
Setelah beberapa minggu Nana pulang dari rumah sakit dan aktif kembali di kantor. Nana menerima ajakan Wira untuk jalan-jalan sebagai kencan pertama nya, sekaligus meyakinkan hati bahwa dia dapat menerima dan mencintai Wira.
Kali ini Wira tidak lagi menjemput Nana di depan gang, akan tetapi mereka janjian untuk bertemu di terminal yang
lokasi nya beberapa KM dari rumah Nana. Sikap, komunikasi dan perhatian Wira masih cukup terjaga sehingga semuanya berjalan lancar dan aman terkendali.
Sesampainya di Taman Mekar Sari Bogor, Wira dan Nana menuju tempat makan dan memesan ayam bakar untuk mereka berdua karena sudah waktu nya makan siang.
Masalah makan, Wira sangat mengutamakan nya. Wira tidak mau Nana sakit kembali seperti dulu, sehingga dia
selalu memberikan perhatian lebih pada Nana dan selalu mengingatkan Nana untuk makan tepat waktu dan menjaga kesehatan nya.
Nana dan Wira duduk sambil menunggu ayam bakar, Nana merasa ada yang aneh pada Wira. Nana memperhatikan Wira yang dari awal mereka tiba di lokasi sampai mereka duduk santai menunggu jamuan
makan siang, Wira masih disibukan dengan handphone nya yang selalu berdering.
Mereka duduk berhadap-hadapan namun tidak ada pembicaraan untuk mereka, Wira sibuk dengan gadget nya dan Nana sibuk memperhatikan keanehan Wira.
“Sebentar ya...........ada telepon”. Wira pindah kekursi lain yang tidak terlalu dekat dengan Nana dan tidak terlalu
jauh.
“Halo sayang.............. Aku lagi sibuk, banyak kerjaan. Jangan telepon atau WA terus, nanti kalau aku sudah selesai
mengerjakan pekerjaan kantor ku, aku telepon kamu balik”. Kata Wira dengan nada berbisik.
“Tapi aku kangen..................”. Rengek Siska di telepon
“Iya, aku juga. Sabar ya.....nanti kita jalan. Sudah dulu ya......”.
“Tut............tut................tut...................”. Wira memutus obrolan itu dan menggetarkan handphone nya.
Wira kembali ke kursi semula untuk menemui Nana, dilihatnya Nana yang sedang tersenyum bahagia sambil melihat handphone di tangan nya.
“Echemm.... bahagia banget. Dapat WA dari siapa?”. Tanya Wira pada Nana sedikit curiga.
“Kamu tahu gak? Pengajuan beasiswa S2 ku di terima dan aku harus segera menyiapkan berkas lain nya.
Alhamdulillah...............ya Allah....... aku seneng banget”. Kata Nana dengan nada begitu bahagia.
Wajah Nana terlihat sangat bahagia dan lupa akan tingkah Wira yang aneh, mata nya memancarkan cahaya kebahagiaan tiada tara. Berkali-kali Nana teriak bahagia dan bangga karena Nana tidak tahu lagi bagaimana cara nya untuk mengekspresikan kebahagiaan nya saat itu.
Kebahagiaan Nana memfokuskan dirinya pada sebuah mimpi dan cita-cita nya, sehingga dia lupa bahwa hati itu dia
sedang bersama Wira untuk berkencan.
“O, kamu mau lanjut S2?”. Tanya Wira tanpa memberi selamat pada Nana.
“Iya, sejak lulus S1, aku selalu mencari info beasiswa S2 dan aku coba ajukan beasiswa itu ke beberapa instansi
dan Alhamdulillah......tadi aku mendapatkan email balasan dan pengajuan ku lolos”.
“O...... Good!”. Jawab Wira santai.
“Cuma itu? Kamu gak kasih ucapan selamat?”. Tanya Nana dengan nada sedikit kecewa.
Wira tersenyum sedikit, “Selamat ya..... semoga sukses!”. Kata Wira sedikit terpaksa.
Nana terdiam seperti merasa bersalah bahwa tidak seharusnya dia cerita tentang beasiswa nya itu di kencan pertama mereka.
“Kamu gak suka denger cerita aku?”. Tanya Nana dengan mata tertuju pada Wira yang ada didepan nya.
“Yah.....agak sedikit terganggu aja.
Kencan pertama ku bersama wanita yang secial, wanita yang paling aku sayang tetapi tidak seindah yang ku bayangkan”. Wira memalingkan wajah nya.
“Tapi...........”. Nana berusaha membela diri
“Nah, itu makan siang datang. Ayo makan jangan sampai kamu sakit lagi”. Kata Wira.
“Oh iya”. Nana menundukan kepala nya dan merasa tidak enak hati pada Wira.
Melihat Nana yang hanya mengaduk-aduk makanannya dengan wajah murung, Wira mengambi sendok dan mengisi nya dengan makanan, lalu di sodorkan nya ke arah bibir Nana.
“Hai, ini apa?”. Nana mengerutkan dahi nya dan sedikit tertawa, merasa aneh dengan tingkah Wira.
“Makan, seperti nya kamu membutuhkan aku untuk menyuapi kamu agar kamu mau makan”. Kata Wira dengan tersenyum.
“Hmmmmm..... Okay”. Nana membuka mulutnya dan menyambut makanan yang diberikan oleh Wira.
“Jadi kamu egois nih..................?”. Tanya Wira
“Egois kenapa? Aneh banget?”.
“Kamu gak mau suapin aku?”.
“Oh...... mau disuapin juga?”. Nana terseyum dan bergantian menyuapi Wira.
Mereka terlihat asik dan begitu mesra, dengan canda dan tawa kecil penghias kencan mereka saat itu. setelah
suasana kembali mencair dan kebahagiaan terkumpul kembali, Nana membuka suara dan bertanya tentang telepon yang masuk barusan.
“By the way, tadi telepon dari siapa?”. Tanya Nana.
Wira merasa nervous dengan pertanyaan Nana, Nana yang terlihat sangat bahagia siang itu, tiba-tiba menanyakan soal telepon masuk.
“Oh....dari Siska”. Jawab Wira jelas.
“Siska siapa?”. Tanya Nana sedikit curiga
Wira menelan makanan yang sedang ia kunyah dan menjawab pertanyaan Nana.
“Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya wanita yang pernah ada dalam hidup ku”.
“Mantan?”. Tanya Nana kembali
“Bukan, aku pernah di jodohkan oleh teman ku pada Siska, kita jalan satu bulan namun aku gak suka pada nya dan aku memutuskan untuk menyudahi perjodohan itu”. Jawab Wira dengan nada datar.
“Oh............., kenapa?”.
“Ya gak ada rasa aja, hampa. Beda dengan kamu, ketika aku bersama kamu, kamu membangkitkan gairah hidup ku”. Bisik Wira dengan mengedipkan satu mata nya.
Nana tersenyum mendengar ucapan Wira,
“Sudah gak usah di bahas, itu masa lalu. Sebaiknya kita bahas masa depan kita”.
Nana menganggukan kepalanya, seakan setuju dengan perkataan Wira.
“Lalu kenapa kamu harus pindah ke kursi lain hanya untuk menerima telepon dari nya?”. Tanya Nana masih ingin tahu soal Siska.
“Ya aku gak enak dong sama pacar aku ini, masa jawab telepon dari mantan di depan pacar baru nya. Nanti kamu
cemburu...................?”. Kata Wira dengan nada sedikit menggoda.
“Aku ke kamar kecil sebentar, habiskan makanan nya”. Wira mengelus pipi bersih Nana.
Wira berjalan menuju kamar kecil yang tidak jauh dari meja tempat mereka makan siang. Nana kembali membuka
handphone dan membaca email itu berkali-kali dan wajah Nana kembali bersinar terang penuh kebahagiaan.
Wira yang berada di kamar kecil, membuka handphone nya karena sedari tadi terasa bergetar di saku nya. Wira melihat dan membaca begitu banyak pesan masuk dalam whatsapp nya, pesan dari Siska yang bertuliskan kata-kata kangen dan emoticon love untuk Wira.
Wira menghubungi Siska sebentar memastikan Siska tidak marah kepadanya.
“Halo sayang................aku minta maaf ya.....gak bisa menemani kamu hari ini. Bete ya?”. Wira mengeluarkan
nada manja nya.
“Aku kange......., aku ingin kita jalan sore ini”. Siska bernada jauh lebih manja dari sebelumnya.
“Iya, sabar ya...... besok malam pulang kerja, kita dinner lagi tapi sore ini aku gak bisa karena aku capek seharian kerjaan ku gak kelar-kelar”. Wira berusaha menghibur Siska yang sedang bad mood.
“Janji?”. Tanya Siska
“Iya sayang....... I love you”. Wira segera menutup telepon nya karena sudah terlalu lama ia di kamar kecil.
Wira kembali ke meja makan dan menemui Nana yang sedari tadi sudah selesai makan.
“Nah....gitu dong, makan dihabiskan. Aku suka liat nya”. Kata Wira yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Hai, bikin kaget aja”.
Wira memanggil pelayan dan meminta bill serta membayar semua makan siang itu. Wira memang laki-laki yang royal, dia tidak pernah membiarkan wanita yang kencan dengan nya kelaparan atau pun kehausan, bahkan Wira selalu membelanjakan apapun yang dibutuhkan oleh kekasih-kekasihnya, termasuk Nana. Kencan mereka berjalan
dengan lancar, usaha Wira kali ini berhasil dan berjalan mulus.