
Nana memang gadis yang sangat kuat, tegar, mandiri. Beberapa rasa kecewa yang pernah ia alami dulu tidak membuatnya menjadi rapuh akan tetapi membuat dia menemuka sesuatu yang baru dalam hidupnya.
Betapa kecewa dan sakit hati Nana ketika dia di vonis mandul, lalu di tinggalkan Rahman, menjadi cibiran tetangga, hingga kecewa dengan pernikahan Juna. Namu, semua itu dapat dia lalui walaupun tidak instan.
Nana sadar bahwa hidup itu adalah sebuah keseimbangan, ada suka, ada duka, ada kayak ada miskin, dan seterusnya. Maka dari itu Nana percaya bahwa tuhan memberi skenario itu sesuai dengan kemampuannya. Sehingga suatu saat nanti, dia pasti akan mendapatkan skenario indah sebagai bayaran dari skenario-skenario hidup sebelumnya.
Nana mengambil pelajaran dari setiap cerita hidupnya, tidak ada penyesalan yang ia rasakan dari kekurangannya itu, dia percaya bahwa tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda sehingga perbedaan yang terjadi pada dirinya pun dia terima dengan syukur.
Dia yakin bahwa setiap manusia itu istimewa termasuk dia, hanya saja kadang manusia hanya menilai keistimewaan itu sebatas dari kelebihan yang dimiliki, padahal cara tuhan mengistimewakan manusia itu memiliki cara tersendiri.
Hari ini, hari pertama Nana memasuki kampus baru untuk melanjutkan S1 nya yang pernah tertunda, di kampus ini Nana memiliki suasana baru, teman-teman baru, pemandangan baru dan tentunya pelajaran tentang kehidupan yang baru.
Setelah sholat dhuha di masjid kampus yang sangat megah dan adem, Nana menangis mengingat akan perjalanan hidupnya yang hingga akhirnya membawa dia sampai ke sarjana.
Nana memang terlahir dari keluarga biasa bahkan masuk kategori kelas ekonomi kebawah, Nana yang awalnya tidak di setujui orang tuanya untuk kuliah dengan alasan biaya, namun dia dapat menginjakan kaki ke jenjang sarjana saat ini.
“Alhamdulillah ya Allah......atas segala nikmat yang engkau beri”.
“Atas izin mu, hamba bisa kuliah sampai sarjana”.
Tak terasa air mata Nana membasahi mukena yang masih ia kenakan. Nana mengikuti kelas karyawan di kampus baru itu, yaitu hanya belajar di hari minggu dari pukul delapan pagi hingga pukul empat sore, setelah jam kuliah selesai Nana mengikuti eskul bela diri yang ada di kampusnya hingga jam tujuh malam.
Nana tidak lagi memikirkan soal cinta, kekasih atau jodoh karena dia yakin setiap manusia memiliki pasangan hidup diwaktu yang tepat, sehingga dia tidak terlalu stress dengan keadaan nya.
Nana sangat menikmati suasana di kampus baru tersebut, selain kampusnya sejuk, rindang, teman-temannya juga menyenangkan. Di kampus yang baru, Nana selalu datang lebih awal padahal jarak dari kampus ke rumahnya lebih jauh dari kampus dia yang pertama, namun karena niat dan kesungguhan hati, jarak tidak menjadi penghalang
baginya untuk terus belajar hingga dia mencapai apa yang dia inginkan.
“Hai..... boleh ikut duduk”.
Suara lembut berlogat jawa terdengar ditelinga Nana, Nana menoleh kearah suara itu, Nana melihat ada seorang gadis yang sedang berdiri didekatnya, gadis cantik bertubuh mungil dengan buku-buku besar di tangannya serta ransel yang ada di bahunya.
“Oh...ya, silahkan”. Nana menggeser posisi duduknya dan memberikan celah untuk gadis tersebut.
“Mahasiswa baru ya?”.
“Aku Kartika, panggil aja Tika”.
Gadis itu memperkenalkan dirinya dan menjulurkan tangannya. Nana tersenyum menyambut hangat tangan tersebut.
“Aku Ardiana, panggil saja Nana”.
“Mahasiswa baru juga?”.
“Prodi apa?”. Lanjut Nana
“Aku prodi pendidikan bahasa inggris, kalau kamu?”. Jawab Tika
“Wah....kita satu prodi dan satu kelas dong”. Ekspersi bahagia Nana terlihat dari wajahnya.
“Dari Jawa ya, Tik?”.
“Ia, asli Pemalang”.
“Oh....ya, ya...”. Nana mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kamu asli Jakarta ya?”. Tanya Tika kembali
“Ya, tapi pinggiran sih, hahahah.....”. Nana tertawa
Nana memang gadis yang mudah bergaul dengan siapa saja, selain anaknya manis, cantik, dia juga ramah tidak heran jika banyak teman-temannya yang senang terhadapnya. Perkenalan Nana dan Tika sangat singkat namun, mereka terlihat sudah cukup dekat.
Nana melihat jam yang ada di handphone nya, jam sudah menunjukan pukul 7.30.
“Bentar lagi masuk, cari ruangan yuk!”. Ajak Nana
Mereka segera bergegas mencari ruang kelas, tanpa sadar Nana meninggalkan salah satu buku nya di teras masjid. Kampus Nana sangat luas, sehingga jarak dari masjid ke ruang kelas terhitung lumayan jauh, bahkan jarak setiap gedung prodi (Program study) pun cukup jauh.
Sesampainya di lobby, Nana dan Tika mencari ruangan melalui komputer yang tersedia di lobby sehingga mahasiswa dapat mencetak jadwal dan ruang kelas secara mandiri.
Nana dan Tika segera naik ke lantai dua, mencari kursi terbaik untuk mereka yaitu kursi barisan paling depan. Nana percaya bahwa kursi barisan paling depan disediakan untuk orang-orang hebat, berdasarkan pengalaman Nana bahwa sering sekali kursi terdepan diisi oleh para pejabat, orang penting, dosen, guru, para menteri dan orang-orang hebat lainnya. Sehingga filosofi itu yang membuat Nana selalu mencari kursi terdepan, agar dirinya menjadi orang hebat dikemudian hari.
Beberapa menit setelah Nana duduk, ada seorang laki-laki yang mencari Nana.
“Permisi........, ada yang bernama Ardiana?”.
Laki-laki tinggi kurus berkulit sawo matang, dan berjenggot tipis berdiri didepan kelas sambil memegang buku milik Nana. Nana mengacungkan tangannya,
“Saya mas”. Jawab Nana
“Ini buku kamu tertinggal di masjid, untung ada nama dan prodi”.
Laki-laki itu meletakan buku diatas meja Nana,
“Terimakasih mas”.
Secepat kilat, laki-laki itu hilang dibalik pintu tanpa menjawab ucapan terimaksih nya.
Masjid kampus adalah tempat terindah buat Nana selama menunggu jam kuliah berikutnya. Setiap ada jadwal kuliah, Nana selalu datang satu jam lebih awal dan membiasakan sholat dhuha serta membaca al-qur’an di masjid.
Tidak hanya Nana, hampir semua mahasiswa memilih masjid menjadi tempat paling strategis dalam segala hal, mulai dari belajar bersama, makan siang di aula kampus yang sangat luas, kegiatan ibadah, kegiatan ekstrakurikuler, bahkan sampai acara pernikahan pun warga sekitar menggunakan aula masjid.
Di kampusbaru, Nana lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid. Walaupun hanya sekedar membaca
alqur’an atau kegiatan ibadah lainnya, namun di masjid ini membuat hati Nana menjadi lebih tenang karena melihat orang lain melakukan ibadah tanpa henti secara bergantian.
Wajah-wajah cerah berseri terdapat di masjid, kata-kata dan kegiatan positif pun terdapat di masjid, sehingga membuat Nana betah untuk berlama-lama di masjid.
Selesai kuliah, Nana dan Tika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pencak silat yang ada di kampus, setelah sholat asar semua mahasiswa baru dan mahasiswa lama sudah siap berbaris di lapangan untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tanpa sadar, ternyata laki-laki yang menemukan dan mengembalikan bukunya itu, mengikuti kegiatan
ekstrakurikuler yang sama dengan Nana.
“Hai.............”. Nana menghampri laki-laki itu
“Hai”. Jawablaki-laki itu sambil memakai sabuk hitam di pinggangnya tanpa menoleh kearah Nana.
“Hmmm....mas yang tadi menemukan dan mengembalikan buku saya kan?”.
Laki-laki itu menoleh, sedikit berpikir.
“Hai”. Jawab laki-laki itu
“Aku Nana”. Nana menjulurkan tangannya
“Imam”. Balas laki-laki itu yang masih sibuk dengan sabuknya.
“Mas, senior aku tapi kok baru bergabung?”. Tanya Nana
Imam tersenyum sedikit tanpa berkata-kata.
“Ayo........semuanya baris, kita mulai dari salam perguruan”.
Suara pelatih eskul terdengar lantang hingga memutuskan percakapan Nana dengan Imam. Imam segera berlari ke tengah lapangan sesuai dengan arahan pelatih tanpa menghiraukan Nana yang masih berdiri di sampingnya.
“Na.....ayo...!!!”. Teriak Tika yang sudah siap ditengah lapangan.
Nana segera berlari dan bergabung bersama teman-teman lainnya.