
Hari ini adalah hari pertama Nana bekerja di tempat baru, dia tampak begitu bersemangat. Dia mengenakan kemeja
panjang hingga lutut dan celana bahan sedikit pinsil, dengan kerudung motif bunga, serta polesan lipstick tipis berwarna nud dan make up natural, yang membuat Nana nampak segar pagi itu.
“Pagi bu.......”. Nana mencium pipi ibu nya yang sudah menanti di meja makan untuk sarapan.
“Wah.....anak ibu cantik dan fresh pagi ini. Sudah siap untuk bekerja?”. Tanya ibu sambil mengambilkan nasi serta
lauk untuk Nana.
“Pasti dong!”. Jawab Nana bersemangat
“Sukses ya nak..... Yuk sarapan dulu agar tambah semangat”. Ibu menyodorkan piring yang berisikan nasi serta lauk untuk Nana.
“Terimakasih. Bismillah......”. Nana dan ibu mulai sarapan
“Bapak kemana bu?”. Tanya Nana
“Oh....tadi pagi-pagi sekali sudah berangkat”. Jawab ibu
Nana menganggukan kepalanya sambil terus melahap habis sarapan nya dan menutupnya dengan minum air mineral.
“Alhamdulillah. Masakan ibu selalu enak buat Nana”. Nana memuji masakan ibu nya.
“Nana berangkat ya bu. Assalamu’alaikum”. Nana berpamitan dan mencium tangan ibu nya lalu pergi.
“Wa’alaikum salam.....hati-hati sayang....”. Balas ibu.
Nana berjalan dari rumah sampai ke ujung gang untuk menunggu angkot atau ojek yang biasa mangkal
di depan gang, namun dia melihat ada laki-laki agak gemuk sedang duduk diatas motor vixion berwarna hitam. Nana menundukan kepalanya dan melewati laki-laki itu.
“Pagi bu Ardiana.....”. Sapa laki-laki itu
Ardiana terhenti dan menoleh merasa kenal dengan suara itu,
“Pak Wira?”. Tanya Nana kaget
Pak Wira tersenyum pada Nana namun masih duduk diatas vixion nya.
“Bapak sedang apa di sini?”. Tanya Nana kembali dan masih terkaget-kaget dengan ada nya Wira di depan gang.
“Menunggu bu Nana dong, oh maaf Nana biar lebih akrab”. Wira mengangkat satu alisnya.
“Buat apa nunggu saya? Saya biasa naik ojek atau angkot”. Jawab Nana ketus
“Kalau sudah ada saya, apakah kamu akan menolak saya?”.
“Lagi pula, lebih praktis dan lebih irit”.
Nana muak dengan semua basa basi Wira, “Bapak tahu dari mana alamat rumah saya?”. Tanya Nana
“Ya ampun Na..... kamu lupa kalau saya pegang CV kamu? Ayo naik, nanti kesiangan”. Wira menarik tangan Nana dan memberi isyarat agar Nana naik ke motornya.
Dengan perasaan jengkel, Nana ikut naik ke atas motor dan berangkat bersama Wira. Nana menuimpan tas nya diantara Wira dan dirinya, bahkan tangan Nana pun tidak menyentuh tubuh Wira sama sekali, dia memilih berpegangan pada motor atau pada tasnya dibanding berpegangan dengan Wira.
Wira mengendarai motornya dengan lambat, seperti sengaja agar dia bisa berlama-lama dengan Nana. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara, Nana yang masih kesal dengan tingkah Wira membuatnya malas untuk membuka suara.
Akhirnya mereka sampai kantor tepat waktu walaupun Wira mengendarai motornya dengan santai, Nana segera beranjak ke kantor tanpa berbasa basi pada Wira.
“Eit.....mau kemana? Di kantor kita atasan dengan bawahan loh”. Gaya Wira mulai tengil
“Gak bilang sesuatu gitu?”. Wira menatap Nana genit
Nana menoleh dan berterimakasih pada Wira “Terimakasih atas tumpangannya pak Wira”. Lalu Nana memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam lobby.
“Manis......”. Wira tersenyum bahagia melihat tingkah Nana.
Wira melangkah dengan senyum lebar di bibirnya yang agak tebal, mata nya memancarkan aura cinta bagai orang sedang kasmaran.
“Wira, bahagia banget pagi ini?”. Tanya Pak Guntur yang kebetulan baru sampai dan bertemu Wira di lobby.
“Eh.....bapak”. Wira tertunduk malu dengan senyum di bibirnya.
Mata pak Guntur nanar mencari sebab kebahagiaan Wira pagi itu,
“Ah....saya tahu. Pasti karena ada anggota baru ya?”. Bisik pak Guntur
“Titip, jangan di apa-apain, itu murid sahabat saya”. Pak Guntur menepuk punggung Wira lalu meninggalkannya
di lobby.
Nana bekerja dibawah pimpinan pak Wira sebagai kepala guide, mau tidak mau, suka tidak suka setiap hari bahkan setiap detik dia selalu berurusan dengan kepala guide nya itu, bahkan jam istirahatpun Nana tidak lepas dari pak Wira, pak Wira selalu mempunyai alasan dan cara untuk bisa bersama Nana.
“Bu Nana nanti jam sepuluh temani saya bertemu client di caffe daerah Menteng, katanya client yang satu ini akan membawa rombongan turis asing untuk berlibur di Jakarta dan menggunakan jasa perusahaan kita”. Kata pak Wira yang berdiri di depan meja kerja Nana.
“Baik pak”. Jawab Nana sambil menganggukan kepala nya.
Hati Nana berkata bahwa dirinya males jika harus menemani kepala guide nya itu, namun dia harus bersikap profesional.
Tepat jam sepuluh, Nana bersiap-siap untuk menemani pak Wira bertemu dengan client di Giyanti Caffee Roastery yang berada didaerah Menteng Jakarta Pusat. Dengan wajah yang terlihat lesu dan pucat, Nana memoles wajahnya kembali dengan make up agar terlihat lebih fresh, tiba-tiba pak Wira datang.
“Are ready?”. Pak Wira mengagetkan Nana yang sedang menambahkan lipstict di bibir nya.
“Yes”. Nana menjawab singkat dan segera merapihkan alat make up dan pakaiannya, serta menyemprotkan sedikit parfume beraroma mawar yang membuat dirinya semakin segar.
“Maaf pak, can we go now?”.
“Ow.....Ok. Go head”. Pak Wira berjalan berdampingan dengan Nana.
Kali ini mereka berangkat menggunakan mobil kantor yang biasa di gunakan untuk bertemu client di luar kantor. Pak Wira membuka kan pintu mobil untuk Nana dan membiarkannya masuk dan duduk di sebelah kiri nya di kursi bagian depan. Pak Wira pun memasuki mobil dan duduk di sebelah kanan Nana untuk menyetir.
Sepanjang perjalanan Nana terlihat sangat tegang dan gugup, dia tidak nyaman dengan tingkah pak Wira yang tengil dan menjijikan, Nana hanya bisa diam dan menatap ke depan sambil menikmati keindahan kota Jakarta.
“Echemmmm..... ko diam?”. Tanya pak Wira memulai percakapan
“Tidak ada yang harus dibicarakan”. Jawab Nana sambil terus menatap ke depan.
“Kalau begitu, boleh saya tanya sesuatu?”. Pak Wira melanjutkan pertanyaan nya sambil sesekali melirik pada Nana.
“Silahkan”. Jawab Nana ketus
“Apa ibu sudah punya pacar?”
Nana terdiam...................
“Nih orang songong banget sih, kenal dia dua hari aja bikin mual, sekarang berani tanya soal pacar”. Kata Nana dalam hati
“Hellowwww..... saya sudah mengajukan pertanyaan loh”. Kata Wira
“Maaf pak itu privacy”. Jawab Nana
“Oh..... Ok, fine and i’m so sorry”. Jawab Wira
Jalanan mulai penuh dengan aneka ragam kendaraan dan membuat mobil yang di kendarai pak Wira pun
berjalan lambat.
“Apakah lokasi nya masih jauh?”. Tanya Nana
“Sudah dekat di depan sana kurang lebih sepuluh menit lagi, tetapi kalau macet begini, no comment”.
“Tapi saya suka kemacetan”. Kata Wira sambil mengerutkan dahi nya.
Nana menoleh pada Wira dan membuatnya ternganga,
“Kenapa? Aneh! Bukan kan ini akan menjadi kendala kita dalam bekerja?”.
“Yup, you’re right but I am happy with you here”. Senyum dan mata genit terlihat di wajah Wira.
“Maaf jika pertanyaan saya salah”. Nana kembali melihat ke depan
“Hahahha....... never mind”.
Menurut teman kantor Nana, pak Wira memang terkenal genit dan suka menggoda bahkan mudah untuk jatuh cinta kepada wanita, terlebih lagi wanita cantik seperti Nana. Saking genitnya, dia pernah menggandeng kekasih kakak nya sendiri dan dia pernah jatuh cinta bahkan jadian hanya dalam waktu satu jam saja, bahkan tidak pernah ada
wanita yang dapat menghindar dari nya.
Mendengar cerita teman nya itu, Nana khawatir bahwa dia akan tergoda dengan tingkah genit pak Wira, setiap kali pak Wira memintanya untuk menemani dia bertemu client atau makan siang bersama, Nana selalu merasa takut dan gugup.
“Nah.....itu caffe nya sudah terlihat, sebentar lagi sampai”. Kata Wira
“Alhamdulillah.......”. Suara Nana terdengar bahagia
“Seneng banget? Kita mau ketemu client bukan mau nge-date”. Kata Wira
Nana terkejut mendengar perkataanya yang super PD,
“Saya senang karena dapat menghirup udara segar di luar mobil, karena selama dalam perjalanan saya seperti sesak nafas”. Kata Nana kesal
“Kalau begitu, saya bisa bantu dengan memberikan nafas buatan untuk kamu”. Wira tertawa lalu keluar dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk Nana.
“Ya tuhan......saya salah bicara lagi”. Gumam Nana dalam hati
Pak Wira membukakan pintu mobil dan Nana keluar dari mobil, dengan hati kesal namun harus bersikap
profesional apalagi jika di kantor maupun di depan client, Nana terpaksa harus selalu tebar pesona.
Nana mengenakan celana panjang sedikit pensil di bagian bawah, dengan hig heels serta kemeja panjang, mebuat Nana terlihat anggun dan mempesona, Nana keluar dari mobil dan Wira masih berdiri di depan pintu mobil sambil memengang pintu mobil dan.....
“Aw......!”. Sepatu sebelah kanan Nana tersangkut di kaki mobil sehingga membuatnya tersungkur dan memeluk Wira, tangan Nana melingkar di leher Wira dan tangan Wira berada di pinggang Nana, wajah mereka pun berhadapan, mata mereka saling menatap, sehingga membuat hidung Wira dan
Nana bertemu.
“Maaf”. Kata Nana gugup.
Nana segera melepaskan pelukan nya dan tertunduk malu, namun Wira terlihat sangat menikmati kejadian itu. Jantung Nana berdebar dan sekujur tubuhnya terasa panas terbakar, dia tidak berani mengangkat kepalanya karena malu. Sedangkan Wira, terus menatap Nana dengan perasaan puas dan bahagia, tatapan genitnya membuat Nana semakin takut.
“Kenapa harus minta maaf? Tadi kan kecelakaan. Nikmati atau lupakan saja”. Kata Wira sambil terus menatap Nana
Nana masih tertunduk tanpa kata-kata
“Ayo.... kita sudah terlambat sepuluh menit”. Wira berjalan terlebih dahulu menuju caffee.
“Nana......bodoh.....bodoh.....bodoh.......kenapa harus tersangkut? Dan kenapa masih ceroboh?”. Kata Nana pada dirinya sendiri.
Nana menghela nafas panjang dan menenangkan dirinya, dia meminum sedikit air mineral yang ada di
dalam mobil lalu berjalan menyusul langkah Wira.