
Sejak pertemuan pertama nya dengan Ihsan, Nana sering mendapat wattshap dari nya, wattshap yang tidak begitu penting, hanya sekedar menanyakan kabar, memberi perhatian, layaknya seperti orang yang sedang PDKT. Nana tidak begitu menanggapi setiap pesan yang masuk dari Ihsan, bagi Nana keseriusan laki-laki adalah ketika laki-laki itu berani bertemu kedua orang tua nya dan melamarnya.
“Na tunggu!”. Panggil Ihsan
“Ada apa mas?”.
“Hmmmm, aku minta maaf jika setiap pesan ku mengganggu waktu mu”. Kata Ihsan
Nana tersenyum kecil mendengar permintaan maaf Ihsan
“Gak apa-apa mas. InsyaAllah tidak mengganggu”. Jawabnya santai
“Kalau begitu saya permisi ya mas. Sampai bertemu sabtu depan. Assalamu’alaikum”. Nanapergi meninggalkan Ihsan
“Na! Wa’alaikum salam warrohmatullah”. Ihsan mencoba memanggil Nana kembali namun panggilannya tidak memberhentikan langkah Nana.
Didepan gerbang perusahaan
“Kak Nana”. Lulu melambaikan tangan tepat di depan mobil nya
Nana tersenyum dan segera menghampiri nya.
“Assalamu’alaikum kakak!”. Kata Lulu
“Wa’alaikum salam pengantin ku. Kamu sedang apa disini?”. Tanya Nana
“Jemput kakak dong!”. Jawab nya dengan nada sombong dan bangga
“Kok gak bilang? Untung aja belum pesan ojek”. Jawab Nana
“Iya maaf. Kebetulan aku lewat kak, dan aku ingat jika sekarang jadwal kakak pulang kerja. Sekalian aku mau pamit kak. Malam ini aku mau terbang ke Aceh. Do’akan aku ya kak semoga semuanya berjalan dengan lancar”.
“Iya sayang, pasti. Mohon maaf kakak gak bisa ikut ya.....”.
“Iya kak. Gak apa-apa”.
Mereka berdua masuk dalam mobil,
“Kak, itu siapa?”. Tanya Lulu pada Nana dengan melihat Ihsan dari spion mobil.
“Oh...itu Ihsan teman kakak waktu di D3 tapi beda departemen”.
“Seperti nya dari tadi dia memperhatikan kakak terus deh. Jangan-jangan! Cie....cie.....”. Goda Lulu
“Hush! Sudah ayo jalan, nanti kesoren loh”. Kata Nana
“Echem........ Ok”. Lulu menyalakan mobil nya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan Ihsan mengikuti dari belakang, Lulu terus memperhatikan Ihsan dari spion nya.
“Dia tampan loh kak. Yakin di cuekin aja nih”. Lulu masih menggoda Nana
“Lulu, kakak gak suka ya jika kamu bicara seperti itu”. Dengan nada judes
“Iya kak. Afwan”. Lulu kembali fokus pada jalan namun sesekali dia melirik pada spion nya.
“Bisa lebih kencang sedikit Lu”. Kata Nana
“Iya kak. Bismillah”.
Mobil melaju dengan kencang sampai pada gang rumah Nana dan Ihsan pun berhasil mengikuti sampai depan gang.
“Kak, seperti nya ada yang ingin dia sampaikan deh sama kakak. Kenapa gak ditemui aja sih”. Kata Lulu
“Jika niatnya baik, dia pasti akan menemui orang tua kakak. Yasudah, kakak turun ya.... kamu hati-hati. Terimakasih banyak atas tumpangan nya. Salam untuk keluarga di Aceh”. Nana memeluk Lulu dengan erat.
“Lulu sayang sama kakak”.
“Iya sayang, kakak juga. Hati-hati ya”.
Nana berjalan santai menuju rumah nya dan Lulu pun sudah melaju. Dia terlihat lelah saat itu.
“Satu persatu orang yang aku sayang pergi, mereka sudah bertemu dengan jodoh nya. Aku kapan ya?”. Gumam Nana dalam lamun nya.
“Assalamu’alaikum Nana”. Ihsan mengagetkan Nana dari belakang.
“Astaghfirullah.......... wa’alaikum salam warrohmatullah. Mas Ihsan?”. Nana mengelus dada karena kaget
melihat Ihsan ada di depan nya.
“Kok bisa kesini? Sedang apa?”. Tanya Nana heran
“Hmmm............aku”. Ihsan terlihat gugup
Nana menerutkan kedua alis nya dan semakin heran dengan tingkah laku Ihsan yang terlihat aneh.
“Oh iya, mau mampir? Itu rumah ku”. Sambil menunjuk ke arah rumah yang berada beberapa meter di depan nya. Ihsan melirik kearah rumah itu.
“Oh, ya jika kamu tidak keberatan”. Tersenyum kecil dan wajahnya memerah
“InsyaAllah gak ko. Mari mas”. Nana berjalan menuju rumah nya dan Ihsan berjalan disampingnya sambil mendorong motor nya.
Nana tertunduk dan terdiam, begitu juga dengan Ihsan. Sesekali Ihsan melihat kearah Nana dan tersenyum malu.
“Kenapa mas?”. Tanya Nana
“Nah............., sampai deh. Duduk mas”. Nana mempersilahkan Ihsan duduk di teras depan.
“Terimakasih”. Dan Ihsan pun duduk.
“Sebentar ya mas, aku ambilkan air minum”.
“Oh, gak usah. Santai aja”. Sambil menelan air ludah nya
“Bener nih, gak mau minum?”. Sambil tersenyum
“Jika gak keberatan, boleh deh”. Ihsan tertuduk
“Aku tau kamu haus, kan habis dorong motor. Sebentar ya”.
Nana masuk dan menuju dapur untuk mengambilkan Ihsan air.
“Ada siapa Na?”. Tanya mamah Nana
“Teman lama waktu di D3 dulu mah. Gak tahu nya dia enginer di perusahaan yang saat ini Nana sedang kontrak untuk training”.
Mamah melihat Ihsan dari balik jendela
“Ganteng dan terlihat baik. Jika dia suka, mamah setuju kok”. Goda mamah sambil tersenyum.
“Biarkan Allah yang menjawab ya ma...........”.
Nana membawakan Ihsan es syrup
“Biar mamah aja”. Mama mengambil alih nampan yang berisi es syrup
“Tapi mah..........”. Teriak Nana
“Kamu mandi dan ganti baju saja agar fresh dan cantik”. Sambil berlalu
“Ya Allah.........mamah”. Nana menghela nafas
Nana segera mandi dan bersih-bersih, mengganti pakaian dan jilbab nya.
“Permisi, dengan siapa ya?”. Tanya ibu sambil menyuguhkan minuman di atas meja.
“Ihsan, ibu”. Ihsan meraih tangan mamah lalu mencium nya.
Mamah duduk di depan Ihsan
“Di minum syrup nya. Nana sedang bersih-bersih sebentar, agar fresh”. Kata mamah
“Iya ibu, terimakasih”. Ihsan mengambil syrup dan meneguknya.
Beberapa menit kemudian, Nana datang. Wajahnya bersih berseri dan terlihat lebih fresh. Ihsan menatap Nana tanpa berkedip sedikit pun.
“Maaf mas, jika lama menunggu”.
“Oh iya, gak apa-apa. Kalau begitu, saya pamit saja ya”. Jawab Ihsan
“Loh kok buru-buru”. Kata mamah
“Masih ada urusan lain bu. Terimakasih sudah mengizinkan saya mampir dan terimakasih atas syrup nya bu”.
“Oh.........kalau begitu, mamah juga mau ke mini market. Mamah duluan ya”. Mama berjalan menuju mini market yang tidak jauh dari rumah nya.
Ihsan masih berdiri di depan Nana begitu juga dengan Nana.
“Mas maaf, mau pulang atau ada yang ingin di bicarakan?”. Tanya Nana
“Sebenarnya banyak yang ingin aku bicarakan tapi................seperti nya waktu nya kurang pas”. Jawab Ihsan
“Baik, terimakasih ya mas sudah bersilaturahim”.
Ihsan menuju motor yang ia parkir di depan rumah Nana, lalu berbalik badan dan melihat ke arah Nana.
“Na, aku boleh tanya sesuatu?”.
“InsyaAllah boleh mas”.
“Apakah kamu sudah ada yang melamar?”.
Nana terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ihsan,
“B...e...lum, mas”.
“Jika aku yang melamar mu, apakah kamu menerima ku?”. Tanya Ihsan
Nana terdiam dan bingung harus jawab apa,
“Mau kah kamu menikah dengan ku?”. Ihsan memberanikan diri untuk mengutarakan niat nya.
“Beri aku waktu untuk menjawab dan aku beri kamu waktu untuk berani mengatakan ini semua didepan mama papah ku”. Jawab Nana
“InsyaAllah, aku beri kamu waktu 3 hari. Setelah itu, aku dan keluarga ku akan datang melamar mu”. Jawab Ihsan dengan tegas.
Ihsan berpamitan pulang