
Sejak Nana berteman dengan Riyan dan Lia, Nana seperti memiliki semangat baru dalam hidupnya, Nana tak lagi merasa sedih atas apa yang terjadi pada dirinya. Nana merasa, apa yang dia rasakan tidak seberat yang Lia rasakan. Nana mulai lebih bijak menyikapi setiap episode kehidupan yang dia alami.
Nana tidak pernah melihat Riyan ataupun Lia mengeluh, mereka terlihat bahagia, selalu mengisi hari-harinya dengan hal yang berarti sehingga tak ada lagi ruang untuk berkeluh kesah apalagi meratapi kekecewaan dan kesedihan. Nana banyak belajar dari setiap kejadian yang mereka alami.
“Itulah arti sahabat, sahabat yang dapat merubah kita menjadi lebih baik, sahabat yang membuat kita menjadi lebih maju, sahabat yang selalu menguatkan disaat kita rapuh”. Pikir Nana sambil berbaring diatas tempat tidurnya.
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, sementara Nana masih asik meluruskan otot-ototnya yang kaku karena sibuk seharian membantu rekan kerjanya disekolah. Selain itu, hari itu adalah hari sabtu yang seharusnya Nana libur kuliah. Akan tetapi, sabtu itu Nana ada jadwal make up class sebagai pengganti minggu depan karena minggu depan, dosen Nana akan dinas keluar kota sehingga jadwal kuliah dimajukan.
“Ya ampun.... Aku lupa kalau hari ini ada jadwal pengganti”. Nana segera bangkit dari tempat tidurnya.
Nana melirik jam waker yang ada di atas meja belajarnya “What..... jam emapat sore!”. Teriak Nana kaget.
“Aku belum sholat, bersih-bersih, kalau sudah sore begini, sudah tidak ada angkot dan tukang ojek di pangkalan depan. Alamat telat lagi deh”. Gerutu Nana sambil merapikan buku-buku yang akan dia bawa ke kampus.
Kebetulan Nana memang ambil kelas malam, yaitu jam setengah tujuh malam. Tidak tahu kenapa, Nana senang jika malam minggu nya diisi dengan kegiatan. “Andai....tiap malam minggu ada kuliah”. Pikir Nana sambil senyum-senyum sendiri.
Nana memang selalu berharap, dia sibuk dimalam minggu karena dia akan terhindar dari pertanyaan
sepupu-sepupu nya, ada acara kemana, malmingan dengan siapa, jalan kemana, bla bla bla. Pertanyaan itu mebuat dada Nana sesak seketika karena muak.
Nana segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lelah itu, waktu terus berlalu sampai akhirnya jarum pendek jam dinding sudah menempel di angka lima. Nana segera bergegas pergi ke kampus.
Sampai dipangkalan ojek, tak nampak satupun tukang ojek sore itu. Nana mulai mencari kesana kemari, namun belum ada tukang ojek yang dia temukan. Nana terus berjalan menelusuri jalan berharap dia menemukan pertolongan.
Nana sudah berjalan sejauh lima kilo meter, namun tetap saja bantuan itu belum datang. Kemudian dia
teringat bahwa setiap jam setengah enam sore, akan ada mobil pick up yang lewat jalan itu untuk ke pasar induk. Nana duduk di bawah pohon pinggir jalan sambil menunggu mobil pick up yang waktu itu pernah dia tumpangi.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dia harapkan datang. Dari kejauhan Nana melihat lampu
mobil itu mulai menyinari wajahnya. “Yes, akhirnya datang juga”. Teriak Nana dan bangkit dari duduknya. Nana segera melangkah ketengah jalan sambil melambaikan kedua tanganya.
Mobil pick up itu berhenti didepan wajah Nana “Woy..... mau mati loh!”. Teriak supir yang ada didepan Nana.
“Mau nebeng bang, boleh? Sampai terminal ya......” jawab Nana sambil memasang wajah melasnya.
Nana melihat supir itu berdiskusi sebentar dengan pria berjenggot dan berkumis tebal yang ada di
sebelah kiri pak supir. Dalam hitungan detik, supir itu menizinkan Nana untuk naik dibelakang bersama dengan rombongan pedagang sayur seperti waktu itu.
Berkali-kali Nana melihat jam yang ada di hanphone nya, dia menarik nafas dari hidung lalu mengeluarkannya lewat mulutnya, berkali-kali dia melakukan itu, bertanda bahwa hatinya tidak tenang.
Sampai dikampus, tepat pukul setengah tujuh malam, Nana segera naik kelantai dua dan melakukan
sholat maghrib. Malam itu, mushola kampus yang hanya berukuran 4x4 cukup ramai, terpaksa Nana harus mengantri walaupun jadwal kuliah sudah dimulai.
Selesai sholat, Nana segera naik kelantai tiga dan masuk ke ruang kelas 302, kelas yang setiap
hari digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Nana berdiri didepan pintu, namun tidak suasana kelas masih terdengar sepi. Nana mengetuk pintu “Tok...tok...tok, excuse.....”. Tiba-tiba Nana berhenti.
Nana tidak melihat ada dosen yang sedang mengajar, hanya ada beberapa mahasiswa didalam kelas itu.
“Ko belum mulai, kan sudah jam tujuh malam”. Gumam Nana dalam hati.
Nana duduk dibarisan kedua dari depan, dia menoleh kekanan kekiri mencari Riyan, namun Riyan pun tak
ada. Nana juga tidak kenal dengan teman-teman yang berada dikelas malam itu. Nana hanya bisa diam, ingin bertanya namun dia malu karena tidak ada kenal dengan mereka.
aku bisa hubungi Riyan. Kelas siapa ini?” tanya Nana dalam hati.
Pikiran Nana mulai kemana-mana, dia menggerak-gerakan badannya berusaha untuk bangun dari duduk dan keluar kelas tapi tiba-tiba.
“Hai...Maaf saya datang sangat terlambat, biasa macet”. Pak dosen datang.
“Ya Allah...... Dosen apa ini?”
“Fix, aku salah kelas”. Nana kembali meletakan bokongnya diatas kursi sambil merunduk dan menepok jidatnya.
Tidak lama setelah dosen itu masuk, disusul dengan seorang mahasiswa berkulit hitam, berbadan tinggi
kurus, dengan kemeja dan celana cutbray serta buku ditangannya.
“Ow...ow.....itu kan laki-laki yang waktu itu menyapa ku didepan kelas”. “Pantas saja, tidak
ada satu mahasiswa yang aku kenal”.
“Ini bukan kelas ku. Lalu dimana kelas ku?” Nana terus menggerutu dalam hati tanpa menghiraukan
dosen yang ada didepannya.
Muka Nana mulai memerah, badannya mulai berkeringat, dan detak jantungnya mulai berdebar
menahan malu. Ingin rasanya dia memutar waktu agar bergerak lebih cepat, namun itu tidak mungkin. Kemudian
“Loh.....kamu siapa?”
“Mahasiswi saya?”
“Kok baru lihat?”. Pak dosen menunjuk Nana dari kursinya.
Serentak Nana terkejut mendengar pertanyaan dosen yang ada didepannya. Semua mahasiswa yang
ada dikelas itu, tertuju pada Nana. Nana berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dibalik buku yang ia pegang, namun mereka masih dapat melihat wajahnya yang memerah itu.
“Hm..... Saya Nana pak. Mahasiswi semsester empat”. Jawab Nana dengan suara bergetar.
Dosen itu mengangguk-anggukan kepalanya, “Kamu tahu ini mata kuliah apa?” tanya pak dosen kembali.
Semua mata masih terfokus pada Nana dan suasana kelas menjadi hening. Nana hanya
menggeleng-gelengkan kepala menjawab pertanyaan dosen tersebut, bertanda bahwa dia tidak tahu.
“Ini mata kuliah statistik dan ini kelas semester enam. Paham!” dosen berkulit putih dan tampan
itu berubah menjadi dosen yang sangat menyeramkan.
“Ma....ma....maaf pak, saya salah kelas”. Nana menjawab terbata-bata dan masih merundukan kepalanya,
Nana segera bangun dari duduk, lalu melangkah keluar kelas tanpa menoleh kebelakang sama sekali.
Bersambung .....................