MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 78. Pertemuan Singkat



Tukaran biodata yang dilakukan Nana dengan Ustadz Farid melalui Lulu menjadi langkah ta’aruf untuk mereka saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Niat Nana mengenal ustadz Farid karena Allah yaitu mencari imam sampai surga, begitu juga dengan ustadz Farid. Usia mereka memang sudah sangat pantai untuk menikah, akan tetapi Nana menyerahkan semua urusan jodoh hanya pada Allah.


Nana menunggu waktu satu minggu yang dijanjikan ustadz Farid untuk mereka bertatap muka setelah membaca biodata masing-masing. Satu mingguadalah waktu yang sangat singkat namun lama bagi Nana, bagaimana tidak, Lulu selalu membuat hati Nana bergetar dengan semua cerita-cerita tentang ustadz Farid. Cerita Lulu tentang nya dikemas begitu sempurna, sehingga hanya dengan mendengar cerita nya saja, Nana mulai menaruh harapan bahwa dia benar-benar laki-laki baik yang Allah kirim untuknya. Nama ustadz Farid menjadi prioritas utama dalam setiap do’a-do’a Nana, Nana berharap semua nya berjalan dengan lancar.


Sore itu Lulu menemui Nana di rumah nya, dengan wajah berseri dan penuh semangat. Dari kejauhan senyum manis sudah di tunjukan oleh Lulu, dengan langkah sedikit berlari kecil menghampiri Nana yang sedang duduk santai di depan teras rumah.


“Kakak Nana”. Suara Lulu sudah terdengar dari jarak tiga meter.


Nana melambaikan tangan nya dan membalas senyum Lulu.


“Assalamu’alaikum kak”. Lulu sampai di depan Nana dan meraih tangan nya.


“Wa’alaikum salam, Bahagia banget? Kamu mau sidang ya?”. Tanya Nana


“Ustadz Farid minta ketemuan di kosan ku, besok”.


“MasyaAllah...........benarkah?”. Tanya Nana.


“Kakak siap?”


“InsyaAllah, kakak siap. Makasih ya”. Nana tersenyum bahagia penuh harapan.


“Semoga semua nya berjalan dengan lancar ya kak”. Do’a Lulu


“Aamiin. Astaghfirullah...........sampai lupa, masuk Lu”.


“Gak usah kak, Lulu harus bimbingan. Ini bimbingan bab V. Minta do’a agar segera berakhir dan Lulu bisa sidang minggu depan. Lulu langsung pamit ya kak. Besok ba’da juhur di kosan ku. Assalamu’alaikum”. Lulu pamitan


Malam ini membuat Nana tidak dapat terpejam karena memikirkan pertemuannya besok dengan ustadz Farid. Jantungnya berdetak kencang, hati dan bibirnya tidak henti berdzikir, bermunajat pada Allah agar dimudahkan semua nya.


Pagi pun tiba, tepatnya hari minggu pukul 9 pagi, Nana sudah pergi menuju ke kosan Lulu. Mereka janjian ba’da


juhur, tepatnya pukul 13.00 WIB. Nana sengaja datang lebih awal karena ingin menenangkan hati nya dan ngobrol lama dengan Lulu.


“Assalamu’alaikum”. Nana mengetuk pintu Lulu dan mengucapkan salam


“Wa’alaikum salam”. Lulu membuka pintu


“Masuk kak”.


Nana duduk di ruang tengah dengan wajah bingung,


“Lu, kakak deg deg an. Kakak takut bertemu dengan ustadz Farid”. Kata Nana


“InsyaAllah ustadz Farid gak gigit kok”. Jawab Lulu sambil mempersiapkan minuman untuk Nana.


“Positive thinking ya kak. Semoga semua berjalan dengan lancar”.


“Aaamiiin”. Nana mengaminkan.


Entah kenapa perasaan Nana begitu tidak karuan, dia seperti baru pertama bertemu dengan seorang pria, padahal


sebelumnya dia pernah di lamar oleh Rahman, dikenalkan kepada kedua orang Juna dan Affan, namun rasa gemetar dan nervouse Nana tidak seaneh saat dia ta’aruf dengan ustadz Farid.


"Ya Allah...........tenangkan hamba, mudahkan lah semuanya”. Do’a Nana dalam hati.


Waktu terus berjalan, adzan juhur pun berkumandang, sudah hampir tiga jam Nana belum bisa mengendalikan diri nya. Rasa takut dan nervous yang ia rasakan semakin menjadi, sampai akhirnya HP Lulu berbunyi.


“Kak, Ustadz Farid telepon”. Teriak Lulu dari dapur


“Assalamu’alaikum Ustadz”.


“Sebentar lagi ana sampai ke kosan ya.........”. Kata ustadz Farid


“Na’am ustadz. Kak Nana sudah menunggu dari jam 9.30 pagi loh”. Bisik Nana dan menutup telepon nya.


“Gak usah bilang kalau kakak sudah datang dari pagi”. Protes Nana


“Gak apa-apa kak, agar ustadz Farid semangat dan yakin bahwa kakak memang bersungguh-sungguh”. Nana tersenyum.


Beberapa menit setelah itu, bel kosan Nana berbunyi.


“Nit Not................”.


“Seperti nya ustad Farid kak”. Kata Lulu


Nana meraih tangan Lulu dan meletakkannya di jantung nya.


“Aku takut...............”. Sikap Nana kali ini benar-benar seperti anak kecil yang merengek setiap saat.


“Lulu cek sebentar ya kak, kasian ustadz Farid sudah tiga kali pencet bel”. Lulu melangkah ke arah pintu memastikan bahwa yang di luar adalah ustadz Farid.


meneguk air yang ada di depan nya berkali-kali namun rasa nervous nya belum reda.


“Wa’alaikumsalam, ustadz. Mari masuk dan silahkan duduk”. Lulu mempersilahkan ustad Farid masuk dan duduk di ruang tamu.


“Lulu panggil kak Nana sambil menyiapkan minum ya ustadz”. Lulu kembali ke ruang tengah dan menuju dapur.


“Kak, ayo.....temui ustad Farid”. Kata Lulu


“Aku disini saja ya Lu”. Jawab Nana“Kasian dong ustadz di depan sendirian. Yasudah, nanti kedepan nya bareng Lulu saja ya...........Lulu siapkan minuman untuk kalian berdua”. Lulu melangkah ke dapur.


Nana menarik nafas panjang.....lalu menghembuskan perlahan dan mengulanginya berkali-kali. Lulu datang membawa dua cangkir teh hangat yang ia letakaan diatas nampan lengkap dengan makanan ringan.


“Kak, ayo.......”. Bujuk Lulu


“Aku disini aja ya............, kamu saja yang menemui ustadz Farid”. Jawab Nana


Lulu menarik nafas dan melanjutkan langkahnya menemui ustadz Farid sambil menyuguhkan teh panas.


“Permisi ustadz, ini teh dan cemilan nya. Ustadz, mohon maaf, kakak Nana nervous bertemu antum, gak apa-apa ya jika ngobrolnya di balik dinding”. Kata Lulu


“Apa perlu ana yang pindah ke ruang tengah?”.


“Ga usah ustadz, antum disini saja. Lulu bujuk sekali lagi ya?”.


Lulu menghampiri Nana kembali,


“Kak, ayo dong..........gak enak sama ustadz Farid”. Lulu mulai membujuk Nana


“Aku gak berani melihat nya Lu, aku mohon”. Jawab Nana


“Kakak gak mau kan membeli kucing dalam karung? Beliau juga sama. Ayo lah, kakak menunduk saja jika gak berani melihatnya”. Lulu menarik tangan Nana


“Bismillah...........”. Nana berdiri dan melangkah menuju ruang tamu.


Wajah Nana tertunduk malu, bahkan dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya dan menunjukan wajahnya pada ustadz Farid. Nana duduk beberapa meter di hadapan ustadz Farid yang di dampingi oleh Lulu.


Sudah 30 menit mereka berada di ruang tamu, namun tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka, semua nya terdiam seperti tidak ada bahan pembicaraan.


“Echem............! Gak ada yang berani mulai untuk bicara?”. Suara Lulu memecahkan keheningan saat itu.


“Oh, iya maaf. Perkenalkan nama ana Farid, saya asli jawa tepatnya dari Madiun, saya mengajar di pesantren


dengan gaji yang sangat minim sekali”. Ustadz Farid menjelaskan aktifitas dan penghasilan nya dengan detil.


“Jujur, ana sudah ingin menikah namun masih malu jika bicara tentang penghasilan”. Lanjut ustadz Farid diiringi dengan tertawa kecil.


Nana hanya dapat tertunduk mendengarkan semua penjelasan ustadz Farid.


“Kak Nana boleh memperkenalkan diri dan aktifitasnya juga”. Kata ustadz Farid


“Maaf ustadz, saya rasa semua yang ada dalam biodata saya sudah cukup jelas”.  Jawab Nana dengan wajah tertunduk.


UstadzFarid menganggukan kepalanya,


 “Ana boleh bertanya?”.


“Silahkan ustadz”. Jawab Nana


“Setelah kenal dengan ana, apakah antum ingin melanjutkan ta’aruf ini?”.


“InsyaAllah ustadz”. Jawab Nana


“Bolehkah saya bertanya?”. Nana mengajukan pertanyaan pada ustadz Farid.


“Seandai nya ta’aruf ini berlanjut, apakah ustadz bersedia menjadi imam dari seorang perempuan tanpa rahim seperti saya?”.


Pertanyaan Nana membuat ustadz Farid terdiam dan berpikir sehingga ustadz Farid bicara,


“Sebaiknya kita minta petunjuk sama Allah, istikharah agar apa yang menjadi keputusan kita nanti murni karena ibadah”.


“Pasti ustadz, terimakasih”. Jawab Nana


“Hmmm.........., mohon maaf Lu, ana harus segera kembali ke pesantren. InsyaAllah dua minggu mendatang, ana kasih jawaban. Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam warohmatullah wabarokatuh”. Jawab Nana dan Lulu, ustadz Farid pun kembali ke pesantren.