MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 29. Perjodohan



            Dua minggu menjelang wisuda Nana, Juna kembali ke Tangerang. Kembalinya Juna hanya untuk melepas


rindu yang sudah lama tertahan oleh jarak dan waktu serta Juna ingin menepati janji nya pada Nana bahwa Juna akan menjadi pendamping wisuda nya nanti.


            Namun, kenyataan tidak seindah rencana. Juna yang dengan semangat pulang ke kampung halamannya


dan ingin segera melepas rindu dengan kekasihnya itu, hanya sebatas rencana belaka.


            Rencana Juna berubah seratus delapan puluh derajat dari rencana awal, lagi-lagi Juna diberikan pilihan yang sangat rumit oleh ibu nya. Ya.........Juna harus memilih menyetujui perjodohan yang sudah direncanakan ibu nya atau Juna meninggalkan keluarga demi Nana.


            Sore itu Juna dan ibunya sedang asik duduk diteras rumah, sambil menikmati indahnya pemandangan


kaki gunung serta angin yang mulai menyejukan tubuh mereka.


            “Bagaimana dengan kuliah mu, Jun?”. Ibu Juna memulai percakapan dengan bertanya sekitar kuliah Juna.


            Juna yang masih asik menikmati sejuknya angin menoleh kearah ibunya yang berada tepat disampingnya.


            “Alhamdulillah semua lancar ma......., IPK Juna semester pertama juga memuaskan”. Jawab Juna.


            “Hm....Mama punya sesuatu buat kamu?”. Ibu Juna mengambil sebuah amplop dari dalam lemari yang ada di kamarnya. Lalu, ibu Juna meletakan amplop itu diatas meja didepan Juna.


            Juna memandang amplop tersebut penuh tanda tanya dan dia pun mengambilnya.


            “Apa ini ma?”. Tanya Juna sambil membolak balikan amplop berwarna cokelat tersebut.


            “Buka lah”. Jawab ibu Juna


            Juna membuka amplop tersebut secara perlahan, amplop tersebut berisi foto seorang perempuan muda


lengkap dengan biodata nya. Juna memandang isi amplop tersebut dengan penuh kebingungan.


            “Ini foto siapa dan untuk siapa ma?”. Tanya Juna.


            “Itu foto anak teman mama, namanya Eva. Dia sekarang sedang kuliah S1 dan pesantren di kota ini”.


Jawab ibu Juna.


            Juna masih belum paham apa maksud dari semua itu, Juna masih terdiam dalam kebingungan.


            “Dia anak yang baik, mama pernah bertemu dengan nya beberapa kali dipengajian, suara nya


merdu, anaknya santun, cantik, dan pastinya dari keluarga baik-baik”. Lanjut ibu Juna.


            “Dia tidak kalah cantik dengan Nana kan?”.


            “Ya....yang jelas Eva lebih baik dari Nana”. Tambah ibu Juna.


            Juna kaget mendengar penjelasan ibunya, Juna paham apa maksud dari perkataan ibunya itu.


             “Ma........ mama ingin menjodohkan Juna dengan Eva?”. Tanya Juna sambilmeletakan kembali foto


dan biodata Eva diatas meja.


            Ibu Juna mengerutkan alisnya bertanda ia.............


            “Jangan keterlaluan ma........., mama tahu Juna sangat menyayangi Nana, hubungan kami sudah


berjalan dua tahun lebih ma..........., Juna kenal betul dengan Nana”. Bantah Juna


            “Tapi mama tidak mengenal dan tidak suka pada Nana, Juna”. Jawab ibu Juna dengan nada lebih tinggi.


            Ibu Juna berdiri lalu melipat dan meletakan kedua tangannya di bawah dada, dengan wajah sinis menatap langit.


            “Tapi jangan paksa Juna untuk memilih Eva dan meninggalkan Nana. Juna sayang Nana, ma”.


            Ibu Juna membalikan badannya menghadap kearah Juna.


            “Buat apa kamu perjuangkan perempuan mandul itu?”.


            “Lebih baik kalian berpisah sebelum menikah daripada kalian berpisah setelah menikah”.


            Juna terdiam, tidak sanggup lagi dia menghadapi ibunya yang sudah sangat keterlaluan. Tetapi, Juna


juga tidak ingin dirinya durhaka, kebahagiaan ibunya adalah kebahagiaan Juna. Juna terduduk lemas diteras rumah.


            “Juna, kamu itu calon magister, kamu adalah laki-laki cerdas, prestasi kamu sangat bagus. Jangan sampai kamu dibodohi oleh cinta, Juna”.


            “Suatu saat nanti kamu akan paham bahwa cinta kamu adalah Eva bukan Nana”. Ibu Juna bicara di telinga anak bungsunya itu, yang masih duduk lemas dalam kebingungan.


            “Tapi ma........”!


            “Cukup Juna, jika kamu tetap ingin menikah dengan Nana, sampai kapanpun kalian tidak akan pernah


bahagia karena mama tidak akan pernah ridho dengan pernikahan kalian”.


            “Pikirkan perkataan mama, tinggal Nana atau mama!”. Tegas ibu Juna dan pergi meninggalkan Juna


dengan amplop yang masih tergeletak di atas meja.


            Juna menangis termenung dengan pilihan yang diberikan oleh ibu nya,


            “Aaaahhhhhhhhhhh!!!!!!!”. Juna teriak menahan sesak pada dadanya, sambil memukulkan tanagannya pada dinding.


            Percakapan Juna dengan ibunya tadi sore membuat Juna tidak bisa memejamkan matanya malam ini. Bagaimana bisa Juna meninggalkan Nana, wanita yang sangat ia sayangi hanya karena keegoisan ibu nya.


            Wajah Nana selalu membayangi malam Juna, begitu juga dengan perkataan ibunya. Pilihan yang sangat


sulit buat Juna, Juna sayang dengan Nana namun Juna juga sayang dengan ibunya.


             “Kenapa mama tidak menepati janjinya?”. Tanya Juna dalam hati.


            “Apakah ketidaksukaan mama terhadap Nana itu karena kekurangan Nana?”. Juna terus mondar mandir dalam kamar mencoba memahami ibu nya.


            Sejak Juna tiba di Tangerang, Juna belum memberi kabar pada Nana. Juna ingin memberi kejutan


dihari wisudanya nanti, namun apakah dia akan benar-benar mengejutkan Nana dengan kehadirannya atau dengan keputusan yang baru. Pilihan itu membuat Juna sakit kepala.


            Malam itu Juna tidak bisa memejamkan matanya walaupun hanya beberapa menit saja, sehingga pagi


ini, Juna terlihat lemas, matanya memerah, dan bibir nya yang hitam terlihat kebiruan.


            Juna memaksakan diri untuk mengangkat tubuhnya dari tempat tidur, dia berusaha untuk membuka


mata dan berdiri namun itu tidak dapat ia lakukan. Badan Juna panas dan menggigil, sehingga memaksa dia untuk tetap berada dalam kamarnya.


            Ibu Juna menghampiri anak bungsunya itu yang berbaring lemas tak beradaya diatas tempat tidur, dia membawakan Juna jahe hangat untuk menetralkan suhu tubuhnya. Ayah Juna membantu Juna mengangkat tubuhnya untuk bersandar pada tumpukan bantal agar Juna dapat meminum jahe hangat yang dibawakan oleh ibunya.


            Mata Juna masih terpejam rapat, hanya getaran bibir dan suara lirih yang terdengar dari Juna yang selalu memanggil nama Nana. Ibu Juna memencongkan bibir sinisnya, seakan tidak suka mendengar nama Nana disebut-sebut oleh Juna.


            Ibu Juna melangkah keluar kamar Juna dan meninggalkan jahe hangat diatas meja belajar Juna, kemudian di susul oleh bapak Juna.


            “Ma.........apa sebaiknya kita ikuti aja kemauna Juna. Kasian ma........”. kata bapak Juna.


            “Mama tidak mau Juna menderita karena cinta pa........., Juna tidak akan pernah bahagia menikah dengan perempuan yang tidak bisa memberikan dia keturunan”. Bantah ibu Juna


            “Tapi mama lihat sendiri, Juna begitu menderita”. Kata bapak Juna membela Juna.


            “Sampai kapanpun, mama tidak akan pernah rela menerima perempuan mandul itu menjadi menantu di


rumah ini”.  Kali ini ibu Juna benar-benar murka dan tidak dapat menurunkan ego nya.


            Hari demi hari, wisuda Nana semakin dekat namun Nana belum mendapat kabar dari Juna. Nana mencoba


menghubungi Juna namun panggilan Nana selalu dialihkan.


            “Ada apa dengan kak Juna, tiga hari lagi aku wisuda namun dia belum memberi aku kabar?”. Nana mulai


gelisah


            Nana mengambil handphone yang tergeletak diatas meja belajar, wajah Nana bersinar dan senyum lebar terlihat dari bibirnya. Dia mendapat telefon dari sang Arjuna.


            “Hai......... pagi gadis cantik”. Suara Juna terdengar lemah dengan sedikit agar serak.


            “Hai Arjuna ku”. Jawab Nana bahagia mendengar suara kekasihnya.


            “Kaka sakit?”. Tanya Nana


            “No, I am good. Sedikit kurang tidur karena menahan rindu”. Jawab Juna sedikit menggoda Nana.


            Nana tertawa mendengar kalimat yang sudah lama tidak ia dengar.


           “Bagaimana persiapan wisudanya?”. Tanya Juna


            “Semua sudah siap, hanya belum ada pendampingnya”. Jawab Nana membalas godaan Juna.


            “Bagaimana jika aku yang mendampingi?”. Tanya Juna


            “Dengan senang hati, calon magister terbaik”. Jawab Nana penuh bahagia


            “Badan kakak sedikit lemas, sudah dulu ya.... I love you gadis manis”.


            “I love you more”. Jawab Nana lalu menutup telefonnya.


            Juna selalu memberikan kekuatan pada Nana, dia seperti magnet dalam hidup Nana yang selalu menarik semua kekuatan masuk dalam tubuh Nana. Nana benar-benar mencintai Juna lebih dari apapun.


            Nana menjatuh kan tubuhnya dalam kasur yang empuk yang berada didalam kamarnya, dengan mata


terbuka penuh cahaya kebahagiaan dan senyum manis tanpa batas yang menghiasi bibir titpisnya itu.


            Hari wisuda pun tiba, Nana mengenakan kebaya berwarna biru muda yang di lapisi oleh toga nya. Kebahagiaan Nana bertambah ketika Juna ada disampingnya. Juna menepati janjinya untuk menjadi pendamping wisuda Nana.


            Sikap Juna kali ini berubah, Juna seperti tidak sedang melepas rindu pada kekasihnya, dia terlihat lebih pendiam dan seperti sedang ada masalah besar dalam hidupnya.


            Kata-kata romantis yang selalu ia ucapkan, kini tak lagi terdengar. Bahkan Juna yang biasanya menatap Nana penuh cinta, kali ini tatapan Juna kosong tanpa rasa.


            “Are you Ok?”. Tanya Nana sambil menatap tajam mata Juna.


            Juna tidak membalas tatapan Nana, dia seperti takut untuk menatap mata indah Nana. Nana meletakan


tangan kangannya pada pipi Juna dan mengarahkan mata Juna agar bertemu dengan matanya, namun Nana tidak berhasil.


            “Na..........”. Juna mulai membuka suara. Suara Juna terdengar sangat berat.


             Nana menoleh pada Juna yang ada disampingnya..............


            “Aku ingin bicara”. Kata Juna


            “Ya, bicaralah. Gadis cantikmu ini akan selalu siap mendengarkan semua perkataan Arjuna ku”. Nana


mendekatkan tubuhnya pada Juna dengan jarak yang sangat dekat.


            Juna memejamkan matanya dan air bening menetes dari mata Juna.


             “Kak..........?”. Tanya Nana


            “Aku............Aku.......”. Suara Juna terbata-bata, sambil sesekali ia menghapus air matanya yang mulai


turun deras dari matanya.


            “Aku ingin kita putus”. Juna memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.


            Hati Nana seperti tersambar petir disiang bolong, tidak ada prolog dari kalimat yang Juna ucapkan, ini seperti mimpi buruk bagi Nana. Nana segera melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi menggenggam tangan Juna.


            "Bohong!”. Kata Nana kaget


            “Kaka bercanda kan?”. Nana masih percaya bahwa ini hanya mimpi buruk.


            “Aku tidak bisa meluluhkan hati mama untuk menerima kamu Na’.


            “Bahkan mama sudah menjodohkan aku dengan anak temannya yang sekarang sedang kuliah dan pesantren di kota kami”. Lanjut Juna


            “Aku ingin memperjuangkan cinta kita, tapi tidak mungkin lagi. Mama ku benar-benar tidak meridhoi kita, Na...........aku minta maaf”. Juna berlutut pada Nana dengan air mata bercucuran di pipinya.


            Juna mencoba meraih tangan Nana, tetapi Nana menariknya kembali.


            “Bohong! Kaka pasti bohong!”. Teriak Nana


            Juna memberikan amplop berwarna cokelat yang berisikan foto dan biodata Eva, lalu Nana mebuka amplop itu dengan tangan bergetar.


            “Apakah ini perempuan yang akan menggantikan posisiku?”. Tanya Nana


            Juna menganggukan kepalanya........


            “Jahat kamu Juna!”


            “Kamu tega katakan ini di hari kelulusan ku?”.


            “Maafkan aku, Na....... Aku tidak bermaksud”. Jawab Juna


            “Lalu buat apa kakak selalu meyakinkan ku untuk terus bertahan?”


            “Kakak yang selalu menguatkan aku saat cintaku mulai memudar dan kakak juga yang selalu membuatku


untuk terus berjuang”.


            “Mana janji kakak, janji yang selalu menjagaku, janji yang selalu membuatku bahagia, janji.... janji.... janji.... .mama kak!!!!????”. Teriak Nana pada Juna yang masih berlutut di hadapannya.


            “Kakak pembohong! Kakak hanya mempermainkan aku”.


            “Ya........aku pantas untuk dipemainkan. Perempuan tanpa rahim seperti aku memang pantas menerima semua ini. Selamat atas perjodohan kalian. Semoga kalian mendapatkan semua yang kalian impikan!”.


            Nana melangkah meninggalkan Juna dengan perasaan hancur dan air mata, namun Juna menarik kaki Nana dan menghentikan langkahnya sehingga Nana terjatuh di hadapan Juna.


            Juna memengan wajah Nana dengan kedua tangannya, menyatukan dahi nya pada dahi Nana.


            “Maafkan aku Na......, sampai kapan pun, kamu adalah wanita terhebat dan terbaik bagi ku. Aku akan tetap mencintai kamu, cinta ini tak akan pernah berubah dan tak akan ada yang bisa menggantikan posisi mu di hati ku”.


            Nana mendorong Juna sehingga membuat Juna tersungkur di hadapannya, dan Nana mengacungkan


telunjuknya di hadapan Juna,


            “Jangan pernah katakan cinta pada ku karena cinta mu tidak lagi untuk ku tapi untuk Eva”. Nana berlari meninggalkan Juna


            Riyan yang ingin menyaksikan wisuda Nana melihat Nana berlari dengan tangisnya, dan melihat Juna yang masih tersungkur dengan amplop berwarna cokelat di hadapannya.


            Riyan menghamipir Juna lalu mengambil amplop itu dan membuka isinya, tanpa banyak tanya Riyan mengepal jari jemarinya dan melemparkan pada wajah Juna.


            “Bak......!”. Riyan menjatuhkan pukulan pada wajah Juna


            “Jangan pernah temui Nana jika hanya ingin membuatnya terluka”.


            “Nana sudah banyak menahan tangisnya demi kamu Juna”.


            “Laki-laki macam apa kamu, Juna! Teriak Riyan


            Riyan terjatuh lemas menahan emosi pada Juna dan Juna pun lemas tak berdaya setelah Riyan melemparkan pukulan di wajahnya bertubi-tubi.


            “Kamu tahu Juna, aku mencintai Nana dan aku pendam semua perasaan ku demi kalian.


            “Aku tahu bahwa Nana hanya menganggap ku sahabat, tidak lebih”


            “Bahkan aku sering menahan rasa cemburu ku disaat melihat kebahagiaan kalian”.


            “Tapi ternyata kamu lak-laki yang tidak bertanggung jawab, membiarkan gadis baik seperti Nana terluka”.


            “Bak............”. Riyan kembali memukul Juna dan pergi meninggalkannya.