MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 22. Arti Cinta



Arti cinta itu tidak hanya dilihat dari seberapa lama hubungan yang telah dijalani dan sudah berapa banyak kata cinta yang terucap, tetapi arti cinta dapat dilihat dari seberapa besar perjuangan untuk cinta agar arti cinta itu dapat berlabuh pada sebuah pernikahan.


            Setelah beberapa bulan Juna di rawat pasca kecelakaan waktu itu, kini Juna sudah terlihat segar kembali, Juna terlihat sehat dan memulai aktifitas seperti biasanya. Selama Juna sakit, Nana sering menemani dan merawat Juna di rumah sakit. Nana juga membantu Juna menyelesaikan tugas-tugas kuliah selama dia cuti.


            Kini Juna sudah sembuh dan dapat beraktifitas seperti biasanya. Senyum lebar kembali terlihat pada wajah Juna dan Nana.


            Sepulang kuliah, seperti biasa Juna selalu mengantar Nana sampai rumahnya. Malam ini pun sama, namun malam ini menjadi terasa berbeda karena orang tua Nana ingin bicara serius tentang hubungan mereka.


            “Kak....., malam ini ibu dan bapak Nana mau bicara sama kakak”. Kata Nana dengan penuh kehati-hatian.


            Mendengar itu, Juna sedikit terkejut tetapi terlihat senang.


            “Ya gak apa-apa..... biasanya juga kalau ketemu suka ngobrol”. Jawab Juna


            “Tapi seperti nya ibu mau tanya tentang keseriusan kakak”. Kata Nana.


            Hati juna berdebar, muka nya yang terlihat bahagia berubah menjadi wajah tegang seperti mahasiswa mau sidang skripsi. Suara nya mulai terbata-bata, keringat mulai terlihat pada jidatnya yang hitam.


            “Ia”. Jawab Juna singkat sambil menelan air ludahnya.


            Hubungan Juna dengan keluarga Nana sangat baik, mereka sering makan bersama, mengadakan acara bersama. Bahkan Juna sering bantu ibu Nana untuk menyiapkan masakan bersama. Namun, malam ini suasana rumah Nana seakan berubah drastis. Rumah yang awalnya terasa nyaman bagi Juna, sekarang membuat Juna bercucuran keringat.


            Sesampainya di rumah Nana, orang tua Nana sudah siap menyambut kedatangan Juna dan juga Nana. Mereka yang biasanya tidak terlihat didepan teras rumah Nana, kali ini mereka sudah terlihat duduk


manis di depan teras sambil minum teh hangat.


            Juna mematikan mesin motornya, membukakan helm yang masih menempel di kepala Nana, lalu meletakan diatas motor yang ia parkir persis di depan halaman rumah Nana.


            Juna membuka jaket dan merapikan kemeja serta rambutnya. Sementara Nana segera menghampiri orang


tuanya yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan mereka. Juna menyusul Nana dalam waktu beberapa menit setelah itu.


            “Assalamu’alaikum.......”. Nana menghampiri orang tuanya, meraih tangan ibu bapaknya dan memberi salam, begitupun dengan Juna.


             Ibu Nana tersenyum, “Baru pulang.....”. Sapa ibu Nana.


            Orang tua Nana mempersilahkan Juna duduk, sementara Nana menyiapkan minuman untuk Juna. Juna


terlihat sangat nervous dari sebelumnya.


            “Bapak, ibu apa kabar?”. Tanya Juna membuka pembicaraan.


            “Alhamdulillah.....baik”. Jawab bapak Nana.


             Nana datang, membawakan teh hangat untuk Juna dan meletakan teh tersebut didepan Juna, lalu


duduk di samping Juna.


            “Diminum kak tehnya, biar relax”. Bisik Nana di telinga Juna.


            Juna meneguk teh hangat itu, untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.


            “Nak, Juna..... ibu boleh tanya sesuatu tentang hubungan kalian?”. Tanya ibu Nana.


            “Ia bu”. Jawab Juna dengan suara pelan namun masih bisa terdengar. Kepala Juna terus merunduk.


            “Kalian kan sudah lama jalan bareng, ibu dan bapak suka dengan kamu. Kamu anak yang baik dan


terlihat bertanggung jawab. Apakah kamu serius dengan Nana?”. Ibu Nana melanjutkan pertanyaanya.


            “Ia ibu. Insya Allah. Saya sudah berencana untuk melamar Nana setelah saya lulus”. Jawab Juna


tanpa ragu.


            “Ibu percaya, kamu akan bertanggung jawab dengan janji kamu malam ini”.


            “Tapi..... dua tahun kemudian itu bisa dikatakan lama, sedangkan kalian sudah satu tahun bersama, pulang bareng, jalan bareng, belajar bareng, kemana-mana bareng. Ibu khawatir.......”.


            “InsyaAllah Nana tetap utuh bu. Saya akan perlakukan Nana dengan baik”. Jawab Juna.


            Orang tua Nana mengangguk................


            “Juna....., kamu yakin bahwa kamu mencintai Nana?”. Tanya bapak Nana.


            “InsyaAllah, Sangat pak”. Juna memandang Nana yang berada disampingnya.


            “Kamu tidak menyesal dan tidak akan pernah meninggalkan dia jika suatu saat nanti, Nana tidak sesuai dengan harapan mu?”.


            Juna terdiam......


            “Nak....., Nana mengidap MRKH, itu artinya Nana menjadi wanita yang tidak akan pernah bisa


melahirkan anak-anak kamu nanti. Apakah kamu siap?” Ibu Nana menjelaskan pada Juna.


            Mendengar itu, Juna seperti di sambar petir karena selama ini Nana tidak berkata apa-apa tentang


MRKH itu. Juna bingung harus jawab apa dan harus bereaksi seperti apa.


            Juna meminum lagi sisa teh yang sudah dingin yang berada didepannya.


            “InsyaAllah, saya yang akan menjadi pelengkap dalam hidup Nana”. Jawaban Juna mantap tanpa ragu.


mengucapkan terimakasih sambil menepuk punggung Juna dan ibu Nana memeluk Nana dengan mata berkaca-kaca.


            “Kami pegang kata-kata mu malam ini Juna”.


            “Jaga dan bahagiakan anak perempuan kami satu-satunya”. Kata bapak Nana


            “InsyaAllah pak, buk”. Jawab Juna


            “Juna pamit pulang”.


            “Pak, buk.... Nana ingin bicara sama kak Juna sebentar, boleh?”. Nana meminta izin kepada kedua


orang tuanya.


            Bapak dan Ibu Nana masuk kedalam rumah dan membiarkan mereka untuk bicara berdua.


            “Kak..... maafkan aku karena tidak pernah berkata ini sebelumnya”.


            “Aku takut jika Kakak berubah setelah kakak tahu bahwa aku gak sempurna”.


            “Jika kakak masih ragu dan belum paham tentang MRKH, Nana beri waktu buat kakak untuk memahaminya


terlebih dahulu agar Kaka dapat memberi keputusan dengan baik. Nana gak mau, jika suatu saat nanti, kakak menyesal memilih aku”. Air mata Nana jatuh dari kedua matanya yang jernih.


            “Neng....., berdoa ya.... insyaAllah akan baik-baik saja”.


            “Aku siap menerima semua kekurangan kamu”.


            “Tinggal mencari waktu yang pas untuk bicara dengan keluarga”.


            “Ia kak”. Jawab Nana


            Kakak pamit ya.... salam buat bapak dan  ibu. Juna menyalakan motornya lalu pergi meninggalkan Nana. Sepanjang perjalanan pulang, Juna memikirkan keluarga Nana dan juga keluarganya.


            Juna bingung, apa yang harus ia bicarakan kepada keluarganya tentang Nana. Keluarga Juna belum


pernah bertemu Nana, hanya paman dan kakaknya Yudha yang sering bertemu dengan Nana.


            Juna tinggal bersama kakak dan pamanya di Jakarta, sedankan keluarga Juna tinggal di Tangerang.


Itu sebabnya Juna belum pernah memperkenalkan Nana dengan orang tuanya.


            Juna pernah berencana untuk membawa Nana kepada keluarganya disaat pesta pernikahan


kakaknya dua bulan mendatang. Juna merasa, itu waktu yang tepat untuk mempertemukan mereka. Juna sangat mencintai Nana, dia tidak mau meninggalkan Nana hanya karena MRKH.


            Sesampainya di rumah, Juna terlihat sangat lelah dan bingung. Dia memarkir motornya di depan rumah, lalu duduk melamun di depan teras.


            “Hai boy....”. Sapa kak Yudha sambil menepuk punggung Juna dari belakang.


            Juna tetap fokus pada pandangan dan pikirannya dan tidak menghiraukan kakaknya.


            “Ada apa?”. Kak Yudah mencoba mengajak Juna bicara. Kak Yudah duduk disamping Juna.


             Juna menghela nafas...............................


            “Kak, menurut kakak Nana gimana orangnya?” tanya Juna


            Kak Yudah tertawa mendengar pertanyaan adik semata wayangnya itu.


            “Boy....., kamu kenal Nana sudah lama. Kenapa tanya seperti itu?” Kak Yudha kembali bertanya.


            Juna memutar badan dan menghadap kearah kak Yudha. Juna terlihat sangat serius menatap kakanya


itu.


            “Kak, aku sangat mencintai Nana”


            “Aku berencana memperkenalkan Nana kepada keluarga kita dan aku ingin menikahinya kak”. Suara Juna


terdengar sangat bersemangat.


            Kaka Yudha mengerutkan dahinya, seakan ada yang aneh dengan perkataan adiknya itu.


             “So.....?”


            “Masalahnya dimana Juna.....?” tanya kak Yudha.


            Juna sedikit berpikir, dia ingin mengatakan bahwa Nana itu mandul tetapi Juna takut kakaknya melarang hubungan mereka.


            “Kak, bagaimana jika orang tua kita tidak cocok dengan Nana?”. Juna mengajukan pertanyaanya kembali.


            “Boy.... listen.  Lakukan apa yang kamu pikirkan saat ini. Bawalah Nana kepada kedua orang tua kita, perkenalkan dia, kakak yakin orang tua kita akan suka dengan Nana”.


            “Nana gadis yang baik, periang, ramah. Jika kamu mencintai nya, perjuangkan”. Kak Yudha memeluk adik bungsunya itu dan mencium keningnya, lalu pergi meninggalkan Juna termenung sendirian di teras.


            Mendengar perkataan kak Yudha, Juna merasa memiliki semangat baru untuk terus berjuang demi cintanya.