MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 61. Masih Ada Luka



Beberapa bulan setelah Nana berpisah dengan Wira, Nana mendapatkan beasiswa S2 dan melanjutkan kuliah nya di salah satu uiversitas terbaik di negeri ini. Prestasi dan pencapaian selama dua semester ini sangat memuaskan. Dia tidak lagi memikirkan soal cinta apalagi cowok, walaupun banyak sekali laki-laki yang inbox melalui akun face book atau instagram bahkan tidak sedikit yang datang menemui nya hanya untuk berkenalan atau mengenalnya lebih jauh.


Hari-hari Nana pun hanya sekitar tugas kampus, seminar sana sini, laptop dan buku. Setiap kali mama nya


mendengar Nana berbincang-bincang di telepon, percakapan Nana hanya seputar persoalan kampus. Sampai akhirnya ketika Nana sedang asik membaca buku di teras depan, mama Nana memberanikan diri untuk menanyakan kembali soal cinta, yang dulu pernah mama tanyakan.


“Sayang...............sedang baca apa? Serius amat?”. Sambil membawakan Nana wedang jahe hangat.


“Thank you ma”. Melirik wedang jahe yang sudah berpindah posisi, dari tangan mama menjadi di atas meja.


“Bulan depan Nana harus seminar di kampus dan Nana harus menyiapkan satu jurnal yang akan di seminarkan nanti”. Jawab Nana sambil terus membaca beberapa buku babon  (buku besar dengan ketebalan mencapai dua ribu halaman) yang ada di depan nya.


“Jaga kesehatan ya...........!”. Kata mama sambil menatap Nana.


Nana menutup buku nya dan memperhatikan wajah mama yang mendung dengan tatapan penuh pertanyaan. Nana


meraih tangan mama dan kembali menatap nya. Mama Nana menoleh ke arah gang, menatap gang itu penuh ke kosongan dan hati yang muram.


“Ma............., ada apa? Cerita dong sama Nana. Mama sedang ada masalah?”. Nana mengembalikan pandangan mama ke arah nya.


Mama melengkungkan ujung bibirnya dan memberi senyuman pada Nana.


“Nggak sayang......... mama Cuma ingin melihat kamu bahagia”. Air bening menetes dari pelupuk mata mama.


“Nana bahagia ma......... Mama lihat kan?”.


“Nana menikmati semua ini. Apa yang mama khawatir kan?”. Jawab Nana dengan nada bersemangat dan penuh harapan.


Mama menganggukan kepalanya dan menghapus air mata yang jatuh di pipi nya.


“Maafin mama ya sayang............”.


“Nana yang seharusnya minta maaf, selama ini Nana belum bisa membahagiakan mama, belum bisa membuat mama bangga. Bahkan diusia ku yang sudah tidak lagi ABG, aku belum bisa memberikan mama dan papa seorang menantu”. Nana tertunduk


“Ya......itu yang selama ini terbelesit dalam pikiran mama. Apakah tidak ada laki-laki lain selain Ajuna yang dapat membuat kamu merasa nyaman?”. Tanya mama


Nana terdiam, dia terpaksa harus kembali teringat kepada peristiwa yang telah membuat hati nya luka mulai dari Rahman, Juna, Affan dan juga Wira.


“Ma............, sebelum betemu Arjuna, Nana mengenal Rahman seorang duda keren yang sangat baik namun Rahman bukan pilihan tuhan untuk Nana. Lalu, tuhan mengganti nya dengan Arjuna, sosok laki-laki cerdas, bertanggung jawab dan sangat mencintai Nana, namun Arjuna pun hanya bisa untuk dicintai tetapi tidak dapat di miliki, kemudian Affan dan terakhir Wira. Bagi Nana pengalama itu sangat berarti dan memberi pelajaran dalm hidup Nana, sehingga Nana harus lebih berhati-hati lagi dalam menjalin hubungan”.


Suasana teras menjadi hening seketika,


“But so far.........I am happy “. Suara Nana menggelegar bahagia setelah beberapa menit berhasil membuat suasana menjadi hening dan haru.


Mama tersenyum lepas dan memeluk Nana erat.


“Nana tahu, mama ingin melihat Nana menikah dengan laki-laki baik dan membuat Nana bahagia. Nana


“Yasudah..., lanjutkan belajarnya. Mama masuk ya............ jaga kesehatan”. Mama melepaskan pelukan nya lalu masuk ke dalam.


Nana termenung sejenak setelah beberapa saat mama meninggalkan nya di teras depan. Mama masih berdiri di balik jendela, memperhatikan raut wajah anaknya. Batin orang tua dan anak memang sangat kuat, sehingga tanpa kata-kata pun kedua nya saling mengetahui dan mengerti apa yang ada dalam benak mereka masing-masing.


“Nana janji ma, akan memberikan menantu idaman dan terbaik buat mama dan papa. Nana hanya ingin menikah dengan laki-laki sholeh yang dapat menerima apa ada nya, menerima dengan kekurangan bukan kelebihan yang Nana punya”. Kata Nana pada diri nya sendiri.


Nana merapihkan buku-buku yang ada di depan nya dan menyeruput wedang jahe buatan mama dan menyusul mama masuk ke dalam. Mama segera beranjak ke kamar, agar Nana tidak melihat bahwa mama sedang memperhatikan Nana dibalik jendela.


Nana masuk kamar dan melepaskan lelah nya dengan membuka handphone, melihat apakah ada pesan masuk lewat emai, instagram atau Wa nya. Ternyata dia mendapatkan undangan pernikahan dari Tika lewat akun FB nya. Tika teman nya di S1 dulu yang setelah lulus memilih untuk pulang kampung ke Pemalang dan mengabdi di sana.


“Hai, Nana apa kabar? I miss you. Tanggal 30 Mei aku mau nikah. Kamu datang ya..... ajak sekalian Wira juga”. Pesan Tika dalam email.


“InsyaAllah tetapi aku gak janji karena jadwal ku padat di kampus. Kamu belum tahu kan sekarang aku lanjut S2 loh..... by the way congrats atas your wedding. Tentang Wira, lupakan saja”. Balas Nana.


Nana meninggalkan handphone nya, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mata nya sudah mulai sayup karena kantuk. Sesekali dia membuka mata nya namun segera tertutup kembali dan sulit untuk di buka, Nana pun terlelap tidur.


Ketika pagi tiba, Nana meraih handphone nya yang ada di samping kepalanya.


“Astaga.........pak prof telepon dan aku gak dengar!”.


Nana membuka satu persatu pesan yang masuk dalam WA nya semalam, didapatnya pesan dari pak professor yang meminta Nana untuk datang lebih awal karena ada teman beliau yang ingin bertemu Nana dan menawarkan untuk berkolaborasi dalam membuat jurnal untuk seminar bulan depan.


Nana melihat jam di dindingnya, jam menunjukan pukul 5.30 dan ia segera bergegas ke kamar mandi untuk mandi, sholat subuh yang bisa dikatakan kesiangan dan lanjut untuk sarapan.


“Ya ampun Nana.......tidur mu lelap banget. Sampai-sampai tidak mendengar suara handphone berdering padahal ada di samping telinga”. Kata Nana pada dirinya sendiri.


“Pagi ma.........”. Nana mengambil sehelai roti yang ada di atas meja lalu menggigitnya sambil mencium kedua pipi mama nya


“Ya ampun sayang.........anak perawan mama kok makan nya sambil berdiri dan terburu-buru. Sarapan dulu”. Kata mama


“Kesiangan ma.....doain aku ya......”. Sambil berlalu.


“Makin lama makin gak jelas aja tuh anak”. Kata mama sambil menggelengkan kepalanya.


“Hati-hati sayang...........!!”. Teriak mama


“Kenapa ma? Pagi-pagi sudah teriak-teriak”. Kata papa yang menghampiri mama di meja makan.


“Itu loh, anak gadis mu. Makin hari kok makin aneh”. Jawab mama


“Maksud mama?”. Tanya papa heran.


“Sudah, lupakan saja. Duduk pa, kita sarapan ya...........”.


Mama menyiapkan sarapan untuk papa dan diri nya.