?”.
“InsyaAllah yakin pak”. Imam tersenyum
“Bagaimana kabar anak-anak bapak?”. Imam mengalihkan pembicaraan
“Alhamdulillah mereka baik dan sehat, tapi..............”. Juna terdiam
“Tapi kenapa?”.
“Ayahnya yang kurang baik”. Jawab Juna lemas
“Maksud pak Juna?”.
“Seperti nya saya harus mencari pendamping baru pak karena saya tidak bisa mengurus anak-anak sendirian, sementara saya sibuk di kampus”. Keluh Juna
Imam hanya dapat menganggukkan kepala nya mencoba memahami posisi Juna.
“Lalu, kenap bapak tidak mencoba membuka diri untuk perempuan lain? Apakah di kampus tidak ada mahasiswi atau rekan kerja yang masih sendiri?”.
Juna menghela nafas, mata nya tajam menatap langit
“Ada satu wanita yang sangat saya cintai sejak dulu pak, bahkan sebelum saya menikah dengan
almarhumah istri saya. Namun, cerita cinta itu kandas karena saya begitu lemah dan bodoh menuruti keinginan mama saya, yaitu menikah dengan ibu dari anak-anak saya. Jujur, perasaan itu masih ada untuknya. Dia wanita cerdas, baik, periang dan sangat membanggakan”.
“Coba hubungi dia kembali pak Juna, siapa tahu dia belum menikah”.
“Hehe.....”. Juna tertawa kecil
“Sayang sekali, dia sudah menikah. Mungkin saya memang tidak pantas untuknya”.
“Terimakasih pak Imam. Mohon maaf jika saya curhat”.
“Ah....., gak apa-apa pak. Kalau begitu, saya pamit. Mau kembali ke toko. Assalamu’alaikum”. Imam meninggalkan Juna beberapa langkah menuju pintu.
Langkah Imam terhenti saat beberapa langkah lagi keluar dari masjid. Imam memutar badan nya
kembali dan menoleh pada Arjuna yang masih duduk santai di dalam masjid.
“Pak Juna, boleh saya bertanya?”.
Juna menoleh ke arah Imam lalu berdiri dan menghampiri Imam yang sedang berdiri beberapa langkah saja dari dirinya.
“Iya pak, silahkan”.
“Hhhmmm, apakah di kampus bapak ada info mengenai lowongan menjadi dosen? Istri saya lulusan S2 prodi sastra inggris. Dulu dia pernah bekerja namun ketika dia sakit dan menikah dengan saya, dia tidak saya izinkan untuk bekerja dan seperti nya dengan kondisi dia yang sekarang sudah kembali sehat, dia mulai bosan di rumah, selain itu, kami sedang mempunyai masalah ekonomi pak, sehingga istri saya meminta izin pada saya untuk bekerja kembali. Dia sudah mencoba mencari info melalui teman-teman nya, namun belum ada info. Jika di kampus bapak ada info lowongan menjadi dosen, harap hubungi saya pak”. Imam memberikan nomer handphone nya pada
Juna.
“Baik pak, akan saya kabari segera”. Juna mengambil kertas yang berisikan nomer handphone itu.
“Terimakasih pak Juna”.
“Sama-sama pak Imam. Sukses ya”. Juna menepuk-nepuk punggung Imam.
Imam hanya bisa menundukkan kepala nya dan membiarkan Arjuna masuk ke dalam mobil nya yang ia parkir di depan masjid.
Setelah lelah seharian bekerja Imam pulang dengan sangat bahagia, berharap kabar baik segera ia terima dari Juna. Selain itu, tak sabar Imam ingin bercerita tentang Juna pada Nana..
“Assalamu’alaikum sayang”.
“Wa’alaikum salam, iya mas”. Sambil membawakan segelas air putih untuk suaminya.
Imam segera mengambil air itu lalu meneguk nya, wajahnya terlihat berseri-seri. Nana melihat Imam dengan tatapan aneh, kedua alisanya ia naikan.
“Ada apa mas? Kok bahagia sekali.
“Dek, kamu inget gak laki-laki yang mas ceritakan di rumah sakit?”.
Nana menganggukkan kepalanya
“Iya, kenapa mas?”.
“Ternyata dia adalah seorang dosen, sejak pertemuan di rumah sakit waktu itu, kita sering bertemu secara tidak sengaja dan seiring berjalan waktu, kita semakin dekat bahkan beliau mau curhat didepan mas”.
“Lalu?”. Masih dengan ekspresi heran
“Mas minta info tentang lowongan di kampusnya. Siapa tahu ada lowongan dosen. Iya kan?”.
Nana berpikir sejenak dan mengerutkan dahi nya
“Mudah-mudahan ya mas. Terimakasih sudah bantu Nana”.
“Iya sayang. Mas juga
undang beliau, jika ada waktu silahkan mampir ke kontrakan kita”.
“Iya”.
Nana tersenyum dan kembali ke dapur untuk mempersiapkan makan sore bersama suami nya