
Setelah kurang lebih dua bulan Nana melakukan projek jurnal nya bersama Juna, mereka seperti kembali kemasa lalu, masa dimana saat mereka memadu kasih, saling menyayangi dan memberi perhatian. Entah apa yang mereka rasakan saat ini, mungkinkah hanya sebatas kerja sama atau memang cinta lama bersemi kembali, yang jelas, Nana selalu bersemangat untuk belajar bareng Juna dan Juna pun selalu mencari cara untuk membuat Nana
baper dengan tingkah laku dan ucapan nya.
Pagi ini seminar di gelar secara terbuka yang di hadiri oleh tiga ratus peserta yang memenuhi aula gedung
kampus. Tidak hanya mahasiswa dari kampus setempat, namun dari kampus lain pun ikut menghadiri, bahkan guru dosen serta profesor pun ikut menghadiri seminar tersebut.
Seminar di gelar dari jam 9 pagi hingga jam 12 siang, Juna dan Nana duduk berdampingan sebagai pembicara, di
sebelah kanan Nana ada moderator, pojok kanan terdapat MC dan sisi sebelah kiri prof Alex dan tiga dosen lain nya yang ikut menyaksikan. Nana terlihat sangat bersemangat namun masih menunjukan rasa nervous nya.
“Ya tuhan.......... tenang kan aku”. Doa Nana dalam hati seblum memasuki aula sambil duduk termenung.
“Hai, gugup?”. Tanya Juna
Nana menganggukan kepalanya sambil tersenyum, lalu meraih tangan Juna.
“Pegang tangan ku, dingin semua. Dulu aku hanya menjadi pendamping mu dalam seminar dan sekarang harus menjadi pembicara berdampingan dengan mu di depan banyak orang”. Keringat terlihat menetes dari kening nya.
Sebentar”. Juna pergi sebentar dan kembali dengan segelas air hangat untuk Nana.
"Minum dulu, tarik nafas dan lepaskan. Be calm. Kita pasti bisa”.
Nana meneguk air yang diberikan Juna.
“Thank you”.
“Bagaimana penampilan ku pagi ini?”. Tanya Juna
"Rapi dan terlihat gagah”. Jawab Nana
“Kamu juga, cantik dan elegan”.
Nana tersipu malu.............
“Oh, by the way. Semua yang ku pakai pagi ini, Eva yang menyiapkan nya”. Lanjut Juna.
“Wow. Nice”. Datar
Pukul 8.30
30 menit sebelum acara di mulai, semua peserta seminar sudah memasuki aula termasuk Juna dan Nana yang sudah siap menjadi pembicara dari hasil jurnalnya.
Setelah MC membuka acara satu demi satu, akhirnya sampai lah di tahap presentasi yang di bagi 2 sesi, sesi pertama di awali oleh Arjuna, M.Pd atau Juna kurang lebih 30 menit, lalu dilanjutkan oleh Nana selama 30 menit berikutnya. Kemudian di akhiri oleh sesi tanya jawab seputar jurnal.
Juna terlihat sangat gagah dan cerdas di depan semua peserta seminar, dia begitu piyawai dalam menyampaikan hasil penelitian singkatnya itu, begitu juga dengan Nana. Ini adalah pengalaman Nana yang pertama menjadi pembicara dalam seminar nya. Tidak hanya itu, berdampingan dengan Juna dalam seminar adalah pengalaman yang sangat luar biasa karena dia masih bisa bersikap profesional bersama mantan nya.
Mereka berkolaborasi dengan sangat baik. Saling membantu dalam memberi jawaban dari peserta yang hadir, saling menguatkan dan memberi semangat satu sama lain, sehingga acara berjalan dengan sangat baik sekali. Profesor Alex pun terlihat sangat bangga dengan Juna dan Nana dan acara seminar di tutup dengan tepuk
tangan dan kepuasan peserta seminar, bahkan banyak yang meminta mereka untuk berkolaborasi pada seminar berikutnya.
“Bagaimana bisa aku berbicara begitu baik di hadapan Juna, sementara dulu, bibir ini terasa kelu di depan nya”.
Gumam Nana dalam hati.
“Hebat kamu Nana. You are great!”. Kata Nana pada dirinya sendiri.
Prof. Alex dan tiga dosen lain nya, menghampiri Nana dan Juna.
“Wow.....fantastic Mr. Juna!”. Prof. Alex memeluk Juna
“Seminar yang sangat luar biasa. I like it”. Prof. Alex terus memeluk dan memberi ucapan selamat untuk Juna. “Congratulation Nana. You did the
“Thank you, sir”.
Tiba-tiba seorang wanita dengan anak balita usia satu tahun menghampiri Juna yang masih berdiri di depan aula bersama Nana dan prof. Alex.
“Selamat ya ayah...............!”. Wanita itu mencium tangan dan pipi Juna.
“Hai, bunda. Hai Chaca.
"Thank you”. Juna membalas ciuman istri nya itu.
“Kok kalian gak bilang kalau ikut menghadiri seminar ayah?”. Sambil mengelus-elus pipi anak nya yang masih di gendong oleh Eva, istri nya.
“Kan surprise. Ini untuk ayah”. Eva memberi seikat bunga untuk Juna.
“Wow....so sweet banget bunda. Makasih ya sayang..............”. Juna memeluk istri dan anak nya.
“Oh, maaf. Prof. Alex ini istri dan anak saya”.
“Halo.........”. Sapa Eva dan mereka saling berjabat tangan.
“Bun, ini bu Ardiana.
Masih inget, teman ayah yang waktu itu datang ke acara pernikahan kita?”.
Nana terlihat agak kesal dengan kemesraan Juna dan Eva.
“Hai, Ibu. Apa kabar?”. Tanya Eva
“Ya, baik”. Jawab Nana singkat.
“Hmmm, maaf Pak Juna dan prof, saya mohon pamit ke belakang sebentar”. Pinta Nana.
“It’s OK. Sampai bertemu
di meja makan. Kita lunch bersama”.
Mereka pun berpisah sesaat, sebelum bertemu kembali di meja makan. Nana pamit ke toilet, prof. Alex
ke belakang sebentar, Juna bersama putri kecil dan istri nya.
Di sela-sela waktu menunggu makan siang bersama, Juna terlihat asik bersama anak dan istri nya. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia tidak mencintai Eva, justru malah sebaliknya. Juna begitu menunjukan cinta dan kasih sayang nya kepada Eva.
Nana yang melihat drama keluarga itu dari kejauhan, merasa iri, kesal dan pasti cemburu melihat kebahagiaan mereka. Namun tayangan itu menyadarkan diri nya bahwa Juna memang sudah milik orang lain.
“Maafkan aku Eva karena masih mencintai suami mu. Juna adalah cinta pertama ku. Harusnya aku yang mendapatkan pelukan dan kecupan dari Juna, bukan kamu”. Air mata Nana menetes.
Beberapa menit kemudian, mereka berkumpul kembali di meja makan untuk makan siang bersama. Juna
mengajak keluarga kecilnya ke meja makan. Kini ada Juna, Eva, gadis kecil, Nana dan prof. Alex di meja makan untuk makan siang.
Juna terlihat asik makan siang bersama keluarga nya dan juga prof. Alex, sebaliknya, Nana terlihat tidak bersemangat, berubah menjadi sangat pendiam dari sebelumnya. Bahkan dia lebih banyak tidak menyimak percakapan antara Juna dengan prof. Alex. Entah apa yang ada di benak Nana, apakah dia merasa malu karena masih mencintai Juna atau tidak terima kenyataan.
“Sorry, prof. Ini terdengar kurang sopan. Boleh kah saya pamit lebih awal? Ada hal lain yang harus saya
kerjakan. permisi”.
“Sure, go head! Becareful, Nana”. Jawab prof. Alex
Nana meninggalkan meja makan lebih awal, dan terburu-buru menuju pintu keluar. Juna terus menatap Nana sampai dia menghilang di balik pintu, Juna mengerti dengan sikap Nana.