
Sejak Nana pindah ke kampus baru, Nana lebih sering menghabiskan waktu di masjid. Semua kegiatan dia lakukan di masjid, seakan-akan masjid menjadi jantung kampus bagi nya.
Tidak hanya Nana, mahasiswa lainpun sama, termasuk Imam. Imam dan Nana sering bertemu di masjid, namun Nana tidak pernah menghiraukan keberadaannya. Bagi Nana semua mahasiswa sama, tidak ada yang istimewa.
Imam sering melihat Nana bahkan memperhatikan semua kegiatan yang Nana lakukan di masjid secara diam-diam,
mulai dari sholat sunnah, mengaji, sholat wajib, belajar dan yang lainnya. Tetapi, Nana tidak pernah menyadari akan hal itu, dari situlah Imam menjadi pengagum rahasia bagi Nana.
Imam dan Nana bergabung dalam eskul lain, yaitu english club yang dipandu oleh seniornya. Kegiatan english pun
dilakukan di masjid setelah sholat dhuha sebelum jam kuliah di mulai.
Imam dan Nana pernah berdiskusi sesekali ketika membahas sesuatu yang berkaitan dengan eskul, namun tidak ada tanda-tanda kekaguman dalam diri Imam terhadap Nana. Imam lebih banyak diam dan menjadi pendengar yang baik dibanding mengeluarkan pendapatnya, maka dari itu Nana tidak terlalu memperhatikan Imam.
Nana mengenal Imam tidak terlalu dekat dan lama, bagi Nana Imam hanya sebatas teman bahkan Nana tidak menjadikan Imam sebagai temannya karena mereka baru bertemu beberapa kali saja dan tidak ada yang berkesan dari pertemuan itu. Bagi Nana, Imam hanya biasa-biasa saja.
Dua bulan yang lalu, Imam mendengar kabar bahwa ibunya sakit di kampung, sehingga dia harus pulang dan melanjutkan kuliah di kampung halamannya di kota Batu, Malang.
“Ngger...., ibu mu loro. Kowe kudu mulih (Nak....., ibu mu sakit. Kamu harus pulang)”. Kata ayah Imam
“Nggeh, Pak (Baik, pak)”. Jawab Imam
Sejak itu, Imam tidak lagi menampakan batang hidungnya di kampus. Namun, Imam membawa sebuah nama dalam hati dan dia berharap suatu saat nanti tuhan akan mempertemukan dia dengan pemilik nama tersebut.
Beberapa bulan setelah Imam kembali ke kampung halamannya, Nana baru menyadari bahwa Imam sudah pindah kuliah.
Nana melihat Ajis teman Imam sedang asik membaca buku di taman dekat masjid, Nana berjalan menuju taman
dan menghampiri Ajis.
“Mas Ajis.........”. Teriak Nana memanggil Ajis
“Ia, ada apa Na?”. Tanya Ajis
“Mas Imam sudah lama tidak kelihatan, kemana dia?”. Tanya Nana
“Oh.....dia pindah kuliah, karena ibunya sakit jadi dia pulang kampung dan kemungkinan lanjut disana”. Jawab Ajis
“Dimana?”. Tanya Nana
“Malang”. Jawab Ajis
“Oh...........”. Nana menganggukan kepalanya.
Tanpa rasa ingin tahu yang lebih, Nana pergi meninggalkan Ajis yang masih asik duduk di taman.
“Thanks”. Kata Nana
“Sama-sama”. Jawab Ajis
Hari itu pun Nana tidak melihat Tika, berkali-kali Nana mencoba untuk menghubunginya tetapi tidak ada jawaban. Nana beranjak ke koridor kampus dan duduk di sisi kanan koridor dengan wajah sedikit bete karena tidak ada Tika yang menemaninya.
Beberapa menit kemudian, Nana melihat Tika berlari dari gerbang kampus menuju masjid, sepertinya dia kesiangan karena tidak biasanya Tika datang jam setengah delapan.
Nana mencoba memanggil Tika dari koridor namun suara Nana terlalu jauh sehingga tidak terdengar oleh Tika. Nana menyusul Tika ke masjid dan dilihatnya dia sedang berwudhu untuk sholat dhuha.
“Tumben baru dateng?”. Tanya Nana
“Eh, Na. Ia nih aku kesiangan plus macet hari ini”. Jawab Tika sambil membetulkan kerudungnya.
“Sudah sholat Na?”. Tanya Tika
“Of course yes”.
Nana menunggu Tika menyelesaikan sholat dhuha sambil membaca materi minggu lalu. Nana menyandarkan
tubuhnya pada dinding masjid dan berpikir tentang Imam.
“Kasian juga mas Imam, ibu nya sakit”. Kata Nana dalam hati.
Nana melanjutkan membaca buku, sesekali dia melihat jam dinding dari balik kaca, “Tika lama banget sholatnya, bentar lagi bel masuk”. Nana bergumam dalam hati.
“Kok bengong Na?”. Tanya Tika dari balik pintu masjid sambil melipat mukena yang telah ia kenakan.
Suara Tika mengagetkan Nana yang sedang fokus membaca.
“Sudah sholatnya? Cepet, bentar lagi masuk”. Jawab Nana judes.
“Eh Ka, kamu tahu gak kalau mas Imam sudah pulang kampung ke Malang dan pindah kuliah juga loh”. Kata Nana dengan nada sedikit mencemaskan.
“Kata siapa? Wah........jangan-jangan diam-diam kamu chatting-an sama dia ya? Katanya biasa aja, tapi ternyata...............”.
Nana bangun dari duduknya dan menghampiri Tika yang berdiri didepan kaca sambil terus memakai kerudung.
“Hush! Su’udzon aja. Aku tahu dari mas Ajis teman mas Imam”.
“Katanya kamu ngefans sama mas Imam, tapi gak sadar kalau sudah beberapa kali dia tidak ke kampus”. Nana berjalan kearah pintu lalu meninggalkan Tika dan menuju ke kelas.
“Na, tunggu dong.............kerudung ku belum rapi, aku juga belum make up”. Tika menyusul Nana sambil menambal wajahnya dengan make up.
“Na....tunggu!!”. Teriak Tika yang masih sibuk dengan make up dan kerudungnya.
Nana terus berjalan kearah kelas tanpa menoleh sedikitpun pada Tika. Tika mengejar temannya dan...........
“Awh.....”. Tika terjatuh di koridor kampus, buku dan make up nya jatuh berserakan di lantai.
Teriakan Tika menghentikan langkah Nana, Nana memutar badannya dan melihat Tika sudah terjatuh dan kesakitan.
“Astaghfirullah.........Tika”. Nana berlari menghampiri temanya itu.
“Maaf.....”. Kata Nana sambil membantu Tika berdiri dan merapikan semua buku-buku dan make up nya
yang berserakan.
“Kamu sih jalan cepet banget, aku ngejar dan jatuh deh!”. Kata Tika dengan nada kesal setengah menangis.
“Ia sayang.......babe........ aku yang salah. Maafin ya....”. Jawab Nana sambil membantu Tika berdiri.
“Aku yang bawa barang-barang mu ya.....”. Lanjut Nana sambil membawakan barang-barang Tika.
Nana membawa semua barang-barang Tika, mulai dari tas, buku, make up, laptop dan sebagainya, sedangkan dia sendiri kerepotan membawa barang-barang milik pribadinya. Sehingga membuat Nana berjalan lambat dan jauh tertinggal dibelakang Tika.
“Ya ampun.....Tika..... santai banget, gak lihat apa kalau badan ku tertutup oleh tas dan barang-barangnya”. Gumam Nana dalam hati.
“Allahuakbar!”.
Nana terpeleset dan hampir terjatuh, laki-laki berwajah buat, sedikit gemuk, bertubuh pendek (bagi laki-laki), dan berkulit sedikit hitam yang menopang tubuhnya dengan kedua tangannya, sehingga dia terselamatkan.
“Maaf.....”. Kata laki-laki itu dengan logat sunda nya.
“Ia mas, terimakasih”.
“Banyak banget barang-barangnya?”. Tanya laki-laki itu.
“Sebagian punya teman ku”. Nana melirik pada Tika yang beberapa meter didepan dia. Laki-laki itu menoleh kearah Tika yang dengan santai berjalan tanpa beban.
“Biar saya yang bawa sebagian”. Laki-laki itu menawarkan bantuan dan memindahkan barang-barang Tika ke tangannya serta menemani Nana menuju kelas.
“Kamu semester berapa?”. Tanya Laki-laki itu
“Aku conversi mas, dulu ambil D3 lalu lanjut S1 disini dan sekarang semester enam karena ada beberapa mata kuliah yang tidak bisa di conversi”. Jawab Nana
“Sama dong ya.....”. kata laki-laki itu sambil tersenyum lebar.
Sesampainya didepan kelas, Nana melihat Tika sudah asik duduk di kursi paling depan dan tanpa membantu Nana sama sekali.
“Ini barang-barang dia?”. Tanya laki-laki itu sambil menunjuk Tika
“Ia”. Jawab Nana
Laki-laki itu berjalan menghampiri Tika yang sedang santai di kursinya dan meletakan semua barang-barangnya di depan Tika.
“Brakkkk!!!!”
“Lain kali bawa sendiri barang-barang mu, teman kamu hampir jatuh karena terlalu banyak yang dia bawa!”. Laki-laki itu bernada marah pada Tika.
Tika melihat kepada laki-laki itu dengan wajah asam dan judes.
“Terimakasih ya mas.............”. Kata Nana
“Aku Affan asli sunda”. Kata Affan sambil melemparkan senyum manis pada Nana.
Nana tersipu malu dan menunduk............
“Aku Ardiana, panggil aja Nana dan orang betawi”. Nana membalas senyum Affan.