
Suhu kota Malang begitu dingin di malam hari hingga mencapai 23°C, saat itu Imam tengah asik duduk di serambi mushola keluarga setelah menjalankan sholat isya’ berjam’ah. Imam mengambil handphone dari saku nya yang sedari tadi ia simpan lalu mencari nama Nana dari kontaknya. Tak sabar ia ingin segera menghubungi wanita pujaan nya itu.
“Assalamu’alaikum dik”. Sapa Imam mengawali telepon nya
Telepon Imam pun segera di sambut oleh Nana yang sedang asik membaca novel kesayangan nya.
“Wa’alaikum salam mas. Ada apa?”. Jawab Nana
“Mas punya kabar gembira”.
“Oh ya? Kabar apa mas?”. Nana memperbaiki posisi duduk nya dan mendengar kabar itu lebih serius.
“Mas sudah diskusi sama keluarga tentang niat mas dan tentang kamu dan alhamdulillah
semua berjalan dengan lancar. Ayah mas sudah memberi restu”. Dengan nada bahagia
“MasyaAllah................Alhamdulillah ya Allah”. Air mata Nana tak dapat dibendung, air mata nya mengalir deras
hingga pipi nya.
“Terimakasih ya Allah. Hamba sudah lama menantikan ini. Semoga semua nya berjalan dengan baik sampai hari pernikahan tiba”. Do’a Nana dalam hati
“Halo............dik............ kamu masih mendengar mas?”. Tanya Imam kembali
Tanpa sadar, Nana terlarut dalam tangis bahagia. Pernikahan yang selama ini ia impikan, akan segera terwujud.
“Halo....dik. kamu baik-baik saja kan?”.
“Oh, iya mas maaf”. Jawab Nana
“Rencana nya minggu depan Ayah akan datang menemui orang tua mu dan segera menentukan hari pernikahan kita”. Sambung Imam
“Secepat itu kah mas?”. Tanya Nana
“Memang kamu mau nya kapan? Bukan kah niat baik harus segera dilaksanakan?”.
“Iya mas. Mas serius kan?”. Tanya Nana meyakinkan Imam
“Menurut kamu, mas sedang berbohong?”.
“Nggak mas. Nana berharap ini nyata”. Kata Nana
“Tunggu kedatangan kami minggu depan ya......... do’a kan agar semua nya berjalan dengan lancar. Aamiin”.
“Iya mas. Pasti. Nana akan beritahukan kabar gembira ini kepada mama dan papa”.
“Salam untuk ibu bapak. Wassalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokatuh”. Tutup Imam
Siapa yang menyangka bahwa kurang dari satu bulan Imam berkunjung ke rumah Nana, namun keluarga Imam ingin melamar dan menetukan hari pernikahan. Sungguh jodoh itu datang di waktu yang tepat dan indah pada waktu nya.
Nana masih duduk diatas springbed nya, menatap langit-langit kamar dengan senyum bahagia.
“Secepat ini kah jika rezeki sudah datang. MasyaAllah. Tidak sabar lagi menunggu hari pernikahan tiba”. Kata Nana
“Tok tok tok..............Na, sudah tidur ya?”. Suara mama membuyarkan lamunan Nana.
“Astaghfirullah............... Iya ma”. Nana segera membuka pintu kamar
“Sedang apa sayang? Dari tadi loh mama ketuk pintu dan panggil-panggil tapi gak ada jawaban”. Sambil menatap aneh pada Nana
Nana tersenyum lebar.................
“Loh kok malah senyum-senyum. Ada apa? Cerita dong sayang..............”. agak sedikit memaksa
Nana memeluk mama erat dan menangis, mama semakin bingung dan membalas pelukan Nana serta memberi
belaian lembut pada nya.
“Nana bahagia ma.............. sangat bahagia”. Kata Nana sambil terisak
Mama semakin heran dan bingung dengan sikap anak nya saat itu.
“Mas Imam tadi telepon dan bilang kalau minggu depan dia dan Ayah nya mau datang untuk melamar Nana, sekaligus membicarakan hari pernikahan kami”. Kata Nana
Mama tercengang mendengar berita baik tersebut, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir mama.
“Sayang..............berprasangka baik sama Allah. Takdir perempuan itu memang menjadi istri dan ibu, menjadi
seorang ibu itu tidak harus melahirkan akan tetapi kita bisa menjadi seorang ibu dari anak-anak lain yang membutuhkan. Sabar ya........”. sambil terus memeluk dan membelai anak semata wayang nya itu
Nana melepaskan pelukan nya dan kembali menatap wajah mama
“Ma, mama dan papa setuju Nana dengan mas Imam?”. Tanya Nana
Mama berjalan perlahan menuju tempat tidur Nana lalu duduk di atas kasur yang empuk seakan berpikir mencari jawaban yang pas dari pertanyaan Nana. Jujur, mama tidak begitu suka dengan Imam. Mulai dari penampilan, tampang hingga pekerjaan dan penghasilan. Lakai-laki sebelum nya yang mencintai Nana bisa dikatakan orang-orang pintar dengan background pendidikan yang setara dengan anak nya itu, dan mereka semua memiliki pekerjaan dan penghasilan yang cukup baik, namun Imam sebaliknya. Kuliah tidak tamat, tidak mempunyai pekerjaan yang tetap bahkan penghasilan Imam pun diragukan. Rasa nya hati mama tidak rela jika anak semata wayang nya itu jatuh di tangan orang seperti Imam.
“Ma..................? Ko diam?”. Tanya Nana yang sudah berbaring di pangkuan mama nya.
“Iya sayang. Mama ikut kamu saja ya. Jika kalian bisa saling menerima satu sama lain. Mama ikut”. Jawab mama
Nana terdiam seakan tidak puas dengan jawaban mama.................
“Sayang..............kamu istirahat ya, sudah malam. Mama mau menemani papa di depan, dan memberitahukan
kabar bahagia ini”.
“Iya ma. Terimakasih”. Jawab Nana
Mama keluar dari kamar Nana lalu menutup pintu kamar rapat-rapat. Nana menatap pekat kearah pintu, merasa bahwa ada yang sedang di tutupi oleh mama.
Minggu berikutnya
Minggu ini adalah minggu yang di janjikan Imam pada Nana, Imam datang bersama Ayah dan Pak lek Hasan. Kedatangan Imam yang disebut lamaran tidak seperti layaknya calon pengantin laki-laki melamar calon pengantin wanita. Mereka datang tidak membawa apa-apa, sementara keluarga Nana sudah menyiapkan jamuan dan beberapa sodara datang untuk menyaksikan acara lamaran tersebut.
“Assalamu’alaikum.......................”. Suara Imam di depan teras
“Wa’alaikum salam, orang tua Nana dan beberapa sodara lain nya menyambut kedatangan Imam dan keluarga nya.
Semua orang yang ada di rumah Nana terkejut melihat kedatangan Imam dan keluarga nya. Mereka saling menatap satu sama lain.
“Mari masuk pak”. Kata mama
Kedua keluarga saling bertemu di ruang tamu membicarakan hari pernikahan Nana dan Imam.
“Perkenalkan saya ayah nya Imam dan ini Hasan adik saya yang tinggal di Jakarta. Kedatangan kami kesini bermaksud melamar Nana untuk anak saya, yaitu Imam. Apakah bapak dan ibu menerima anak kami?”.
“Iya pak, saya papa dan ini mama nya Nana”. Sambil menunjuk pada istri nya yang duduk di samping sebelah kanan
“Kami sebagai orang tua, menyerahkan urusan hati mereka pada mereka sendiri. Jika mereka siap dan saling mencintai, maka kami hanya dapat memberikan restu pada mereka”. Jawab papa
“Bagaimana Nana, apakah kamu bersedia menerima lamaran ini?”. Tanya papa
Nana tertunduk malu kemudian mengangkat kepala nya perlahan
“Boleh kah saya mengajukan persyaratan?”. Kata Nana
“Boleh, sangat boleh”. Jawab Imam
“Nana tidak suka dengan laki-laki perokok, Nana juga tidak suka dengan laki-laki yang mengenakan jeans. Apakah salah satu nya ada pada mas Imam?”.
“Alhamdulillah tidak”. Jawab Imam tanpa ragu
“Alhamdulillah........jika begitu, Nana menerima lamaran ini”. Balas Nana
“Namun mohon maaf sebelum nya, kami tidak membawa cincin sebagai simbol lamaran ini”. Kata Ayah
Semua keluarga yang menyaksikan acara tersebut saling berbisik karena baru kali ini mereka menyaksikan acara lamaran tanpa cincin, tanpa kue dan parcel buah lain nya.
"Lamaran macam apa ini? Kalian sama sekali tidak menghargai anak saya”. Mama tersulut emosi dan merasa anak nya di permalukan.
“Sebaiknya lamaran ini di batalkan saja”. Kata mama
“Mama? Nana ikhlas dengan semua ini. Mungkin ini sudah rezeki Nana”. Kata Nana
“Bagaimana dia bisa menikahi mu, menjadi suami mu jika membeli cincin untuk lamaran saja tidak mampu. Hidup tidak cukup hanya untuk saling mencintai, materi juga sangat di butuhkan dalam rumah tangga”.
Nana terisak mendengar perkataan mama
Bersambung..............................