MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 104. Orang ke tiga



Semakin lama sikap Juna semakin menunjukan perhatian nya pada Nana dan membuat Imam semakin termakan cemburu. Nana sudah melupakan masa lalu nya, bagi Nana, Juna yang sekarang hanya sebatas rekan kerja bahkan atasan nya. Namun, padatnya jadwal seminar dan penelitian antara Nana dan Juna membuat Imam merasa bahwa Juna sudah menjadi orang ke tiga dalam pernikahan mereka.


“Sudah siap Na? Yuk kita berangkat, nanti kamu kesiangan”. Sambil menggendong ransel Nana dan menuju ke motor yang terparkir di depan kontrakan.


Setelah tiga bulan menggantikan Vita di kampus, Nana menyisihkan uangnya untuk membeli motor second agar mempermudah mobiltasnya.


“Gak usah mas, hari ini aku gak masuk kampus, mau ada meeting di luar jadi untuk hari ini aku di jemput oleh Juna”.


Imam mendongakkan kepalanya seakan protes namun dia masih terlihat tenang.


“Tapi disana kami gak berdua kok, ada teman-teman satu tim, kebetulan kami berempat. Kebetulan juga Juna lewat sini jadi biar lebih efisien jadi aku ikut dia aja”.


“Oh iya, satu lagi mas, minggu depan aku ada project bersama Juna, so............aku minta maaf jika aku dan dia sering diskusi bareng”. Sambil mengenakan ranselnya.


“Tok...............tok..............tok................Assalamu’alaikum”.


Imam dan Nana menoleh kearah pintu


“Wa’alaikum salam”. Jawab Nana


“Sudah siap?”. Tanya Juna yang berdiri di depan pintu


“Iya”.


“Mas aku berangkat dulu ya........do’akan agar projek kami berjalan dengan lancar”. Nana meraih tangan Imam dan mencium tangan itu serta pipi suami nya.


Imam berdiri dan mengantar Nana sampai depan kontrakan


“Titip Nana, saya sayang sama dia”. Bisik Imam pada Juna


“Ya..........pasti”.


Juna membukakan pintu mobil untuk Nana dan Nana masuk ke dalam nya


“Sukses sayang............. hati-hati”.


“Terimakasih mas”.


Nana melambaikan tangan nya lalu menutup kaca mobil dan mobil melaju.


“Ya Allah............ada apa dengan ku? Harusnya aku tidak cemburu melihat Nana dan Juna pergi bersama, mereka tim work. Lagi pula menjadi dosen adalah cita-cita Nana sejak dulu dan dia terlihat menikmati pekerjaan nya”.


Dalam perjalanan menuju tempat meeting, Nana hanya terdiam sambil membaca-baca bahan yang akan menjadi


projeknya, sementara Juna asik menyetir mobil dan sesekali melirik pada Nana yang berada di samping kiri nya.


“Dari awal masuk mobil baca terus, apa gak pusing?”.


“Ya..........terus mau ngapain? Dari pada ngobrol dan gak ada bahan untuk di obrolin juga, lebih baik aku baca”. Jawab Nana ketus.


“Kayak baru pertama punya projek aja! Kamu inget projek yang pernah kita garap dulu? Sukses besar, pasti nya


projek ini pun akan lebih sukses lagi. Kita itu partner yang cocok, projek yang kita garap sudah pasti akan diterima masuk jurnal internasional”. Dengan gaya pede nya


“Ya ampun............Juna kamu masih gak berubah, pede dan sombongnya itu”. Nana menggelengkan kepalanya.


“Siapa yang sombong..............fakta kan?”. Senyum sombong terlihat dari bibirnya.


“Terserah”. Nana kembali fokus pada buku yang ia pegang


“Secinta apa sih kamu sama suami mu?”.


Pertanyaan Juna membuat Nana melotot dan menutup buku nya.


“Jawab dong?”.


“Gak penting!”.


“Yakin?”.


“Kamu ini kenapa sih? Juna jika suami ku tidak mengizinkan aku mengikuti projek ini, aku juga gak akan mau jadi


tim kamu”.


“Oh......... aku tahu, semakin kamumarah, wajah kamu semakin merah dan semakin terlihat bahwa kamu dan


aku...............”.


“Bisa diem gak?”.


“Iya kan? Dugaan aku benar. Sudah lah Na........aku tahu kamu masih suka sama aku kan? Kamu masih deg-degan dekat dengan ku dan kamu masih nervous sama aku. Aku tahu kok”.


“Juna kita sudah berakhir dan please..........belajar untuk profesional”.


“Ok. Aku profesional”.


Setelah perjalanan satu jam, mereka pun sampai di tempat meeting. Disana sudah ada Vita yang sudah kembali ke


kampus setelah cuti selama tiga bulan dan Prof. Alex. Nana dan Juna turun dari mobil dan berjalan beriringan bersama menuju Vita dan Prof. Alex.


“Professor? Apa kabar?”. Nana mencium tangan Prof. Alex sebagai penghormatan


“Kok kamu gak bilang jika ada prof?”. Bisik Nana pada Juna


“Kamu juga gak tanya”.


“Hai Vita? Kok gak bilang jika kamu sudah aktif?”. Nana memeluk Vita


“Lusa aku baru kembali ke kampus”.


“Berarti tugas aku selesai ya.............”.


“Tanya sama pak kajur kita”. Mata Vita melirik pada Juna yang masih berdiri di samping Nana


“Tugas mengajar Nana selesai namun urusan projek tetap berjalan”.


“Silahkan duduk pak Juna”. Kata Vita


“Terimakasih bu Vita”.


Mereka duduk bersama membicarakan projek ke dua Juna dan Nana yang akan berkolaborasi dengan Vita dan prof Alex yang menjadi penasehat nya.


“Prof. Alex bercerita banyak tentang reputasi kalian pada projek sebelumnya dan aku sangat tertarik untuk ikut


berkolaborasi dengan kalian”. Tegas Vita


“Pak Prof terlalu berlebihan. Pak Juna yang hebat bukan aku”.


“Tapi semua ide nya dari bu Nana kok, bukan saya”. Bantah Juna


Vita tersenyum melihat Juna dan Nana kembali berdebat.


“Kalau di lihat-lihat kalian dekat dan seperti nya cocok. Saya gak kebayang dulu waktu kalian satu kampus, mungkin hari-hari kalian begitu mengasyikan dengan berbagai perdebatan”.


Juna dan Nana diam dan saling memandang, beberapa menit kemudian Nana tertunduk malu.


“Hmm......, maaf tidak bermaksud...............”.


“Gak apa-apa. Let’s talk our project”. Nana mulai membuka laptop dan menunjukan kerangka berpikir nya.


Nana dan Juna memang sangat klop jika mereka bekerja bersama, pemikiran dan sudut pandang yang sama membuat mereka terlihat sempurna, walaupun diselingi oleh perdebatan kecil sebagai bumbu kebersamaan mereka.


Nana pun sudah tidak lagi merasa canggung bahkan dia lupa kalau mereka punya kenangan indah dimasa lalu, semakin hari Nana terlihat semakin asik belajar bersama Juna dan membuat Juna merasa nyaman kembali berada didekat Nana.


“Saya senang melihat kalian berkolaborasi lagi, ini juga yang menjadi alasan saya untuk ikut menjadi penasehat dalam projek ini”. Kata Prof. Alex


“Terimakasih pak”. Jawab Nana


Setelah seharian meeting, mereka pun bergegas untuk pulang. Vita pulang bersama prof. Alex dan Nana bersama Juna.


“Kalian masih terlihat mesra loh”. Bisik Vita


Nana mengerutkan dahi nya dan tersenyum kecil


“Sudah siap pulang?”. Tanya Juna yang tiba-tiba berdiri disamping Nana


“Echem......... sampai ketemu dikampus besok lusa. Sukses buat projek kita!”.


“Ok. See you. Ayo pulang, suami mu sudah menanti”. Kata Juna


“Aku pulang ya Vit, mari Prof”.


Nana dan Juna masuk dalam mobil begitu juga dengan Vita dan prof. Alex. Nana mengeluarkan handphone nya dan banyak panggilan masuk dari suami nya sejak sore tadi.


“Ya Allah......mas telepon dan hp aku silent”. Gumam Nana


Nana segera mencari nomer suaminya dan menelepon balik.


“Halo mas......aku sudah di jalan pulang. Seharian hp aku silent karena gak enak sama yang lain, apalagi ada prof. Alex. Maafin aku ya”.


“Iya gak apa-apa. Kamu pulang sama Juna?”.


“Hmmmmm................”. Nana menoleh pada Juna


“Iya mas”.


“Yaudah, hati-hati. Salam buat Juna”.


“Iya mas”.


Imam menutup telepon nya................


“Suami mu telepon? Romatis banget...... sampe diteleponin segala. Bilang masih meeting bersama mantan”. Ledek


Juna


“Kamu kenapa sih? Gak jelas banget”. Nana mulai bete


“ Kamu yang gak jelas, sok romatis di depan aku. Mau bikin aku cemburu?”.


“Juna stop. Berhenti berdebat karena aku cape dan mau istirahat”. Nana menyandarkan kepala nya di kursi mobil lalu memejamkan mata nya