
Sejak pertemuan dan kejadian di restoran waktu itu, Juna mulai menunjukan sikap aneh nya. Dia lebih sering
mengirim pesan singkat pada Imam, telepon bahkan, datang ke rumah, bahkan sering mengundang Imam untuk makan malam atau lain nya. Sungguh sesuatu yang tidak biasa, namun Imam belum menyadari bahwa Juna mendekatinya hanya karena ingin bertemu dengan Nana, istrinya.
“Sayang, pak Juna menawarkan pekerjaan untuk mas. Bagaimana menurut kamu?”.
Nana sangat kaget dengan perkataan suaminya.
“Kerja apa mas? Diaitu dosen, punya jabatan. Sementara mas Cuma sampai STM saja. Pekerjaan apa yang ia tawarkan?”. Dengan nada sedikit aneh
“Dia meminta mas untuk jadi staff nya. Sebenarnya beliau tersinggung saat kamu menolak ajakannya untuk bergabung di tim research nya. Jadi, dia meminta mas untuk menjadi staff nya dan mas bingung harus apa karena kita memang butuh uang untuk kebutuhan kita”.
Nana mendekat pada suaminya
“Mas, aku bahagia dengan keadaan seperti ini. Jika mas tidak keberatan, sebaiknya mas gak usah terima
ya........... biar bagaimana pun, ade merasa bahwa tawaran dia tidak cocok untuk mas”.
Imam berpikir sejenak sebelum akhirnya pergi bekerja di toko bangunan.
“Akan mas pikirkan. Mas berangkat dulu ya”.
“Iya mas”.
Imam beranjak menuju pintu dan.................
“Pagi pak Imam”.
Imam terkejut, begitu juga dengan Nana yang masih berada di ruang tamu.
“Pak Juna? Ada apa pak?”.
“Mau ke toko ya pak? Bagaimana jika kita bareng, sekalian lewat”.
“Tapi kampus pak Juna dengan toko beda arah pak”.
“Oh.........., kebetulan tadi waktu saya mau ke kampus, tiba-tiba saya ingat jika laptop saya tertinggal. Jadi saya
putar balik dan saya mampir karena saya pikir kalau pak Imam belum berangkat, dan alhamdulillah tebakan saya benar”.
Imam mengangguk sedikit aneh dengan sikap Juna akhir-akhir ini.
“Sayang mas berangkat ya..............”.
“Iya mas”.
“Mari bu Nana”. Juna tersenyum pada Nana
Nana sama sekali tidak menoleh pada Juna, sikapnya yang semakin hari semakin aneh membuat Nana risih jika bertemu dengan nya, rasa takut pun mulai menghantui pikiran Nana. Nana ingin berkata jujur pada Imam, tetapi dia bingung harus memulai dari mana.
“Pak Imam, mohon maaf sebelumnya jika saya kurang sopan. Istri bapak mengingatkan saya kepada cinta pertama
saya”.
“Maksud pak Juna?”.
“Mantan saya dulu seperti istri bapak, periang, bersemangat, pintar, dan selalu ceria, itu yang membuat saya
sangat mencintai nya dan saya berharap, dia pun masih mencintai saya”.
“Saya doakan agar bapak dipertemukan kembali oleh cinta pertama bapak itu”.
“Aamiin. Terimakasih pak”.
“Pak Juna, saya turun didepan saja ya. Sudah deket, olah raga sedikit gak apa-apa lah”. Sambil tertawa kecil
“Oh, iya baik. Selamat bekerja pak”.
Imam keluar dari mobil Juna dan berjalan menuju toko bangunan tempat dia bekerja. Imam berpikir sejenak mengenai perkataan Juna di mobil barusan.
“Apa yang dimaksud pak Juna? Atau Nana itu adalah cinta pertama yang ia maksud? Ya Allah.......... jauhkan hamba dari berburuk sangka”.
Imam menoleh kearah mobil Juna yang sudah melaju meninggalkannya.
Di kontrakan
“Kring..........kring............”. handphone Nana berdering
Nana melihat ada telepon masuk dari teman sekelas waktu S2 dahulu
“Assalamu’alaikum Vit”.
“Wa’alaikum salam, Na kamu sibuk gak?”
“Gak, kenapa emang nya?”
“Maksud gue, lo sudah kerja belum?”
“Oh........belum. kenapa?”
“Alhamdulillah.............pas kalau gitu. Begini Na, mulai bulan depan gue cuti melahirkan selama tiga bulan, nah...............gue diminta pak kajur untuk cari pengganti sementara. Kamu mau? Honor per SKS nya lumayan loh. Itung-itung latihan jadi dosen, siapa tahu banyak tawaran”
“Wah..................serius Vit?
Iya gue mau, nanti gue diskusi sama mas dulu ya”.
“Jika sudah dapat izin, kasih kabar ya Na agar gue bisa langsung kabari pak kajur”.
“Pasti. Thanks ya Vit”.
“Iya sama-sama”. Vita menutup telepon nya
“Wa’alaikum salam, loh mas kok pulang? Gak jadi kerja?”. Tanya Nana heran
“Badan mas tiba-tiba lemas, mas mau istirahat aja”. Imam membaringkan tubuhnya yang kurus di atas kasur.
“Mas sakit? Ade buatin teh hangat ya?”.
Imam meraih tangan Nana, “Gak usah..........mas Cuma capek aja, sini temani mas”.
Nana duduk disamping Imam, “Mas..............ada apa sih?”.
“Sayang, mas boleh tanya sesuatu?”
“Ya boleh dong..............ada apa sih?”. Dengan ekspresi wajah yang penasaran
Imam bangkit dari tidurnya dan duduk disamping Nana
“Kamu cinta dengan mas?”
Nana tertunduk dan diam, merasa aneh dengan pertanyaan suami nya itu
“Ada apa sih mas? Aneh banget”. Nana memeluk suaminya dengan erat
“Jika masa lalu mu datang dan masa lalu mu itu jauh lebih sukses, tampan, baik, mapan, dan sebagainya. Apakah kamu akan kembali pada nya dan meninggalkan mas?”
Sontak Nana melepaskan pelukan nya dan memandang wajah suaminya
“Mas, setiap orang punya masa lalu. Kita tetap fokus pada masa depan. Aku akan selalu bersama mas”.
“Yakin?”.
Nana menganggukan kepalanya
“Makasih ya
sayang.....................”. Imam meraih tubuh Nana lalu mendekapnya erat serta mencium keningnya.
Jantung Nana berdebar seakan Imam sudah tahu tentang masa lalu nya bersama Juna.
“Kenapa kamu tidak berkata apa-apa tentang Juna?”. Gumam Imam
“Apakah mas sudah tahu tentang masa lalu aku dan Juna?”. Gumam Nana
“Mas istirahat dulu ya........”. Imam membaringkan tubuhnya kembali
Nana membiarkan suaminya beristirahat dan dia beranjak ke ruang depan, menyandarkan tubuhny pada
dinding, tubuh Nana bergetar lemas.
“Ya Allah...........apa yang harus saya katakan? Ingin rasanya aku jujur tapi aku takut salah”. Pikirnya
Satu bulan kemudian
Nana memenuhi panggilan Vita untuk datang ke kampus, bertemu dengan kajur nya dan membicarakan mengenai dosen pengganti. Nana turun dari bus kemudian masuk ke arah lobi dan Vita sudah
menunggu nya di lantai 3.
“Hai, Na!”. Panggil Vita sambil melambaikan tangan nya
Nana tersenyum dan menghampiri Vita yang sedari tadi menunggu nya.
“Wow............masih sexy aja?”. Ledek Nana menyapa Vita yang makin hari terlihat makin lebar.
“Sttt...........jangan di bongkar disini dong”. Sambil menunjukan telunjuk di depan bibirnya dan tertawa kecil.
“Yuk kita keruangan kajur ku. Hari ini terakhir aku ngisi kelas karena mulai besok aku cuti. Titip kelas aku ya...............”.
“InsyaAllah...................”.
Vita mengajak Nana untuk menemui kajur nya
“Assalamu’alaikum pak”. Vita mengetuk pintu
“Masuk!”.
Nana dan Vita pun masuk
“Ya ada apa bu Vita?”.
“Astaghfirullah................Arjuna”. Gumam Nana dalam hati
Wajahnya berubah memerah dan tertunduk, tubuhnya terasa lemas dan bertenaga. Ingin rasanya ia berlari meninggalkan ruangan itu, namun tidak ada yang dapat dia lakukan.
Juna melongo ketika melihat Nana berdiri di depan nya bersama Vita.
“Silahkan duduk bu”.
“Terimakasih pak”.
Kini posisi Nana berada persis di depan Juna, Juna yang tak henti menatap Nana membuat Nana semakin tidak dapat mengangkat kepalanya. Tanpa berbasa basi, Juna sudah tidak sabar lagi ingin menyapa Nana.
“Saya senang jika ibu..................”.
“Ardiana pak, panggil saja Nana”. Kata Vita
“Oh, iya. Saya senang jika bu Nana dapat mengisi kelas bu Vita. Bu Vita sudah menceritakan nya sejak awal bahwa
beliau ingin cuti melahirkan dan akan ada rekan nya yang akan menginfal. Semoga anda betah dan dapat bekerjasama dengan baik”. Juna menjulurkan tangan nya.
Bersambung.....................