MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 84. Sebuah Penolakan



Perlu waktu lama bagi Ihsan untuk meyakinkan keluarga nya agar mereka dapat menerima Nana, terutama hati paman nya. Paman bagi Ihsan adalah seorang Ayah karena semenjak Ayah nya meninggal, paman lah yang membantu membesarkan dan merawat Ihsan dan kakak-kakak nya, terutama biaya pendidikan nya. Menentang hati paman berarti menentang hati Ayah nya juga, begitupun dengan mamah.


Setelah pertemuan Ihsan dengan Nana di danau sore itu, Ihsan tak lagi mengirim kabar pada Nana. Handphone Nana yang biasanya ramai dengan pesan dari Ihsan, bahkan tiap jam Ihsan mengirim pesan pada Nana hanya untuk menanyakan kabar nya saja atau untuk mengetahui kegiatan Nana, kini HP nya kembali sepi diam seribu bahasa.


Hati Nana kembali cemas dengan sikap Ihsan,


“Apakah ini pertanda bahwa keluarga Ihsan menolak ku?”. Gumam Nana


“Ya Allah..........mudahkan lah”. Pinta nya diiringi oleh tetes air bening dari kedua mata nya.


Minggu berganti bulan dan selama itu juga Ihsan tanpa menghubungi Nana, perkataan dan janji Ihsan sore itu belum tuntas. Kata-kata nya masih meninggalkan sebuah harapan yang sampai saat ini Nana nantikan. Nana berusaha membuka pintu ikhlas pada hati nya, membiarkan takdir membawa dirinya pada  kebahagiaan namun keinginan nya untuk menikah sudah lama ia dambakan.


Nana duduk di teras belakang, pandangan nya kosong, menatap pada takdir nya sebagai seorang MRKH, perlahan


embun bening mulai berjatuhan hingga berubah menjadi aliran air mata yang begitu deras dari kedua mata nya.


“Ya Allah.............buka kanlah pintu ikhlas pada hati ini. Fokuskan hamba pada akhirat mu ya Rob”.


Segukkan suara Nana terdengar hingga ke ruang tengah dan membuat mamah Nana menghampiri nya lalu


memeluk putri semata wayang nya itu dengan erat.


“Istighfar sayang.............., ikhlas kan semua yang menjadi beban pikiran mu. Ada Allah yang selalu menjaga hati, jiwa dan raga ini. Istighfar..........”.


Mamah terus membantu Nana menenangkan hati nya, beberapa menit setelah Nana terlihat tenang. Mama mulai bicara


“Tentang Ihsan? Dia menolak mu? Atau  keluarga nya?”. Tanya mamah


Nana menggelengkan kepala nya,


“Lalu apa yang membuat kamu seperti ini? Mamah takut kamu kembali seperti dulu ketika kamu berpisah dengan Juna”.


“InsyaAllah, gak mah”. Jawab Nana lirih, mata nya masih memerah dan suara nya masih tersendat-sendat.


“Sudah dua bulan Ihsan meminta izin pada Nana untuk membicarakan semua tentang Nana dan meminta izin untuk melamar Nana. Namu, sampai saat ini tidak ada kabar dari Ihsan”. Jawab Nana


“Lantas, kenapa kamu begitu sedih?”.


“Nana berpikir bahwa ini penolakan yang kesekian kali nya untuk Nana setelah mereka tahu kekurangan Nana”.


“Ya Allah..... tidak baik berpikir seperti itu Na, semua penolakan mereka bukan karena kekurangan mu, akan tetapi mereka bukan pilihan Allah untuk mu. Bersabar dan terus berdoa serta memperbaiki diri. Allah sedang mempersiapkan laki-laki yang pantas untuk menjadi pendamping mu Na”. Mamah terus memeluk Nana dan mencium keningnya.


Selesai sholat ashar, Nana masih berdiam diri dalam dzikir nya, memohon ampun atas segala dosa


yang pernah ia lakukan di masa lalu. Peristiwa demi peristiwa yang ia alami, membuatnya introspeksi diri. Menyesal bukan jalan terbaik, yang harus dilakukan adalah terus dan terus memperbaiki diri.


 Nana membaringkan badan nya di atas sajadah, masih rapi dengan mukena yang ia gunakan.


“Kring.........kring..............”. Suara Hp Nana berdering


Nana segera bangun dan mencari HP yang ia sedikit lupa dimana ia meletakkan HP nya. Nana mengambil


HP nya di bawah tumpukan buku yang berserakan di atas kasur, buku yang selalu menemani hari-hari nya di sela kesibukan nya setiap hari.


Nana melihat nama Ihsan yang ada di layar HP nya,


“Mas Ihsan? Mungkin kah ada kabar baik yang ingin dia sampaikan?”. Tanya Nana dalam hati


“Bismillah........”. Nana mengangkat telepon dari Ihsan


“Assalamu’alaikum mas”.


“Wa’alaikum salam warrohmatullah. Apakabar Na?”. Sapa Ihsan


“Alhamdulillah Nana baik mas. Gimana kabar mas dan keluarga?”. Tanya Nana pada Ihsan


“Alhamdulillah kami semua baik. Ada salam dari mamah dan yang lain nya”.


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokaatuh”.


Nana terdiam, begitu juga dengan Ihsan. Seperti ada yang ingin disampaikan oleh Ihsan, namun berat untuk memulai.


“Halo, mas?”. Sapa Nana memastikan bahwa Ihsan masih terhubung dengan nya.


“Astaghfirullah..........maaf. Hmmm.............. apakah sore ini kamu ada di rumah?”.


“InsyaAllah. Kenapa mas?”.


“Aku ingin bertemu kamu dan kedua orang tua mu ba’da maghrib”.


Nana terkejut mendengar perkataan Ihsan, matanya berbinar dan berkaca-kaca.


“Apakah mas Ihsan akan melamar ku malam ini?”. Tanya nya dalam hati


“Halo, Na?”.


“Oh, iya mas. InsyaAllah Nana dan keluarga ada di rumah dan kami siap menunggu kedatagan mas”. Jawab Nana tanpa ragu


“Alhamdulillah.............terimakasih. Kalau begitu, sampai bertemu ba’da maghrib. Salam untuk mamah papah.


“Wa’alaikum salam”. Nana tersenyum mendengar perkataan Ihsan.


Nana berlari keluar dari kamarnya mencari mamah di halaman belakang.


“Ma.........mamah............”. Nana segera memeluk mamah bahagia.


“Mas Ihsan mau silaturahmi ba’da maghrib, ingin bertemu mamah dan papah”. Nana terlihat begitu bahagia sambil terus memeluk mamah.


“Alhamdulillah.............semoga kedatangan nya membawa keberkahan dan kebaikan untuk kalian dan masa depan


kalian. Untuk kita semua”. Kata mamah


“Aamiin..............terimakasih mamah”.


Dua bulan Nana menantikan kabar dari Ihsan dan akhirnya kabar yang ia nantikan datang. Setelah mereka menjalankan sholat maghrib Nana dan keluarga nya bersiap menunggu kedatangan Ihsan dan keluarga nya. Nana merias wajahnya dengan cantik dan anggun, begitu juga orang tua Nana yang sudah menyiapkan jamuan istimewa untuk keluarga Ihsan.


Tepat pukul 19.00, Ihsan pun datang, namun ada yang berbeda dan terlihat aneh dimata Nana dan keluarga nya. Ihsan datang tidak bersama keluarga nya, akan tetapi dia datang sendirian dan tanpa membawa apa-apa layaknya seorang laki-laki yang ingin melamar seorang perempuan.


“Assalamu’alaikum”. Ihsan mengetuk pintu Nana


“Wa’alaikum salam”. Jawab keluarga Nana dan mamah membuka pintu


Mamah melihat Ihsan berdiri sendiri di depan pintu, mata mamah nanar dan menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.


“Kamu sendirian nak Ihsan?”. Tanya mamah


“Iya bu”. Jawab Ihsan singkat


“Keluar..................”.


“Mah..... tamu nya di ajak masuk, jangan ditanya-tanya sambil berdiri begitu”. Papah Nana memanggil mamah


“Oh maaf. Mari masuk nak Ihsan”.


Mamah dan Ihsan masuk ke ruang tamu, Nana dan papah pun sudah menunggu kedatangan nya.


“Assalamu’alaikum Pak, Na”.


“Wa’alaikum salam mas”. Jawab Nana


“Wa’alaikum salam. Silahkan duduk nak Ihsan”. Kata papah


Nana mempersiapkan teh hangat buat Ihsan.


“Apa kabar nak Ihsan?”. Tanya papah


“Alhamdulillah baik pak”. Jawab Ihsan gugup


“Hmmm.........mohon maaf sebelum nya, jika kedatangan saya mendadak. Saya datang kesini untuk


meminta maaf sekaligus menyampaikan maaf dari keluarga saya untuk Nana, ibu dan juga bapak”.


“Mohon maaf nak Ihsan, minta maaf untuk apa ya?”. Tegas papah


“Begini pak, saya sangat mencintai putri bapak dan ibu sejak saya mengenalnya di kampus dulu dan pada akhirnya tuhan mempertemukan kami kembali. Saya berniat untuk melamar dan menikahi Nana”.


“Alhamdulillah..................”. Mama dan papah tersenyum bahagia begitu juga dengan Nana.


“Akan tetapi...................”. Ihsan terdiam


Mama dan papah saling menatap, sementara Nana tertunduk dengan hati cemas menunggu kelanjutan ucapan Ihsan.


“Akan tetapi ................. keluarga saya belum bisa menerima Nana”. Wajah Ihsan memerah karena malu


Air mata Nana menetes hingga jatuh kepangkuan nya, mamah dan papah hanya bisa diam dan terpukul dengan penolakan keluarga Ihsan.


“Kami bisa mengerti nak Ihsan. Mungkin ini yang terbaik dan kami ikhlas. Semoga nak Ihsan mendapatkan wanita sholehah dan sempurna”.


“Pah............”. Mamah tidak dapat menahan air mata nya.


“Ayo mah, biarkan Nana dan Ihsan menyelesaikan urusan mereka”. Papah mengajak Mamah ke kamar, meninggalkan Ihsan dan Nana di ruang tamu.


“Maafkan mas Na. Mas punya salah sama kamu”.


“Gak apa-apa mas. Nana paham, pernikahan itu bukan soal kita tetapi kedua keluarga kita. Nana ikhlas,


terimakasih sudah mencintai Nana”.


“Kalau begitu, mas pamit pulang. Sekali lagi mohon maaf”.


“Iya mas”.


Hati Nana kembali harus ihklas dan sabar menerima penolakan yang sudah sering ia rasakan.


“Ya Allah.....berikan lah hamba laki-laki sholeh dan ihklas menerima hamba apa ada nya”. Pinta Nana dalam hati