
Seperti biasa kegiatan mama di pagi hari adalah berjemur sambil memberi pakan di kolam ikan belakang rumah. Pagi itu Affan dan Nana menemi mama, karena hari ini adalah hari terakhir Nana di rumah Affan dan besok akan kembali ke Jakarta.
Tidak disangka-sangka, terjadi percakapan diantara mereka bertiga, percakapan yang mengganjal hati Nana dan
membuat Nana merasa bersalah pada keluarga Affan terutama mama
“Neng, kesini. Duduk deket mama”. Mama memanggil Nana yang berada beberapa meter dari dirinya, sambil
menepuk-nepuk kursi kecil yang berada di sebelah kanan nya itu.
“Iya ma”. Nana menghampiri mama dan duduk disampingnya.
“Fan, kadieu jang”. Mama juga melambaikan tangan pada Affan dan memintanya duduk disebelah kiri mama.
Kini mereka duduk bertiga, tangan kanan mama menggenggam tangan Nana dan tangan kiri mama menggenggam tangan Affan. Mama tersenyum dengan menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Mama boleh bertanya sesuatu?”.
“Iya ma”. Kata Affan
“Sebenarnya kalian itu pacaran atau tidak?”.
“Kalau mama perhatikan, kamu sepertinya menyukai Nana dan begitu juga dengan Nana”. Mama memandang wajah Affan bergantian dengan wajah Nana.
“Mama seneng loh jika kalian menikah”. Tambah mama.
Affan dan Nana saling melirik seolah-olah saling memberi kesempatan untuk memberi jawaban. Mama merasa ada yang aneh pada Affan dan Nana, mama mengerutkan dahi nya dan menatap lama pada Affan sehingga pandangan Affan kalah oleh mama, kemudian mama pun menatap lama wajah Nana dan akhirnya Nana juga menundukan pandangannya.
“Kok semua nya diam?”.
“Fan.........?”
“Ia ma. Affan..........suka pada Nana namun sepertinya Nana belum membuka diri untuk Affan”. Jawab Affan
Nana terkejut mendengar jawaban Affan, bagaimana Affan bisa mengatakan demikian yang jelas-jelas Affan belum bisa menerima kekurangan Nana. Mata Nana terbuka lebar, hati nya bergetar, mendengar itu semua.
“Kenapa Affan tidak berkata jujur bahwa dia belum bisa menerima kekurangan ku?”. Tanya Nana dalam hati
Mama terlihat kecewa, mata nya berkaca-kaca, wajahnya memerah seakan menahan amarah dan kekecewaan dalam hati. Mama memejamkan matanya dan menarik nafas.
“Hushhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!”.
Tatapan mama kini berpusat pada Nana, Nana hanya dapat menundukan pandangannya.
“Kamu tidak mencintai Affan?” Tanya mama dengan nada penuh kekecewaan.
“Nana............Nana minta maaf ma”.
Ingin rasanya Nana berkata jujur, namun mama pasti lebih percaya pada Affan dari pada dengan dirinya.
“Anak mama kurang ganteng? Anak mama juga kurang pintar? Atau kurang apa lagi?”.
“Ma..........bukan itu”. Nana berusaha memeluk mama, namun mama menyingkirkan pelukan Nana.
“Nana tahu mama kecewa, Nana ingin berkata jujur namun Nana tidak tahu harus mulai dari mana?”.
Mama membuang muka, “Mama bahagia melihat kamu bersama Affan dan mama juga bahagia ketika pertama
kali kita bertemu. Mama berharap kamu adalah wanita yang dikirim tuhan untuk Affan, tapi mama salah”. Mama meneteskan air mata.
“Bang.........”. Nana melirik pada Affan dan berharap Affan menarik perkataannya dan berkata jujur tentang semua nya.
Affan bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur.
“Abang.........!”. Nana memanggil Affan sekali lagi dengan Nana kesal. Tetapi Affan tetap melangkah tanpa menghiraukan panggilan Nana.
“Ya Allah..............apa salah ku?”. Tanya Nana dalam hati.
Mama ikut bangkit dari duduknya dan berdiri membelakangi Nana yang masih duduk pada posisi awal.
“Kalau begitu, sebaiknya kamu pulang!”. Kata mama lalu menyusul langkah Affan.
“Ma............”. Nana mengulurkan tangannya dan ingin meraih tangan mama serta memeluknya.
Suara Nana lirih, dada nya mulai sesak menahan amarah dan benci pada Affan. Air mata nya mulai berjatuhan. Dia tidak mengerti kenapa Affan tega berbohong dan menyakiti perasaannya.
Nana menangis di pinggir kolam ikan, dia malu untuk masuk ke dalam rumah dan mengepack barang-barangnya. Keluarga Affan begitu baik dan seharusnya Nana membalas kebaikan mereka, namun rasa kecewa yang mereka dapatkan.
Nana tidak tahu harus menjelaskan apa, hanya Affan yang dapat menjelaskan kebenaran pada keluarga nya. Nana masih duduk termenung mencari solusi dan waktu agar bisa menjelaskan pada keluarga Affan.
“Neng.......”.
Nana terhentak, matanya menatap Affan yang sedang berdiri di sampingnya dengan penuh amarah. Nana pun berdiri dan menghapus air matanya.
“Kenapa abang berbohong?”.
“Aa minta maaf, aa gak bermaksud”.
Nana memukul dada Affan berkali-kali dengan kepal nya.
“Aku tahu, aku gak sempurna tapi abang tidak punya hak untuk merendahkaan aku dengan berbohong”.
“Apakah abang sadar bahwa kebohongan abang membawa keburukan bagi semua orang? Abang sudah melukai
hati aku, abang juga telah membuat mama berburuk sangka kepada ku dan abang juga melukai hati mama jika suatu saat nanti mama tahu yang sebenarnya”.
“Apa salah aku sama abang? Aku pikir, abang laki-laki baik yang akan menjadi imam ku kelak, namun
abang hanyalah seorang laki-laki pengecut yang tidak berani berkata jujur”.
“Abang menyakiti aku dua kali, pertama abang menyembunyikan cinta abang dibalik kata teman dan kedua abang berbohong”.
“Abang mendustakan perasaan abang sendiri dan juga perasaan ku”.
“Kenapa abang melakukan itu pada ku?”.
Nana tak sanggup lagi menahan sesak didadanya, dia menumpahkan semua amarah nya dengan isak tangisnya. Tubuh Nana lemas dan amarah Nana semakin memuncak.
“Aa tahu aa salah, aa hanya belum berani berkata bahwa kamu mandul karena kata-kata itu terlalu menyakitkan untuk gadis istimewa seperti kamu”. Kata Affan.
“Cukup bang!!”. Nana mengacungkan telunjuknya tepat di wajah Affan.
“Berhenti lah kamu berdusta”. Wajah Nana memerah, bibirnya bergetar dan kedua matanya terbuka lebar, menatap mata Affan penuh kebencian.
“Abang takut ketika mama tahu bahwa aku mandul lalu mama memaksa abang untuk menikahi aku dan abang akhirnya malu mempunyai isteri mandul seperti aku, iya bang?”.
“Jahhhhhhattttt kamu bang!”.
“Aa sayang sama kamu, tapi aa...............”.
“Cukup bang!”.
Sikap pengecut Affan melunturkan kedewasaannya. Affan yang Nana kenal sebagai laki-laki baik dan sangat dewasa kini berubah seketika dan kalah oleh rasa pengecutnya. Percakapan Affan dan Nana terdengar oleh teh Elis yang tidak sengaja melihat mereka dari jendela kamarnya.
“Ya Allah.........., benarkah gadis manis seperti Nana harus menerima kenyataan bahwa dia mandul?”. Tanya teh Elis dalam hati.
“Aku tidak bisa membayangkan seandainya vonisa itu terjadi pada diri ku sendiri”. Teh Elis masih bergumam dalam hati dan air mata teh Elis pun menjadi saksi kebohongan Affan.
“Lalu kenapa Affan tega berbohong pada mama?”
Teh Elis mencari mama dan ingin menenangkan hati nya, teh Elis ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi. Teh Elis melihat mama duduk di ruang tamu dengan wajah muram.
“Ma..........”. Teh Elis duduk disebelah mama.
“Apa tidak sebaiknya, kita mendengarkan alasan Nana? Dia pasti punya alasan kenapa dia belum bisa membuka hati nya untuk Affan. Rasanya tidak adil jika kita hanya mendengarkan penjelasan dari satu sisi”.
Mama menoleh pada teh Elis dan menghapus sisa air matanya, tetapi mama tidak berkata apa-apa. Teh Elis tahu bahwa tatapan mama memberi arti bahwa dia sependapat dengan teh Elis.
Nana menemui mama di ruang tamu berniat untuk pamit dan meminta maaf untuk yang terakhir kali nya. Nana berdiri satu meter dari mama, Nana ingin sekali duduk disamping mama dan menjelaskan semuanya namun Nana takut mama akan semakin marah.
“Ma......maafin Nana sudah membuat mama kecewa. Terimakasih banyak atas kebaikan keluarga ini. Nana
pamit pulang.........ma, teh, dan.............bang”. Nana menoleh pada Affan yang sedang berdiri beberapa meter di belakang Nana
Mama tidak menoleh pada Nana sama sekali, sepertinya hati mama masih sangat kecewa, jangankan untuk bicara atau mendengarkan penjelasan Nana, melihat Nana pun mama tidak mau lagi.
Teh Elis, mengelus punggung mama dan berharap mama menahan kepergian Nana namun mama masih saja
membuang muka. Bahkan, teh Elis menatap wajah Affan dan berharap Affan berkata jujur pada mama namun Affan diam seribu bahasa.
Nana berjalan perlahan menuju pintu, air mata Nana terus berjatuhan dan padangan Nana masih tertuju pada mama, wajah Nana pun hilang dibalik pintu dan wajah mama masih saja berpaling.