
Setelah melewati masa perawatan selama satu bulan, kesehatan Nana semain membaik dan dokter mengizinkan Nana untuk pulang, dengan syarat Nana tidak boleh bekerja selama beberapa bulan pasca operasi.
“Alhamdulillah.......... Akhirnya aku pulang”. Peluk Nana pada Imam
“Iya sayang........mas juga senang”. Imam membalas pelukan istri nya dan selalu memberikan kecupan mesra di
keningnya.
Papa dan mama menjemput Nana dan Imam di rumah sakit,
“Alhamdulillah........mama seneng kamu sudah kembali pulang”. Peluk mama
“Iya ma, Nana juga seneng. Tapi...........kami berencana untuk pulang ke kontrakan”. Jawab Nana
Mama dan papa saling memandang heran
“Kenapa sayang? Kalian tidak tinggal bersama kami?”. Tanya mama
“Ma..........sekarang Nana sudah punya suami, jadi biarkan suami Nana yang bertanggung jawab atas hidup Nana.
Kewajiban mama dan papa sudah selesai”. Kata Nana dengan nada lembut
“Tapi.......kamu masih belum sembuh total, kamu harus istirahat beberapa bulan sayang.............”.
“Ma.........biarkan Nana mengabdi pada suami nya”. Kata papa
“Iya ma, saya janji akan menjaga Nana dengan baik. InsyaAllah akan tetap istirahat sampai batas waktu yang
disarankan oleh dokter”. Imam ikut bicara
“Do’akan kami ya ma..........semoga rumah tangga kami penuh berkah”.
“Aamiin”. Jawab mama sambil menganggukkan kepala nya
Nana dan Imam pulang ke kontrakan baru, Imam sempat memesan kontrakan ketika Nana masih di rumah sakit. Mama dan papa ikut mengantar. Kontrakan mereka tidak begitu besar, hanya tiga petak, terdiri dari ruang tamu, kamar dan dapur, namun bagi pasangan pengantin baru seperti Nana dan Imam, kontrakan tiga petak itu sudah cukup nyaman untuk mereka belajar mandiri dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
“Kita tinggal disini ya sayang, apapun yang kamu minta akan mas kabulkan. Kamu duduk manis aja, gak usah kerja
keras, termasuk melakukan tugas rumah tangga. Biar semua nya mas yang mengerjakan”. Kata Imam sambil membantu istri nya duduk dilantai.
Mata Nana menerawang ke langit-langit kontrakan, di pandangi nya setiap sudut kontrakan yang terlihat kusam karena warna cat sudah pudar, kontrakan kosong, hanya kasur lantai yang ada mengisi kamar tidur nya dan beberapa alat pokok lainnya, seperti rice cooker, kompor, dispenser serta alat masak seadanya.
Imam bukan laki-laki kaya, bahkan dia belum memiliki pekerjaan tetap. Pekerjaan nya di kampung membantu kakak nya di peternakan ayam telah ia tinggalkan karena harus tinggal di Jakarta bersama keluarga baru nya. Imam memiliki tabungan yang tidak banyak, karena sudah di gunakan untuk bayar kontrakan satu tahaun kedepan, namun Imam tidak mau istrinya tentang keadaan ekonomi dia saat ini. Bagi Imam kebahagiaan dan kesembuhan istrinya jauh lebih penting.
“Nak Imam, kalau begitu papa dan mama pamit ya. Jaga Nana baik-baik dan jika ada apa-apa, beritahu kami atau
jika suatu saat nanti kalian ingin kembali ke rumah, pintu rumah kami akan selalu terbuka lebar untuk kalian”.
“Iya pak. Mohon do’a nya saja”. Jawab Imam
“Mama pulang ya sayang..................”. Mama mencium kedua pipi Nana
“Iya ma”. Jawab Nana
Setelah beberapa jam mama dan papa pulang,
“Sayang, kamu pasti lapar. Mas siapkan makanan ya”.
“Mas bisa masak?”. Tanya Nana
“Akan di coba”. Jawab Imam
Imam memasak nasi dan membuat telor dadar untuk mereka makan. Setelah beberapa menit, aroma harum telur dadar mendarat di hidung Nana.
“Hhhmmmmmmm.............seperti nya lezat”. Teriak Nana dari kamar
“Tara..........makan siang nya sudah jadi, Imam menghidangkan satu piring nasi dengan satu butir telur telur yang
sudah disulap menjadi telur dadar.
“Kok bikin nya satu?”. Tanya Nana
“Gak apa-apa, kita makan bersama biar romantis”. Jawab Imam santai
“Mas suapin ya..............”.
“A....am........... enak kan?”. Tanya Imam
Nana menganggukkan kepala nya sambil mengunyah makanan yang ada di rongga mulutnya.
Awal pernikahan Nana dan Imam begitu indah, Nana seperti wanita paling bahagia di dunia. Imam begitu sayang dan memanjakan istrinya, sedikitpun Imam tidak pernah membiarkan istrinya melakukan pekerjaan rumah, semua di handle oleh nya mulai dari masak, mencuci, beres-beres rumah.
Dua bulan kemudian
“Sayang...........sudah dua bulan mas tidak bekerja, hari ini mas minta izin sama kamu untuk keluar mencari
pekerjaan, boleh?”.
“Sebenarnya mas gak tega ninggalin kamu sendirian, tetapi uang simpanan mas sudah menipis”.
“Gak apa-apa mas.........aku bisa berjalan kok, aku bisa ke dapur jika aku haus dan lapar. Mas kerja aja. Tapi.......mas mau cari kerja kemana?”. Tanya Nana
“Ya.........deket-deket sini aja, agar mas bisa sering-sering jenguk kamu”. Kata Imam
Nana mencium suami nya dengan lembut, “Iya mas, terimakasih dan semoga berhasil”.
“Iya sayang. Mas berangkat ya................ Assalamu’alaikum”. Imam berpamitan untuk mencari kerja
bermodalkan ijazah SMA saja, mencari kerja di kota besar seperti Jakarta tidak mudah, tidak hanya membutuhkan ijazah dan skill akan tetapi membutuhkan kerabat sebagai jalan menuju suatu pekerjaan.
Imam datang dari satu tempat ke tempat lain untuk menitipkan lamaran nya akan tetapi belum membuahkan hasil.
Terik matahari mulai mengeluarkan rasa panas diatas kota Jakarta. Badan Imam mulai terasa panas, hingga mengeluarkan keringat, namun usaha nya belum berhasil. Usaha mencari kerja terus ia lakukan setiap hari dengan penuh semangat bahkan hari berubah menjadi bulan.
“Sudah ada panggilan mas?”. Tanya Nana sambil melipat pakaian yang dia angkat dari jemuran
“Belum. Sabar ya”. Jawab Imam
“Hari ini beras kita hanya sisa segini loh”. Nana menunjukan beras yang hanya sisa beberapa gelas saja.
“Bahkan bumbu dapur sudah habis semua”. Lanjut Nana
“Iya semoga hari ini dapat rezeki, doain ya sayang. Mas pamit. Asssalamu’alaikum”.
Seperti biasa, Imam pergi mencari pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain bahkan ia mencoba untuk bekerja di
pasar membantu para pedagang pasar, namun rezeki belum perpihak pada nya.
Pagi itu pun mama datang ke kontrakan Nana karena semenjak Nana tinggal di kontrakan, dia tidak lagi mengunjungi orang tua nya, selain tidak ada yang mengantar Nana, masalah keuanganpun menjadi kendala bagi Nana untuk berkunjung.
Tok.....tok....tok!!!.
Terdengar suara orang mengetk pintu, Nana berjalan menuju pintu dan.......
“Mama.............!!!”. Pelukan hangat mendarat pada mama
“Mama apakabar?”. Tanya Nana
“Alhamdulillah..............mama dan papa baik. Kamu dan Imam gimana kabarnya?”. Mama balik bertanya
“Alhamdulillah kami baik. Mama, Nana buatkan teh ya”.
Nana berjalan menuju dapur untuk membuat teh hangat, selang beberapa menit, Nana kembali dengan secangkir teh hangat di tangan nya.
“Silahkan diminum mama”.
Mama mengambil secangkir teh hangat itu, lalu mencicipi nya
“Hmm.......”. Mata mama mendelik dan terlihat ekspresi wajahnya seperti menahan rasa pahit dilidah mama
“Tumben gula nya gak pas sayang? Biasanya teh buatan kamu enak loh”. Sambil meletakkan secangkir teh tadi diatas meja.
Nana tertunduk dan bibirnya bergetar
“It....u, a...nu ma”. Suara Nana terbata-bata
“Oh........, kamu lupa ya teh selera mama. Yasudah gak apa-apa, lagi pula kamu sudah lama tidak pernah ke dapur”. Suara mama memotong kalimat Nana
“Bukan ma, tapi gula nya habis”. Jawab Nana
Mama terdiam....................
“Imam kemana?”. Tanya mama
“Mas Imam sedang cari kerja, ma”. Jawab Nana tertunduk
Sejenak mama memandangi sekeliling kontrakan
“Kamu kenapa gak pulang aja sayang? Paling tidak kamu ada teman nya, kalian gak perlu repot-repot beli kebutuhan dapur. Iya kan?”.
“Maaf ma, izinkan kami mandiri. Mama dan papa sudah terlalu banyak membantu kami”. Jawab Nana
Mama bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju dapur, melihat isi dapur Nana.
“Kamu gak punya beras? Kenapa gak kasih tau mama atau papa? Tau gitu, tadi mama bawa beras kesini”.
Ada sesak di dada Nana, saat mama berkata seperti itu, entah apa yang membuat mama seperti itu. Semua yang dikatakan mama benar apa adanya, akan tetapi Nana merasa bahwa mama sedang menghina suaminya.
“Oh iya, dua hari yang lalu Juna ke rumah loh. Dia mencari kamu. Juna hebat ya..........makin lama terlihat makin
gagah, ganteng, dan terlihat sukses”. Mata mama menerawang seakan sedang memikirkan Juna.
“Astaghfirullah...........”. Nana beristighfar dalam hati
“Apa maksud mama? Bukan kah dulu mama kecewa dengan Juna. Kok tiba-tiba?”. Gumam Nana sambil mengerutkan dahi nya.
“Coba dulu.............”.
“Ma, maaf jika Nana potong pembicaraan mama. Ingat ma............Nana sudah punya mas Imam, apapun kondisi mas Imam, dia suami Nana, menantu mama. Tidak baik mengenang masa lalu”.
“Sayang, jangan salah sangka. Mama tidak membandingkan Imam dengan Juna, tetapi apa yang mama katakan itu sesuai dengan kenyataan. Bahwa sekarang Arjuna..............”.
“Ma, sudah. Hargai Nana dan suami Nana. Kita bahas yang lain saja ya!”. Nana mencoba mencari topik pembicaraan lain.
"Kalau gitu, mama pulang deh. Jika kamu merasa gak enak tinggal di kontrakan, pulang ya sayang”. Kata mama sambil mencium Nana
“Iya ma. Mamah hati-hati ya!”.
Nana mengantar mama sampai depan pintu.
Apa maksud kedatangan Juna? Apakah Juna ingin melanjutkan kisah cinta nya bersama Nana karena status Juna sekarang sudah menjadi seorang duda?