MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 18. Ujung Jalan



            Malam ini Juna menunggu Nana di ujung jalan seperti yang dikatakan Riyan, Juna ingin mengatakan semua isi hati nya pada Nana, Juna sadar bahwa apa yang dia lakukan menyakiti Nana, namun rasa egois dan cuek nya membuat Juna tidak berani untuk berkata jujur pada Nana.


            Seperti biasa seusai belajar, Nana pulang bersama Riyan menuju terminal, akan tetapi malam ini Riyan hanya bisa menemani sampai ujung jalan. Riyan membiarkan Nana melanjutkan perjalannya menuju terminal sendiri tanpa nya.


            Riyan tahu bahwa sudah ada Juna yang menunggu Nana di ujung jalan. Riyan tidak ingin menggagalkan rencana Juna. Riyan tahu betul jika Nana belum bisa menemui Juna, namun jika Nana pulang sendirian, Nana pasti akan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan Riyan.


            “Neng, maaf gak bisa antar sampai terminal”. kata Riyan.


            “Kenapa?” tanya Nana heran


            “Aku ada janji sama Rara, kasian takut nunggu lama”. Jelas Riyan.


            “Rara sudah nunggu aku di sana”. Riyan menunjuk salah satu lesehan pecel ayam yang ada disebrang jalan.


            “Ia, salam buat Rara”. Jawab Nana singkat.


            Riyan mengacungkan jempolnya sambil tersenyum pada Nana. Hati kecil Riyan tidak dapat dipungkiri


bahwa dia sangat khawatir jika Nana bertemu dengan Juna, walapun Riyan tahu bahwa Juna adalah laki-laki baik, namun entah kenapa Riyan sangat mengkhawatirkan Nana.


            Riyan mengamati Nana dari sebrang jalan malam itu, memastikan bahwa Nana baik-baik saja. Nana berjalan perlahan menuju terminal, suasana jalan yang begitu ramai dengan lalu lalang kendaraan membuat Nana berani untuk pulang sendirian. Beberapa menit setalah Riyan meninggalkan Nana.


            “Na, Nana....”. Juna memanggil.


            Nana berhenti sejenak, memastikan bahwa ada yang memanggil namanya. Nana menoleh ke belakang, namun tidak ada orang. Nana melanjutkan perjalannya, tiba-tiba ada laki-laki berkemeja coksu dengan tas ransel di belakangnya. Nana mempercepat langkahnya, setengah berlari, namun Juna tetap mengejar Nana.


            “Na, aku mau bicara sebentar”. Suara Juna terdengar di depan wajahnya.


            Nana memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas, lalu membukanya perlahan. Nana melihat


senyuman laki-laki itu untuk yang ke tiga kalinya.


            “Ada apa kak?”


            “Aku buru-buru”. Balas Nana


            “Aku mau minta maaf atas kejadian malam itu, aku gak bermaksud menyinggung perasaan mu”. Kata Juna


            Nana terdiam, seakan membiarkan Juna mengungkapkan semuanya. Nana menggerakan kaki kirinya,


seperti memberi isyrat bahwa dia akan melanjutkan perjalannya menuju terminal. Juna segera menahan langkah Nana dengan merentangkan ke dua tangannya di depan Nana.


            “Aku sudah memafkan, kak. Aku yang salah”. Jawab Nana.


            “Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, aku mau pulang”.


            “Na, aku sayang sama kamu”.


            “Aku tidak hanya kagum Na, tapi aku sayang”. Juna melanjutkan pembicaraannya.


            “Maaf kak, aku hanya tidak mau ada yang tersakiti”.


            “Aku janji Na, aku tidak akan menyakiti kamu”.


            “Tapi aku yang akan menyakiti kamu, kak”.


            “Aku gak bisa”. Jawab Nana


            Juna menarik tas yang Nana kenakan, seakan menahan Nana. “Aku akan berusaha keras untuk


mendapatkan mu dan tidak akan pernah aku lepaskan”. Juna terus meyakinkan Nana.


            Nana menarik tas yang ia kenakan dan terus berjalan menuju terminal tanpa menoleh bahkan tidak


menghiraukan Juna sama sekali.


            Hampir setiap malam Juna menemui Nana dikampus. Juna selalu menunggu Nana di lobby agar Juna bisa


pulang bareng dengan Nana, akan tetapi Nana masih saja cuek dengan sikap Juna. Nana mengabaikan segala sesuatu yang terucap dari Juna.


            “Cuit....cuit....”. Teriak salah satu teman kelas Juna


            “Kamu cocok loh Na, sama Juna. Kalian sama-sama pintar”.


            “Juna sudah lama tuh lope-lope”.


            Nana tetap santai dengan gosip dan cerita-cerita soal Juna yang sedang kasmaran dengannya. Bagi Nana


gosip seperti itu sudah biasa.


            Juna terus menggoda Nana, dia lebih sering mendatangi Nana di kelasnya, kadang duduk di samping


Nana walaupun hanya sekedar menunggu kelasnya di mulai. Bahkan Juna sering kirim salam melalui dosen Nana.


            “Na, ada salam dari Juna. Serius kayaknya tuh”. Ujar Pak Nino pada Nana.


            Nana hanya membalas dengan senyum.


            suatu malam, seusai jam kuliah, Juna menunggu Nana di lobby bersama teman-reman Juna lainnya. Juna


            Juna melihat Nana turun dari tangga dan segera menghampirinya.


            “Na, ini surat buat mu”. Kata Juna


            Nana memandang aneh pada surat itu, dia terdiam sambil terus menatap surat yang ada di tangan Juna.


            “Ambil Na,..... dari ayang mbeb”. Teriak teman Juna yang berada di lobby.


            Malam itu seperti acara katakan cinta, yang mana semua orang-orang berhenti melangkah hanya untuk


menonton acara itu.


            “Gak harus kayak gini juga, kak”. Bisik Nana pada Juna.


            “Kalau gitu, ambil”. Juna masih saja menyodorkan suratnya pada Nana.


            “Please......”. Juna berbisik pada Nana sambil memohon.


            Nana segera mengambilnya dan memasukan surat itu dalam tasnya lalu berjalan menuju pintu    lobby.


            “Norak banget sih tuh orang”. Kata Riyan sinis


            “Aku sama Rara gak  gitu-gitu amat”.


            “Kenapa kamu ambil suratnya?”. Tanya Riyan


            “Aku gak enak, Yan. Aku malu diliatin banyak orang”. Jawab Nana.


            “Trus kamu mau dipermalukan seperti tadi?”. Tanya Riyan kembali.


            “Aku harus gimana?”. Tanya Nana bingung.


            “Harusnya kamu ambil dan kamu sobek didepan dia, agar sama-sama malu. I M P A S”. Jawab Riyan dengan nada bete.


            “Ayo pulang”. Nana menarik almamater Riyan dan mengajaknya pulang.


            Sepanjang perjalanan menuju terminal, Nana masih terdiam memikirkan surat itu. “Pasti Juna nembak


aku lagi”. Gumam Nana dalam hati.


            “Woy....bengong aja terus”. Teriak Riyan.


            “Mikirin surat kan?”.


            Nana mengangguk-anggukan kepalanya.


             “Ya pasti lah.....”.


             “Itu isinya pasti ungkapan I LOVE YOU”.


            “Hati mu sudah tahu jawabanya kan?’


            “Kalau kamu suka, terima aja. Siapa tahu Jodoh”.


            “Tapi ya....kalau aku sih, amit-amit pacaran sama dia”.


            Riyan terus pada Nana, Nana tidak merespon semua perkataan Riyan. Tiba-tiba Nana menghentikan


langkahnya.


            “Yan, kalau aku jadian sama dia. Apakah dia mau menerima aku?”. Tanya Nana.


            Riyan pun terhenti mendengar pertanyaan Nana. “Jika kamu tidak siap menerima jawaban dia, jangan


bicara apa-apa tentang MRKH. Biarkan cinta itu mengalir apa adanya sampai kalian benar-benar sayang dan siap untuk menikah”. Jawab Riyan panjang.


            “Akan ada waktu yang tepat untuk itu”.


            “Sepanjang perjalanan kalian, nanti kamu akan bisa menilai apakah dia alaki-laki yang siap


menerima kamu atau tidak”. Riyan melanjutkan kembali perkataannya.


            Nana tersenyum lebar mendengar perkataan Riyan, seakan ada harapan dalam dirinya. Dia sudah


lama suka pada Juna, sulit rasanya hati Nana untuk menolak Juna. Hati Nana tidak sebahagia saat ini, bagi Nana Juna adalah cowok pertama yang membuat dia jatuh cinta.


            Pengalaman dia dengan mang Rahman sangat jauh berbeda, mungkin karena usia yang terpaut jauh. Mang


Rahman pun tidak berlaga seperti anak muda, seperti yang dilakukan Juna, mengirim salam melalui teman, dosen, bahkan memberi surat cinta.


            Usaha Juna meluluhkan hati Nana, dengan segala usaha yang Juna lakukan selama tiga bulan


dan akhirnya Juna membuat Nana tersenyum kembali menerima surat cinta dari nya.


            Surat cinta itupun adalah surat cinta pertama bagi Nana, surat cinta berbahasa inggris yang ditulis pada sehelai kertas dengan goresan tinta hitam di dalamnya. Ada satu kalimat dalam surat itu, yang membuat hati Nana luluh “I will try hard effort to catch you”. Kalimat itu yang meyakinkan Nana bahwa Juna benar-benar mencintai nya.