MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 35. Ekstrakurikuler



Nana adalah mahasiswi kelas karyawan yang menikuti kuliah setiap hari minggu, dari pagi hingga sore. Namun Nana aktif dalam kegiatan kampus termasuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


Hari minggu pagi adalah pemandangan paling menyenangkan bagi Nana, sebelum masuk kuliah, Nana selalu menyaksikan berbagai macam kegiatan ekstrakurikuler di kampusnya, seperti taekondo, basket, bulu tangkis dan berbagai kegiatan lainnya.


Lapangan berwarna putih pun menjadi pemandangan favorit Nana karena setiap minggu pagi, lapangan kampus dipenuhi oleh pasukan taekondo dengan seragam putih sehingga membuat lapangan tersebut menjadi berwarna putih.


Seusai sholat dhuha, Nana selalu duduk di teras masjid sambil menyaksikan  kegiatan esktrakurikuler yang di sajikan setiap minggu nya.


 “Hai, Na. Kamu lagi apa?”. Tanya Tika yang tiba-tiba berada di samping, entah dari mana asalnya.


“Lagi duduk santai, lihat anak-anak taekondo. Refreshing sebelum masuk kelas”. Jawab Nana yang masih fokus pada kegiatan yang ada didepan nya itu.


“O ia Na, cowok kemarin yang kamu sapa di lapangan waktu latihan siapa?”.


Nana menoleh ke arah Tika, “Yang mana?”. Tegas Nana


“Itu yang kamu samperin, cowok kurus, tinggi, sawo matang”.


Bola mata Nana berputar ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah, mengingat-ingat ciri cowok yang dikatakan Tika.


 “Ah.....mas Imam maksud mu?”.


“Mungkin. Dia kakak kelas kita atau............?”. Tanya Tika.


“Katanya sih, kakak kelas”. Jawab Nana


“Ke kelas yuk............. bentar lagi masuk!”. Ajak Nana


Imam adalah laki-laki pendiam bahkan sangat pendiam, dia jarang bicara, dan dia hanya bicara hanya untuk hal-hal yang menurutnya penting. Ada yang menarik dari Imam yaitu dia selalu melakukan sholat sunnah dan sholat wajib tepat waktu serta berjama'ah.


Nana dan tika segera beranjak menuju kelas di lantai dua, sesampainya di koridor kampus, mereka berpapasan dengan Imam yang berjalan menuju masjid.


“Na, itu cowok yang kemarin”. Bisik Tika


Nana terus berjalan tanpa menghiraukan perkataan Tika, tanpa sadar Nana meninggalkan Tika yang masih berdiri di koridor kampus sambil terus melihat kearah Imam hingga akhirnya Imam hilang di balik pintu masjid.


Nana berhenti dan menyadari bahwa dia sendiri, Nana berbalik badan dan dia melihat Tika beberapa meter di belakangnya.


“Astaghfirullah...........Tika...... Stttt.......Tika”. Nana memanggil


Tika menoleh dan berlari menghampiri Nana, “Tunggu Na....”.


“Kamu sedang apa di situ? Liatin apa sih?”. Tanya Nana


“Jadi tadi kamu gak denger perkataan ku?”. Tanya Tika


Nana menggelengkan kepalanya.............. Tika menarik nafas. “Hmm..... yasudah lah”. Mereka melanjutkan


perjalannya menuju kelas.


Seperti biasa, Nana dan Tika selalu memilih kursi terbaik yang berada dibarisan paling depan, mereka bersiap-siap untuk menerima mata kuliah hari ini.


“Tadi aku bertemu Imam di koridor kampus”. Bisik Tika


Nana mengerutkan alisnya dan menoleh ke arah Tika yang duduk disampingnya, “Dimana dan siapa?”. Bisik


Nana


“Di koridor kampus, Imam”. Jawab Tika


“Istimewanya apa?”. Tanya Nana kembali.


Tika menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi wajah menyeringai.


“Kita sudah di kelas, artinya pusatkan pikiran kita untuk menerima ilmu hari ini”. Bisik Nana


“Ok”. Jawab Tika dengan Nada sedikit bete.


Beberapa menit setelah pelajaran di mulai, ada seseorang yang mengetuk pintu kelas.


“Tok, tok, tok, Assalamu’alaikum”.


“Masuk”. Jawab pak dosen yang sedang membuka materi hari ini.


Pintu kelas pun terbuka dan Imam masuk ke dalam kelas,


“Maaf sir, terlambat”. Kata Imam


“Ya, silahkan”. Dosen mempersilahkan Imam mengisi kursi yang masih kosong.


Imam adalah senior Nana beda satu tingkat, namun ada beberapa mata kuliah yang belum dia ambil sehingga dia ikut di kelas Nana. Imam memilih duduk di barisan paling belakang dan paling sudut. Bola mata Tika bergerak mengikuti arah Imam.


“Itu dia, Na”. Suara Tika terdengar bersemangat


Nana menepok jidatnya, “Astaga........., nothing special. Dengar ya.....Tika imut, aku pernah melihat laki-laki paling keren, hitam tapi mengemaskan, baik, cerdas, mandiri,pokokny perfect”. Kata Nana sambil memejamkan kedua matanya dan menunjukan senyum di bibirnya.


“Apakah yang kamu maksud itu, pacar mu?”. Tanya Tika


“Astaghfirullah........... ih..... bukan. It’s over”. Jawab Nana


“Ya ampun.......kenapa masih ada Juna di otak ku?”. Nana bicara dalam hati.


Tika terdiam dan heran melihat tingkah Nana yang tiba-tiba berubah. Setelah beberapa jam di dalam kelas, akhirnya suara bel istirahat berbunyi.


“Alhamdulillah................”. Kata Nana


“Kantin yuk, cari makan!”. Ajak Tika


“Makan di aula masjid aja yuk......aku bawa bekal, berdua juga cukup”. Jawab Nana.


“Kamu rajin banget, tiap kuliah bawa bekal”. Puji Tika


“Irit”. Nana menyeringai


Mereka bergegas, menuju aula masjid untuk makan siang.


“Hari ini kamu latihan?”. Tanya Tika sambil menyantap makan siang.


“Ia dong.......... beladiri itu eskul favorit aku di kampus”.


“Dari kecil aku seneng banget dengan seni bela diri, kayak di tv”. Jawab Nana dengan nada santai.


“Na, cowok yang kamu maksud di kelas tadi siapa?”. Tanya Tika kepo


“Yang mana?”. Tanya Nana kembali


“Yang kamu bilang perfect”.


“Oh....bukan siapa-siapa, forget it”. Jawab Nana


“Mantan?”. Tika terus bertanya penasaran.


Nana yang sedang asik menyantap makan siang tiba-tiba terhenti dengan pertanyaan Tika.


“Ia”. Jawab Nana sedikit bete.


“Don’t ask me why!”. Nana memberi peringatan pada Tika


Tika yang mulai membuka mulutnya untuk  mengajukan pertanyaan lanjutan, segera menutup kembali mulutnya rapat-rapat.


“Ayo...makannya cepetan. Lalu sholat dan kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk”. Nana merapikan tempat makanya dan menuju ke tempat wudhu wanita yang berada disebelah kiri masjid. Sedangkan Tika masih asik menikmati makan siangnya.


Nana sholat di barisan perempuan yang berada di belakang laki-laki. Nana melihat Imam ada di barisan paling depan dalam sholat, namun tidak terlalu dia amati. Nana fokus dengan dirinya sendiri. Setelah Nana dan Tika menyelesaikan makan siang dan sholat juhur berjama’ah, mereka segera menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah


berikutnya.


Mereka kembali ke lantai dua namun di kelas yang berbeda karena kampus Nana menerapkan sistem moving class, artinya setiap pergantian jam mata kuliah maka mahasiswa harus pindah kelas dengan tujuan, agar mahasiswa dapat refresh kembali otaknya dengan kelas dan dosen yang berbeda.


Sejak Nana berpisah dengan Juna, Nana berjanji untuk mengutamakan pendidikan dan cita-citanya dan Nana ingin melanjtkan pendidikannya hingga S2 seperti Juna. Sehingga, Nana menikmati setiap mata kuliah yang diberikan oleh dosen, dan selalu bersemangat untuk terus belajar dan berangkat ke kampus.


Waktu pulang pun telah tiba, semua mahasiswa meninggalkan kelas dan kampus kecuali mahasiswa yang aktif dalam eskul beladiri. Anggota eskul segera mengganti pakaiannya dan berbaris di lapangan untuk latihan.


Nana, Tika, Imam dan beberapa mahasiswa lainnya sudah siap untuk pemanasan di lapangan. Setelah mereka


melakukan pemanasan selama lima belas menit yang dipandu oleh pelatih, mereka memulai untuk melakukan gerakan dasar, mulai dari pasang kuda-kuda hingga menerima jurus.


Ada kejadian yang membuat Nana terpingkal sore itu, Nana melihat Imam terjungkal (jatuh) saat melakukan kuda-kuda. Imam kurang keseimbangan sehingga ketika pelatih melakukan tendangan pada bagian bawah kaki untuk memastikan apakah kuda-kuda yang dilakukan anggota kuat atau tidak, maka Imam pun terjatuh dan membuat Nana tertawa.


“Diam!”. Teriak pelatih


“Siapa yang tertawa? Ini bukan komedi, fokus pada diri masing-masing”.


“Pandangan lurus kedepan”.


Nana tidak dapat menahan perutnya yang sakit menahan tawa, sehingga suara Nana pun masih terdengar oleh pelatih yang masih fokus terhadap gerakan Imam.


“Nana, push up dua puluh kali dengan tangan di kepal!”. Kata pelatih


Ini hukuman kedua yang Nana terima semasa kuliah, di kampus lama, Nana di hukum untuk belajar dengan seniornya “Juna” gara-gara terlambat masuk dan sekarang Nana di hukum karena mentertawakan rekan nya.


Setelah waktu latihan usai, semua anggota bergegas untuk pulang, sedangkan Imam masih berada di lapngan untuk meluruskan kaki nya.


“Na, aku ke kamar kecil sebentar ya”. Kata Tika


“OK. I am in here”. Jawab Nana


Nana menghampiri Imam yang sedang duduk sendirian. Nana berdiri di depan Imam, “Mas aku minta maaf atas kejadian tadi”.


Imam hanya menatap Nana yang masih berdiri didepannya, kemudian berdiri, “Gak apa-apa”. Jawab Imam, kemudian meninggalkan Nana. Nana hanya bisa mengerutkan dahi nya.


“Ada apa Na?”. Tanya Tika yang tiba-tiba muncul


“Nothing. Let’s go home”. Jawab Nana dan akhirnya mereka pulang