MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 51. Nasi uduk pinggir jalan



Sudah enam bulan Nana bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang pariwisata, itu artinya sudah dua bulan juga dia bersama Wira, kepala guide sekaligus menjadi teman baru bagi Nana.


Seperti biasa, Wira selalu menunggu Nana di depan gang rumahnya, begitu pula ketika jam pulang tiba, Wira selalu


mengantar Nana pulang namun hanya sampai gang saja. Entah apa alasannya yang membuat Wira tidak pernah mampir ke rumah Nana.


“Gak sarapan dulu Na..................?”. Tanya ibu yang melihat Nana seperti terburu-buru berangkat kerja.


“Sarapan di kantin aja bu”. Jawab Nana sambil merapihkan pakaian dan sesekali melihat polesan make up di


wajahnya.


“Nana pergi dulu ya bu, Assalamu’alaikum”. Nana berpamitan lalu berjalan keluar rumah.


“Wa’alaikum salam, hati-hati sayang!”. Jawab ibu


Pagi itu, Nana terlihat aneh. Tidak biasanya dia berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu, Nana segera berjalan menunggu gang dan ternyata ada Wira yang sudah menunggu nya.


“Pagi......!”. Sapa Wira dengan senyum di bibirnya yang agak tebal.


“Pagi......!”. Nana membalas senyum Wira


“Fresh and fragrant”. Kata Wira sambil merasakan wangi segar parfum Nana yang terbawa angin pagi.


“Kamu juga. Hahahha “. Balas Nana


“Ayo naik, belum sarapan kan?”.


“Nanti kita sarapan di jalan aja ya.... saya tunjukan kamu tempat makan pinggir jalan yang paling enak, dan


menjadi tempat sarapan favorit saya. Biasanya buka dari pagi sampai malam dengan menu yang berbeda”.


Nana hanya menganggukan kepala nya dan segera naik keatas motor vixion hitam itu.


“Pegangan dong.....!”. Kata Wira sambil memberikan helm pada Nana


“Gak lah, nanti dikira pacaran”. Jawab Nana sambil mengenakan helm nya.


“Gak apa-apa, kalau pacaran beneran itu malah lebih baik”.


“Haaaa........., udah jalaan aja. Nanti keburu siang”.


Wira menyalakan mesin motor nya lalu melaju dengan kecepatan sedang. Kali ini mereka tidak saling diam, namun mereka masing-masing mempunyai cerita untuk saling dibagi.


Nana tidak lagi ilfeel dengan Wira dan Wira pun tidak lagi menjijikan bagi Nana. Sikapnya jauh berubah dari


sebelumnya. Dia terlihat sopan, baik dan perhatian pada Nana. Itu yang membuat Nana nyaman berteman dengan nya.


“Ok, kita sudah sampai di tempat sarapan”. Kata Wira


Nana turun dari vixion itu, lalu membuka helm nya, Wira membawa nya ke warung nasi uduk lesehan yang berada di pinggir jalan. Nana ternganga melihat tempat sarapan yang sepanjang jalan Wira bilang, bagus, tempatnya nyaman dengan aneka menu yang berbeda dan menjadi tempat sarapan paling enak dan favoritnya.


Nana menarik lengan kemeja Wira, dan berbisik pada nya.


“Kata kamu, sarapan di tempat yang paling enak, tempatnya bagus, dan menjadi favorit kamu?”.


Wira mengerutkan alisnya dan merapihkan betelnya, “Kenapa”. Tanya Wira


“Coba deh lihat baik-baik, tempatnya bagus, di pinggir jalan, kita bisa sambil makan sambil melihat pemandangan,


kalau perlu kita bisa sambil menghitung jumlah kendaraan yang lewat pagi ini”.


“Kalau masalah rasa, menurut saya. Nasi uduk disini memang paling enak. Ayo duduk!”.


Nana masih bengong dan gak bingung dengan Wira. Apa maksud Wira dengan semua ini. Wira yang sudah berjalan lebih dahulu menuju lesehan, kembali menoleh pada Nana yang masih bengong dan menghampiri


Nana kembali.


“Ayo.....!”. Wira menggenggam tangan Nana dan mengajaknya duduk.


Nana kaget sambil menatap genggaman tangan Wira,


“Wira......tangan nya....!”. Nana melirik pada tangan Wira yang masih menggenggam tangan Nana.


“Oh, maaf”. Wira melepaskan genggamannya.


“Bu, nasi uduk dan teh manis hangat dua ya......!”. Wira memesan sarapan pada Ibu Ijah.


“Baik mas”. Jawab bu Ijah.


Wira menatap Nana yang tertunduk malu dengan genggaman Wira barusan.


“Mau denger cerita saya, gak?”. Tanya Wira mencair kan suasana, sambil menunggu nasi uduk pesanannya.


“Apa?”. Nana mengangkat kepalanya dan melihat pada Wira


"Tempat ini memang dulu biasa-biasa saja, tidak terlalu spesial bagi saya tapi sekarang tempat ini menjadi tempat


spesial bahkan sangat spesial”. Kata Wira dengan nada penuh semangat.


“Kenapa?”. Tanya Nana penasaran dan ikut bersemangat.


“Karena ada kamu yang menemani”. Jawab Wira sambil tersenyum.


“O my god!!!! Saya terharu!”. Jawab Nana


Nana menganggukan kepalanya dengan senyum manis di bibir nya,


“Serius?”. Tanya Wira makin penasaran dan terlihat bahagia


“Yes. Serius bohongnya. Hahahah.......”. Nana tertawa puas melihat wajah Wira yang berubah memerah karena malu.


Wira terdiam, memasang wajah malu dan kecewa dengan Nana. Dia menundukan wajahnya tanpa berkata-kata. Nana yang sedang asik tertawa tiba-tiba diam dan melihat wajah Wira yang berubah.


“Hai.......!”. Nana melambaikan tangan nya di depan wajah Wira, tetapi Wira masih saja tertunduk.


“Hallo.....”. Nana menggerakan tangan Wira yang berada di atas meja, dan.......


“Yeah......kena. satu sama. Takut kan......?”. Wira mendekatkan wajahnya ke wajah Nana lalu mengagetkan nya dengan teriak di depan wajah Nana, sehingga hidung Wira menyentuh hidung Nana untuk ke dua kali nya.


“Mas, ini nasi uduk dan teh manis hangat nya”. Kata bu Ijah


Suara bu Ijah membuyarkan tatapan mereka dan membuat mereka tersenyum malu. Wira meneguk teh manis hangat yang sudah ada di depan nya begitu juga dengan Nana. Mereka menyantap sarapan, Nana masih membuang muka karena malu namun Wira terus menatap Nana dengan senyum mematikan dan membuat Nana menjadi salah tingkah.


Selesai sarapan mereka segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor. Wira mengeluarkan dompet nya untuk membayar sarapan mereka.


“Saya aja yang bayar”. Kata Nana


“Kewajiban laki-laki untuk membayar, bukan perempuan. Selagi kamu makan atau jalan sama saya, semua tanggung jawab saya”.


“Tapi...........”.


Wira mengangkat telunjuknya dan menghentikan perkataan Nana. Wira berjalan menuju motornya dan Nana mengikuti dari belakang dan masih terdiam.


“Kenapa? Malu?”. Tanya Wira dengan nada agak tinggi.


“Ayo naik!”.


Nana masih berdiri di samping motor vixion itu dan Wira memakaikan helm pada Nana, lalu menghidupkan mesin.


“Pak, sebaiknya. Ini yang terakhir bapakmenjemput saya”. Kata Nana lirih


Wira yang sudah menghidupkan mesin motornya kembali mematikannya.


“Kenapa?”. Tanya Wira


“Saya hanya ingin kita bersikap profesional sebatas rekan kerja, sebatas tim”.


“Di kantor, kita tetap tim tetapi di luar kita bisa menjadi teman. Benar kan?” tanya Wira menegaskan.


“Tapi saya merasa apa yang kita jalani ini bukan seperti rekan kerja”.


“Lantas apa?”. Kata Nana


“Tanya kepada hati bapak sendiri. Apa maksud bapak selalu membuat saya baper, selalu membuat saya merasa salah tingkah, dan selalu membuat saya................”.


“Ok. Saya akui bahwa saya suka sama kamu sejak pertama bertemu dan saya merasa kamu adalah perempuan yang cocok untuk menjadi istri saya”.


“Saya juga sudah males pacaran, sama seperti kamu. Saya sedang mencari perempuan yang bisa diajak serius untuk menikah”.


“Tapi usia kita?”.


“Kenapa dengan usia kita? Usia kita hanya terpaut dua tahun, saya rasa itu wajar”.


Nana terdiam.................


“Izinkan saya untuk menjadi brownies kamu”. Wira meyakinkan Nana.


“Beri saya waktu untuk berpikir, saya takut salah untuk yang kesekian kali nya”.


“Dulu, mereka juga sama. Mencintai dan menyayangi saya. Membuat saya menjadi wanita spesial dalam hidupnya, tetapi semua itu fake, palsu. Mereka meninggalkan saya setelah mereka tahu bahwa saya.......................”.


“Jangan sama kan saya sama mereka. Tidak semua laki-laki seperti itu. please.............”. Wira memohon.


“Usia saya memang di bawah kamu, tapi saya yakin bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab”. Lanjut Wira meyakinkan Nana.


Nana bingung dengan hati nya, Nana hanya menganggap Wira hanya rekan kerja di kantor tidak lebih, walaupun Wira sering membuat Nana salah tingkah namun tidak ada cinta di hati Nana untuk nya. Nana takut menyakiti dia dan mengecewakan nya.


“Kok malah bengong? Ayo naik, nanti telat”.


Nana menaiki motor vixion itu dan menaruh tas diantara mereka. Vixion melaju dengan cepat karena mengejar jam masuk kantor, Nana masih terdiam memikirkan hati nya dan hati Wira.


“Ya tuhan......apakah Wira serius dengan ucapan nya?”


“Aku takut dia mempermainkan ku atau aku yang mempermainkan dia?” Gumam Nana dalam hati.


“Wira memang baik tetapi aku tidak mencintai nya, dia benar bahwa dia seperti brownies bagi ku”.


Nana terus bertanya pada hati nya.


“Alhamdulillah......sudah sampai”. Kata Wira


“Ha......?!!!”. Nana kaget melihat di sekelilingnya banyak motor yang terparkir rapi.


“Oh, iya. Thank you”. Nana segera turun dari motor dan melepaskan helm nya serta merapihkan pakaiannya dan menambah polesan di bibir nya yang sedikit berkurang karena sarapan tadi.


Lamunan Nana selama perjalanan membuatnya tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di kantor.


“Pikirkan apa yang saya bicarakan dan saya serius”. Bisik Wira lalu berjalan beriringan dengan Nana menuju lobby depan dan masuk.