
Sudah hampir satu tahun Wira dan Nana menjalin hubungan diam-diam, usia Nana yang diatas dua tahun dari Wira, merasa dia sudah saatnya menikah, namun jangan kan menikah dengan Wira, memperkenalkan Wira dengan keluarga nya saja, Nana belum berhasil.
Nana mulai jenuh dengan hubungan yang sedang ia jalani, hubungan mereka seakan tak mempunya tujuan. Sampai saat ini Nana belum tahu kepastian atas hubungan mereka, ketika mereka bersama pun, Wira tidak pernah membicarakan tujuan dari hubungan yang sedang mereka jalani, berbeda dengan Juna. Juna begitu nyata memperjuangkan hubungan mereka, namun akhirnya menyerah pada ego mamahnya.
“Wira, aku boleh tanya sesuatu?”. Suara Nana sedikit takut
Wira yang sedang asik memainkan gadgetnya menatap Nana dan meletakkan nya di atas meja.
“Mau tanya apa?”. Tanya Wira kembali
“Apakah kamu benar-benar mencintai ku?”.
Tatapan Wira semakin tajam menusuk pada kedua bola mata Nana.
“Pertanyaan itu seakan kamu meragukan ku?”.
“No, bukan itu maksud ku. Aku gak bermaksud untuk meragukan mu, please”. Nana semakin merasa takut namun dia harus melanjutkan pertanyaannya untuk memastikan hubungan itu.
“Lalu kenapa kamu bertanya demikian?”.
“Aku hanya merasa, hubungan kita tanpa tujuan. Sudah hampir satu tahun kita bersama, namun aku tidak melihat
keseriusan dalam diri mu”.
“Itu artinya kamu tidak percaya pada ku!”. Jawab Wira dengan nada tinggi.
“Kamu mau bukti apa? Apakah semua yang aku lakukan untuk mu belum cukup membuktikan keseriusan ku? Tiap hari aku ada untuk mu, bahkan saat kamu sakitpun aku ada menemani”.
Nana menangis mendengar ucapan Wira, dia merasa dirinya terlalu egois. Nana hanya ingin Wira berani menemui orang tua nya, karena sejauh ini Wira selalu memiliki seribu alasan untuk bertemu dengan orang tua Nana. Bahkan, mengantar Nana pulang sampai depan pintu rumahnya saja, Wira tidak berani.
“Hapus air mata mu, aku tidak suka melihat perempuan menangis. Aku ajak kamu jalan untuk menemani ku,
menghilangkan penat dikepala ku tapi kamu selalu merusak mood ku”.
“Aku minta maaf jika pertanyaan ku salah. Aku hanya ingin kamu membuktikan bahwa kamu serius dengan hubungan kita, aku hanya ingin kita menikah”.
Wira terdiam mendengar ucapan Nana, hati Wira belum sampai memikirkan kearah pernikahan bahkan dia masih ingin bersenang-senang dengan banyak wanita, menikmati masa muda nya dan bangga dicintai banyak wanita.
“Maafkan aku jika membuat kamu ragu, aku belum siap untuk kearah itu”. kata Wira
“Seharusnya kamu tahu, seorang laki-laki yang siap menikah pasti akan menikahi wanita yang ia cintai tanpa
harus diminta. Aku ingin kamu bersabar dan mengerti”. Wira menurunkan suara nya.
“Aku paham dan aku minta maaf”.
“Sabar ya..... aku serius dan aku sayang sama kamu. Aku ke belakang sebentar”. Wira meninggalkan Nana untuk ke kamar kecil.
Nana memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam............
"Ya tuhan......apakah aku salah meminta kepastian dari laki-laki yang mulai membuatku nyaman. Aku tidak ingin
apa yang sudah aku bangun rusak begitu saja. Aku tidak mau kehilangan laki-laki yang mulai aku sayang untuk yang kedua kali nya”. Gumam Nana dalam hati.
Beberapa menit setelah Wira meninggalkan Nana, dia pun kembali menemui Nana yang masih duduk termenung di
meja makan.
“Mau nonton?”. Tanya Wira
Nana segera menghapus sisa air matanya, “Apakah itu artinya kamu memaafkan aku?”. Tanya Nana
Nana bangkit dari duduknya, berjalan menuju antrian bisokop dan Wira menggenggam tangan Nana, tetapi Nana menarik tangan nya dari Wira.
“Kenapa?”. Tanya Wira
“Bukan kah kamu tidak ingin hubungan kita diketahui oleh orang lain?”.
“O......ya......”. Wira menganggukan kepala nya dengan menoleh ke kiri dan ke kanan.
“Kalau aku gandeng, kamu suka gak?”. Bisik Wira sambil menggandeng tangan Nana.
Nana tersenyum dan membiarkan Wira menggandeng nya.
“Drettt......, dretttt...........”. Handphone Wira bergetar.
Wira mengambil dari saku nya dan ada pesan masuk dari Siska, lalu Wira memasukan kembali handphone nya dalam saku.
“Hmmm............, kamu duduk aja ya.... biar ku yang antri beli tiket”.
“Ok”. Nana keluar dari barisan antrian dan menunggu Wira sambil duduk di sofa yang berada di ruang tunggu.
Wira menggerakkan kepala nya ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa dirinya aman dari pengawasan Nana. Wira membuka kembali handphone nya dan membaca pesan dari Siska.
“Minggu depan kakak ku menikah, kamu datang ya....!!!”. Kata Siska.
“Kalau aku datang kamu mau kasih aku apa?”. Balas Wira
“Kamu tahu apa yang akan aku beri”.
(Wira membalas dengan mengirimkan emoticon love dan senyum).
Di waktu yang bersamaan, Nana pun mendapat pesan dari teman SMA nya dulu bernama Tari yang mengundang Nana ke pesta pernikahan nya minggu depan. Tetapi, Nana melihat dari kejauhan Wira memainkan handphone nya sambil tersenyum, tingkah Wira sangat menarik perhatian Nana dan menimbulkan tanda tanya. Setelah Wira berhasil medapatkan tiket nonton dan pop corn, Wira kembali menghampiri Nana dan memberikan pop corn pada nya.
Pikiran Nana masih terpusat pada sikap Wira yang aneh, namun Nana menahan diri untuk bertanya dan tidak ingin
merusak suasana hati Wira.
“Wira, minggu depan kamu ada acara gak?”. Tanya Nana
“Hmmm, kayaknya gak deh. Kenapa, mau jalan kemana minggu depan?”. Tanya Wira antusias terbawa suasana hatinya yang sedang bahagia setelah menerima chat dari Siska.
“Teman SMA ku menikah, aku mau datang tapi temani ya......!”. Bujuk Nana.
“Ah.....pernikahan ya?”. Wajah Wira yang semula bahagia dan antusias berubah menjadi gugup dan gak karuan, dengan senyum terpaksa di bibir nya,
Wira sudah terlanjur janji dengan Siska untuk datang ke pesta pernikahan kakaknya.
"Ya, pasti aku antar tapi sore aja ya.....karena habis maghrib aku ada acara”. Wira tersenyum.
“Thank you”. Nana pun membalas senyum Wira.
“Pintu teather 2 sudah di buka, kepada para pengunjung dipersilahkan masuk!". Suara petugas sudah terdengar.
“Tuh pintu nya sudah di buka, ayo masuk!”. Kata Wira
Mereka masuk ke dalam pintu teather 2 untuk menonton film bersama dan duduk di kursi F 9 dan F 10. Di dalam teather, Wira sibuk dengan getar handphone nya sehingga dia harus berkali-kali membuka dan membalas pesan yang masuk sehingga mata dan pikirannya tidak lagi terfokus pada cerita film atau pun wanita di sampingnya.
Nana berusaha untuk dapat melihat kepada tulisan di handphone Wira, hati Nana berkecambuk, rasa penasaran dan curiga yang ada di hati Nana semakin bertambah, tetapi dia harus belajar bersabar dan terus bersabar demi menjaga hubungan mereka dan demi menunggu kepastian Wira yang tak kunjung datang.