
Hari ini adalah hari spesial bagi Juna, karena hari ini Juna akan diwisuda bersama dengan ratusan mahasiswa dari berbagai program study dan berbagai tingkatan. Mulai dari diploma sampai dengan doktor.
Dengan gagah Juna mengenakan kemeja putih lengan panjang dan berdasi, serta celana panjang hitam dan bersepatu hitam, lengkap dengan toga. Juna berangkat pagi-pagi sekali karena jam enam pagi semua calon wisudawan dan wisudawati wajib mengikuti upacara pembukaan sebelum mereka memasuki aula gedung tempat prosesi wisuda hari ini.
Setibanya di depan gedung tempat prosesi wisuda, semua calon wisudawan berbaris sesuai dengan prorgam study masing-masing dan berurutan berdasarkan nilai IPK, mulai dari IPK tertinggi berbaris dibarisan paling depan sampai dengan IPK terendah yang berada dibarisan paling belakang.
Juna memposisikan dirinya pada barisan paling depan sesuai dengan program studynya, sebelum calon wisudawan masuk ke aula, mereka mengikuti upacara pembukaan lalu disambut dengan beberapa tarian dan marching band serta bunyi terompet kebahagiaan.
Setelah menyaksikan acara tersebut, calon wisudawan memasuki aula gedung, sesuai dengan barisannya. Mereka berjalan diatas karpet merah yang terhampar panjang didepan gedung dengan ribuan mata yang tertuju pada mereka serta ratusan kamera yang siap untuk mendokumentasikan moment paling mengesankan serta mengharukan tersebut.
Bunga-bunga serta icon wisuda siap menyambut mereka, semua orang bersuka cita, mengenakan pakaian dan hiasan terbaik mereka untuk menyaksikan wisuda keluarganya. Suasana kampus menjadi sangat ramai dan indah dengan bunga-bunga disekeliling nya.
Mata Juna nanar, mencari gadis cantiknya yang sedari tadi tidak kelihatan. Langkah demi langkah kaki Juna
menapaki karpet merah itu tanpa teriakan suara gadis cantiknya. Sampai akhirnya, langkah Juna sampai didepan pintu gedung dan segera memasuki aula wisuda.
Suasana yang sangat ramai dengan penjagaan yang super ketat membuat Nana sulit untuk memasuki kerumunan orang, sehingga dia tidak sempat melihat Juna masuk ke aula. Nana hanya bisa menunggu di luar gedung, karena undangan wisuda hanya untuk dua orang saja, yaitu ibu dan bapak Juna.
Beberapa detik saja, Juna sudah berada didalam gedung. Ribuan orang yang berada didalam gedung serentak berdiri menyambut para calon wisudawan dan wisudawati.
Calon wisudawan menepati kursi yang sudah disediakan dan berdasarkan nomer dada masing-masing,
tentunya nomer dada telah disesuaikan oleh urutan IPK mulai dari IPK tertinggi hingga terendah. Kursi barisan paling depan, disediakan untuk calon wisudawan lulusan terbaik, dan Juna ada di kursi barisan paling depan.
Ibu dan bapak Juna yang sudah berada didalam aula tiga puluh menit sebelum calon wisudawan masuk, tersenyum bahagia melihat anak bungsunya menduduki kursi kehormatan itu. Rasa bangga, bahagia, dan haru terlihat jelas pada wajah orangtua Juna. Mereka teringat bahwa Juna yang dulu masih mereka timang, sekarang tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan cerdas.
Proses wisuda berjalan dengan khidmat dan haru. Semua lulusan terbaik, di sebutkan namanya satu persatu bahkan wajah mereka terpampang didepan kampus sehingga semua orang melihatnya.
Juna memang sangat beruntung, kesuksesan dia sudah terlihat sejak dia masik duduk di bangku kuliah. Ibunya menginginkan dia lanjut S2 dan ternyata Juna adalah salah satu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa S2 karena prestasinya. Sungguh kebahagiaan itu membuat ibu Juna menangis tanpa henti karena bangga.
Setelah acara wisuda selesai, semua peserta wisuda dipersilahkan menaiki panggung satu persatu sesuai dengan protokol wisuda, untuk mengikuti proses pemindahan tali toga yang awalnya berada di sebelah kiri menjadi kesebalah kanan yang dilakukan oleh rektor.
Selama empat jam Juna mengikuti prosesi wisuda dengan baik, setelah acara selesai. Semua peserta
wisuda disambut oleh keluarga masing-masing yang sudah empat jam menunggu di depan gedung. Semua peserta berkumpul bersama keluarga untuk melakukan foto keluarga di studio yang sudah berjejer di lingkungan kampus.
una melihat, ada kak Yudha beserta istrinya dan juga Nana yang mengenakan kebaya maroon sesuai
dengan permintaan Juna kemarin. Nana berpenampilan sangat berbeda, dia menghias wajahnya dibantu oleh jasa tata rias, sehingga membuat dirinya makin cantik dari biasanya.
Nana tersenyum melihat Juna keluar dari aula yang digandeng oleh ibu bapaknya. Tanpa basa
basi, Juna langsung berlari menghampiri Nana yang sudah menunggu dia sejak empat jam yang lalu.
“Wow...........”.
“Wanita tercantik yang pernah ada dalam hidup ku, sungguh kamu adalah Ardiana, gadis cantik ku”. Juna
tersenyum dan menatap tajam kekasihnya itu.
“Se.....”. Nana membuka bibir tipisnya itu untuk mengucapkan selamat pada Juna, namun Juna
menghentikan ucapan Nana.
“Biarkan bibir itu tetap tersenyum manis hari ini”.
“Aku kangen dengan senyum manis dan tatapan mata indah mu”. Kata Juna.
Hati Nana masih dalam keadaan sedih, namun dia berusaha tersenyum lebar agar tidak merusak suasana yang paling membahagiakan bagi Juna.
“Aku punya sesuatu”.
Juna memberikan sebuah amplop berwarna putih yang berisikan surat rekomendasi beasiswa S2 dari
kampus. Juna mengeluarkan amplopitu dari sakunya,
“Tara............, see”. Kata Juna sambil menunjukan amplop itu dihadapan Nana.
Nana mengambil lalu membuka dan membaca isi amplop itu.
“Setelah ini akan aku urus beasiswa ini dan aku akan lanjut S2”. Juna berkata dengan penuh bahagia.
Nana melihat sesuatu yang berbeda dalam diri Juna, Juna yang awalnya menolak S2 karena ingin segera
menikahi Nana, kali ini dia begitu semangat untuk menerima beasiswa itu dan lanjut S2.
“Kak.... apakah kakak bahagia?”. Tanya Nana
“Pasti dong”. Jawab Juna singkat.
Nana menganggukan kepalanya, “Sekali lagi selamat ya kak.... selesaikan S2 mu segera mungkin. Aku
akan selalu menunggu kakak”.
Mendengar perkataan Nana, Juna sadar bahwa Nana tidak mau ditinggalkan.
“Hai...., geulis. Kamu takut, aku tidak kembali atau melupakan mu?”. Tanya Juna.
“Percaya pada ku, aku akan segera kembali dan menepati janji ku. Kita akan menikah, pasti”. Juna selalu meyakinkan Nana akan cintanya.
Juna membawa Nana kehadapan ibunya, “Ma.........., aku tepati janji ku untuk S2, dan aku minta mama menepati janji mama untuk menikahkan kami setelah Juna lulus”. Kata Juna pada ibunya.
Ibu Juna diam...........
“Bisa mama bicara dengan Nana sebentar?”. Pinta Mama
Nana mengikuti langkah kaki ibu Juna dan duduk kursi taman kampus.
“Kamu lihatkan, Juna sangat bahagia mendapatkan beasiswa, itu artinya kebahagiaan Juna ada pada
prestasinya dan bukan ada pada kamu”. Kata ibu Juna penuh kebencian.
“Jadi, saya minta. Lupakan anak saya, agar dia fokus dengan S2nya dan jangn pernah bermimpi untuk menjadi istri dari anak saya karena Juna sudah saya jodohkan dengan perempuan lain, perempuan yang sempurna dan bisa menjadi ibu dari cucu- cucu saya nanti!”.
Ibu Juna pergi meninggalkan Nana.............
Nana berusaha untuk menahan air mata walaupun sangat sesak, dia tidak ingin merusak kebahagiaan
Juna.
Juna kembali menghampiri Nana yang masih duduk di kursi taman. Juna duduk di samping Nana.
“Gabung yuk.............!”. Ajak Juna
“Kak..... gak apa-apa. Aku disini aja, melihat kaka bahagia aku juga bahagia”. Kata Nana
Juna tertawa mendengar perkataan kekasihnya............
“Cantik..... bagaimana bisa aku bahagia jika kamu tidak bahagia”.
“Berapa kali aku bilang, bahwa kebahagiaan aku itu kamu”. Kata Juna
Nana terdiam, lagi-lagi dia tidak ingin terlihat bersedih. Nana memutar posisi duduknya, sehingga wajahnya menghadap pada wajah Juna.
Nana meletakan kedua tangannya di pipi Juna, “Kak.......... fokus S2 demi aku. Aku ingin selama kakak menimba ilmu, kakak tidak usah hubungi aku karena kakak harus fokus agar segera lulus S2”. Kata Nana sambil menatap Juna
Juna meraih tangan Nana yang ada di pipinya, lalu menciumnya dengan lembut. “Pasti, aku akan melakukan yang terbaik untuk tujuan kita. Terimakasih atas supportnya, gadis cantik”. Juna tersenyum pada Nana sambil mencolek hidung mancung Nana.
“Sekarang mau kemana?” Tanya Juna
“Aku ikut kemanapun kakak pergi”. Nana menjawab dengan senyuman.
“Kamu selalu membuatku jatuh cinta setiap kali aku melihatmu, Na.............”. Kata Juna.
"Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan mu". Tambah Juna
Nana ikut gabung dengan keluarga Juna walapun rasanya ingin teriak, menangis, dan marah pada ibu Juna.