MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 75. Akhirusanah Event



Tepat pukul 5 pagi, Lulu sudah mengingatkan Nana bahwa malam ini akan menghadiri acara akhirusanah di


pesantren nya. Sebenarnya ini bukan pertama kali nya Lulu mengingatkan bahkan satu minggu sebelumnya dan setiap hari dia selalu meningatkan Nana akan janji nya yang akan menemani Lulu menghadiri acara tersebut.


Awalnya Nana berpikir bahwa niat Lulu untuk memperkenalkan dia dengan ust Farid hanyalah guyon belaka, namun seperti nya dia serius. Mulai dari selalu bercerita tentang beliau, acara book fair minggu lalu dan sekarang acara akhirusanah. Entah apa yang membuat Lulu begitu bersemangat memperkenalkan Nana kepada ustadz nya itu, apa karena dia sudah terlalu sayang terhadap kedua nya atau kasian dengan kesendirian Nana.


Lulu berada di rumah Nana dari sebelum waktu sholat asar tiba, setelah kedua nya melaksanakan sholat asar berjama’ah di kamar Nana. Lulu mulai lebay dengan mencarikan pakaian yang paling bagus dan sesuai untuk Nana pakai malam ini, bahkan Lulu sudah mempersiapkan satu tas alat make up miliknya yang sesekali ia pakai pada acara tertentu.


Nana hanya bisa tersenyum dan pasrah dengan kelakuan Lulu, sejenak dia teringat masa lalu nya, yang dulu selalu


ingin tampil perfect di depan Juna, apalagi ketika akan kencan bersama nya. Beberapa jam sebelum Juna menjemput, Nana selalu sibuk dengan gaun dan make up yang akan melikis wajahnya menjadi lebih cantik dari biasa nya dan itu semua dia lakukan hanya demi sang Arjuna. Kali ini, sungguh berbeda, Nana seperti sudah tidak berselera bertemu atau mengenal laki-laki lebih jauh, apalagi harus sampai lebay mempersiapkan segala nya demi bertemu dengan seorang laki-laki. Bagi Nana laki-laki baik, sholeh yang dapat menerima dia apa ada nya itu sudah lebih dari cukup. Tidak harus tampan, kaya, ataupun pintar seperti Arjuna.


Nana melihat kesibukan Lulu memeilihkan gamis-gamis yang cocok untuk nya, sudah sepuluh gamis ia keluarkan


dari lemari Nana namun menurutnya kurang cocok untuk di pakai.


“Apakah Kakak tidak mempunyai gamis yang lebih up to date? Yang kekinian?”. Tanya Lulu dengan ekspresi terlihat


lelah dengan semua gamis-gamis Nana.


Nana mengerutkan dahi nya seraya berpikir “Gamis kekinian yang dimaksud Lulu apa ya? Aku seperti orang tidak tau fashion, padahal dulu aku selalu mengikuti trend pakaian masa kini, tapi.......yasudah lah, aku menunggu arahan dia aja”. Gumam Nana dalam hati.


“Ah, itu seperti nya bagus!”. Lulu meraih gaun berwarna hitam dengan ikat pinggang berwarna gold yang ada di


lemari Nana.


Nana tekejut dan sedikit melotot melihat Lulu mengeluarkan gaun itu, gaun itu gaun yang Nana pakai pada saat


menghadiri farewell party di rumah prof. Alex dan gaun itu juga mengingatkan Nana akan ciuman pertama nya yang secara tidak sengaja yang diberikan oleh Juna di mobil malam itu.


“TIDAK! Aku tidak suka dengan gaun itu. Gaun itu aku pakai terkahir kali saat aku belum seperti sekarang ini. Jika


kamu mau, ambil saja atau berikan pada orang lain”. Spontan Nana berteriak pada Lulu.


"OK. Baik, maafkan aku”. Respon Lulu dengan spontan karena kaget dengan perkataan Nana.


“Biarkan aku menjadi diriku yang sekarang, dengan gamis dan jilbab lebar ku. Aku ingin terlihat apa ada nya dan


aku juga ingin kamu mengerti”. Suara Nana terdengar sangat tegas pada Lulu.


“Maaf”. Lulu merapihkan semua pakaian dan mengembalikan kembali pada lemari.


“Jemput aku sehabis sholat maghrib”. Kata Nana dengan wajah tertunduk.


“Baik kak. Kalau begitu, Lulu pamit.


Sekali lagi Lulu minta maaf. Assalamu’alaikum”. Lulu melangkah keluar dari kamar Nana.


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh”. Air mata Nana terjatuh.


“Astaghfirullah................., kenapa bayang-bayang itu masih ada? Aku gak mau mengingat masa lalu ku, apalagi


kejadian malam itu. Aku malu..............”. Tangis Nana pecah karena teringat akan masa lalu nya.


Waktu maghrib pun tiba, Nana bergegas mengambil wudhu untuk bersiap-siap melaksanakan sholat maghrib di


kamar nya. Selesai sholat maghrib, Nana membaca beberapa lembar Al-Qur’an sambil menunggu Lulu menjemputnya. Tidak ada persiapan gaun atau make up yang akan melukis wajah Nana malam itu. dia tampil apa ada nya dengan gamis dan jilbab lebar yang biasa dia gunakan.


“Assalamu’alaikum........mama................kak Nana”. Suara Lulu terdengar dari depan pintu.


“Wa’alaikum salam...........”. Nana membuka pintu


 “Siap?”. Tanya Lulu


“Mama mana kak?”. Sambil tengak tengok mencari mama


“Mama ikut papa sholat di masjid, mungkin sampai isya. Kakak sudah izin ko”. Nana mengunci pintu lalu berjalan


bersama Lulu ke depan gang menuju mobil Lulu yang terparkir di depan gang.


Sepanjang perjalanan, Lulu dan Nana tidak saling bicara. Nana sibuk dengan buku yang ada di tangan nya dan Lulu fokus menyetir. Sampai akhirnya mereka pun tiba di depan gerbang pesantren tempat Lulu dulu menimba ilmu.


“Welcome to pesantren modern........... ini pesantren ku kak”. Suara Lulu pecah dan sangat bersemangat.


Nana dan Lulu keluar dari mobil, Nana menatap setiap sudut yang ada di halaman pesantren tersebut. Bagunan megah lima lantai dengan exterior yang sangat memukai, halaman luas dengan segala fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar santri, Nana menatap bangunan itu dengan takjub.


“Keluarga Lulu memang terkenal kaya di kampung nya, kakak nya aja ada yang di luar negeri. Pantas saja jika Lulu pernah menimba ilmu di pesantren semewah ini”. Gumam Nana.


Lulu dan Nana memasuki area acara akhirusanah yang digelar di lapangan pesantren yang lokasi nya masih berada di dalam pesantren. Acara nya sangat ramai dan dipadati oleh santri, wali santri dan alumni sehingga Nana dan Lulu menempati kursi bagian belakang. Seperti biasa Lulu terfokus pada ustadz Farid, dari awal  dia datang, mata Lulu hanya nanar mencari keberadaan beliau.


“Kak, aku permisi ke belakang sebentar ya......ada teman seangkatan ku”. Kata Lulu


“Iya, silahkan. Hati-hati ya..........”. Jawab Nana dengan senyum dan kembali menikmati acara.


Lulu berusaha mencari ustadz Farid, dia bertanya kepada beberapa santri yang iya temui namun tidak ada santri yang melihat keberadaan ustadz Farid.


“Hal anti tanzuriina ustadz Farid (Maaf, apakah kamu melihat ust Farid)?”. Tanya Lulu kepada salah satu santri.


“Afwan, ana laa anzuruhu (Maaf, saya tidakmelihat nya)”.


“Toyyib, syukron (Oh, terimakasih)”.


Ketika Lulu sedang sibuk mencari ustadz Farid, suara ustadz Farid terdengar pada pengeras suara. Beliau


menjadi pemandu pada saat santri menunjukan keahlian mereka masing-masing pada ekstrakurikuler yang ada di pesantren tersebut.


Lulu tersenyum lebar dan segera kembali ke kursi nya dan ingin memberitahu Nana bahwa itu suara ustadz Farid, namun lapangan sudah padat oleh pengunjung yang berdatangan dan sulit bagi Lulu untuk masuk dalam barisan. Nana dengan santai menikmati acara demi acara hingga sampai di penghujung acara.


“Astaghfirullah...........Lulu kemana ya? Acara sudah selesai tetapi dia gak ada?”. Nana mulai panik dan mencari Lulu dalam keramaian.


Nana mencari nomer Lulu dalam kontaknya dan menelepon Lulu.


“Asslamu’alaikum Lulu. Kamu dimana?”. Tanya Nana khawatir


“Lulu di masjid kak, habis sholat isya”. Jawab Lulu


“Apa perlu kakak ke sana?”. Tanya Nana kembali


“Gak usah kak, aku langsung ke parkiran aja. Kakak tunggu di parkiran ya........”.


“Baik. Hati-hati ya.............. Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh”. Lulu segera bergegas menuju mobil.


Langkah Lulu terhenti ketika melihat ustadz Farid dan beberapa ustadz lain nya berjalan menuju masjid.


“Ust..................”. Belum selesai Lulu memanggil ustadz Farid, Lulu mengurungkan niatnya.


“Gak mungkin aku memaksa ustadz Farid untuk menemui kak Nana di parkiran atau meminta kak Nana


untuk ke masjid. Hhhmmmm...sebaiknya aku segera ke mobil, kasian kak Nana lama menunggu”. Gumam Lulu.


Lulu mempercepat langkahnya menuju mobil.