MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 58. At The Wedding part 2



Nana segera berlari menuju mobil memastikan kalau Wira masih ada di parkiran. Nana melihat mobil Wira masih


terparkir ditempat semula, namun dia tidak melihat ada Wira di sana. Mata Nana mulai bergerak dan bola mata nya berputar ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Wira, namun dia tetap tidak menemukan Wira.


Nana mulai bingung dan resah, hati Nana semakin tidak karuan karena ulah Wira. Nana masuk ke dalam mobil dan


bersandar di kursi mobil serta memejamkan matanya untuk menghilangkan penat yang ia rasakan. Beberapa menit dia bersandar, tiba-tiba ada suara dari belakang yaitu di kursi kedua.


            “Maafin aku ya......”. Bisik Wira


Suara itu terdengar berbisik di telinga dan membuat Nana membuka kedua matanya. Nana terkejut ada Wira di belakang nya dan memberikan serangkai bunga. Wira berpindah posisi  dari belakang lalu pindah ke depan dan duduk di samping Nana.


“Apa maksud dari semua ini Wira?”. Suara Nana terdengar sangat marah


“Dia kan Siska yang kamu bilang mantan tetapi sebenarnya kalian sudah lama balikan!!!”. Suara dan tangis Nana mulai pecah


Nana tidak berani menatap Wira, pandangan nya lurus kedepan seakan tidak mau lagi melihat play boy itu.


“Aku mengerti sekarang, kenapa kamu tidak pernah mau datang ke rumah dan bertemu dengan orang tua ku”.


“Aku juga mengerti ini alasan kamu yang selalu ingin merahasiakan hubungan kita?”.


Nana hanyut dalam tangis dan kesedihan nya, laki-laki yang mulai ia cintai ternyata tidak lebih baik dari laki-laki yang meninggalkan dia sebelumnya. Wira meraih wajah Nana dengan kedua tangan nya dan membawa pandangan Nana kearah wajahnya.


“Aku minta maaf, aku gak bermaksud. Dia yang memaksa aku untuk menghianati kamu, Na. Maafkan aku”.


Wira menangis seakan menyesali perbuatan nya, lalu menempelkan dahi nya pada dahi Nana.


“Cukup Wira, hentikan semua kebohongan mu!”. Nana mendorong wajah Wira hingga kepala Wira terbentur sandaran kursi mobil.


“Aku minta putus!!”. Kata Nana tegas


Mata Wira melotot dan sangat kaget mendengar keputusan Nana, Wira kembali meraih wajah Nana, lalu


menggenggam erat kedua tangan nya dan memohon agar Nana menarik kembali ucapan nya.


“Please....aku mohon, jangan kataka itu. Aku sangat mencintai mu Na. Aku hilaf dan Siska yang menggoda aku, dia memaksa aku untuk kembali pada nya. Aku mohon, maafin aku”.


“Jika kamu tidak percaya, aku akan telepon Siska dan aku akan putusin dia serta aku delete nomer nya dari handphone ku”.


Wira mengeluarkan handphone nya dari saku lalu mencari nomer kontak Siska dan menelepon nya dengan loud speaker. Hanya dalam hitungan detik, panggilan Wira segera diangkat oleh Siska.


“Hao sayang....... tuh kan.....kamu pasti kangen sama aku. Buktinya baru beberapa menit saja, sudah telepon”. Suara Siska terdengar sangat manja dan menjijikan.


Nana menangis dan sangat marah mendengar suara Siska. Ingin rasanya Nana meraih handphone itu lalu memaki Nana sepuas nya.


“Mulai hari ini, kita putus!! Jangan ganggu aku lagi dan pergi jauh dari hidup ku!!”. Wira menghentikan pembicaraan nya dengan Siska dan mendelete nomer kontak nya.


“Lihat Na, kamu percaya sama aku kan?”.


“Please maafin aku..........”. Wira terus memohon pada Nana.


“Antarkan aku pulang”. Kata Nana


“Please.......... aku mencintai mu”.


“Now!!!!”. Teriak Nana


Wira menyalakan mesin mobil lalu mengantar Nana pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Nana sama sekali tidak bersuara. Kepala nya tersandar pada kursi mobil dan matanya terpejam rapat, namun air mata masih mengalir di pipi nya dan matanya begitu sembab.


Wira pun tidak berani berkata-kata karena semua ucapan maaf Wira hanya lah sandiwara belaka. Wira tidak bersungguh-sungguh menyesali perbuatan nya dan tidak pula bersungguh-sungguh dalam meminta maaf. Bahkan Wira berencana untuk kembali menemui Siska di pesta Tari dan ingin mengajak Siska ke luar malam itu sekedar


mencari angin segar di malam minggu bersama kekasih gelap nya.


Setelah kurang lebih satu jam, mobil ayla yang di kendarai Wira terhenti di depan gang. Nana masih terpejam seperti tertidur lelap. Wira berusaha menggerakan badan nya namun, Nana tak bergeming. Lalu Wira mendekatkan telinga nya di dada Nana mendengarkan detak jantungnya memastikan Nana baik-baik saja. Serentak Nana bangun dan kaget melihat kepala Wira ada di atas Nana nya.


“Apa yang kamu lakukan Wira?”. Suara Nana terdengar keras seakan berteriak.


“Prakkkkk...........!!!”. Tangan Nana mendarat di pipi Wira yang chubby.


“Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan besok, aku akan kirimkan surat pengunduran diriku”. Wajah Nana berubah merah, suara nya bergetar dan segera pergi meninggalkan Wira.


Wira hanya mengelus bekas tamparan Nana dan senyum licik keluar di bibirnya yang tebal.


“Suatu saat nanti  kamu akan menerima balasan dari apa yang sudah kamu lakukan terhadap ku".  Kata Wira picik.


Wira mengecek ponselnya karena dia tahu, Siska pasti menghubungi nya karena tidak terima dengan keputusan Wira. Tara..........apa yang Wira pikirkan benar. Lebih dari dua puluh panggilan tak terjawab dan itu dari Siska. Wira kembali menghubungi Siska untuk menjelaskan bahwa semua itu sandiwara belaka.


“Halo sayang................”. Kata Wira.


“Kamu ini kenapa sih!” Tanya Siska dengan nada tinggi.


“Sssstttttttttttttt!!!


Dengerin aku baik-baik”. Wira bersikap baik dan lembut pada Siska.


Siska terdiam seakan memberi kesempatan pada wira untuk bicara.


“Aku jemput kamu malam ini ya...... kita jalan dan akan aku jelaskan semua nya. Mau?”. Bujuk Wira


Siska masih belum membuka mulutnya dan sepertinya masih kesal dengan Wira.


“Ayo lah sayang....... please...... kamu cinta aku kan?”. Wira berusaha membujuk Siska.


“Kata nya kangen? Makanya aku ingin malam ini kita jalan, kita habis kan waktu bersama melanjutkan rasa kangen yang tertunda tadi siang. Mau ya.......sayang”. Rayu dan tipu muslihat Wira meluluhkan hati Siska.


“Ok. Aku mau tapi aku minta kamu jelasin semua nya sama aku”. Jawab Siska ketus.


“Iya sayang....... aku janji. I love you”. Kata Wira


“I love you too”. Dengan nada terpaksa


“Gitu dong....... my sexy lady. Makin gemes dan sayang deh sama kamu. Tunggu aku ya.....”. Wira menutup telepon nya.


Wira melanjutkan perjalanannya ke pesta pernikahan Tari untuk menjemput Siska. Bagi Wira kemarahan dan kekecewaan Nana hanya lah sepintas iklan dalam hidupnya, ketika satu iklan selesai maka akan datang iklan berikutnya.


Mobil Wira terus melaju ke lokasi pesta dan Siska, wanita sexy itu telah menunggu nya di depan gedung, dengan gaun brokat mini dan syal di leher nya serta high heel yang membuat betis Siska yang putih semakin terlihat fantastis.


Mobil Wira berhenti tepat di depan Siska, Wira keluar dari mobil lalu cipika cipiki dan menggandeng Siska ke arah pintu mobil sebelah kiri. Wira membuka kan pintu itu dan membiarkan Siska masuk ke dalam nya.


“Thank you”. Kata Siska


Wira membalas ucapan Siska dengan senyum lalu menutup pintu itu rapat-rapat. Wira berpindah posisi ke arah pintu sebelah kanan dan masuk ke dalam mobil.


“Sudah tidak marah lagi sama aku?”. Tanya Wira


“Ya......!”. Siska tersenyum


“Gitu dong.............”.


“Kemarilah.................”. Wira membuka tangan kiri nya seakan membiarkan Siska masuk dalam pelukan nya.


Siska mengerutkan dahi dan mengangkat kedua alis nya.


“Kemana?”. Tanya Siska heran


“Bersandarlah di pundak ku”. Kata Wira


Siska mendekatkan tubuhnya ke arah Wira lalu bersandar di bahu nya, Wira mengecup kening Siska.


“Maafin aku ya........”.


 Wira menyalakan mesin dan segera melaju untuk berjalan-jalan mencari angin segar bersama Siska.