
Pagi ini Nana siap menghadiri pernikahan Juna dan Eva di Tangerang, Nana mengenakan gaun cokelat susu dengan hiasan manik-manik dibagian dada dan sepatu high heels blin-blink berwarna mocca membuat Nana terlihat anggun, make up natural dengan polesan blush on di pipi nya dan bibir yang berwarna pink membuat Nana semakin mempesona dan siap untuk pergi ke pesta bersama Riyan.
Riyan pun terlihat lebih rapi dan tampan hari itu, penampilan Riyan jauh berbeda dari sebelumnya yang selalu
mengenakan kaos berkerah dengan jeans agak lusuh. Kali ini, Riyan sungguh berbeda, Riyan mengenakan kemeja berwarna mocca dengan jas hitam dan jeans berwarna serta sepatu berwarna hitam, membuat Riyan terlihat tampan dan gagah.
Riyan menjemput Nana di rumahnya................
“Wow.......cantik banget!!”. Riyan membuka matanya tanpa berkedip sedikitpun.
“Pantes aja....si Juna pernah jatuh hati”. Goda Riyan dengan senyum sedikit nakal.
Nana tersenyum malu dihadapan Riyan, wajahnya tiba-tiba memerah.
“Cantik mana aku sama Rara?”. Tanya Nana
Kali ini Riyan terjebak dengan pertanyaan Nana yang ke dua kalinya, wajahnya yang semula terlihat bahagia dengan kecantikan Nana, kali ini berubah menjadi sedikit pemalu. Riyan terlihat nervous dengan pertanyaan Nana barusan.
“Hmmmm.....”. Jawab Riyan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Hush...!!! gak usah dijawab, aku tahu jawaban mu”. Nana menepukan tangannya didepan wajah Riyan.
“Apa?”. Tanya Riyan
“Pasti mau bilang kalau aku lebih cantik dari Rara kan?”. Jawab Nana sambil tertawa dan menuju ke sepeda motor yang Riyan parkir di halaman rumahnya. Riyan pun ikut tertawa Nana.
Tiba-tiba tawa Nana terhenti sambil memandang sepeda motor itu, awan mendung kembali terlihat diwajahnya.
“Dulu.........Juna...........”.
Riyan tahu apa yang sedang Nana pikirkan saat ini, dia pasti teringat dengan Juna yang selalu mengantar jemout kemanapun Nana pergi. Riyan segera mengambil helm dari motornya, dan memakaikan pada Nana.
“Yuk.....kita jalan. Nanti keburu siang, panas. Kan sayang kalau make up nya luntur!”.
Nana terkejut dengan suara Riyan dan helm yang sudah ada diatas kepalanya.
“Ready to go?”. Tanya Riyan
“Yes, buddy!”.
“Tapi ingat, no tears and no cry”. Riyan mengingatkan Nana akan janjinya bahwa tidak akan ada lagi air mata untuk Juna.
Nana mengacungkan jempolnya tepat di hidung Riyan yang besar itu. sepanjang perjalanan, mereka asik ngobrol agar tidak terasa lelah mengendarai sepeda motor sampai Tangerang yang jaraknya sangat jauh dari kediaman Nana.
“Yan...........”. Suara Nana terdengar lembut ditelinga Riyan
“Ada apa, Neng?”.
“Thank you, kamu baik banget!”.
“Ha...ha..... O my god.... Neng....kemana aja, kamu baru sadar kalau aku lebih baik dari si Jun jun?”. Riyan tertawa terbahak-bahak.
“Ia makasih”. Jawab Nana jutek
Riyan berpikir sejenak tentang perkataanya, karena tiba-tiba nada suara Nana berubah menjadi terdengar jutek.
“Kok diam? Ada yang salah dengan perkataan ku?”.
“Gak juga. I am fine”. Jawab Nana tak bersemangat.
Beberapa menit percakapan mereka terputus oleh jawaban Nana barusan dan Riyan pun tidak berani bertanya banyak. Riyan berusaha fokus pada perjalannya menuju Tangerak agar mereka tidak kemalaman.
“Aku takut”. Suara Nana terdengar kembali.
Riyan menurunkan kecepatan sepeda motornya itu........
“Takut apa?”
“Aku takut tidak dapat menahan emosi saat melihat Juna dan Eva”.
Mendengar perkataan Nana, Riyan mengarahkan motornya ketepi jalan dan berhenti.
“Lanjut atau balik lagi?”. Tanya Riyan
“Bismillah...............kita lanjut, aku gak mau Juna mengira aku kalah”.
“Good!!”.
Mereka melanjutkan perjalannya menuju pernikahan Juna dan Eva. Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di gedung tempat Juna dan Eva melangsungkan pernikahan. Gedung mewah dengan hiasan, lampu dan bunga-bunga disetiap sudut gedung, serta menu-menu kelas menengah ke atas disajikan untuk memanjakan lidah para undangan.
Hati Nana mulai berdebar kencang, kaki dan tangannya mulai terasa dingin dan bergetar melihat janur kuning melambai-lambai dan menyambut kedatangannya. Riyan berada di sebelah kakan Nana, namun tanpa sadar Nana menggandeng tangan Riyan agar dia masih bisa berpegangan dan berdiri tegap untuk masuk kedalam gedung.
Riyan menggenggam tangan Nana yang terasa dingin itu,
“Are you OK?”. Bisik Riyan
Nana memejamkan matanya dan menganggukan kepalanya.
“Ingat Neng, no more tears, tidak ada lagi air mata”.
“This is the last time! Riyan terus mengingatkan Nana
“Yeah.... I am OK”. Nana terus menerus menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan agar lebih relax.
Dari kejauhan, Juna melihat kedatangan Nana dan Riyan. Juna bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka yang berjalan menuju pelaminan. Langkah mereka terhenti dan bertemu ditengah-tengah pesta.
Juna menatap Nana dengan penuh takjub dan hangat, mata Juna memancarkan cinta yang sangat kuat terhadap Nana, sehingga mengalahkan pandangan Nana. Nana menundukan pandangannya, namun Riyan selalu memberi isyarat agar Nana tetap pada tatapannya.
“Terimakasih sudah hadir”. Sambut Juna
Nana tersenyum, sesekali mengalihkan pandangannya karena didalam hatinya, Nana tidak sanggup
untuk melawan tatapan Juna yang begitu mempesona.
“Yeah..... pesta yang sangat bagus. Aku suka”. Jawab Nana sambil setengan tersenyum menahan cemburu.
“Boleh aku ke sana?”. Nana menunjuk kearah pelaminan.
“Aku ingin kenal dengan Eva”. Lanjutnya
Nana menarik tangan Riyan dan menuju pelaminan......
“Na......”. Juna memanggil Nana
Langkah Nana terhenti tanpa menoleh pada Juna, Juna menghampiri mereka dan berdiri di depan Nana.
“Kamu sangat cantik hari ini. Hadiah terindah dipernikahan ku”.
Nana memejamkan mata sejenak, menahan semua rasa muak yang ia rasakan. Lalu menatap Juna sebentar, “Thank you Arjuna”. Jawab Nana singkat dan melanjutkan langkahnya menuju pelaminan bersama Riyan.
Juna mengikuti langkah mereka dengan terus menatap Nana, tak dapat dipungkiri bahwa Juna cemburu melihat Riyan menggandeng Nana. Kini Nana dan Eva saling bertemu, Eva wanita yang cantik, berkulit putih dan bertubuh tinggi langsing. Pantas ibu Juna sangat bersikeras menjodohkan Juna dengan Eva.
Nana menjulurkan tangannya kepada Eva,
“Aku Nana, teman Juna”. Eva menyambut tangan Nana dengan hangat.
“Eva”.
“Selamat buat kalian”.
Nana segera turun dari pelaminan dan meninggalkan Juna dan Eva. Mereka segera menuju meja tempat hidangan, menikmati beberapa kue dan minuman yang disediakan dimeja tamu.
“Bagaimana perasaan mu?”. Bisik Riyan
“Better”. Jawab Nana
“Cemburu?”. Tanya Riyan kembali sambil mengunyah kue dalam mulutnya.
“Sedikit”. Jawab Nana santai
“Wow..... Amazing!”.
“Aku melihat ada api cemburu pada tatapan Juna”. Bisik Nana
Riyan tersenyum dan merasa bahagia menggandeng Nana.
“Ayo pulang!”. Ajak Nana
“Sekarang?”. Tanya Riyan kaget karena kue di tangannya masih ada dan dia ingin menikmati kue-kue itu.
“Bentar Neng.... perjalanan jauh, laper”. Riyan tetap asik mengunyah kue yang ada di depannya.
Nana menarik tangan Riyan dan mengajaknya pulang.............
Mereka meninggalkan pesta itu dengan perasaan bahagia, api cemburu masih ada pada diri Juna. Jna terlihat
tidak rela jika ada laki-laki lain yang mengandeng gadis cantiknya itu.
“Oh....my god. Unbelievable! Tak dapat dipercaya aku bisa menahan semua amarah dan cemburu ku”. Nana teriak
bahagia
“Thank you buddy”. Sambil menyenderkan tubuhnya pada Riyan yang duduk diatas motornya itu.
“Aku tahu dia bukan lagi milik ku. Bantu aku untuk melupakan Juna”. Nana meneteskan air matanya.
Riyan menghapus air mata Nana, “Semua itu butuh proses neng...........”.
“Suatu saat nanti, kamu bisa dan menemukan laki-laki yang kamu butuhkan”. Hibur Riyan
“Kisah cinta mu telah usai, fokus dengan kuliah dan cita-cita mu”.
“Jadikan kekurangan mu itu sebagai motivasi buat kamu untuk terus berjuang demi masa depan”.
Nana menganggukan kepala nya.............
“Kamu benar, jika Juna bisa S2, aku pun bisa”.
“Thank you Yan...........”. Nana mencubit hidung Riyan yang besar.
“Ready to go home?”.
“Yes”. Jawab Nana dengan senyum bahagia