MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 41. Keindahan Kota Bogor



Kota Bogor terkenal dengan kota hujannya, selain dengan curah hujan yang relatif sering, namun memang udara


kota Bogor sangat sejuk. Udara pagi itu sangat indah, tidak hanya gerimis manja tetapi juga kabut putih yang menyelimuti kota Bogor membuat Nana enggan untuk keluar kamar dan memilih untuk menikmati pemandangan dibalik jendela kamarnya.


Nana melihat Affan dan mama berada di tepi kolam ikan milik pribadi mereka, “Mama suka dengan Nana?”. Tanya Affan


“Ya suka dong............., Nana cantik, juga baik”.


“Kamu suka dengan Nana?”. Tanya mama kembali


Affan tersenyum, “Menurut mama?”.


Mama membalas senyum Affan dan memeluk anak bungsunya, “Mama tahu, kalau anak bungsu mamah sudah ingin menikah”.


Percakapan Affan dan mama membuat suasana kota Bogor semakin indah, jarang Nana melihat pemandangan seindah itu. mama terlihat sangat menyayangi Affan begitu pun sebaliknya.


Mama melepaskan pelukannya dan mengambil pakan ikan yang ada di sudut kolam serta memberi pakan ikan yang ada didalamnya. Namun, Affan masih duduk termenung di tepi kolam sambil memandangi ikan yang seakan menyapa dirinya. Mama melihat ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran anak bungsunya dan mengetuk hati mama untuk bertanya.


“Ku naon jang (ada apa nak)? Cerita ku mamah”. Sambil fokus memberi pakan ikan.


 Affan memutar tubuhnya dan menghadap ke mama nya.


“Gak ada apa-apa, ma...........”.


“Nana mana? Sepertinya dia lelah sekali, coba kamu bangunkan dan bawa ke sini!”. Kata mama


“Ia, ma”.


Affan segera berdiri dan berjalan menuju kamar Nana, sesampainya didepan pintu kamar, Affan mengetuk pintu kamar itu dengan penuh hati-hati.


“Tok.............tok.........tok”.


“Neng............ dipanggil mama”. Kata Affan


Nana membuka pintu kamarnya, “Ia”. Jawab Nana


“Ih............anak gadis jorok banget, jam segini belum bangun, belum mandi juga”. Affan menutup hidungnya dengan cara menjepit hidung dengan jempol dan jari telunjuknya.


“Abang jahat banget, aku sudah bangun dari subuh tadi, tapi tidur lagi. He....he.....he......”. kata Nana sambil menunjukan gigi nya.


“Dipanggil mama di belakang”.


Affan dan Nana menuju kolam ikan di belakang rumahnya.


“Pagi mama...............”. Sapa Nana.


“Eh........neng geulis. Gimana tidurnya?”. Kata mama


“Tidurmya nyenyak”.


“Di Bogor enak ya.........sejuk, dingin, jadi males pulang ke Jakarta”. Kata Nana sambil ikut memberi pakan ikan.


“Nanti siang jalan-jalan sama aa, keliling kota Bogor”. Kata mama.


“Bener bang?”. Tanya Nana sambil menoleh ke Affan yang berada di sampingnya.


“Ia.................”. Jawab Affan ketus.


“Makanya sekarang mandi, lalu sarapan”. Lanjut Affan


“Ok!” Nana mengacungkan jempolnya pada Affan.


Nana segera masuk rumah dan bertemu kaka Affan yang sedang masak di dapur.


“Teh, masak apa?”. Sapa Nana


“Oh...........


masak ayam aja, praktis”.


“Nana bantu ya?”. Nana mulai memegang peralatan dapur.


“Gak usah, neng....... nanti kotor. Kamu mandi aja, make up yang cantik. Jalan-jalan sama si aa”.


Nana mengurungkan niatnya untuk membantu teh Elis, dan menuju kamar mandi. “Yah.........ya deh............ Nana mandi aja”. Kata Nana


“Neng, sok sok an mau bantu masak, emang bisa gitu?”. Tanya Affan yang sedang berdiri dan bersandar di pintu.


Nana yang sudah sampai depan pintu kamar mandi, menghentikan langkahnya dan menoleh pada Affan.


“Enggakkk”. Jawab Nana singkat


Teh Elis tersenyum melihat Nana dan Affan, “Fan..............seperti nya kalian cocok. Teteh suka dengan Nana”. Kata teh Elis sambil terus memasak.


“Aku juga suka sama Nana, dia lucu, manis, baik, pinter, walaupun kadang menjengkelkan, tapi..............”.


Teh Elis yang sedang memasak, berhenti sejenak dan menoleh pada Affan.


“Tapi kenapa? Tanya teh Elis penasaran


“Lis...........sudah selesai masaknya?”. Tanya mama yang tiba-tiba berada di dapur.


“Ia ma, sebentar lagi”. Jawab teh Elis kaget


“Teh, Affan juga siap-siap ya........”. Affan meninggalkan teh Elis dan mama di dapur.


Mama merasa seperti ada yang aneh dengan Affan dan teh Elis.


“Ada apa Lis?”. Bisik mama


“Gak ma, Elis Cuma lucu aja melihat Affan dan Nana. Mereka terlihat cocok. Semoga aja berjodoh”. Jawab teh Elis


“Aamiin..... ya udah, dilanjut masaknya”. Mama meninggalkan teh Elis untuk melanjutkan mempersiapkan sarapan.


Setelah beberapa menit, Nana selesai mandi dan berhias di kamar. Akhirnya lagi-lagi Nana membuat Affan kembali terpukau dengan dirinya. Nana mengenakan kaos lengkap dengan cardigan, pasmina yang dililitkan dikepalanya dan rok panjang serta sepatu olah raga membuatnya lebih santai namun tetap elegan.


Nana membantu teh Elis mempersiapkan sarapan di meja makan. Nana menata makanan diatas meja makan


kemudian duduk di samping Affan.


“Ke toko buku aja ma”. Jawab Nana sambil menyantap menu sarapan pagi


“Ko ke toko buku? Ke taman aja, lebih romatis. Di Bogor banyak tempat wisata loh”. Tambah mama


 "Terserah abang aja deh”. Nana melirik kearah Affan yang ada disampingnya


“Kalau terserah si aa, berarti ke pelaminan juga siap ini mah”. Teh Elis ikut menambahkan.


“Mama suka sama kamu”. Kata mama pada Nana


“Terimakasih ma”. Jawab Nana bahagia


Setelah mereka selesai menyantap sarapan pagi, Affan mengajak Nana keliling kota Bogor, walaupun hanya sekedar mampir ke toko buku, jajan di pinggir jalan, namun suasana kota Bogor begitu bersahabat untuk dinikmati. Jalan yang berliku-liku serta pegunungan membuat kota itu semakin indah untuk dinikmati.


Tiba-tiba Affan berhenti di lapak durian pinggir jalan, dengan lincah Affan memilih buah durian satu persatu, sampai akhirnya dia mendapatkan beberapa buah durian bagus untuk di nikmati bersama Nana.


“Sini neng!”. Affan memanggil Nana yang masih berdiri dekat sepeda motor Affan.


Nana menutup hidungnya rapat-rapat agar bau durian tidak sampai ke hidungnya. Nana menghampiri Affan


dengan perlahan.


“Itu kenapa di tutupin hidung nya?”. Tanya Affan


“Aku gak suka aromanya bang”. Jawab Nana


“Kalau rasanya?”


“Bau nya aja gak suka, apalagi rasanya”.


“Coba dulu”. Kata Affan


Nana menggelengkan kepalanya dengan terus menutup hidungnya. Setelah pedangan membelah atu buah durian


dan disajikan kehadapan Affan. Affan mencium aroma durian itu dengan penuh kenikmatan.


“Sok, cobain neng. Pasti ketagihan”. Kata Affan


Nana tetap membuang muka dan masih menutup hidungnya.


“Yaudah........kalau gak mau, aa habiskan ya?”. Tanya Affan kembali


Nana hanya menganggukan kepalanya namun tidak melihat pada Affan. Tanpa sepengetahuan Nana, Affan diam-diam berjalan menghampiri Nana yang mulai menjauh dari nya. Dari belakang, Affan membuka tutup hidung yang dikenakan Nana dan mengoleskan buah durian pada bibir Nana yang tipis. Sehingga bibir Nana penuh dengan daging durian.


“Ya ampun...........abang, jail banget siah!”. Teriak Nana sambil membersihkan bibirnya dengan tangannya.


Affan tertawa bahagia dan sangat puas dengan apa yang telah ia lakukan.


“Neng, dibersihkan juga aromanya tetap tercium”. Kata Affan sambil terus tertawa dan menikmati buah durian yang ada di depannya.


“Abang...............bau nya gak hilang, gak ada tissue juga buat bersihin sisa durian yang nempel di tangan dan bibir ku”. Teriak Nana dengan jengkel.


Affan menghampiri Nana, persis didepan nya, menatap wajah Nana yang begitu panik dengan bau durian. Tangan Affan menyentuh bibir Nana dengan mata saling memandang lalu membersihkan bibirnya perlahan dan menempelkan kembali sisa durian tadi pada bibir tipis itu, sehingga rasa durian tersebut masuk kedalam tenggorokan dan dapat dirasakan oleh Nana.


“Ih.........abang, nyebelin banget!”. Nana berusaha menumpahkan kembali durian yang masuk dalam mulutnya.


“Jangan di buang neng......, coba dirasakan, dinikmati, enak. Apa salahnya di coba. Aa juga pertama gak suka durian”. Kata Affan


Nana mengikuti apa yang diperintahkan oleh Affan, dia menikmati aroma durian yang sangat menyengat, mencicipi rasa nya yang begitu manis.


“Gimana?”. Tanya Affan


“Manis, aromanya juga tidak seburuk yang aku bayangkan


“Percayakan kalau durian itu enak?”.


Nana menganggukan kepalanya, dan mengacungkan jempol pada Affan.


“Mau nambah?”.


“Mau........”. Jawab Nana dengan gaya manja nya


“Yaudah pilih aja, nanti bayar sendiri”.


Affan tertawa dan kembali ke sepeda motor yang ia parkir di samping lapak durian.


“Abang......pelit banget. Beli satu buah aja lagi”. Nana merengek pada Affan


Affan memandang wajah lucu Nana yang membuatnya semakin gemas.


“Sok ambil, aa traktir”.


“Kamu tambah manis kalau lagi merengek”. Jawab Affan sambil tersenyum.


“Thank you abang”. Jawab Nana lalu memilih satu buah durian.


Setelah mampir ke lapak durian, Affan mengajak Nana ke taman strawbery yang berlokasi diperbatasan antara kota Bogor dan Cianjur, tempat wisata ini dinamakan Puncak Berry Farm atau Sweetberry Agrowisata Cipanas. Di taman strawbery Nana danAffan bebas memetik buah strawbery yang mereka inginkan.


Ditempat ini pun, Affan beberapa kali melakukan aksi jailnya pada Nana, seperti mengambil gambar Nana tanpa sepengetahuan nya atau candid, kadang memetik buah strawbery lalu meletakan diatas kepala Nana dan beberapa aksi jail yang membuat Nana jengkel namun bahagia.


“Bang, makasih ya......sudah ajak Nana jalan-jalan kebeberapa tempat bagus di Bogor”. Kata Nana sambil menyenderkan bahu nya di belakang punggung Affan.


“Ia, Neng....sami-sami”. Jawab Affan


“Keluarga abang baik, aku suka. Thank you”.


Affan memutar badan dan mereka saling berhadapan, “Neng, kalau aa bilang tentang MRKH ke mama dan keluarga, gimana?”. Tanya Affan


“Ia, abang.......jujur itu lebih baik. Kalaupun kita tidak berjodoh paling tidak kita Aku akan tetap menjadi adik mu”. Jawab Nana


“Terimakasih ya neng”.


“Iya, it’s OK”.


“Sudah mendung, biasanya kalau sore sering hujan dan jalan juga macet. Ayo pulang”. Affan berdiri.


Nana mengangkat kedua tangannya pertanda agar Affan membantunya berdiri. Lalu mereka pulang bersama..............