
Tiga hari kedepan adalah hari pernikahan Yudah dengan Titi. Juna sudah berpikir masak-masak bahwa saat
pernikahan Yudha adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan Nana pada keluarganya dan Juna sudah berjanji pada Nana akan membawanya kekampung halaman Juna di Tangerang.
“Kring..........kring................kring...............”. Handphone Nana berdering pertanda ada pesan masuk.
Nana membuka handphone nya dan dia melihat ada pesan dari Juna,
“Geulis, tiga hari lagi kak Yudha menikah, kakak ingin ajak kamu dan memperkenalkan kamu dengan
keluarga”.
“Besok kaka jemput jam 4 sore”. Kata Juna dalam pesan pendeknya.
Membaca pesan yang masuk dalam handphone nya, Nana tersenyum bahagia. “Alhamdulillah....akhirnya.... semoga dimudahkan”. Nana menutup mata dan berdo’a dalam hati sambil menggenggam handphone di depan dadanya.
Ke esokan hari nya tepat pukul empat sore, Juna menjemput Nana di rumahnya. Nana terlihat sangat cantik sehingga membuat mata Juna tak bisa berkedip, terpesona dengan kecantikan kekasihnya itu.
“Sudah siap gadis cantik?”. Tanya Juna
Perkataan Juna membuat Nana tertawa bahagia, “Yes”. Jawab Nana singkat namun penuh bahagia.
Mereka berpamitan kepada kedua orang tua Nana.
Sepanjang perjalanan, Nana terus tersenyum. Sesekali mereka saling pandang dan berbagi kebahagiaan.
“Kak, aku nervous”. Kata Nana
“Sama dong seperti kakak waktu menghadap ibu dan bapak mu malam itu”.
“Haaa.....”. Mereka tertawa bersama.
Tiba-tiba Nana terdiam dan teringat dengan MRKH nya, Nana memutar kepalanya dan memfokuskan
pandangannya pada kaca bus yang sedang melaju kencang.
Juna melihat bahwa sikap Nana berubah, Juna merubah posisi duduknya, meletakan kedua tangannya di
pipi Nana dan merebut kembali pandangan Nana padanya.
“Kamu kenapa?”. Tanya Juna
“Apakah orang tua kakak sudah tahu tentang aku?”. Tanya Nana
“Nanti neng..... kakak pasti cerita”. Jawab Juna menenangkan Nana
“Seandainya mereka tidak menerima aku?” Tanya Nana kembali
“Geulis....listen. Tidak baik memikirkan sesuatu yang belum terjadi”.
“Aku sayang kamu. So, kakak akan memperjuangkan mu”. Lanjut Juna.
Mendengar perkataan Juna, hati Nana sedikit lebih tenang. Nana menyandarkan kepalanya di bahu Juna
dan terlelap tidur selama perjalanan menuju Tangerang.
Beberapa jam perjalanan, mereka sampai di kampung halman Juna. Kampung nya terlihat sangat
asri, dengan hamparan sawah yang hijau nan luas serta dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggii, membuat udara di sana semakin sejuk, hijau dan bebas dari polusi.
Nana sangat menikmati pemandangan dan udara di sana.
“Welcome to my village, gadis cantik”. Juna menyambut kedatangan Nana.
“Suka?”. Tanya Juna
Nana menutup kedua matanya, merentangkan kedua tangannya, dan menarik nafas dalam................lalu menghembuskannya perlahan. Suara gemericik air sungai di sekitar persawahan menambah suasana alam semakin romantis.
Juna dan Nana melewati jalan setapak sekitar pesawahan, beberapa meter dari jalan raya menuju
rumahnya. Rumah Juna tepat di bawah lereng gunung, ujung jalan itu.
Dari kejauhan, Juna melihat ada seorang laki-laki melambaikan tangannya kearah mereka, semakin
dekat jarak Juna dengan laki-laki itu, ternyata dia adalah kak Yudha yang sudah menunggu kedatangan Juna dan Nana.
Juna memeluk kakaknya itu, “Selamat....kakak tercinta ku” sambil menepuk-nepuk punggung kak
Yudha. Mereka memang selalu terlihat akrab dan kangen walapun tiap hari mereka bertemu.
Setengah meter dari Juna dan Yudha, ada Nana yang sedang berdiri menyaksikan adegan penuh haru itu.
kak Yudha melepaskan pelukan adik bungsu nya. Kak Yudha meletakkan kedua tangannya diatas bahu Juna, “Akhirnya.....kamu bawa juga calon adik ipar ku”.
Kak Yudha menghampiri Nana, memandang dan senyum kepadanya. “Selamat datang di keluarga
kami”. Sapa kak Yudha. Nana hanya bisa tersenyum bahagia.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju rumah Juna yang hanya beberapa langkah lagi. Orang tua Juna sudah berdiri didepan rumah menyambut anak bungsunya itu.
“Assalamu’alaikum...........”. Juna mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya.
Ibu Juna memeluk Juna dengan erat, mencium kedua pipi Juna serta mengecup keningnya dengan penuh
“Juna, ini siapa?”. Kata ibu Juna sambil melirik kearah Nana.
“Ini Nana, orang yang sangat sepsial dan sangat Juna sayangi”. Juna memperkenalkan Nana.
Mendengar perkataan Juna, ibu Juna terlihat bahagia. Lalu memeluk Nana dan mempersilahkan mereka
masuk. Nana tersenyum bagahia disambut dengan hangat oleh keluarga Juna.
Ibu Juna menyajikan aneka masakan khas Tangerang, seperti garang asam, laksa, gecom dan aneka kue
lainnya. Ibu Juna orang yang sangat ramah dan hangat. Dia sangat sayang dan memanjakan Juna, Juna pun terlihat begitu manja dengan ibu nya.
Sejak pertama datang, Juna tidak lepas dari pangkuan ibu nya, dia selalu berbaring dipangkuan
ibu nya, sesekali memeluk hangat, bahkan tingkah laku Juna layaknya anak balita.
Ibu Juna mengajak Juna dan Nana bicara di ruang tengah, Juna duduk disamping ibunya sementara Nana
duduk didepan ibu Juna.
“Juna....gak terasa kamu anak bungsu mamah, anak paling manja sekarang sudah dewasa, sudah punya
calon istri”. Ibu Juna berkata pada Juna sambil terus menggenggam tangan anak bungsunya itu.
“Kalian teman kuliah?”
“Satu kampus?” Tanya ibu Juna
“Ia, mah..... kami satu kampus dan satu departemen. Nana junior Juna di kampus”. Jawab Juna
“Mama suka dengan Nana?”. Tanya Juna
Ibu Juna memandang Nana yang berada didepannya beberapa menit, “Ya....”. Jawab ibu Juna datar
sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Sudah berapa lama kalian pacaran?” tanya ibu Juna.
“Satu tahun mah.......”. Jawab Juna
“Juna berniat menikahi Nana setelah Juna lulus kuliah”. Lanjut Juna.
“Baru satu tahun sudah mantap mau menikah?” tanya ibu Juna kembali sedikit agak taget.
“Jun....., kakak mu Yudha, pacaran dengan Titi sepuluh tahun loh”. Kata ibu Juna.
“Menikah itu bukan permainan Juna....., kamu harus benar-benar kenal calon istri dan keluarganya”.
“Ia kan Na....?”. Tanya ibu Juna pada Nana yang duduk di depan nya.
Mendengar pertanyaan ibu Juna, Nana sedikit illfeel (ilfil), “Ia bu”. Jawab Nana dengan sedikit tersenyum.
“Kalian jalani aja dulu, gak usah terburu-buru mikirin nikah, ya....?” Ibu Juna melanjutkan perkataanya.
“Tapi.....mah...”. Bantah Juna
Ibu Juna berdiri dari duduknya, seakan tidak ingin melanjutkan pembicaraannya itu.
“Yudha....., Yudh.....”. Ibu Juna memanggil Yudha yang sedang berada di teras rumah.
“Ia mah....”. kak Yudha menghampiri ibu nya.
“Nanti bilang sama Titi, setelah menikah langsung prorgam hamil, agar mamah bisa secepatnya nimang
cucu”. Lanjut Ibu Juna pada Yudha.
“Siap, mah.....”. Kak Yudha menjawab pertanyaan ibu nya dengan penuh semangat.
Kak Yudha yang sedari tadi berdiri di ruang tengah, melihat Juna dan Nana sedang duduk di sofa, kak Juna menghampiri Juna dan meletakkan tangan kanannya di punggung Juna “Jun....., ayo cepetan lulus, lamar Nana dan nikah, agar bisa punya anak”. Goda kak Yudha pada Juna sambil tersenyum dan meninggalkan mereka berdua.
Mendengar perkataan ibu nya, Juna mendekat dudk disamping Nana dan memegang erat tangan Nana “Sabar....., mamah berkata begitu karena mamah tidak tahu semuanya”.
Nana memejamkan matanya, menahan air mata agar tidak jatuh di pipinya yang bersih. Pertemuan Nana
dengan keluarga Juna, tidak seindah yang Nana bayangkan. Pertemuan itu sedikit menambah kekhawatiran Nana dalam hubungan asmaranya dengan Juna.
“Kak.....”. Suara Nana terdengar pelan dan sedikit bergetar, menandakan bahwa ada sesak yang ia tahan di
dadanya.
“Ssstttt...... kita bahas nanti ya..... lihat suasana rumah ini. Semua orang terlihat bahagia mempersiapkan
pernikahan kak Yudha”.
“Mungkin mamah sedang sibuk, sehingga belum bisa diskusi banyak”
“Sabar ya cantik. I love you”. Juna terus menenagkan hati Nana.
Juna tahu arah pembicaraan ibunya dan Juna tahu perasaan Nana saat ini, namun dia selalu berusaha membuat Nana tenang dan senyaman mungkin berada di keluarga Juna.