MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 62. Mantan vs Kerjaan



Nana menemui Prof. Alex di kampus untuk membicarakan mengenai seminar nya. Namun kali ini Nana datang terlambat karena kesiangan dan macet.


“Tok tok tok..............!!. Permisi Prof”. Nana mengetuk pintu ruangan Prof. Alex.


“Masuk”. Jawab pak Profesor.


“Maaf Prof saya terlambat”. Dengan nada ragu dan wajah sedikit meringis karena merasa tidak enak.


“Oh, ya. Silahkan duduk”. Prof. Alex mempersilahkan Nana duduk di kursi yang berada di hadapan nya.


“Baik prof. Terimakasih”.


“Begini Na, tadi saya sudah bicara dengan Mr. Juna mengenai jurnal yang akan kamu bahas di seminar dan beliau tertarik untuk berkolaborasi dengan anda”. Kata prof. Alex


“Ha? Mr. Juna? Apakah Juna yang di maksud prof. Alex adalah Arjuna masa lalu ku?”. Gumam Nana dengan wajah bingung dan mulut ternganga.


“Could I see him, prof?”. Pinta Nana


“Yes, sure”. Jawab prof. Alex


“Beliau pun ingin bicara langsung dengan anda mengenai jurnal itu, namun anda datang terlambat sehingga kami diskusi bersama. Seperti nya beliau masih ada di perpustakaan karena tadi izin ke perpustakaan. Sebentar, saya telepon”. Lanjut prof. Alex


“Baik prof”. Nana masih terlihat bingung dan berharap bahwa Juna yang di maksud prof. Alex itu berbeda dengan Juna mantan nya”.


Setelah prof. Alex menelepon Mr. Juna, Mr. Juna pun datang memenuhi panggilan prof. Alex. Nana duduk di sofa


yang membelakangi pintu masuk ruangan prof. Alex dan prof. Alex duduk di hadapan Nana.


“Permisi”. Suara di balik pintu terdengar sampai ke telinga Nana dan prof. Alex yang ada di dalam nya.


Prof. Alex berdiri dan begitu juga dengan Nana untuk menyambut kedatangan Mr. Juna.


“Silahkan masuk Mr. Juna”. Jawab prof. Alex


Nana memejamkan matanya seakan tidak ingin melihat wajah Mr. Juna, jantungnya berdekup kencang dan hati nya selalu berdo’a agar itu bukan Arjuna yang ia kenal dulu. Perlahan Mr. Juna membuka pintu dan akhirnya berada di ruangan yang sama dengan Nana dan prof. Alex


“Maaf jika saya merepotkan anda, sir”. Prof. Alex menjabat tangan Mr. Juna


“Iya, it’s OK”. Jawab Mr. Juna singkat


“Ini Ardiana mahasiswi saya yang akan melakukan penelitian kecil untuk jurnal yang akan di seminarkan bulan depan”. Prof. Alex memperkenalkan Nana pada Juna


 Arjuna terkejut mendengar nama Ardiana lalu menoleh pada gadis yang berada di sampingnya.


 “Nana?” Mr. Juna kaget


Nana membuka kedua mata nya dan menatap baik-baik laki-laki berbadan tinggi di samping nya itu.


“Hai, apa kabar?”. Juna menjulurkan tangan nya


“Baik Mr. Juna”. Nana membalas tangan Juna


“Kalian sudah saling kenal?”. Tanya prof. Alex


“Jika begitu, itu akan lebih mudah untuk kalian berkolaborasi dalam menulis jurnal dan melakukan penelitian kecil.


Sebaik nya saya keluar sebentar karena memang sudah jadwal saya untuk mengajar. Silahkan di lanjutkan diskusi nya”. Kata prof. Alex sambil tersenyum dan wajah bahagia.


Prof. Alex meninggalkan mereka berdua dalam ruangan nya. Dalam ruangan 4x3 itu, mereka terdiam membisu. Nana menundukan kepala nya begitu juga dengan Mr. Juna. Seperti tidak ada kata-kata yang harus mereka ucapkan satu sama lain, jarum jam dinding terus berputar merubah detik menjadi menit dan menit menjadi jam.


Nana bangkit dari duduknya, “Jika tidak ada yang perlu di diskusi kan, saya keluar saja”. Kata Nana.


Mr. Juna mengangkat kepala dan menatap Nana dari duduk nya


 Mendengar perkataan Juna, Nana duduk kembali.


“Kenapa ingin berkolaborasi?”. Tanya Nana ketus


Juna tersenyum, “Jangan ge-er bu..... saya gak tahu loh kalau projek ini kamu yang buat, Prof. Alex menunjunjukan judul dan abstrak jurnal yang akan kamu tulis, dan saya tertarik. Gak ada hubungan nya dengan masa lalu kita”.


“Tapi di cover depan ada nama ku”. Jawab Nana masih ketus


“Nama Ardiana itu banyak, gak cuma kamu. Aku sama sekali gak kepikiran jika Ardiana yang ada di cover itu adalah kamu. Kalau gak percaya, coba buka google dan cari nama Ardiana. Pasti akan muncul ratusan bahkan ribuan nama yang sama”.


Wajah Nana memerah, sedikit malu mendengar penjelasan Juna. Juna memang orang yang sangat pandai bicara, dari dulu Nana tidak pernah berhasil memenangkan perdebatan dengan nya.


“Ok. It can be accepted”. Nana menarik nafas


“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan projek ini?”. Tanya Nana kembali.


“Kita akan melakukan penelitian singkat dan itu arti nya kita harus lebih sering berdiskusi tentang ini?”. Kata Juna


“Hah?”. Kata Nana kaget.


“Ingat, be profesional”. Kata Juna


“Besok aku tunggu di kampus ku jam 10 pagi, malam ini akan kau siapkan semua nya. Jadi besok kamu bisa liat dan kita diskusi bersama”


Nana terdiam seakan tak ingin mengiyakan janji yang di buat oleh Juna.


“Ini alamat kampus ku and be on time. I’ll be waiting for you. Salam untuk prof. Alex. Maaf aku pamit”. Juna meletakan kartu nama yang berisi alamat kampus serta nomer handphone nya.


 Arjuna berjalan menuju pintu dan meninggalkan Nana di dalam ruangan prof. Alex. Setelah beberapa menit Arjuna


meninggalkan Nana, Nana masih saja duduk termenung di sofa yang berada di ruangan prof. Alex. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apakah harus bersyukur karena akan berkolaborasi dengan Arjuna sang dosen cerdas atau dia bersedih karena harus selalu bertemu dan ngobrol dengan nya kembali.


Pertemuan mereka kali ini berbeda dari sebelumnya, tetapi wajah dan suara Juna akan membawa Nana kembali ke masa lalu. Nana mengambil kartu nama yang tergeletak diatas meja dan memasukan nya dalam dompet kecil nya.


“Hai, kok kamu sendiri? Mana Mr. Juna?”. Prof. Alex tiba-tiba muncul.


Nana segera berdiri dan memberi hormat pada prof. Alex.


“Beliau sudah pulang dan titip salam untuk profesor, kata nya maaf jika beliau tidak menunggu profesor terlebih dahulu”. Kata Nana.


“Oh, it’s OK. Lalu bagaimana dengan projek kita?”. Tanya prof. Alex penasaran.


“Besok saya akan mendiskusikan nya lebih lanjut di kampus beliau, prof”. Jawab Nana.


“That’s good. Saya suka dengan kerja kalian. Semangat!”. Prof. Alex menepuk bahu Nana.


“Kamu beruntung berkolaborasi dengan dosen muda yang sudah mempunyai banyak prestasi seperti Mr. Juna. Dia dosen muda yang cerdas, cepat dan handal. Good luck!”. Puji prof. Alex


“Iya prof. Saya akan berusaha sebaik mungkin dan membuat prof bangga”. Jawab Nana


“Ok. Thank you Nana”.


“Kalau begitu, saya pamit prof, karena ada yang harus saya kerjakan di perpus”. Nana berpamitan dan meninggalkan prof. Alex.


Setelah mendengar ucapan prof. Alex, Nana makin gak karuan. Prof. Alex begitu bangga dan berharap banyak pada Nana untuk melakukan penelitian ini. Sementara Nana harus belajar menata hati agar menjadi profesional yang tidak melibatkan perasaan dan masa lalu nya ke dalam pekerjaan nya.


“Ya tuhan.....kenapa harus bertemu kembali?”.


“Come on Nana be profesional. Kamu pasti bisa. Lupakn semua masa lalu mu dan fokus pada masa depan mu”. Gumam Nana sambil sesekali ia menarik nafas dan mengelus dada nya