
Sore itu Nana merasa aneh pada ruang kelasnya, kelas yang biasa ramai, asik, kini terlihat ada yang berbeda. Namun, Nana belum menyadari apa yang membuat kelasnya terasa berbeda dari sebelumnya.
Nana duduk terdiam di kursi barisan paling depan dengan wajah kosong penuh keanehan,
bola matanya mulai bergerak ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu, sesekali dia mengerutkan dahi nya seolah-olah Nana belum menemukan jawaban dari keanehan yang ia rasakan.
“Ya ampun.....!” teriak Nana sambil menepok jidatnya.
Kini Nana tidak lagi menggerakan bola matanya akan tetapi dia menggerakan kepalanya ke kiri dan
kanan, seakan ada sesuatu yang sangat berbahaya. Dia menyadari bahwa pria berwajah bulat dengan hidung besar itu tidak ada di kursi sebelahnya.
“Loh....si hidung besar, kemana?” tanya Nana dalam hati
Kursi sebelah kiri yang biasa diisi oleh orang yang paling jail dan menyebalkan itu kosong. Nana seperti kehilangan separuh jiwanya saat dia melihat kursi disebelah kirinya itu tak bertuan. Tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi Nana. Nana memutar badannya dan mencari suara itu. Nana melihat ada Riyan di sudut kelas sedang asik ngobrol dengan gadis berparas cantik, mengenakan celana panjang berbahan jeans, dengan kaos ungu yang ditutupi oleh outer tipis berwarna putih.
“Hai....aku Riyan. Anak baru ya?” sapa Riyan
Nana mendengar suara Riyan sayup-sayup dari sudut kelas, Riyan duduk di depan Lia sambil
membelakangi Nana.
“Dia siapa?” tanya Nana dalam hati.
Nana belum pernah melihat gadis cantik berkulit putih dan bermata sipit itu. Ingin sekali Nana menghapiri mereka, namun Nana mengurungkan niatnya karena Riyan terlihat asik bersama dia.
Suasana kelas pun menjadi berubah bagi Nana. Nana merasa tidak nyaman duduk dikursi barisan
paling depan sendirian. Nana tidak pernah duduk jauh dari Riyan, mereka selalu bersebelahan seakan-akan Nana tak mau jauh dengan Riyan, begitupun sebaliknya. Riyan memang teman yang paling jail yang pernah Nana miliki, tetapi Riyan juga menjadi teman paling menyenagkan dalam hidup Nana.
Kali ini, Riyan tak lagi duduk di sebelah Nana. Nana yang biasa rame dengan tawa nya yang garing,
penuh semangat, sore ini dia nampak muram, tak bersemangat dan menjadi pendiam. Nana makin kesal dengan sikap Riyan yang kali ini sangat cuek dengannya. Sehingga membuat rasa penasaran Nana dengan gadis itu semakin besar, Nana menyapa gadis itu dari tempat duduknya yang berjarak empat kursi dari gadis berkulit putih itu.
“Hai.....” sapa Nana sambil melambaikan tangannya dan cengiran khas ala Nana.
“Hai.....” balas gadis itu dengan senyum manis dan lesung pipi di sebelah kanan yang membuat dia
semakin menawan.
Mendengar suara manja Nana, Riyan yang sedang duduk di kursi depan Lia, memutar badannya dan
menoleh ke arah Nana.
Nana beranjak dari kursinya, berjalan perlahan menghampiri Lia dan duduk di kursi sebelah kanan
yang berdampingan dengan kursi Lia.
“Hati-hati loh sama dia, modus”. Bisik Nana pada Lia sambil melirik ke arah Riyan yang sedang duduk
tepat di depan Lia. Lia hanya bisa tersenyum.
Lia adalah mahasiswi pindahan dari palembang. Lia berparas cantik, kulitnya putih bersih dan tubuh nya tinggi semampai seperti seorang model, mempunyai lesung pipi di sebelah kanan yang membuat dia terlihat lebih manis dan menarik, hidung nya yang kecil dengan rambut cokelat sebahu agak ikal dan berponi, serta matanya
yang sipit nampak jernih, sangat jelas jika Lia adalah gadis muslim keturunan cina.
Sejak awal Nana melihat dan menyapa Lia, Lia hanya diam tanpa berkata-kata. Sesekali Nana melihat Lia menggerak-gerakkan kakinya dan memainkan balpoint ditangannya, lalu meletakan kembali diatas buku yang ada di meja nya, mengambil dan memainkan kembali balpoint itu dan terus menerus melakukan hal yang serupa. Lia terlihat bosan berada didalam kelas. Matanya yang yang sipit dan jernih itu seakan memberi isyarat bahwa dia ingin segera pulang dan meninggalkan kelas yang memuakan itu.
Selesai jam kuliah, Nana yang biasanya jalan berdua dengan Riyan menuju terminal, sekarang bertiga
dengan Lia si anak baru. Lia tak banyak bicara, hanya sesekali dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Riyan. Lia terlihat seperti bukan tipe wanita yang banyak bicara atau genit. Dia lebih terlihat seperti wanita pemikir dengan penuh ambisi dan cita-cita yang tinggi.
Riyan si hidung besar itu memang seorang pria yang mudah bergaul dengan siapa saja, terutama
gadis cantik macam Lia. Jadi wajar saja kalau Riyan mulai akrab dengan nya. Selama perjalanan dari kampus menuju terminal, Riyan terus saja membuka topik pembicaraan dengan Lia, seakan tak ada Nana diantara mereka. Bahkan, demi mencuri perhatian Lia, Riyan rela berjalan mundur didepan Lia sambil bicara.
“O my god.....betapa bodohnya teman ku ini”. Nana menggerutu dalam hati sambil menahan rasa kesal yang sedari tadi dia rasakan waktu masih didalam kelas.
Tak disangka, Lia searah dengan Nana, mereka naik angkot yang sama, hanya saja Lia turun lebih
dahulu dibandingkan Nana. Rumah Lia tidak jauh dari kampus, hanya butuh waktu sepuluh menit dengan angkot untuk sampai ke rumah Lia.
Perjalanan pulang dari terminal menuju rumah Lia adalah waktu yang tepat untuk Nana berkenalan dengan
Lia lebih dekat. Nana menanyakan banyak hal tentang Lia. Dari mana asalnya? Mengapa pindah? Tinggal dimana? Sudah bekerja atau belum? Dan sebagainya. Sehingga dengan sekejap, Nana mendapatkan info lebih banyak tentang Lia dibandingkan Riyan. Lia memang cantik, bahkan sangat cantik sehingga kecantikan Lia menjadi pusat perhatian para lelaki yang berada didalam angkot.
“Stop bang”. Lia memberi arahan pada supir angkot
“Aku duluan ya Na, ongkosnya biar aku yang bayar”. Lia berpamitan pada Nana.
“Ya, hati-hati ya Li”. Nana memberikan salam perpisahan pada Lia
Dari dalam angkot, Nana terus memperhatikan Lia yang mulai masuk kedalam gang menuju rumahnya
sampai akhirnya, Lia tak terlihat lagi. Setelah mereka berbincang-bincang, ternyata Lia tak sedingin yang Nana bayangkan. Lia anak yang asik, cerdas, dewasa, dan baik. Nana suka pada karakter Lia dan berharap mereka bisa menjadi sahabat.