
Sore itu kota Bogor diselimuti oleh awan gelap dan angin serta kilat mulai menunjukan kehadirannya. Affan menambah kecepatan sepeda motor yang ia kendarai agar bisa sampai di rumah sebelum hujan turun.
“Neng, siap?”. Tanya Affan
“Siap untuk apa?”. Tanya Nana kembali
"Pegangan”. Jawab Affan
“Sekarang?”.
“Ia, come on!”. Jawab Affan
Nana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Affan dan menyandarkan kepalanya di punggung bagian belakang serta memejamkan matanya.
“Bismillah...............”.
Affan tancap gas dan melaju dengan kencang...............
“Ngeng...............!!!!”.
“Abang.......... Aku takut”. Teriak Nana dengan terus memeluk Affan dari belakang.
“It’s OK. Pegangan aja”. Kata Affan.
Hujan pun turun dengan deras dan mengguyur seluruh kota Bogor, seluruh pakaian Affan dan Nana basah kuyup karena hujan. Affan menurunkan kecepatanya dan berhenti di sebuah warung kopi yang berada di pinggir jalan.
“Neng, kita berteduh disini aja ya? Hujan makin deras”.
Nana menganggukan kepalanya, bibir Nana bergetar, seluruh badannya dingin dan menggigil. Affan membantu Nana turun dari motor dan memapahnya untuk bisa duduk di kursi yang berada di warung kopi tersebut.
“Ya Allah neng............, bertahan, sebentar lagi sampai rumah, semoga hujannya segera reda”.
Affan memeluk Nana dan membiarkan kepalanya bersandar di bahu nya, Affan memesan susu jahe untuk Nana dan dirinya.
“Bu, susu jahe dua ya.......!”.
“Ia jang”.
Ibu warkop menyajikan dua susu jahe di atas meja, Affan membantu Nana untuk meminum susu jahe tersebut dengan sendok makan sedikit demi sedikit, agar membantu menghangatkan perut dan tubuh Nana.
Tiga puluh menit sudah mereka berteduh di warung kopi, tetapi hujan masih belum reda, pakaian mereka pun sudah mulai mengering dan tubuh Nana sudah kembali hangat.
“Abang, hujan masih lama ya?”. Kata Nana dengan suara lirih menahan sisa dingin yangada di tubuhnya.
“Ia neng. Sabar ya..........”. Affan masih memeluk Nana untuk menghilangkan rasa dingin di tubuh nya walaupun dia sendiri kedinginan.
Setelah lebih dari satu jam mereka berada di warung kopi, hujan pun akhirnya reda. Affan membayar susu jahe yang sudah habis mereka minum lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Affan yang membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dari warkop temapt mereka berisitirahat.
“Alhamdulillah......, reda juga. Ayo neng kita pulang!”.
Setelah lebih dari satu jam dalam keadaan gerimis, Affan tiba di rumah nya. Mama dan teh Elis sangat mengkhawatirkan keadaan Nana dan Affan yang sejak tadi pagi belum pulang.
“Alhamdulillah.....Allah...gusti akhirnya anak mama pulang”. Mama segera menghampiri Affan dan Nana yang masih
berada diatas motor.
Mama melihat Nana yang lemas dan masih bersandar di punggung Affan karena kedinginan.
“Ya Allah.Fan, Nana menggigil. Ayo..........bantu dia masuk!”. Kata mama begitu mengkhawatirkan keadaan Nana.
Affan menggendong Nana sampai ke dalam rumah. Teh Elis mempersiapkan teh hangat dan pakaian ganti untuk Affan dan Nana. Setelah keadaan lebih baik, Nana dibiarkan untuk istirahat agar besok pagi keadaannya semakin
membaik.
Affan duduk sejenak di ruang tamu bersama mama dan teh Elis,
“Habis jalan-jalan kemana Fan?”. Tanya mama
Affan meneguk teh hangat yang disediakan oleh teh Elis, “Cuma jalan-jalan makan durian dan memetik strawbery aja ma”.
“Yasudah, habiskan teh nya lalu istirahat”. Mama menepuk punggung Affan
“Ia ma......terimakasih”. Affan menjawab lalu mencium tangan mama nya.
Affan menyeting alarm handphone nya jam setengah lima pagi seperti biasanya.
“Kring..............!!”. Suara alarm pun berbunyi sesuai setting an Affan.
Affan mengucek-ngucek matanya yang sulit untuk terbuka, badannya terasa lemas dan sedikit pegal, seakan ingin terus berbaring diatas kasur yang empuk itu.
“Tok.....tok......tok!!”.
“Affan............ sudah bangun nak? Sholat berjama’ah yuk!”.
Suara mama terdengar dari balik pintu
“Ia, ma”. Jawab Affan
“Mama tunggu di ruang sholat ya..........., sekalian bangunkan Nana”. Lanjut mama sampai akhirnya suara mama tak terdengar lagi.
“Ia, ma. Terimakasih”.
Affan memaksakan mata nya untuk terus terbuka, dan segera keluar dari kamar menuju ke kamar Nana yang berada di sebelah kamarnya.
“Neng.......... neng........ sholat subuh yuk! Mama, papa, dan teh Elis sudah menunggu di ruang sholat.
Kamar Nana, sunyi senyap tanpa suara bahkan panggilan Affan pun tak terbalas.
“Neng.........! Aa duluan ya..........”.
Affan meninggalkan kamar Nana dan menuju ke kamar sholat,
“Loh, Nana belum bangun Fan?”. Tanya teh Elis
“Sepertinya dia terlalu lelah teh”. Jawan Affan
“Yasudah kita sholat duluan aja, nanti selesai sholat coba kamu bangun kan Li”. Kata mama
Tiba-tiba, “Pagi teh”. Nana sudah berada didepan kamarnya dengan senyum di bibirnya.
Teh Elis tersenyum lebar, “Sudah bangun Na?”.
“Ia teh, tadi waktu bang Affan memanggil, Nana sedang sholat. Mohon maaf jika Nana tidak ikut berjama’ah”.
“Gak apa-apa, yuk kita sarapan. Hari ini sarapan Affan yang masak loh”. Teh Elis merangkul Nana dan membawanya ke meja makan.
Affan yang sedang menyajikan sarapan di meja makan tersenyum melihat Nana,
“Duduk Neng”. Affan mempersiapkan kursi untuk Nana tepat disebelahnya.
“Terimakasih”. Jawab Nana
“Eh...........neng sudah bangun? Gimana keadaan kamu?”. Mama Affan mencium Nana dari belakang lalu duduk di kursi yang berada di depan Nana.
“Maafin Nana karena sudah membuat mama, papa, teh Elis, dan bang Affan khawatir”.
Affan duduk di samping Nana,
“Neng, nanti ikut aa ke toko aksesoris ya...............”. Kata Affan
“Abang mau beli aksesoris?”. Tanya Nana
“Gak.., mau ketemu teman SMA. Sudah lama gak pernah ketemu. Dia pemilik toko aksesoris itu”. jelas Affan
“Oh................”. Nana menganggukan kepalanya.
“Yuk.......kita sarapan, nasi goreng sea food”. Kata mama
Mereka sarapan bersama,
“Hmmm......enak nasi gorengnya”. Puji Nana
“Ini si aa yang buat loh neng. Nanti kalau kalian menikah, pasti aa sering buatin sarapan buat neng”. Kata mama
Nana dan Affan hanya tersenyum mendengar perkataan mama barusan, sambil terus menyantap menu sarapan pagi.
“Sudah selesai? Affan melirik ke arah Nana
Nana meneguk air putih lalu membersihkan sisa makanan yang ada di bibirnya dengan tissue.
“Sudah, mau berangkat sekarang?”.
“Yuk!”. Jawab Affan
“Tapi aku mau bantu teh Elis cuci piring”.
“Eh........., gak usah neng. Temani aa aja ya.......”.
Affan melirik ke arah teh Elis, “Terimakasih ya teh”. Kata Affan
“Ayo neng......... nanti keburu siang”.
Nana menemani Affan ke toko aksesoris milik teman SMA nya. Affan lupa kalau toko aksesoris buka jam sepuluh pagi, dan sekarang jam di arloji Affan menunjukan pukul setengah sepuluh pagi, sehingga sesampainya mereka di
sana, toko masih dalam keadaan terkunci.
“Ya ampun neng, aa lupa kalau toko buka jam sepuluh pagi”.
“Lalu?”.
“Kita tunggu di taman deket sini aja ya........sambil cuci mata”.
“Ia”. Jawab Nana
Mereka menuju ke taman dekat toko sambil menunggu toko buka.
“Abang, terimakasih banyak ya......sudah baik sama aku. Keluarga abang juga baik”.
“Ia, neng sama-sama”. Jawab Affan
“By the way, semalam kamu peluk aa erat banget loh. Kamu terlihat nyaman bersandar di punggung aa”. Kata Affan dengan senyum genitnya
“Masa sih? Ge-er banget. Kan semalam abang yang minta aku untuk pegangan karena abang mau ngebut. Ia kan?”. Tanya Nana
“Ih, nggak juga. Aa gak bilang begitu”. Jawab Affan ngeles
“Ia abang, sumpah!”. Kata Nana
“Orang aa gak bilang apa-apa dan tiba-tiba kamu peluk dari belakang”.
“Jahat banget sih”. Nana mencubit pinggang Affan
“Ia, ia aa salah. Maaf”.
“Nah.......gitu dong!”.
"Sebenarnya, semalam abang juga romantis". kata Nana
"Ha? Masa? Emang semalam aa ngapain?". Tanya Affan
"Abang gendong aku, peluk aku, kasih aku susu jahe. Pokonya romantis deh".
"Ya.....karena aku khawatir sama kamu. itu aja. Baper banget!". wajah Affan memerah
"Cie..........cie............muka nya memerah. Ge-er ya?". Kata Nana menggoda Affan dan berhasil membuat Affan salah tingkah.
Mereka tertawa bersama..............
"Dasar neng nong!" Affan menjitak jidat Nana lalu berjalan mencari udara segar dan menghilangkan rasa grogi nya.
Nana tersenyum melihat tingkah Affan yang berubah dan aneh.