
Masa-masa pengantin baru adalah masa-masa indah bagi semua orang, termasuk Imam dan Nana. Kondisi kesehatan tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mencintai dan menghargai satu sama lain. Imam yang dulu terkenal cuek dan dingin, namun bagi Nana dia adalah suami yang sangat lembut, penyayang, sabar dan juga romantis. Kata-kata cinta selalu terucap dari Imam setiap kali Imam menatap istri nya, begitu juga dengan Nana. Bunga-bunga cinta berkembang sangat indah di hati mereka dan terpancar dari kedua mata mereka.
“Sayang..........sudah satu minggu loh kamu di dalam ruangan. Gak bosen gitu?”. Tanya Imam sambil menyuapi Nana sarapan pagi
“Ya bosen dong. Aku di rumah sakit, gak hanya pasca operasi aja. Dari semenjak aku sakit, aku sudah keluar masuk rumah sakit. Aku pingin segera pulang”. Jawab Nana dengan nada sedih dan wajah tertunduk.
“Hey............kok sedih”. Imam mengangkat dagu Nana
“Sabar.........., insyaAllah kamu segera pulang. Sekarang habiskan sarapan nya, lalu kita jalan-jalan ke taman
belakang. Mau?”. Bujuk Imam
Nana menganggukan kepalanya dan tersenyum
“Permisi. Kunjungan dokter”. Suara perawat
“Selamat pagi bu Nana. Apakabar?”. Tanya dokter
“Pagi dokter”. Jawab Nana
“Sedang sarapan ya? Alhamdulillah........sarapan nya habis. Bisa cepet pulang nih”. Kata dokter menghibur
“Di check dulu ya.................”.
Dokter mulai mengecheck keadaan Nana
“Semua nya sudah mulai stabil, makan yang banyak dan tetap semangat agar segera pulih dan pulang”. Kata dokter
“Iya dok, terimakasih”. Jawab Nana
“Dokter, apa boleh wanita cantik ini saya ajak jalan-jalan ke taman belakang?”. Tanya Imam
“Good! Justru itu bagus, sekalian belajar jalan agar jahitan nya cepat kering”. Jawab dokter
“Baik, dokter. Terimakasih”
“Kalau begitu, saya tinggal dulu. Selamat jalan-jalan”.
Dokter dan perawat keluar dari rungan pasien
“Sayang, mas bantu pakai kursi roda ya”. Kata Imam
“Gak usah. Aku jalan aja, kata dokter aku harus belajar jalan agar jahitan ku cepet kering”. Jawab Nana
“Tapi kamu masih sakit loh, dari kamar pakai kursi roda, nanti di taman kita belajar jalan”. Bujuk Imam
“Gak usah mas.............aku mau jalan aja. Aku harus segera sembuh agar bisa pulang”. Rengek Nana
“Tapi.................”.
“Ssstttt..............sayang.........believe me”. Kata Nana
“Ok, baik bidadari surga ku”. Sambil mengangkat kedua tangan nya
Nana berjalan perlahan menuju taman dipapah oleh Imam
“Pelan-pelan ya...........pegangan”. Kata Imam
“Iya mas...............aku bisa”.
“Awas sayang, hati-hati sayang..........”.
“O....uch.........!!!”.
Nana tergelincir dan hampir terjatuh, Imam merangkul Nana dari belakang dan Nana pun jatuh pada pelukan suami nya. Kedua bola mata saling bertemudan memancarkan cinta satu sama lain. Nana begitu terlihat bahagia saat berada di pelukan suami nya, begitu juga dengan Imam yang dengan sigap menjaga kekasih halal nya itu.
“Tuh kan..........mas bilang juga apa. Sini mas bantu”.
Imam mengangkat tubuh Nana yang semampai itu, Nana melingkarkan kedua tangan nya di leher suami nya dan Imam membawa Nana sampai ke taman.
“Sudah sampai........... kita duduk disini ya”.
Imam dan Nana duduk di kursi taman
“Kamu suka? Indah kan taman nya? Apalagi pagi-pagi begini, seger...........banget”. sambil memejamkan mata dan menarik nafas dalam
“Iya, aku suka. Bagus. Taman yang sangat indah dan menyejukan. Seperti kamu. Terimakasih ya mas”. Jawab Nana
Imam tersenyum mendengar ucapan istri nya.
“Iya sayang.........sama-sama. Mas sudah berjanji akan selalu menjaga dan merawat mu dengan baik. Mas sayang............banget sama kamu”. Kata Imam sambil membelai kepala Nana dan menatap mata Nana dengan cinta, serta menggenggam erat tangan tangan istri nya
“Aku juga sayang sama mas”.
Imam mencium kening istri nya dan memeluk Nana dengan penuh kehangatan dan Nana membalas pelukan itu.
“Terimakasih ya Allah......engkau telah mengirimkan laki-laki baik untuk ku”. Batin Nana
Keromantisan dan kebahagiaan Imam dan Nana membuat semua orang iri melihatnya. Mereka sungguh pasangan yang sangat bahagia, mencintai tanpa syarat. Kehadiran Imam membuat hidup Nana menjadi lebih sempurna. Allah selalu berbuat adil terhadap hamba Nya, memberikan apa yang kita butuhkan bukan harapkan. Imam adalah laki-laki yang dibutuhkan Nana untuk menyempurnakan hidupnya dan menutupi kekurangan nya. Setelah pencarian dan penantian panjang, dengan berbagai penolakan, kini Allah hadirkan Imam sebagai pendamping Nana.
Nana masih menyandarkan kepala nya pada bahu Imam dan Imam membelai pipi istri nya yang halus dengan kecupan mesra di kening nya.
“Sayang..............nanti jika kamu sudah pulang dari rumah sakit. Kita tinggal berdua ya. Mas ingin kita mandiri, selama ini mama dan papa sudah banyak membantu kita dan jujur mas malu”. Kata Imam
“Iya mas, Nana ikut kemanapun mas pergi”. Jawab Nana
“Terimakasih sayang”.
“Iya mas. Nana yang berterimakasih atas semua kebaikan mas, cinta dan kasih sayang. Nana bersyukur dipertemukan dengan mas”. Jawab Nana
“Iya sayang, sama-sama”. Sambil mengecup kening istri nya
Ditengah-tengah kemesraan mereka, Imam melihat laki-laki yang kemrain ia temui di depan ruang perawatan, laki-laki itu sedang berjalan pada koridor rumah sakit, dengan menggendong bayi di pelukan nya. Imam berusaha melambaikan tangan dan memanggil namun, Imam belum tahu siapa nama laki-laki itu.
"Hai.....pak........... Halo......!!!". Imam melambaikan tangan nya
Lambaian tangan Imam tak terbalaskan olehnya, laki-laki itu terus berjalan tanpa menoleh pada Imam.
“Sayang, mas tinggal sebentar ya. Ada teman mas, I’ll be back soon”. Kata Imam sambil mengedipkan sebelah mata nya, Nana mengangguk.
Imam berjalan menuju laki-laki itu, di lihatnya laki-laki itu sedang menggendong bayi laki-laki yang sangat mungil.
“Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam. Hai......bapak.........”. Laki-laki itu menjulurkan tangan nya
“Imam................”. Membalas tangan laki-laki itu.
“Lucu sekali. Putra bapak?”. Tanya Imam
“Iya, kebetulan. Setelah bayi ini lahir, dia masih lemah dan harus di rawat terlebih dahulu, sehingga baru hari ini dokter mengizinkan bayi saya pulang”.
“Ada salam dari istri saya, kebetulan hari ini istri saya sudah bisa jalan-jalan di taman”.
“Wah...........selamat ya pak. Semoga segera pulang”. Kata laki-laki itu
“Aamiin............ Terimakasih atas do’a nya”.
“Oh iya, perkenalkan nama saya Arjuna, panggil saya Juna”.
“Baik, pak Juna”.
“Seperti nya saya harus segera pulang, kasian kakak nya di rumah sudah tidak sabar ingin melihat adik nya. Andai istri saya masih ada, dia pasti sangat bahagia melihat bayi ini tumbuh dengan sehat”. Sedikit mengeluh
“Sabar pak, insyaAllah kesabaran bapak akan mendatangkan banyak keberkahan”. Balas Imam
“Aamiin. Sampai bertemu kembali pak Imam. Salam untuk istri bapak”. Juna pergi meninggalkan Imam
“Iya pak Juna. Hati-hati”.
Imam meneteskan air mata melihat bayi kecil yang ada di pelukan Juna, bayi itu begitu tampan, bersih, dan sangat meneduhkan hati.
“Kasian kamu nak, tidak sempat melihat ibu mu”. Gumam Imam dalam hati
“Andai..................”. Imam mulai masuk dalam lamunan
“Astaghfirullah...............”. Seketika Imam ingat akan kondisi Nana yang sudah di vonis mandul.
Imam segera berjalan menghampiri istri nya yang masih duduk di kursi taman.
“Sayang............masih mau di sini atau kembali ke kamar?”. Tanya Imam
“Ke kamar aja, aku mau istirahat”.
“Mas bantu ya.................”. Imam
Imam membantu istrinya berjalan perlahan menuju kamar perawatan, setiba di kamar Imam membaringkan istri nya berbaring dan Imam menyiapkan segelas susu untuk istri nya.
“Diminum sayang............istirahat ya...............”.
“Mas................ tadi siapa yang mas temui?”.
“Oh........laki-laki yang waktu itu mas ceritakan. Beliau menjemput bayi nya pulang. Kasian bayi itu, belum sempat melihat ibu nya”.
“Do’akan saja mas, semoga keluarga nya selalu mendapatkan rahmat”.
“Iya sayang. Yang jelas hari ini mas sangat bahagia karena hari mas bisa jalan-jalan bersama wanita istimewa dan rumah sakit ini menjadi saksi tentang kita”.
Nana tersenyum bahagia dan mereka tersenyum bersama.
Begitu mudah bagi Allah untuk membolak balikan hidup seseorang. Nana yang dahulu merasa tidak berarti karena banyak sekali penolakan yang ia hadapi, kini Allah menghadirkan Imam, laki-laki yang begitu sabar dan dapat menerima Nana apa ada nya. Sementara Juna, yang dahulu begitu bahagia bersama keluarga kecilnya, kini harus kehilangan istri nya dan merawat kedua anaknya sendirian.
Apakah suatu saat nanti Juna akan bertemu dengan Nana kembali? Akankah mereka Flashback?