
Juna membawa Nana ke rumah sakit terdekat karena saat itu Nana demam dan pucat sehingga akhirnya dia pingsan di taman. Juna sangat menghawatirkan kondisi Nana dan Juna tahu bahwa Nana sakit karena nya. Selama dokter memeriksa kondisi Nana di dalam ruang IGD, Juna terus mendampingi dan berpikir bagaimana cara nya memberitahukan keluarga Nana akan hal ini, karena mereka pasti akan marah pada nya.
“Dokter, bagaimana keadaan nya?”. Tanya Juna
“Tenang pak, dia baik-baik saja. Cuma sedikit stres aja, dia butuh istirahat dan pikiran yang tenang. Semua nya pasti membaik”. Jelas dokter
“Berapa lama dia akan siuman kembali?”. Tanya Juna penuh kecemasan.
“Sebentar juga siuman. Maaf pak Juna, saya harus visit pasien yang lain, permisi”.
“Baik dokter. Terima kasih”. Balas Juna
Juna duduk di samping bed Nana sambil terus memandangi dan menunggu nya siuman.
“Bangun lah Na............., maafin aku”. Guman Juna dalam hati.
Tidak lama kemudian, Nana mulai membuka mata namun pandangan nya masih belum jelas, dia melihat Juna ada di samping, lalu melihat ke sekeliling ruangan dan melihat botol infusan yang ada di sebelahnya.
“Juna? Aku kenapa? Bukan kah tadi........?”. Tanya Nana yang masih lemas.
“Sssttttt! Jangan banyak bicara, istirahat aja”. Juna mengelus kepala Nana
“Tapi aku kenapa?”. Tanya Nana kembali
“Kamu pingsan di taman dan aku bawa ke rumah sakit”.
"Thank you tapi aku mau pulang. Aku sudah sadar kan?”.
“Hei.....nanti tunggu dokter ya..........! Oh iya, aku sudah siapkan bubur ayam spesial, makan ya.....aku suapin”. Bujuk Juna
“Aku mau pulang Juna............”. Nana merengek layaknya anak kecil yang menginginkan sesuatu.
“Neng........., please........jangan buat aku makin merasa bersalah. Aku tahu kamu semalaman gak tidur kan? Dan itu karena aku. Biarkan aku menebus kesalahan aku hari ini”. Juna terus membujuk Nana
“Aku gak mau lagi berurusan sama kamu Juna. Biarkan aku pulang. Kehadiran mu mempersulit aku”. Tangis Nana pecah kembali.
“Ssssttttt.............Neng, aku minta maaf. Sekarang makan ya......”.
Nana membuang muka nya dan memejamkan mata nya seakan tidak mau lagi berdebat dan melihat Juna. Terlihat kepedihan yang sangat mengalir melalui air mata nya yang keluar dari kedua matanya.
Juna ingin sekali memeluknya seperti dulu, menenangkan Nana disaat dia sedang rapuh, namun Juna takut Nana semakin marah pada nya dan seperti nya Nana benar-benar sudah tidak mau melihatnya lagi. Juna hanya bisa memandangi nya saja saat ini.
“Aku mau pulang Juna...........”. Nana terus merengek pada Juna.
“Iya, aku panggil dokter ya......sabar!”.
Juna memanggil dokter jaga yang ada di ruang IGD dan membawa nya ke hadapan Nana.
“Dokter bagaimana keadaan nya. Wanita cantik ini minta pulang”. Kata Juna
“Sebentar, saya periksa dulu ya mbak.............”.
Dokter memeriksa Nana kembali dan memastikan keadaan nya. Setelah beberapa menit, dokter memutuskan bahwa Nana boleh pulang tetapi harus istirahat dan gak boleh stres.
“Mbak boleh pulang kok, tetapi janji makan yang banyak dan bergizi, istirahat yang cukup dan........harus selalu
happy”. Pesan dokter
“Saya tinggal dulu ya..... jaga kesehatan!”.
“Terimakasih dokter”. Balas Juna
Dokter meninggalkan Juna dan Nana, sementara mereka bersiap-siap untuk pulang.
“Eh......, jangan! Aku antar”.
Nana melotot pada Juna.........
“Terakhir kali. Setelah itu aku gak ganggu kamu lagi”. Juna menunjukan dua jari nya pertanda berjanji pada Nana.
Juna mendorong Nana dengan kursi roda menuju parkiran yang berada di belakang. Setelah mereka berada di parkiran dan masuk dalam mobil, Juna mengantar Nana pulang. Hati Juna penuh keresahan karena ini pertama kali nya dia bertemu mama Nana kembali setelah lama tidak bertemu, semenjak Juna dan Nana putus.
Perjalanan hening tanpa sepatah katapun, Nana yang dari awal masuk mobil selalu membuang wajah nya ke arah
jendela dan Juna yang masih fokus ke depan. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang sampai rumah Nana.
“Tok....tok....tok....!”. Juna mengetuk pintu rumah Nana
“Sebentar.....”. Suara mama Nana terdengar dari dalam hingga luar rumah.
“Nana? Juna?”. Ekspresi wajah mama sangat terkejut melihat Nana bersama Juna di depan pintu.
“Nana masuk ya ma.......... suruh saja orang ini pulang”. Nana meninggalkan Juna tanpa menoleh sama sekali.
“Nak Juna.............. mari masuk. Mama mau bicara”. Suara mama membuyarkan pandangan Juna yang sedari tadi melihat kearah Nana sampai Nana benar-benar menghilang di balik pintu.
Juna masuk dan duduk di ruang tamu bersama mama, Juna menundukan kepala nya seakan berat untuk diangkat dan melihat mama yang duduk di depan nya. Mama beranjak menuju dapur dan kembali dengan membawa secangkir kopi untuk Juna.
“Di minum kopi nya nak Juna”. Mama mempersilahkan Juna untuk minum kopi buatan nya.
“Iya ma. Terimakasih”. Lalu menyeruput kopi yang ada di tangan nya itu.
“Nak Juna........ mama boleh bicara?”.
“Silahkan ma”. Masih posisi menundukan kepala.
“Sebaiknya kamu jauhi Nana. Nana sudah cukup sakit dan menderita atas pernikahan kamu. Jangan permainkan perasaan nya. Mama merasakan penderitaan yang Nana rasakan, dia terlalu mencintai kamu hingga akhirnya cinta itu menyakiti diri nya sendiri”. Air mata mama mulai menetes.
“Mama mohon......... pergi jauh dari kota ini dan jangan pernah bertemu Nana!”. Pinta mama
“Juna minta maaf ma....... sebenarnya..........”. Juna berusaha untuk menjelaskan, namun terhenti.
“Pergi lah..........!”.
“Baik ma.................”. Juna berpamitan dan meninggalkan rumah Nana.
Mama terisak dalam tangis nya mengingat bahwa Nana sudah banyak menderita karena Juna. Mama tahu bahwa Juna masih menyimpan cinta nya untuk Nana, namun Juna masih suami orang dan mereka terlihat bahagia. Mama tahu tidak ada yang salah dari cinta mereka, hanya saja tuhan berkehendak lain. Mungkin akan ada laki-laki yang lebih pantas untuk Nana nanti.
Mama termenung sejenak di ruang tamu tanpa menanyakan apa yang telah terjadi pada anak nya karena yang mama tahu bahwa pagi ini Nana ingin menemui Juna untuk mengakhiri kisahnya, sehingga mama sama sekali tidak berpikir bahwa Nana baru saja dari rumah sakit.
Mama membuka pintu kamar Nana sedikit, lalu memandangi anaknya yang sudah tertiidur lelap. Mama pun membiarkan Nana beristirahat karena mama tahu bahwa Nana sangat lelah akibat semalaman
tidak tidur dan merasa bersalah.
“Maafin mama nak..........., mama belum bisa membahagiakan mu”.
“Ya Allah.....pilihkan anak ku pendamping yang pantas untuk nya”. Mama berdoa dalam hati lalu menutup pintu kamar dan kembali menuju ruang tamu menunggu bapak pulang.
Setelah beberapa menit mama menunggu papah pulang, suara papah terdengar dari teras depan.
“Assalamu’alaikum mama..........................”.
“Wa’alaikum salam”. Jawab mama