MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 9. Sebuah Cerita



            Lia menepati janjinya yang ingin berteman dengan Nana dan Riyan. Walaupun mereka sudah tidak kuliah bareng, namun Lia masih sering menemui Nana dan Riyan di luar rumah atau kampus, tanpa


sepengetahuan keluarga.


            Anak pengusaha sukses ini memang sungguh berbeda diantara orang kaya lainnya yang pernah Nana


temui, mulai dari berpakaian, berbicara, hoby, dan sebagainya. Sejak mereka kenal, Lia selalu naik angkot kemanapun dia pergi, berpakaian biasa saja, makan dimana saja dan berteman dengan siapa saja.


            Lia sering ajak Nana dan Riyan ke tempat-tempat orang pinggiran, anak terlantar, panti asuhan, dan panti jompo. Nana sering melihat Lia ngobrol dengan mereka, berbagi, bercanda, dan sebagainya.


            “Lantas apa yang sebenarnya Lia alami di rumah? Bukan kah jika keluarganya tahu, terutama kakaknya maka Lia akan dimarahi seperti waktu itu?” Tanya Nana dalam benaknya


            Hampir satu tahun mereka bersama menjadi tiga sahabat yang saling support satu sama lain. Nana


memberanikan diri mengajukan beberapa pertanyaan tentang dia dan keluarganya.


             “Hmmm......Li, aku boleh tanya sesuatu?” Nana menghampiri Lia yang sedang duduk ditepi danau


sambil memberi makan ikan-ikan yang ada di danau itu.


            “Boleh”. Jawab Lia sambil tetap memberi makan ikan-ikan yang ada di depannya.


            “Bukan kah keluarga mu tidak suka jika kamu pergi dengan kami?”


            Lia menghela nafas dalam sambil terus memberi makan ikan.


            “Dulu, sebelum aku pindah ke Jakarta, aku tinggal di Palembang sendirian, dengan istana mewah,


fasilitas mewah, uang dimana-mana dan berteman dengan anak-anak pengusaha sukses lainnya”. Lia mulai bicara


            “Aku dilepas begitu saja, hanya uang yang menjadi penjagaku”.


            “Keluarga ku tidak pernah bertanya keadaan ku, siapa teman-teman ku, bagaimana sekolah ku, mereka


sama sekali tidak pernah menanyakan hal demikian”.


            Suasana mulai hening seketika ketika Nana mendengar cerita Lia. Nana dan Riyan hanya bisa


tertunduk dan fokus mendengarkan semua cerita yang Lia sampaikan.


            “Yang keluarga ku tahu adalah aku bahagia dengan semua fasilitas yang mereka berikan.


Padahal aku tidak merasakan itu”.


            “Setiap kali mereka telepon, hanya uang yang mereka tanyakan, buka aku?”.


            “Butuh uang berapa?”


            “Mau beli apa, dan sebagainya. Segala sesuatu yang berurusan dengan uang?”


            Lia terus bercerita tentang masa lalu nya.


            “Bagi keluarga ku, semuanya dapat dibeli dengan uang termasuk kebahagiaan anak


bungsunya”.


fasilitas yang aku miliki, rumah, mobil, uang, segala nya. Hingga pada akhirnya, aku terjebak pergaulan bebas dan keluarga ku masih tidak perduli”.


            “Semua teman-teman ku rusak, sejak saat itu aku sadar bahwa itu bukan tempat ku. Aku menangisi


semua yang telah ku lakukan, aku ingin pergi jauh dari tempat itu, tempat yang semua orang bilang adalah istana”. Suara Lia mulai terbata.


            “Bahkan berkali-kali aku mencoba untuk bunuh diri, namun tuhan masih memberi ku kesempatan untuk


hidup, hingga aku bisa keluar dari istana itu”.


            Kristal-kristal bening mulai nampak dikedua sudut mata Lia yang sipit dan jernih itu, dia seperti


tidak sanggup lagi untuk mengingat-ingat masa lalu nya. Namun Lia terlihat begitu tangguh, dia berusaha untuk menahan diri agar tidak larut dalam kesedihan dimasa lalu. Sesekali dia menelan air ludahnya dan melanjutkan perkataanya.


            “Kalian tahu, apa yang keluarga ku pikiran?” Lia terus melanjutkan perkataanya walaupun bibirnya sudah tak sanggup lagi berkata.


            “Mereka masih memikirkan gengsi keluarga, sehingga aku harus tetap seperti dulu, berteman denga anak


konglomerat, berpesta, dan segala sesuatu yang biasa mereka lakukan. Oleh sebab itu, mereka tidak ingin aku berteman dengan kalian”.


            Nana hanya diam dan terus diam. Otak Nana mulai berpikir keras tentang vonis, Rahman, bahkan cibiran tetangga yang begitu mematikan layaknya bisa ular kobra.


            “Ya Allah..... apa yang aku alami tidak seberat yang dialami oleh Lia”. Pikir Nana dalam hati.


            “Aku tak bisa membayangkan, aku akan tumbuh seperti apa jika aku bertukar posisi dengan Lia”.


            “Tuhan melindungi ku dari dunia gelap seperti itu melalui MRKH yang aku punya, Tuhan menjaga keremajaan ku melalui MRKH, melindungi aku dari laki-laki hidung belang dengan cara membuat aku takut dan malu dengan ketidak sempurnaan ku”.


            “Bukankah, malu sebagian dari pada iman? Sehingga aku malu untuk berbuat sesuatu yang tidak pantas dengan diriku yang jauh dari kata sempurna”. Nana terus berpikir seakan-akan baru menyadari bahwa akan ada hikmah dibalik semua kejadian.


            “Aku bosan dengan semua masa lalu ku”. Lia melanjutkan perkataanya


            “Kalian memang tidak seperti kami dan juga tidak seperti mereka, namun kalian adalah orang baik dan tulus, dan itu lebih dari segalanya”.


            Mendengar itu semua, Nana dan Riyan spontan memeluk Lia dengan erat. Mereka bertiga sangat jauh berbeda, namun mereka bisa saling menguatkan satu sama lain.


            Sejak itu mereka semakin dekat layaknya keluarga, tidak ada rahasia diantara mereka, termasuk MRKH yang ada pada Nana. Riyan dan Lia selalu menguatkan, mendukung dan berusaha mengembalikan semangat dan rasa percaya diri Nana yang dulu pernah hilang.


            Mereka sering menghabiskan waktu bersama walaupun hanya sekedar nongkrong diatas atap mall. Tidak ada cerita pacar, jatuh cinta ataupun broken home. Mereka fokus pada masa depan mereka, fokus pada kebaikan dan menjadi lebih baik.


            Menemukan Riyan dan Lia dalam hidup Nana adalah anugerah paling indah. Mereka membuat


Nana lupa akan MRKH dan membuat Nana jauh lebih semangat dalam segala hal baik. Lia yang dulu suka menggunakan pakaian pendek, lambat laun merubah penampilannya dengan pakaian, mereka belajar agama bersama dan ngaji bersama. Mereka saling mengisi dan menjadi pelengkap dalam hidup Nana.


            “Sungguh indah rencana Tuhan untuk hambanya, mempertemukan seorang MRKH dengan seorang


wanita tangguh yang sama-sama mengalami keputus asaan karena hal yang berbeda, dilengkapi dengan seorang teman jail seperti Riyan, yang selalu membuat kami tertawa dan lupa akan kesedihan yang kami rasakan”. Pikir Nana dalam lamunannya menjelang malam tiba.


            Sesekali Nana membuka kertas yang dia simpan dalam buku diary nya, surat yang membuat dia lemas tak berdaya, surat yang membuat dia di tinggalkan oleh Rahman dan surat yang membuat dia dan keluarganya dicibir oleh tetangga. Dan surat ini juga yang membawanya bertemu dengan Riyan dan Lia.


            Dipandangnya surat itu dengan berbagai rasa, marah, bahagia, galau, benci, malu dan segala rasa


yang ada pada dirinya. “Bialah surat ini menjadi saksi kesabaran dan ketangguhan ku selama ini”. Nana menggenggap erat surat itu dan menjatuhkan kristal bening dari matanya.