
Setelah bertemu dengan keluarga Nana, Imam pun kembali ke Malang untuk membicarakan semua tentang Nana.
Sepanang perjalanan Imam bingung harus berkata apa, Imam ingin sekali menutupi semua kenyataan namun berbohong bukan cara yang terbaik. Bagi Imam, Nana sudah begitu sempurna, mandul ataupun tidak.
Perjalanan balik menuju Malang berjalan lancar, sehingga Imama sampai tepat waktu. Sesampainya di Malang, Imam segera meminta Ayah dan lima saudara lain nya untuk berkumpul dan membicarakan niat Imam untuk menikah dengan Nana.
“Sudah pulang Mam?”. Tanya Ayah
“Iya, Ayah”.
“Bagaimana perjalanan mu, lancar?”. Tanya Ayah kembali
“Alhamdulillah lancar”. Jawab Imam
“Ayah, ba’da isya’ saya ingin bicara dengan Ayah dan keluarga ”.
Ayah menutup buku yang sedang ia baca, dan menatap Imam.
“Iya, nanti akan Ayah sampaikan ke semua kakak-kakak mu. Sekarang istirahat”. Kata Ayah
“Baik Ayah, matur nuwun”.
Ayah menepuk-nepuk punggung Imam dengan penuh kasih sayang dan Imam pun masuk ke kamar nya.
Setelah sholat isya berjam’ah di mushola pribadi keluarga Imam, semua kakak-kakak Imam tidak diperbolehkan
meninggalkan mushola karena ada hal yang ingin Imam sampaikan.
“Adik mu Imam arep ngomongne samu barang, dadi Ayah njaluk sampean kabeh neng mushola (Adik mu Imam ingin membicarakan sesuatu, jadi Ayah minta kalian tetap di mushola)”. Ayah memberi pengumuman sehabis sholat
“Enggih Ayah (Baik Ayah)”. Kata kakak pertama
Ke enam anak Ayah duduk bersandaran pada dinding mushola, mendengarkan perkataan Ayah dengan baik.
“Begini, kemarin lusa, adik mu Imam berangkat ke Jakarta untuk menemui teman kuliah nya dulu dan Imam memutuskan untuk menikah dengan nya?”. Kata Ayah
Semua kakak-kakak Imam kaget mendengar perkataan Ayah.
“Nyuwun sewu Ayah, nderek pitaken sinten asmo lan latar keluarganipun (Maaf Ayah, kalau boleh tau siapa nama nya dan latar belakang keluarga nya)”. Kata kakak ke dua dengan gaya kromo inggil nya
“Imam piyambek engkang bade ngaturaken (Biar Imam sendiri yang menjelaskan)”. Jawab Ayah
Keluarga Imam keluarga yang sangat santun dalam berbahasa, rasa saling menghargai dalam anggota keluarga sangat di utamakan. Sehingga mereka sangat menjaga tata bahasa mereka satu sama lain, terutama kepada orang tua mereka.
Mendengar pertanyaan kakak kedua nya, Imam menggeser posisi duduk nya dan duduk lebih tegap dari sebelum nya. Jantungnya berdebar kencang, karena dia takut keluarga nya menolak Nana jika mereka tahu kondisi Nana.
“Nama nya Ardiana, mbak”. Jawab Imam
“Dia lulusan S2 dan sekarang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta”.
“Ada foto nya lek?”. Tanya mbak kembali
“Ini mbak”. Imam menyodorkan foto Nana dan semua kakak nya bergantian melihat foto tersebut.
“Lah terus keluargane piye?”.
"Ibu bapak ne orang biasa sama dengan kita, tetapi insyaAllah mereka keluarga baik-baik”.
“Jika hati mu sudah yakin, mbak sih setuju-setuju saja”. Jawab Mbak dengan logat jawa nya.
Semua kaka-kakak Imam terdiam termasuk Ayah
“Lalu bagaimana dengan pendapat kakak yang lain nya?”. Tanya Imam kepada ke lima sodara laki-laki nya.
“Mam, kamu yakin kalau kamu akan menikah?”. Tanya kakak pertama
“Iya mas”. Jawab Imam dengan kepala tertunduk
“Ngene Mam, bukane aku ora setuju karo keputusan mu, tapi njajal oikiren sik maneh. Rabi iku ora gampang, sampean arep dadi kepala keluarga, nafkahi lan nguwehi tempat tinggal sing pantes kanggo keluarga mu mengko. Opo sampean iso? (Begini Mam, bukan nya mas tidak setuju dengan keputusan kamu, tetapi coba di pikir-pikir lagi. Menikah itu tidak mudah, kamu akan menjadi kepala keluarga, menafkahi dan memberikan tempat tinggal yang layak untuk keluarga mu nanti. Kamu bisa)?”.
Mendengar perkataan kakak pertama, Imam seperti di sambar petir. Dia tidak menyangka kakak nya akan berkata
seperti itu.
“Sekarang coba kamu tanya diri mu sendiri. Apakah kamu sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan yang cukup mapan untuk menikah dan membangun rumah tangga?”. Lanjut kakak pertama nya
“Ra kerjo arep ndue rabi (Gak kerja ingin menikah). Mam...... Mam, kamu tuh mimpi”.
“Dia lulusan S2, sudah bekerja di perusahaan, iku artine wes ndue penghasilan. Lah kamu? Kamu punya opo?”.
Kakak pertama Imam adalah orang yang sangat tegas dan sangat di hormati oleh adik-adiknya termasuk Imam, sejauh ini belum ada satu adik pun yang berani membantah kata-kata kakak pertama nya itu.
Kakak-kakak yang lain hanya termanggut-manggut mendengarkan perkataan kakak pertama. Imam enam bersaudara dan kelima kakak-kakak nya sudah sukses dan mapan, kecuali Imam.
“Jika aku jadi kamu, aku gak berani melamar anak orang”. Kakak ke tiga menimpali.
“Iya, aku setuju. Dulu waktu kami menikah, kami semua sudah punya pekerjaan dan penghasilan banyak, sehingga kami menikah dengan uang kami sendiri tanpa menyusahkan orang lain”. Kakak ke empat ikut bicara.
Pembicaraan yang Imam harapkan dapat menemukan titik terang atas kebimbangan nya dan kondisi Nana, berubah menjadi perdebatan mengenai pekerjaan Imam. Ini masih bicara soal Imam, belum lagi soal Nana.
“Sudah lek. Biarkan Imam berpikir malam ini, besok kita lanjutkan”. Kata Ayah
“Mas, kamu gak boleh bilang seperti itu. Imam butuh support dari kita semua”. Kata kakak ke dua.
“Mau di support bagaimana dek. Kasian istri nya nanti, punya suami gak kerja. Kita juga yang malu”.
“Ya, insyaAllah nanti juga ada rezeki nya. Imam pasti punya kerjaan yang lebih bagus”.
“Kamu juga lek, harus semangat cari kerja. Yang di katakan mas mu benar tetapi ya.......kamu juga sudah saatnya
menikah. Ya Allah gusti............mumet aku”. Kata kakak kedua.
“Nah, iya kan? Belum nikah aja kita semua sudah pusing. Apalagi nanti?”. Kata kakak pertama
“Yo wis gini ae. Lupakan soal nikah, fokus pada pekerjaan. Titik!”. Kakak pertama meninggalkan Imam dan kakak kedua di mushola.
Imam hanya tertunduk malu dan lemas mendengar pendapat kakak-kakak nya.
“Sabar yo lek. InsyaAllah, gusti Allah pasti kasih jalan keluar. Sekarang banyak-banyak ibadah, berdoa kepada
Allah sang pemilik rezeki, agar kamu mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang layak, sehingga kamu bisa menikah dengan Nana”.
“Jika mbak bisa bantu, mbak pasti bantu”. Bisik kakak kedua
“Iya mbak terimakasih tetapi sebenarnya bukan soal pekerjaan yang ingin saya sampaikan”. Kata Imam masih dalam keadaan menunduk
“Opo iku lek?!”. Mbak terkejut
“Saya mau bilang kalau Nana mandul. Apakah keluarga membolehkan saya untuk menikah dengan Nana?”.
“Astaghfirullah................., kakak-kakak mu sedang emosi. Kita diskusikan nanti ya........... karena masalah
pekerjaan mu saja belum selesai”. Kakak kedua berusaha menenangkan dan memberi semangat pada Imam.
“Inggih mbak. Matur nuwun”. Jawab Imam
Kakak kedua pun menggalkan Imam sendiri di mushola. Imam menangis dalam sujud nya. Dia menyadari bahwa diantara sodara-sodara nya hanya dia yang belum bisa seperti mereka dan belum bisa di banggakan. Imam berpikir keras bagaimana dia mencari solusi dari semua yang sedang ia hadapi.
Ke esokan hari nya
Imam terlihat duduk sendiri di serambi mushola depan rumah nya, entah apa yang sedang ia pikirkan namun tidak
ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir nya.
“Lek, kamu sedang apa?”. Tanya Ayah
Imam tersungkur dan memeluk kaki Ayah nya, sehingga air mata pun menetes di kaki Ayah nya.
“Maafkan Imam Ayah, jika selama ini saya belum bisa membuat Ayah bangga”.
“Izin kan saya menikah dengan Nana, Ayah. Saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk nya”. Lanjut Imam
“Sudah lek. Tidak usah seperti ini”. Ayah mengangkat tubuh Imam yang masih bersujud dihadapan nya
"Kewajiban Ayah untuk menikahkan anak-anak nya. Ayah akan bantu. Namun, setelah kamu menikah, jadi lah suami yang bertanggung jawab dan sayangi istri mu sepenuh hati apapun kekurangan nya dan apapun sifat buruk nya”. Kata Ayah
"Baik Ayah. Tetapi, ada hal lain yang ingin saya sampaikan mengenai Nanna”. Lanjut Imam
“Apa itu lek?”. Tanya Ayah
“Apakah Ayah daan keluarga akan menerima Nana jika kenyataan nya Nana tidak dapat memberikan Ayah cucu?”.
Ayah terdiam dan memejamkan mata nya sejenak
“Lek, yang ingin menikah itu kamu. Kamu yang paham semua tentang calon istri mu, kamu yang akan merasakan dan kamu juga yang tahu resiko kedepan. Jadi, jika kamu ikhlas dengan pilihan mu, insyaAllah Ayah ikhlas. Jadi, yang terpenting adalah kuatkan niat mu untuk beribadah kepada gusti Allah”. Pesan Ayah pada Imam.
“Nanti Ayah yang akan bicara dengan kaka-kakak mu”. Lanjut Ayah
Wajah Imam memancarkan cahaya kebahagiaan yang belum pernah terpancarkan sebelum nya. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Imam selain ucapan syukur pada tuhan.
Mbak Imam pun menangis mendengar dan menyaksikan percakapan Ayah dan Imam dari depan pintu.
“Alhamdulillah................”. Kata mbak dalam hati nya
“Kalau begitu, maukah Ayah melamarkan Nana untuk saya?”. Pinta Imam pada Ayah
“Pasti lek. Akhir bulan ini kita ke Jakarta, bertemu dengan keluarga Nana".
Imam tersenyum lebar.....................
“Matur nuwun Ayah”. Imam memeluk Ayah dengan penuh cinta dan mbak pun ikut memeluk Ayah.
“Terima kasih mbak”.
"Iyo lek, sami-sami. Mbak hanya dapat berdo’a agar semua nya berjalan dengan lancar. Nanti, mbak bantu bicara
pada kaka-kakak mu yang lain”. Kata mbak
“Iya mbak”.
Imam mengambil wudhu lalu sujud syukur atas kebahagiaan yang ia rasakan.