MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 73. Kehilangan



Kepergian ummi Hana membuat Nana sangat kehilangan, kehilangan seorang guru, teman curhat sekaligus orang tua bagi Nana. Pertemuan mereka sangat singkat namun sangat berkesan bagi Nana. Ummi Hana yang selalu mengingatkan disaat Nana hilaf, memberi nasehat disaat Nana galau dan menguatkan disaat Nana rapuh, kini ummi pergi untuk selama nya dan itu sangat menyakitkan Nana.


Walaupun Nana termasuk  pendatang baru dalam dunia hijrah di bawah binaan ummi Hana, tetapi usia dan pendidikan Nana menjadikan Nana kakak tertua diantara yang lain nya, karena semua binaan ummi Hana yang Nana kenal, mereka masih kuliah S1 sementara Nana sudah lulus S2, sehingga Nana dianggap pengganti


ummi bagi teman-teman nya yang lebih cocok di panggil junior nya.


Hingga pada suatu hari, ketika Nana sedang melamun di serambi masjid, teringat akan pertama kali dia bertemu ummi Hana di tempat yang sama, Lulu menghampiri Nana.


“Assalamu’alaikum kak”.


“Wa’alaikum salam. Lulu ada apa?”. Jawab Nana sambil menoleh pada Lulu yang sudah duduk di sampingnya.


“Kakak sedang teringat pada ummi?”. Lulu menatap Nana


Nana memutar kepalanya dan meluruskan pandangan nya kedepan, “Iya”. Jawab Nana.


“Berdo’a lebih baik dari pada melamun”. Kata Lulu.


Kata-kata Lulu sering kali menyadarkan Nana disaat dia khilaf, Nana menoleh pada nya lagi lalu tersenyum.


“Kamu cerdas ya...............”. Puji Nana


Lulu tersenyum sambil mengangkat kedua alis nya, memberi kode bangga terhadap dirinya sendiri.


“Kamu sengaja cari kakak atau kebetulan bertemu?”. Tanya Nana


“Kebetulan aku juga kangen dengan ummi dan aku ke sini, karena disini lah aku pertama mengenal ummi Hana”. Mata Lulu berkaca-kaca.


“Yeah.........You’re right”. Nana memeluk Lulu.


“Allahu Akbar.............Allahu Akbar!!!”. Suara adzan asar berkumandang.


“Alhamdulillah............sholat yuk!”. Ajak Nana dan mereka pun segera melangkah ke tempat wudhu wanita dan


bersiap-siap untuk melaksanakan sholat asar berjama’ah.


Tak henti air mata Nana menetes saat sholat, kesedihan yang ia rasakan belum bisa hilang dari hati nya, sosok ummi tidak mudah untuk Nana lupakan dan ummi yang selama ini menyadarkan Nana akan diri nya sebagai wanita muslimah. Pada rakaat terakhir tak kuasa Nana menahan tangis yang semakin ditahan maka semakin sakit, Nana pun menumpahkan semua kesedihan dalam sujud nya.


Usai sholat Nana dan Lulu keluar meninggalkan Istiqlal, mereka berjalan-jalan sore ke daerah monas, udara sore


sekitar Monas memang sejuk, ditambah banyak pedagang yang memamerkan berbagai macam jajan nya dan memanjakan lidah para pengunjung atau pejalan kaki yang mampir.


Nana dan Lulu duduk di taman Monas, sambil mencicipi jajan dan sedikit berdiskusi, diskusi sekitar kuliah,


pekerjaan, pengalaman sampai jodoh. Diskusi kali ini sangat berbeda, karena ini bisa di katakan lebih kepada sesi tanya jawab dalam sebuah seminar, yaitu Lulu sebagai interviewer yang selalu mengajukan pertanyaan dan Nana sebagai informan.


Banyak hal yang ditanyakan Lulu sekiar kuliah dan skripsi, mungkin karena saat ini Lulu sudah masuk ke semester


tujuh dan sebentar lagi akan bersiap-siap mengerjakan tugas akhirnya yaitu menulis skripsi, sehingga Lulu selalu bertanya tentang skripsi.


Lulu anak bungsu dari tiga bersaudara di keluarga nya, orang tua nya tinggal di Aceh, kakak pertama nya


sudah menikah dan tinggal di Bandung, Kakak kedua bekerja di Sumatra dan kakak ketiga bekerja di Swis, sedangkan Lulu masih kuliah di Jakarta, keadaan seperti itu yang membuat Lulu jarang bertemu dan kumpul dengan keluarga dan membuat dia sangat membutuhkan sosok seperti ummi Hana dan Nana sebagai pengganti


kakak-kakak nya.


Lulu bercerita dan bertanya banyak hal sampai akhirnya dia bertanya soal cinta pada Nana.


“Kakak pernah jatuh cinta atau pacaran?”.


“Kakak pernah jatuh cinta atau pacaran gak?”. Lulu mengulang pertanyaan nya sekali lagi.


 “Hmmm...........pernah sebelum bertemu ummi”. Jawab Nana


“Bagaimana rasa nya jatuh cinta?”. Tanya Lulu


Nana tercengang dengan pertanyaan Lulu, pertanyaan Lulu seperti petir yang menyambar diri nya.


“Hebat kamu Lu, mahasiswi semester tujuh tetapi belum pernah tau rasa nya jatuh cinta. Apa yang harus aku katakan pada mu? Sementara aku pun tidak sebaik kamu?”. Gumam Nana dalam hati sambil menatap baby face itu.


“Seperti nya aku sedang jatuh cinta sama teman sekelas ku”. Kata Lulu sambil tersenyum kecil di bibir nya.


Mata Nana melotot ke arah Lulu.


“Kalau hanya suka aja, it’s ok asal jangan berlebihan karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik”. Pesan Nana.


“Kakak bangga loh dengan pendirian hati kamu yang sampai saat ini belum pernah tau rasa nya jatuh cinta. Itu


berarti kamu belum pernah pacaran. HEBAT!”. Puji Nana.


“Kakak bilang, sebelum bertemu ummi, kakak pernah punya pacar. Apa rasa nya pacaran?”


“Andai kakak bisa kembali ke masa kecil, kakak ingin mengulang masa kecil kakak dan kakak ingin membuat diri


kakak menjadi wanita bersih tanpa harus pacaran dan di sentuh oleh laki-laki. So, jaga diri baik-baik. Pacaran setelah menikah itu jauh lebih baik dan berpahala”.


Lulu hanya terdiam, “Seperti nya kaka Nana mempunyai masa lalu yang begitu menyakitkan tentang pacaran. Aku bisa lihat dari sorot mata dan nada bisacara nya”. Gumam Lulu


“Kaka, sudah sore, ayo kita pulang”. Kata Lulu


“Kita berpisah disini aja ya............ kakak mau naik bajaj aja. Sudah lama juga gak naik bajaj”.


“OK. Assalamu’alaikum”. Sambil mencium tangan Nana


“Wa’alaikum salam warrohmatullah wabarokatuh”. Jawab Nana


“Hati-hati”.


“Kakak juga ya”.


Mereka berpisah, Lulu mencari gojek dan Nana mencari bajaj yang lewat.


“Aku malu sama kamu Lu, aku mempunyai masa lalu yang sangat memalukan. Aku pernah di sentuh, di peluk


bahkan di cium dan semua itu berawal dari pacaran. Makanya kau bersyukur Allah mempertemukan aku dengan ummi Hana”. Kata Nana dalam hati sambil terus memperhatikan Lulu dari kejauhan yang masih menunggu gojek.


Setelah mendapatkan Bajaj, Nana segera pulang agar dapat melaksanakan sholat maghrib di rumah. Sesampai nya di rumah, dia segera membersihkan badan nya, lalu bersiap-siap untuk melaksanakan sholat maghrib. Beberapa menit sebelum adzan maghrib, Nana membuka Al-Qur’an nya lalu membaca kan doa untuk ummi Hana yang dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an agar hati nya lebih tenang dan ikhlas.


“Ya Allah.....semoga hamba istiqomah dalam berhijrah. Lindungi hamba dari segala keburukan dan pertemukan hamba dengan sahabat yang sholehah yang selalu mengingatkan hamba dalam kebaikan. Aamiin”.


“Allahu Akbar...Allahu Akbar”. Suara adzan terdengar dari ponsel nya.


“Alhamdulillah.............”. Nana menutup Al-Qur’an nya dan bersiap untuk sholat maghrib.


Sebelum ummi Hana meninggal, Nana mempunyai dua tempat curhat, yaitu ummi Hana dan Al-Qur’an namun sekarang setelah ummi Hana tiada, dia hanya bisa curhat dan menumpahkan semua kesedihan nya pada Al-Qur’an