
Beberapa bulan lagi Nana akan di wisuda untuk mendapatkan gelar sarjana nya. Dia tidak lagi memikirkan Affan
ataupun Juna, sang mantan walaupun pertemuan Nana dan Juna di bus waktu itu membuat Nana kembali mengenang masa lalu nya dan membuatnya tidak bisa makan dan tidur, namun ia sadar bahwa Juna tidak akan pernah kembali lagi dalam kisah nya.
Pikiran Nana terfokus pada skripsi, laptop, dan buku-buku tebal yang setiap hari menemani nya. Kesibukan nya menjelang wisuda, yang harus membuatnya bergadang siang malam menyelesaikan revisi skripsi sehingga
membuat dia lupa akan Affan.
Sejak kejadian di rumah Affan waktu itu, Nana jarang sekali bertemu dengan Affan di kampus. Entah karena mereka sibuk dengan urusan nya masing-masing atau memang mereka memtuskan untuk tidak saling bertemu. Sampai akhirnya, Nana menyelesaikan revisinya tepat waktu dan bisa ikut wisuda tahun ini.
“God..... thank you. Akhirnya aku wisuda”. Air mata Nana berlinang haru, dengan selembar kertas di tangannya yang ia dekap erat di dada.
“Kamu sudah daftar wisuda Na?”. Tanya Tika membuyarkan rasa haru nya.
Nana tersenyum dan memberi selembar
kertas yang berisi protokol pelaksanaan wisuda.
“Wah.....congratulation, honey!”. Peluk Tika
“Keren, aku seperti nya gak bisa wisuda tahun ini”. Suara Tika sedih dengan kepala tertunduk.
“Kenapa sayang.............?”. Tanya Nana.
“Revisi ku belum selesai, jadi aku pasti ikut wisuda semester depan”.
“Oh......sayang............... Semangat ya......!!!!”. Peluk Nana sambil memberi semangat.
“By the way, gimana kabar Affan dan cerita kalian berdua?”. Tika melepaskan pelukan Nana.
“I don’t know. I am going to focus on my study, OK!”. Jawab Nana sambil berjalan ke arah lobby.
“Are you OK?”. Tika mengejar langkah Nana.
Nana terhenti, “Hmm, Yeah. We are good. Aku duluan ya............?”
“Ardiana, SS”. Bisik Nana sambil menepukkan kertas pada dada Tika dan segera pergi.
“Sekali lagi, selamat ya..........Ardiana, SS”. Teriak Tika setelah beberapa langkah Nana meninggalkan dia di lobby.
Nana hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh pada Tika dan dia terus berjalan sampai akhirnya tak terlihat lagi. Dalam angkot dari kampus menuju rumahnya, Nana masih memandangi kertas yang sejak tadi ia pegang,
perasaan bangga, bahagia dan haru menjadi satu menghilangkan semua rasa yang ada pada dirinya. Sesekali ia tersenyum menatap kertas itu, dan sesekali air matanya jatuh.
“Ya tuhan............aku masih gak percaya bahwa aku bisa melewati ini semua. Aku yang hanya modal nekad untuk bisa kuliah, mulai dari D3 dulu sampai akhirnya aku naik menjadi seorang sarjana. Ini luar biasa”. Gumam Nana dalam hati sembari terus memandangi kertas itu.
Tiba-tiba ia teringat dengan Juna yang sudah menyelesaikan S2 nya di Jogja, bahkan dia sekarang menjadi dosen di salah satu kampus swasta di Jakarta.
“Aku harus S2, aku yakin aku bisa!”. Semangat Nana kembali membara.
Kekurangan yang ia miliki dan kekecewaan Nana soal cinta tidak pernah membuatnya patah semangat, justru dia selalu semangat untuk terus maju dan menunjukan bahwa diri nya istimewa dan layak untuk dicintai.
Sesampainya di rumah, Nana membuka laptop yang tergeletak di atas meja belajarnya. Dia mencari info beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikannya hingga S2, seperti Juna. Mata Nana terpusat pada laman google dalam pencarian beasiswa luar maupun dalam negeri.
“Drett.....dret......dret......”. Handphone nya bergetar dan dilihat nya ada panggilan masuk dari Affan.
Dengan santai Nana angkat telepon nya,
“Iya bang..............”.
“Bisa kita bertemu?”. Suara Affan terdengar gugup
“Bisa”. Jawab Nana enteng dan terdengar sangat santai, seperti tidak pernah terjadi apa-apa dengan mereka.
“Ok”.
“Tut........tut.......tut...............”. Nana memutuskan telepon nya.
Pencarian Nana terhadap beasiswa S2 nya tertunda karena panggilan Affan, dia mematikan laptopnya dan meninggalkannya di atas meja belajar dalam keadaan terbuka. Nana mengambil tas selempang kecil yang ada di balik pintu kamar, lalu dia menyelempangkan nya di tubuhnya.
“Mau kemana, Na?”. Tanya ibu
“Ke taman mah”. Jawab Nana sambil meraih tangan ibu nya dan mencium nya.
“Hati-hati”. Ibu mengelus kepala Nana
Nana mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
Sungguh Affan memang pengecut, dia berani jemput Nana di rumahnya waktu ingin memperkenalkan dengan keluarga nya di Bogor, namun dia tidak berani mengantarnya pulang bahkan untuk bertemu dengan Nana pun dia tidak berani lagi menampakan dirinya di depan orang tua Nana.
Nana melihat motor Affan terparkir di depan taman, mata Nana nanar mencari pria Bogor itu, Nana menatap sudut demi sudut taman namun dia tidak mendapatkan Affan. Nana mengeluarkan handphone nya dari dalam tas kecil berwarna peach, dia mencari nama Affan pada kontak yang tertera di dalam handphone. Namun,..........
“Neng...........”. Affan memanggil Nana
Nana menoleh dan ternyata Affan berada di belakangnya, dengan jus mangga yang ada di kedua tangan nya. Affan memberikan, jus itu pada Nana dan mengajaknya untuk duduk di kursi taman. Nana mengikuti langkah Affan menuju kursi yang berada di sudut taman, lalu mereka duduk bersama.
“Minum neng”. Affan membuka pembicaraan dan meneguk jus mangga.
“Aa ingin minta maaf atas kejadian waktu itu”.
“Iya, gak apa-apa”. Jawab Nana dengan suara terdengar bosan mendengar permintaan maaf dari Affan.
“Gak usah di bahas lagi, aku sudah lupa. Sekarang, aku mau fokus dengan wisuda dan melanjutkan kuliah ku hingga S2”. Jawab Nana
Affan tercengang mendengar Nana mau wisuda dan lanjut S2, mereka masuk berbarengan namun Nana lulus lebih awal dari nya, sedangkan dia, Nana sempat membantu nya mengerjakan skripsi beberapa bulan lalu.
“Wih.......keren, mau wisuda”. Affan sedikit tertawa mencairkan suasana.
“Abang kapan? Udah sidang? Akhir-akhir ini gak pernah lihat di kampus?”. Tanya Nana dengan nada sedikit sombong.
“Hahh..............”. Affan menghela nafas dan meneguk jus mangga.
“Gak tahu, mau sidang kapan. Banyak coretan. Kalau dulu sih ada yang bantuin mikir tapi sekarang seperti nya, orang yang bantuin nya sudah gak mau bantu lagi”. Affan melirik pada Nana
Nana paham bahwa Affan sedang membicarakan diri nya karena memang dulu Nana sering membantu Affan mengerjakan tugas-tugas kuliah bahkan skripsi nya.
“Sorry to say ya bang........fokus dengan tugas-tugas, skripsi dan wisuda. Jangan fokus pada sebuah alasan apalagi sebuah kebohongan dan kebohongan itu merugikan orang lain”.
Nana bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa memperdulikan Affan. Affan membuka mulut nya, seakan masih ingin bicara dengan Nana, namun Nana sudah tidak mau lagi bicara dengan nya.
Affan menyadari bahwa dia salah bahkan sangat salah karena telah meninggalkan Nana.
“Na, Aa akan menikah”. Teriak Affan
Langkah Nana terhenti mendengar teriakan Affan dan berhasil membuatnya menoleh pada Affan. Nana
berdiri di depan pintu taman sambil menatap Affan dan menunjukan bahwa Nana baik-baik saja.
Affan berdiri, berjalan perlahan mendekati Nana sehingga jarak mereka hany beberapa jegkal saja. Sepasang bola mata saling bertemu dalam satu tatapan tanpa satu kata.
“Aa di kenalkan oleh seorang gadis asal Magelang bernama Desi. InsyaAllah, bulan depan akan melamar nya”. Kata Affan.
Nana tersenyum tanpa luka, “Good and congratulation. Semoga ini bukan bagian dari sebuah kebohongan”. Bisik Nana.
Nana memalingkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya dengan ringan. Perkataan Affan tidak berhasil membuat nya cemburu sama sekali. Nana lebih tertarik dengan perburuan nya dalam mendapatkan beasiswa.