MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 95. Just Married



Satu hari setelah melangsungkan pernikahan, Nana pun menjalankan operasi kanker nya, kini Nana semakin semangat karena sudah ada Imam yang mendampingi. Keinginan nya untuk sembuh semakin kuat, karena Nana ingin menjalankan kewajibannya sebagai istri, merawat dan melayani suami layaknya wanita lain nya. Jam delapan pagi, perawat membawa Nana ke ruang operasi, Imam dan mama mendampingi hingga pintu ruang operasi.


“Mas, Ma............. minta do’a semoga operasi Nana berjalan dengan lancar dan Nana sehat kembali dan dapat


menjalankan kewajiban Nana sebagai istri”.


“Pasti sayang, mas akan selalu berdo’a untuk kesembuhan mu”. Imam mencium kening dan kedua pipi istri nya.


“Iya sayang, mama dan juga papa selalu berdo’a untuk putri kesayangan mama dan papa. Semangat ya!!!”. Kata mama lalu mencium kedua pipi Nana.


Nana masuk ke dalam ruang operasi bersama dua perawat


“Ceklik.............!!!”. Perawat menutup pintu rapat.


Mama dan Imam menunggu Nana di depan ruang operasi, mama terlihat sangat gelisah dengan mondar mandir depan ruangan, sementara Imam lebih memilih untuk berdzikir, menenagkan hati dan pikiran nya serta berdoa untuk Nana.


Beberapa jam kemudian, operasi selesai. Nana di pindahkan ke ruang pemulihan namun belum dapat di jenguk oleh keluarga sampai Nana tersadar dari bius nya. Salah satu perawat yang membawa Nana ke ruang operasi keluar dari ruang operasi. Imam bangkit dari duduknya dan menghampiri perawat tersebut.


“Suster, bagaimana operasi istri saya?”. Tanya Imam


“Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, sekarang istri bapak sudah kami pindahkan ke ruang pemulihan. Tunggu sampai iatri bapak sadar ya”. Jawab perawat


“Alhamdulillah...............terimakasih sus”. Kata Imam


“Sama-sama. Mari pak, buk”. Perawat meninggalkan Imam dan mama


Dengan perasaan bahagia Imam melakukan sujud syukur atas kelancaran operasi istri nya.


Bagi kebanayakan orang, pengantin baru adalah masa-masa yang sangat indah untuk merealisasikan perasaan cinta dan sayang satu sama lain antara suami istri, sebagian orang merayakan suka cita pernikahan nya dengan cara bulan madu ke luar daerah bahkan hingga luar negeri, namun tidak bagi Imam dan Nana. Awal pernikahan mereka, dihabiskan di rumah sakit dan tidak ada kata honeymoon. Bagi Imam, merawat dan menjaga istri nya selama sakit, itu sudah lebih bahagia dari sekedar honeymoon.


Setelah Nana tersadar, perawat memindahkan Nana ke ruang perawatan.


“Mas............”. Suara Nana terdengar lirih, dengan mata sedikit terbuka


“Iya sayang”. Jawab Imam sambil menggenggam tangan istri nya


“Haus...................”.


“Sabar ya.................. dokter belum boleh mengizinkan kamu untuk minum”. Jawab Imam dengan lembut.


“Mas seneng deh, kamu sudah sadar, operasi kamu juga berjalan dengan lancar. Semangat untuk sehat ya.................”. Kecup Imam di tangan istri nya


“Alhamdulillah..............., terimakasih mas, ma”.


“Iya sayang, sama-sama”.


“Papa mana, ma?”. Tanya Nana


“Papa sebentar lagi sampai sayang...............”. Jawab mama


“Assalamu’alaikum Nana anak papa yang hebat”. Suara papa mengagetkan isi ruangan.


Nana tersenyum melihat papa nya datang


“Alhamdulillah.................sudah tersenyum kembali. Mohon maaf papa baru datang, “sibuk”. Bisik papa dengan nada bercanda


“Iya pa.......... terimakasih”. Jawab Nana sambil meringis kesakitan


“Kan sekarang sudah ada malaikat pelindung, mas Imam tercinta. Iya kan Mam?”. Papa berusaha menghibur Nana dengan gaya ceriwis dan suara menggoda


“Siap, papa mertua!. Menantu mu ini akan selalu siaga 24 jam untuk istri tercinta yang sangat cantik”. Jawab Imam lantang


Nana tertawa kecil begitu juga dengan mama dan papa, tidak ada harapan lain selain kesembuhan Nana. Bagi Imam, senyum Nana adalah kado terindah dalam pernikahan nya.


“Ma, Pa, sebentar ya.......... Saya mohon izin keluar sebentar, mau kasih kabar ke keluarga di Malang”.


“Oh iya, silahkan. Biar Nana, papa dan mama yang jaga”. Jawab Papa


“Sebentar ya sayang.........mas keluar. Jangan kangen ya...............”. Kecup Imam di kening istri nya.


Imam meninggalkan Nana bersama mama dan papa di dalam ruang perawatan, sementara dia ingin menghubungi Ayah dan keluarga lain nya. Ketika Imam sedang berdiri dan berusaha mengetik nomer Ayah, Imam melihat seorang laki-laki sedang duduk termenung, dengan kepala tertunduk dan ditutupi oleh kedua tangan nya. Imam memasukan handphone nya kembali dalam saku celana, lalu menghampiri laki-laki tersebut.


“Assalamu’alaikum, permisi. Boleh duduk?”. Sapa Imam


Laki-laki itu mengangkat kepala nya lalu melirik pada Imam, tak lama kemudian menggeser posisi duduk nya seakan memberikan seat pada Imam.


 “Terimakasih”. Kata Imam


Laki-laki itu masih terdiam dan kembali menunduk


“Hmmm, mohon maaf. Jika boleh saya tahu. Siapa yang sakit pak?”. Tanya Imam


“Istri saya pak”. Jawab laki-laki tersebut


“Istri bapak sakit apa?”.


Laki-laki itu mulai meneteskan air mata, dengan berat hati laki-laki itu bercerita pada Imam.


“Istri saya baru saja melahirkan anak kami yang ke dua, selama hamil, dokter bilang jika kehamilannya itu sangat beresiko pada kesehatannya dan dokter menyarankan untuk menyelamatkan salah satu nya, bayi atau ibu nya. Istri saya sangat stres mendengar itu, sehingga istri saya memutuskan untuk tetap menjaga kandungannya agar anak kami selamat hingga persalinan. Bahkan satu hari sebelum melahirkan, dokter meminta saya untuk memilih, namun istri saya memilih bayi kami dan........................”. Laki-laki itu terdiam lalu menangis tersedu-sedu


“Istri saya meninggal pak, sekarang perawat sedang mengurus jasadnya”.


“Innalillahi wainna ilaihi roojiun. Sabar pak. InsyaAllah, syahid. Saya turut berduka”. Kata Imam


Imam lupa bahwa ia ingin menghubungi keluarga nya di Malang dan lupa bahwa ia hanya izin keluar sebentar. Hati kecilnya merasakan empati yang sangat dalam ketika melihat laki-laki tersebut sedang duduk termenung, dan rasa empati itu yang meringankan langkah nya untuk menghampiri dan bertanya.


“Istri saya juga baru selesai operasi tadi sore pak, istri saya terkena kanker usus stadium 4 dan kemarin kami baru saja menikah. Ujian hidup seseorang itu berbeda tergantung tingkat keimanan nya. Jika ujian kita berat, maka bersyukurlah karena bisa jadi disitu lah Allah sedang menguji keimanan kita yang semakin meningkat”. Kata Imam dengan sangat lembut


Laki-laki itu memeluk Imam dengan erat, melepaskan semua perasaan gundah nya dan menumpahkan semua air mata nya di pundak Imam.


“Kasian bapak ini, kenapa dia sendirian? Mana kerabat, sanak saudara nya?”. Pikir Imam dalam hati


“Boleh saya bertanya?”. Kata Imam


Laki-laki itu melepaskan pelukan nya


“Bapak sendirian? Keluarga bapak?”.


“Mereka sedang menuju ke Jakarta, kebetulan kami semua tinggal di Tangerang dan istri saya di rujuk ke Jakarta”. Jawab laki-laki tersebut


“Alhamdulillah................”.


“Oh iya, saya minta maaf. Saya izin sebentar pada istri saya, tetapi seperti nya saya sudah terlalu lama meninggalkan dia di kamar. Saya harus kembali menemani nya di ruang perawatan”. Kata Imam


“Terimakasih pak, semoga istri bapak lekas sembuh dan Allah memberkahi  rumah tangga kalian”. Laki-laki itu seraya memberi do’a


“Aaminn. Terimakasih kembali”.


Imam kembali ke ruangan Nana.....................


“Assalamu’alaikum bidadari surga ku..............”. Imam duduk di samping Nana dan tidak lupa selalu memberi kecupan hangat penuh cinta di kening istri nya


“Wa’alaikum salam suami terbaik ku. Kok lama? Bagaimana kabar keluarga di Malang?”. Tanya Nana


“Astaghfirullah................ mas lupa belum telepon Ayah”. Menepuk jidatnya


“Loh, tadi mas keluar untuk apa?”. Nana mengerutkan dahi nya


Imam berdiri di depan Nana, seraya ingin memberikan reka adegan.


“Gini loh............tadi waktu mas mulai pegang handphone, ingin menghubungi Ayah. Mas melihat ada seorang laki-laki seusia mas, masih muda dan ganteng, tetapi jauh lebih ganteng mas di banding dia”. Dengan gaya sok asik


Nana tersenyum melihat tingkah laku suami nya


“Laki-laki itu termenung di depan ruang perawatan, lalu mas menghampiri dan mengajak laki-laki itu ngobrol. Ternyata, istrinya baru saja melahirkan anak ke dua mereka, namun sang istri tidak selamat”. Wajah Imam berubah menjadi ekspresi sedih


“Innalillahi wainna ilahi roojiun”. Kata Nana


“Siapa laki-laki itu mas?”. Tanya Nana kembali


Imam mengangkat kedua punggungnya


“Mas lupa gak kenalan”. Jawab nya datar


“Semoga laki-laki itu diberi kesabaran ya mas”. Do’a Nana


“Aamiin.................. dia juga mendo’akan mu agar kamu lekas sembuh. Semangat ya sayang. I love you”. Kata Imam


“Terimakasih mas.............. I love you too”. Balas Nana


“Mam, papa dan mama pulang ya.............dan seperti nya malam ini kami tidak bisa menemani di


rumah sakit”. Kata papa


“Iya pa, ma. Sudah kewajiban saya untuk menjaga Nana”.


“Kalau begitu kami pamit. Titip putri kesayangan kami. Assalamu’alaikum”.


“Pasti pa, wa’alaikum salam. Hati-hati pa, ma”.


Papa dan mama pulang...................


“Yeah..........papa dan mama pulang!!!”. Teriak Imam sambil mengangkat kedua kepal tangan nya keatas.


“Kok seneng banget?”. Tanya Nana heran


“Ya seneng dong sayang.............jadi malam ini hanya ada kamu dan aku di kamar. Itu artinya kita bisa honeymoon”. Imam berbaring di samping Nana sambil memeluk Nana


“Ih......kan aku masih sakit, kasurnya juga sempit tau. Kenapa juga..........ikutan tidur di atas tempat tidur pasien?”.


“Sayang.....kita kan pengantin baru. Gak apa-apa dong....tidur berdua”. Sambil menggoda Nana


Mereka berdua tertawa bersama..................


Sungguh cinta itu menyempurnakan sesuatu yang dianggap tidak sempurna. Imam hadir sebagai pelengkap hidup bagi Nana. Laki-laki baik, sabar dan penyayang serta dapat menerima Nana apa ada nya. Mungkinkah ini yang di katakan CINTA TAK BERSYARAT?