
Setelah pertemuan singkat dengan ustadz Farid minggu lalu, Nana memfokuskan dirinya untuk istikharah meminta
petunjuk atas ta’aruf nya dengan ustadz Farid. Ustadz Farid memang laki-laki yang sempurna untuk dijadikan imam dalam bahtera rumah tangga, selain cerdas beliau juga sangat paham terhadap ajaran-ajaran islam dan Nana yakin ustadz Farid dapat menjadi imam yang sholeh dan dapat membawa nya kejalan yang lebih baik.
Pertemuan nya itu memberikan arti bagi Nana, dia terus berkaca dan intorsfeksi diri bahwa ada banyak ketidak
sempurnaan dalam diri nya, pemahaman agama nya pun tidak cukup bagus, belum lagi MRKH yang ada pada diri nya. Apakah mungkin laki-laki seperti ustadz Farid dapat menerima nya? Itu yang selalu ada pada benak Nana, Nana hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua nya pada Allah sang pemilik hati.
Sudah satu minggu berlalu dan selama satu minggu ini juga Nana terus melaksanakan sholat istikharah nya, meminta petunjuk pada Allah, meminta ketenangan hati agar apa yang menjadi keputusan ustadz Farid adalah keputusan yang terbaik, tetapi hati Nana belum bisa tenang. Entah apa yang Nana rasakan saat itu menunggu keputusan minggu depan.
“Lu, kira-kira apa ya keputusan ustadz Farid? Apa beliau mau menerima aku?”. Tanya Nana
“Sabar kak, insyaAllah apa yang menjadi keputusan ustadz Farid semata-mata karena Allah bukan karena kekurangan yang kakak miliki. insyaAllah ustadz Farid adalah orang yang sangat bijak dalam memberi keputusan”. Hibur Lulu
Hari demi hari Nana lalui semua itu dengan rasa penasaran menunggu jawaban dari ustadz Farid, namun kesibukan nya lambat laun dapat memalingkan rasa penasaran nya itu.
Minggu pukul 16.00
Sore itu ustadz Farid mengirimkan pesan singkat pada Nana yang menyatakan atas jawaban dari ta’aruf mereka dua minggu yang lalu.
“Bismillahirraohmaanirrohiin, Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Sore kak Nana mohon maaf jika
membuat kak Nana lama menunggu. Alhamdulillah suda dua minggu ini ana menenangkan hati dan meminta petunjuk dan sore ini ana akan memberi keputusan. Semoga keputusan ana yang terbaik menurut Allah dan tidak melukai hati kita”.
“Ana mohon maaf jika keputusan ana ini kurang berkenan dalam hati antum, ana memutuskan agar kita menjadi teman saja. Ana siap jika antum melibatkan ana untuk berdiskusi. Semoga keputusan ana dapat dipahami. Terimakasih sudah mau berkenalan dengan ana”.
Sepintas ada rasa perih di hati, air mata pun keluar dari kedua sudut matanya yang hitam.jodoh tidak dapat dipaksa
karena itu menjadi rahasia tuhan, Nana mencoba untuk lebih berlapang dada atas apa yang sudah menjadi takdir nya.
“Wa’alaikum salam ustadz, terimakasih sudah memberi kesempatan pada saya untuk bersilaturahmi. Maafkan
saya jika selama ta’aruf ini, ada hati yang terluka. Semoga kita semua mendapatkan jodoh yang baik menurut Allah untuk dunia dan akhirat kita, aamiin. Kalau begitu, besok biodata ustadz saya titipkan ke Lulu. Terimakasih”. Balas
Nana.
Nana segera memforward pesan dari ustadz Farid kepada Lulu karena Nana tidak mau jika Lulu tahu bahwa air mata nya jatuh karena keputusan ini.
“Assalamu’alaikum Lu, ini pesan dari ustadz Farid”.
Lulu membuka handphone dan membaca pesan dari Nana, Lulu ikut merasa terpukul dengan keputusan itu namun Lulu yakin bahwa ini takdir tuhan.
menurut NYA dan memang kakak butuhkan. Ustadz Farid memang baik di menurut kita, tetapi belum tentu menurut Allah. Sekali lagi, apapun keputusan nya, insyaAllah bukan karena MRKH. Tetap semangat kakak ku. I love you”. Lulu membalas dengan menambahkan emoticon love pada percakapan nya itu.
“Iya, terimakasih ya Lu atas bantuan mu kakak bisa mengenal ustadz Farid”.
“InsyaAllah atas izin NYA kak”.
Setelah proses ta’aruf nya dengan ustadz Farid, Nana belajar lebih baik lagi untuk memperbaiki diri karena Nana
yakin bahwa tuhan menciptakan laki-laki baik hanya untuk wanita baik begitu juga sebaliknya. Sehingga Nana berpikir bahwa, perbaiki diri, pantaskan diri sendiri jika ingin mendapatkan laki-laki yang sholeh.
Keputusan Nana untuk menjauh dari kata PACARAN pun semakin bulat, pengalaman dia di masa lalu memberikan banyak pelajaran dan membawa nya pada sebuah perubahan. Nana ingin memulai kembali dari awal, menata hidup lebih baik lagi dan baik lagi.
Ustadz Farid menjadi teman baru bagi Nana, teman sekaligus kakak. Mereka hanya bertemu sekali di kosan Lulu saat ta’aruf bahkan Nana belum pernah melihat wajah ustadz Farid seperti apa, pertemuan singkat itu tidak dapat mengangkat kepala nya sehingga bola mata Nana tidak berani untuk melihat wajah laki-laki yang ada di depan nya saat itu. Akan tetapi, ustadz Farid menjadi laki-laki yang ideal bagi Nana untuk dijadikan imam rumah tangga.
Berakhir sudah kisah perkenalan dan harapan Nana untuk menjadi pendamping ustadz favorit Lulu itu, namun komunikasi via SMS masih tetap terjaga dengan baik dan dalam batasan-batasan tertentu. Nana sering sharing mengenai segala hal, bagi Nana ustadz Farid bukan sekedar teman atau kakak tetapi seperti mbah google yang dapat menjawab apa saja yang Nana tanyakan, beliau menjadi smart solution dalam setiap permasalahan yang
Nana hadapi.
Ustadz Farid bukan laki-laki tampan, dia tidak memiliki postur tubuh yang tinggi ataupun putih, apalagi keren dan kece, dia hanya lah laki-laki desa, berpostur tubuh pendek, berkulit hitam dan biasa saja, namun kecerdasan nya membuat dia terlihat sempurna, dengan pengetahuan dan pemahaman nya terhadap agama, nasehat-nasehat nya yang halus namun mengena, membuat Nana jatuh cinta tanpa harus melihat dan bertemu dengan diri nya.
“Kak, apakah Nana tetap fokus mencari laki-laki sholeh untuk menjadi imam kakak?”. Tanya Lulu sambil menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Nana.
Nana menutup buku yang sedang ia baca, pandangan nya tertuju pada Lulu yang duduk di depan nya.
“InsyaAllah, namun kakak harus lebih fokus membuat diri ini sholeha agar pantas mendapatkan laki-laki sholeh seperti ustadz Farid”. Jawab Nana
“Allah menciptakan ustadz Farid hanya satu kak, tetapi Allah menciptakan banyak laki-laki yang lebih dari ustadz Farid. Terus berjuang menjadi insan yang lebih baik agar kita layak untuk di perjuangkan oleh laki-laki sholeh. Aamiin”. Lulu tertawa kecil penuh semangat.
“Oh iya, by the way. Bagaimana dengan skripsi mu?”. Tanya Nana
“Astaghfirullah..........saking fokus nya dengan ustadz Farid dan kakak, Lulu lupa bilang, kalau minggu depan Lulu sidang kak”. Mata nya berbinar-binar.
“MasyaAllah........barokaAllah ya sayang...........selamat. Sukses selalu ya. Semoga Allah melancarkan semua nya.
Aamiin”. Sambil mengangkat kedua tangan nya seraya mengaminkan do’a-do’a Nana.
Mereka tertawa kecil bersama sambil meminum teh hangat dan pisang goreng krispy buatan Lulu.